KOMPETISI

2 dibaca

A

Langit subuh masih berwarna abu-abu. Rizal berdiri menyandar pada tiang gerbang besi yang dingin. Sisa hujan subuh masih membasahi papan SMK Pelita Bangsa, meninggalkan aroma kayu basah yang kalah oleh asap knalpot. Setiap kali paru-parunya mengembang, rusuk kirinya ikut tertarik. Napasnya terpotong sebelum penuh, bahunya naiksebentar lalu turun lagi.

“Zal! Rizal!!!” Teriakan itu membelah kesunyian parkiran yang masih kosong.

Rizal menarik napas dalam, lalu menutup mata. Ia sudah mengenali suara itu bahkan sebelum namanya disebut.

“Rizal Biantara budek, jelek, item, dekil, buluk! Nengok,napa sih kalau dipanggil ...!” teriak gadis itu lagi, suaranya menarik perhatian beberapa siswa lain.

“Apaan sih, Nad. Pagi pagi udah berisik banget lo.” Rizal menghela napas panjang, ia memutar tubuhnya perlahan.

Nadia berjalan cepat, tas ranselnya melorot di satu bahu, bau parfum stroberinya mengalahkan bau aspal saat ia berdiri tepat di depan Rizal. “Lo kalo dipanggil itu nengok, item.”

“Ada apa, Tuan Putri Nadia Danastri yang cantik, imut, dan menggemaskan?” Rizal memutar bola matanya. “Apa ada yang bisa hamba lakukan?”

“Nyontek Inggris. Bab Passive Voice gue blank total.” Nadia berhenti tepat di depan Rizal.

“Udah ketebak. Makanya punya otak dipake belajar, janganbuat mikirin Westlife doang.” Telunjuk Rizal mendorong kening Nadia hingga ke belakang

“Apaan sih lo! Pokoknya nanti gue nyontek, awas kalau enggak dikasih!” Nadia menepis tangan Rizal, tatapannya lurus ke matanya.

“Enggak!”

Nadia menyipitkan mata. Ia melangkah maju, ujung sepatunya menyentuh sepatu Rizal. “Ya udah, gue bilangin nyokap lo kalau lo sering tawuran.”

“Gue tampol lo ya!” Tangan Rizal mengepal disamping pipi Nadia.

“Nih, kalau berani! Gue ngadu ke nyokap lo.” Nadia menyodorkan pipinya.

“Iya, nyed.”

“Apaan tadi?!”

Rizal terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatap Nadia tiga detik, lalu bahunya merosot. “Iya, Tuan Putri.Cantikku. Hamba sahaya nurut. Puas?”

“Pinter. Gue tunggu di kelas.” Nadia menyeringai, cahaya matahari pagi memantul di behel giginya. Ia berjinjit, menepuk kepala Rizal dua kali, pelan, seperti menenangkan anjing penjaga.

Nadia berbalik, rambut kucir kudanya berayun. Rizal tetap di posisinya. Matanya mengikuti punggung Nadia sampai hilang di balik koridor.

Beberapa siswa yang baru datang memperlambat langkah saat melihat Nadia menghilang ke koridor kelas. Dua anak kelas sebelah saling menyenggol sambil melirik ke arah Rizal.

“Itu Nadia tiap pagi nyamperin mulu ya.”

“Iya. Berani juga.”

“Kalau gue mah ogah deket-deket. Ntar dikira rebut wilayah.”

Rizal melirik sekilas ke arah mereka. “Ada yang mau ngomong langsung?”

Kedua anak itu langsung menggeleng cepat.

“Enggak.”

“Yaudah. Jalan sana.” Rizal kembali melangkah menuju kelas.

Koridor mulai dipenuhi suara langkah kaki. Bel masuk pertama berbunyi nyaring, disusul derit kursi yang ditarik bersamaan dari balik jendela-jendela kelas. Beberapa siswa masih berlari sambil merapikan seragam, sebagian lain buru-buru menyembunyikan rokok sebelum guru piket lewat. Rizal melangkah melewati kerumunan, memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu mendorong pintu kelas yang sudah hampir penuh.

Lembar soal dibagikan. Meja kayu di depan Rizal penuh coretan tipe-x. Rizal meletakkan kepalanya di atas meja. “Kenapa harus ada pelajaran Bahasa Inggris sih? Kenapa juga Bahasa Inggris harus jadi Bahasa international.” Rizal,membenamkan wajah di meja.

“Karena Inggris dulu negara adidaya yang jajahannya banyak, Zal. Jadi bahasanya kepake di mana-mana,” sahut Beni dari bangku depan.

Rizal mendongak, matanya menyipit. “Gue nggak nanya lo, Botak.” Tangannya bergerak cepat, menepuk puncak kepala Beni dengan telapak tangan terbuka.

“Tapi boleh juga. Kapan-kapan ceritain sejarahnya ke gue.” lanjut Rizal.

“Well students, put your books in your bags and then there’s only pen on the table, do you understand?” ucap Pak Nyoto, guru Bahasa Inggris mereka, dengan aksen Jawa medoknya yang khas.

“Yes, Sir!!!” jawab anak-anak serempak.

“You have forty-five minutes to complete the answers of this exam, don’t try to cheat, and for you Rizal—keep silent!” ucap Pak Nyoto, matanya menyapu ke arah Rizal, sambil membagikan kertas ujian.

“Lah, kok saya? Salah saya apa, Pak?” tanya Rizal.

“Sudah, pokoknya kamu diam, kerjain soal!”

“Siap, komandan.” Rizal menerima kertas ujian, matanya melirik ke arah Nadia yang sudah siap dengan kode-kode menyontek.

Rizal menghela napas, menuliskan jawaban di sobekan kertas kecil, lalu menyentilnya tepat ke bawah kursi Nadia.

Empat puluh lima menit berlalu, Pak Nyoto berdiri di depan kelas sambil mengumpulkan lembar jawaban satu per satu. “Time’s up! Stop writing!”

Suara kursi bergeser memenuhi ruangan. Rizal menyerahkan kertas jawabannya paling akhir, lalu berjalan keluar kelas.

Nadia berdiri menunggu di depan pintu. “Eh.”

“Apa?” Rizal menoleh tanpa menghentikan langkah.

Nadia menyodorkan sobekan kertas contekan. “Tulisan lo jelek.”

“Ya jangan nyontek.”

“Tapi bener semua.”

“Makanya belajar.”

Nadia menjulurkan lidah. “Besok Matematika.”

“Terus?”

“Gue nyontek lagi.”

“Gue kasih jawaban salah.”

“Gue tabok lo!” Nadia melotot menatap Rizal, lalu berbalik berjalan menyusuri koridor.

Rizal menggeleng pelan, lalu ikut berjalan menuju kantin.


“Prit!”

Peluit berbunyi nyaring, memekakkan studio futsal yang tertutup, tanda babak kedua pertandingan futsal antara kelas XII MP 3 dan XII MP 5 SMK Trijaya Utama dimulai. Papan skor elektronik di dinding menunjukkan angka 6 - 7 untuk kemenangan sementara tim Noval, kelas XII MP 3.

Noval membungkuk, kedua tangannya bertumpu di lutut. Keringat menetes dari ujung hidungnya ke semen lapangan yang panas. Sisa adrenalin dari PGA kemarin masih menyisakan sesak di dada. Pertandingan baru berjalan lima belas menit, namun ia segera memutar kedua tangannya ke arah bangku cadangan, tanda pergantian pemain. Ia berlari ke pinggir lapangan, terhuyung, berlutut sejenak.

“Nih, minum. Kebanyakan ngerokok sih lo,” sindir Novi, pacarnya, sambil menyodorkan botol air dingin.

Noval menyeringai, meneguk air hingga sisa setengah. “Kalo nggak ngerokok, nggak macho, Bee.”

“Goooolll!!!”

Teriakan Riki membahana dari tengah lapangan. Ia tidak merayakan dengan lari keliling lapangan. Ia berjalan santai ke arah Noval, lalu melakukan selebrasi push-up tepat di depan muka Noval yang masih terengah. “Cemen lu! Masuk lagi, sini!”

Noval menyeka wajahnya, rahangnya mengeras saat melihat selebrasi Riki. Ia menyambar botol air dari tangan Novi, meminumnya separuh, lalu menyiramkan sisanya ke kepala. Ia berdiri tegak meski pandangannya sedikit berbayang, lalu berlari kembali ke tengah lapangan.

“Katanya mau nikahin gue abis lulus, nabung!” teriak Novi dari pinggir lapangan.


Angin sore bertiup lebih kencang di atas rooftop dibandingkan di halaman sekolah. Asap rokok beterbangan di antara jemuran kabel listrik dan bayangan tangki air. Rizal duduk di sofa bekas cokelat kusam yang diletakkan di sudut atap, di bawah bayangan tangki air.

“Ega mau naik lagi hari ini, Zal,” ucap Toni, murid kelas XII TKJ 2, sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Asap tipis itu segera menghilang tertiup angin.

Rizal menghirup rokoknya dalam-dalam.”Masih belum kapok tuh anak?”

“Mau ngikutin jejak lo kali,” timpal Robi, murid kelas XII TKJ 1.

Pintu di belakang mereka terbuka kasar. Ega, anak kelas XI yang badannya lebih tinggi sepuluh senti dari Rizal, berdiri dengan tangan mengepal.

“Masih mau nyoba?” tanya Rizal.

“Selama gue masih bisa naik ke rooftop, gue bakal terus datang,” ujar Ega, suaranya terdengar bergetar.

“Ayo, maju!” Rizal berdiri, membuang puntung rokoknya ke lantai.

Ega berlari ke arah Rizal, mengepalkan tangan kanannya mencoba memukul wajah sisi kiri Rizal. Rizal sedikit merunduk, tinju itu lewat di atas kepalanya, lalu membalas dengan satu uppercut singkat ke dagu

Bugh.

Ega terpental ke belakang, matanya terpejam, tidak sadarkan diri di atas lantai. Pertarungan berakhir dalam waktu kurang dari lima detik.

“Kirain gue bakal lama. Udah, yuk cabut,” Rizal membersihkan debu di seragamnya

“Ini anak gimana?” Robi menunjuk Ega yang tergeletak.

“Dudukin saja di sofa bekas, terus kunci pintu dari dalam.”

Rizal melangkah keluar, menutup pintu. Tanpa medali pencak silat yang ia sumbangkan di lemari pajangan sekolah, ia sudah lama ditendang dari institusi ini. Sekolah memakai tinjunya, dan Rizal memakai nama sekolah untuk tetap punya tempat bersembunyi.

Anak-anak kelas sepuluh yang duduk di tangga buru-buru berdiri saat Rizal lewat.

“Itu Bang Rizal...”

“Yang mukul anak TKJ kemarin?”

“Yang juara pencak itu.”

“Ssst.”


Lantunan lagu Sindentosca berjudul Kepompong terdengar samar dari earphone Chacha. Ia duduk di bangku beton dekat gerbang sekolah, kedua kakinya mengayun pelan. Satu per satu siswa mulai dijemput orang tua, kakak, atau pulang bergerombol bersama teman-temannya.

Halaman sekolah yang semula riuh perlahan lengang. Sesekali Chacha melirik ke ujung jalan, berharap melihat motor hitam milik Gilang muncul di antara padatnya kendaraan. Setelah itu ia kembali melihat jam tangan mungil di pergelangan kirinya.

“Belum pulang, Cha?” sapa Rama, kakak kelas Chacha, yang baru keluar dari gerbang sekolah sambil menggantungkan helm di lengannya.

“Eh, Kak Rama. Kak Gilang belum datang, Kak.” Chacha melepas salah satu earphone.

“Biasanya sebelum jam pulang udah nunggu kamu. Tumben belum datang.”

“Kena macet kali, Kak.” Chacha tersenyum kecil, matanya kembali menoleh ke arah jalan.

Rama ikut melihat ke arah yang sama. Deretan motor merayap pelan di antara angkot dan bus kota yang saling berebut penumpang.

“Coba ditelepon, Cha. Tanyain udah sampai mana.”

“Pulsa Chacha habis, Kak. Lupa isi pulsa.” Chacha tertawa kecil.

“Yaudah, nih. Pakai HP Kakak dulu. Daripada kelamaan nunggu.” Rama menyodorkan ponsel Nokia miliknya.

“Eh... makasih ya, Kak.” Chacha menerima ponsel itu dengan kedua tangan, lalu mengetik nomor Gilang.

Raungan mesin motor sport terdengar dari kejauhan. Semakin lama semakin dekat. Chacha menoleh. Wajahnya berubah cerah.

“Itu Kak Gilang.”

Motor sport hitam berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Gilang membuka kaca helmnya sebelum mematikan mesin. “Maaf ya, Cha. Kakak telat jemput.”

Gilang menatap Chacha, lalu beralih ke Rama yang masih berdiri di samping Chacha,

“Iya, Kak. Enggak apa-apa.” Chacha mengembalikan ponsel ke Rama. “Oh iya, ini Kak Rama.”

“Makasih, Bro. Udah nemenin adek gue.” Gilang mengulurkan tangan.

Rama membalas jabatan itu sambil tersenyum sopan. “Iya, Bang. Enggak masalah.”

Senyum Rama perlahan memudar ketika jemari Gilang mulai meremas tangannya sedikit demi sedikit. Beberapa detik kemudian Gilang melepaskan jabatan itu seolah tidak terjadi apa-apa.

“Nih, pakai.” Gilang melepas jaket kulitnya lalu menyampirkannya ke pundak Chacha.

“Kakak pakai apa?”

“Enggak apa-apa. Kakak udah biasa. Daripada kamu masuk angin.”

Chacha mengenakan jaket itu sambil tersenyum kecil.

“Gue duluan ya, Bro.” Gilang menyalakan kembali mesin motornya setelah memastikan Chacha sudah duduk dengan benar di jok belakang.

“Makasih ya, Kak.” Chacha melambaikan tangan kecilnya.

“Iya, Bang... Cha. Sama-sama.”

Gilang menarik tuas gas. Ban motornya berderit pelan meninggalkan halaman sekolah, lalu menyatu dengan arus kendaraan sore yang padat. Rama berjalan menuju Vespa tua warisan ayahnya. Ia memperhatikan motor itu menjauh beberapa saat sebelum akhirnya mengenakan helm dan pulang ke arah yang berlawanan.

Angin menerpa jaket kulit yang kini dipakai Chacha hingga sedikit menggelembung. Di lampu merah pertama, Gilang sesekali melirik kaca spion, memastikan Chacha masih duduk nyaman di belakangnya.

“Kita mau ke mana, Kak?!” teriak Chacha di balik helm.

Motor mereka melaju melewati deretan ruko, kios fotokopi, dan warung makan yang mulai dipenuhi mahasiswa.

“Apaan?!” tanya Gilang.

“Mau ke mana?!”

“Nongkrong dulu ya sama temen Kakak! Tadi Kakak lagi nongkrong soalnya!”

“Iya, tapi Kak!”

“Kenapa?!”

“Chacha lapar...”

Gilang tertawa kecil di balik helm. “Yaelah... kirain kenapa.”

Di putaran jalan berikutnya Gilang membelokkan motor ke arah restoran cepat saji berlogo huruf M. Tempat itu sudah seperti tujuan wajib setiap kali Chacha sedang bad mood.

Beberapa menit kemudian, aroma kentang goreng dan daging panggang memenuhi meja mereka. Chacha membuka bungkus cheeseburger kesukaannya tanpa banyak bicara. Gigitan pertama membuat pipinya mengembang.

Gilang menopang dagu sambil memperhatikan adiknya makan dengan lahap. “Makan yang banyak biar cepat gede.”

“Chacha udah gede, Kak,” sahut Chacha, pipinya penuh makanan.

“Buat ukuran semut, mungkin.”

“Ih...”

Gilang terkekeh pelan, ia mengambil kentang goreng satu batang. “Rama itu siapa?”

“Ketua Rohis, Kak. Baik orangnya.”

“Rohis ya...”

Jari Gilang mengetuk meja dua kali. “Mendingan lah ya daripada si Ono.”

Chacha berhenti mengunyah. “Siapa, Kak?”

“Enggak.” Gilang menggeleng pelan. “Lupain aja.” Ia mendorong kotak kentang ke arah Chacha. “Abisin ya. Temen Kakak udah nunggu.”

“Iya, Kak.”

Gilang kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya sesaat melihat keluar jendela restoran, lalu kembali ke Chacha yang masih sibuk menghabiskan burgernya.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk