BAIK-BAIK DI DALAM

0 dibaca

A

Di ruang ICU yang berbau ozon dan antiseptik, suara detit monitor jantung adalah satu-satunya irama yang tersisa. Riki membuka matanya perlahan. Satu minggu rentang waktu yang dibutuhkan Riki untuk kembali pulih. Cahaya lampu neon di plafon terasa seperti tusukan jarum. Tenggorokannya kering, suaranya yang pertama keluar hanya geraman serak yang tidak membentuk kata. Ia mencoba menggerakkan jari, tapi rasa sakit dari tulang-tulang yang baru disambung memaksanya kembali diam.

Sementara itu, di aspal Jakarta, kebenaran tentang gudang Alvita Jaya telah bermutasi dari mulut ke mulut. Di warung-warung kopi dan pojok parkiran, rumor menyebar lebih cepat dari infeksi: sebuah aliansi besar Trijaya dan Pelita Bangsa, ratusan siswa bersenjata, penyerbuan terencana yang menghancurkan markas musuh bebuyutan.

“Zal, mereka bilang kita bawa satu kompi. Nama lo disebut-sebut sebagai jendralnya,” bisik Toni.

“Biarin aja,” ucap Rizal, saat mereka berkumpul di warung belakang sekolah yang remang. Ia menyulut sebatang rokok. “Rumor lebih aman dari kebenaran. Kalau mereka mikir ini perang antar-sekolah, mereka nggak bakal nyari satu atau dua nama.” Rizal menyesap kopinya yang sudah dingin. Matanya menatap aspal.


Hari kedua Try Out Matematika. Di kelas XII IPA 2, ruang kelas hanya diisi suara gesekan pensil 2B di atas kertas LJK. Rizal Biantara duduk di baris tengah, punggungnya tegak lurus, menatap lembar LJK di depannya. Nadia beberapa kali menoleh, melihat punggung Rizal yang tegak di baris tengah.

Brak!

Pintu kelas dibuka kasar, menghantam dinding. Semua kepala mendongak serentak. Dua orang polisi berpakaian preman masuk, diikuti Kepala Sekolah, wajahnya sepucat kertas ujian. Langkah sepatu boots mereka berdentum di atas keramik, mematikan semua konsentrasi.

Rizal berhenti menulis. Ia meletakkan pensilnya perlahan.

“Rizal Biantara. Ikut kami,” ucap salah satu petugas.

Di depan puluhan pasang mata teman sekelasnya, polisi itu menarik tangan Rizal ke depan.

Klik. Klik.

Bunyi logam borgol memotong keheningan kelas. Suara gesekan kertas dan napas tertahan berhenti. Puluhan pasang mata terpaku pada pergelangan tangan Rizal.

“Tunggu! Apa-apaan ini, Pak?! Rizal nggak salah! Kenapa dia diborgol?!” Nadia bangkit berdiri, kursinya terjungkal ke belakang. Air mata menggantung di sudut matanya.

Polisi itu menarik tangan Rizal, memaksanya berdiri.

Rizal menoleh ke belakang, menatap Nadia dengan pandangan sayu yang dalam. “Diem, Nad. Ini bukan urusan lo.”

Di ambang pintu, Kepala Sekolah membuang muka. Ia tidak sanggup menatap mata siswanya yang paling berprestasi di arena bela diri dan bermasalah itu saat diseret keluar seperti kriminal.

Suara langkah sepatu polisi menghilang di ujung koridor. Tak ada satu pun murid yang kembali mengisi LJK. Pak guru yang sejak tadi berdiri di depan kelas hanya memegang lembar soal tanpa membuka mulut.

Jarum jam terus bergerak. Nadia masih berdiri di samping kursinya. Tangannya gemetar, pensilnya jatuh ke lantai.

“Pak...” Nadia menoleh ke arah gurunya. “Rizal nggak mungkin...”

Pak guru menarik napas panjang. “Lanjutkan ujian.”


Bunyi kipas angin tua berputar lambat di sudut bengkel Om Bewok, sesekali diselingi suara kendaraan yang melintas di depan jalan raya. Gilang, Noval, Toni, dan Nadia duduk melingkari satu meja

Segelas teh manis di depan Nadia sudah kehilangan uapnya. Noval berdiri, lalu duduk lagi. Menyalakan rokok, menghisap satu kali, kemudian mematikannya di asbak yang sudah penuh puntung.

“Ini nggak masuk akal,” Noval mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. “Kenapa cuma Rizal? Gue ada di sana juga! Gilang juga!”

“Gengsi, Val,” potong Gilang. “Alvita Jaya itu sekolah besar. Mereka nggak mungkin lapor kalau markasnya dihancurin cuma sama dua orang. Mereka butuh kambing hitam buat nutupin malu. Rizal dijadiin tumbal supaya cerita ‘serangan massa’ itu tetap laku.”

“Terus kenapa soal Riki yang digantung mereka diem aja?!” Noval menggebrak meja. “Harusnya mereka juga dipenjara, anjing!”

“Mereka main aman,” sahut Toni lesu. “Kalau mereka lapor soal Riki, mereka sendiri kena pasal percobaan pembunuhan. Sekarang mereka cuci tangan.”

Nadia menatap Gilang, matanya memerah. “Kenapa nggak ada yang bilang dari awal? Kenapa kaliam biarin Rizal maju sendirian?”

“Gue yang ngajak dia, Nad. Harusnya gue yang ada di posisi dia sekarang.”

“Tadi gue ke rumahnya.” Air mata Nadia berbisik jatuh ke meja. “Bapaknya nggak mau datang ke kantor polisi. Beliau bilang... Rizal udah gede, biarin tanggung sendiri. Beliau nggak mau tahu lagi. Nama Rizal mungkin udah dicoret dari kartu keluarga.”

Gilang menarik napas panjang, matanya menatap kosong ke lantai. “Gue udah cerita semua ke bokap, minta bantuan pengacara terbaik. Val, lo sama Toni, sekarang giliran kalian. Lo ke bokapnya Riki. Siapa tahu dia mau bantu. Rizal ngelakuin ini buat Riki.”

“Oke,” jawab Noval dan Toni serempak.

“Sebelum itu, kita jenguk Riki dulu. Ingat, jangan ada yang cerita soal Rizal sampai dia sembuh total. Gue nggak mau dia ngerasa bersalah dan ngebenanin pikirannya. Gue jemput Caca. Ketemu di RS,”


Dua minggu kemudian, Bau pengap, keringat, dan asap rokok memenuhi ruang kunjungan yang disekat jeruji besi. Gilang, Noval, dan Nadia duduk di depan jeruji. Rizal muncul dengan seragam tahanan biru. Tubuhnya lebih kurus, rambutnya dipangkas hampir botak. Om Bewok dan seorang pengacara berdiri di belakang mereka.

“Gimana di dalam?” Gilang bertanya, tangannya mencengkeram besi pembatas.

Rizal mengangkat tangannya yang terbelenggu logam, lalu tersenyum kecut. “Nyamuk di sini lebih sopan dari anak Alvita. Mereka nggak banyak tanya, langsung gigit.”

Om Bewok maju selangkah. “Mereka masih tanya siapa yang ikut?”

“Masih. Tapi mereka nggak akan dapet nama Gilang. Ini urusan saya sendiri.”

“Kalo gitu. Sekarang ceritain semua yang sebenarnya, detail, dari awal sampai akhir, ke pengacara. Dia bakal bantu sebisa mungkin,” tegas Om Bewok.

“Iya, Om.” Mata Rizal bergerak menyapu ruang kunjungan yang ramai. “Bokap... Nyokap... beneran nggak mau dateng?”

Nadia menggigit bibir bawahnya. Rizal tersenyum kecut melihat reaksi Nadia.

“Beneran dicoret ya? Ya sudah. Biarin aja.” Rizal menunduk, menyembunyikan setetes air mata yang hampir jatuh.


Ruang sidang penuh sesak. Keluarga korban dari Alvita Jaya memenuhi barisan depan, berteriak-teriak setiap kali Rizal dibawa masuk. Caci maki “preman” dan “pembunuh” memenuhi udara.

Jaksa membacakan tuntutan dengan suara datar. “Penganiayaan berat terencana. Pasal 351 ayat 2. Tuntutan sepuluh tahun penjara.”

Rizal menatap retakan pada ubin di bawah kakinya.

Hakim mengetuk palu. “Menjatuhkan vonis... lima tahun penjara.”

Ruang sidang pecah. Keluarga korban memaki, menuntut hukuman lebih berat. Di barisan paling belakang, Riki berdiri dengan bantuan kruk. Wajahnya masih pucat, perbannya masih terlihat di balik kemeja. Ia menatap Rizal, air mengembang di sudut matanya.

Gilang menerobos kerumunan petugas, memeluk Rizal sesaat sebelum ia dibawa kembali ke sel. “Apapun yang terjadi, lo tetap saudara gue sampai mati, Zal,” bisiknya di telinga Rizal.

Om Bewok menepuk bahu Rizal saat ia digiring lewat. “Anggap ini sekolah yang lebih keras. Keluar dari sini, lo bakal jadi orang yang beda.”

Petugas mulai mengosongkan ruang sidang sedikit demi sedikit. Kursi-kursi kayu kembali bergeser, suara langkah kaki memenuhi ruangan yang beberapa menit lalu dipenuhi teriakan.

Gilang masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak pernah lepas dari punggung Rizal. Noval menendang kaki bangku di sampingnya hingga bergeser beberapa senti. Riki menggenggam kruknya semakin erat.

Rizal digiring keluar menuju lorong gelap, gerbang besi di ujung terbuka. Ia menoleh sekali lagi ke arah teman-temannya, memberikan satu senyum terakhir. Air matanya jatuh tepat saat pintu besi itu tertutup dengan bunyi dentuman yang mengakhiri segalanya.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk