VALENTINE TERBURUK

1 dibaca

A

Udara SMK Pelita Bangsa mendadak pengap oleh aroma mawar dan cokelat. Di pojok koridor, bisik-bisik rahasia dan bungkusan kado yang disembunyikan di balik punggung menjadi pemandangan wajib. Di kelas XI IPS 1, Nadia menarik sebuah kotak kecil dari kolong mejanya, lalu membukanya.

“Zal, lihat. Ada yang naruh cokelat lagi.” Nadia menggoyangkan kotak itu di depan wajah Rizal.

Rizal tidak menoleh. Ia sibuk meruncingkan pensilnya, matanya lurus menatap serpihan kayu yang jatuh ke lantai. “Buang aja. Paling isinya obat mencret.”

“”Ih, sirik aja lo. Mau?” Nadia menyodorkan potongan cokelat ke depan hidung Rizal.

“Halah, sok mau ngasih lu,” sahut Rizal, matanya melirik cokelat itu selama dua detik.

Rizal berdiri, menyambar tasnya, keluar kelas tanpa kata-kata, meninggalkan Nadia yang tertawa kecil.

Sementara itu, di ruang tengah rumah sederhana dekat pabrik tempe milik Haji Ridho, kipas angin tua berputar pelan, mengeluarkan bunyi berdecit di setiap putarannya. Bau rebusan kedelai dari belakang rumah masih memenuhi udara, bercampur aroma minyak kayu putih yang dioleskan berulang kali ke dada Noval.

Noval mengerang pelan. Tubuhnya menggigil di bawah selimut tebal, pelipisnya memerah karena demam tinggi. Sesekali ia membalik badan gelisah, bibirnya menggumam tidak jelas.

“Air...” lirihnya.

Novi mengambil gelas di atas meja kecil. Ia menyelipkan satu tangan ke belakang kepala Noval, mengangkatnya perlahan. “Pelan-pelan.”

Noval meneguk dua teguk kecil, lalu kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal. “Kepalanya muter...”

Novi memeras kembali handuk di dalam baskom. Airnya sudah mulai hangat. Ia berdiri, menggantinya dengan air sumur yang lebih dingin, lalu meletakkan handuk itu di dahi Noval.

Pintu kamar terbuka pelan. Haji Ridho berdiri di ambang pintu, membawa semangkuk bubur hangat. “Panasnya masih tinggi?”

Novi mengangguk pelan. “Belum turun, Pak.”

Haji Ridho meletakkan mangkuk itu di atas meja. Tangannya menyentuh sebentar dahi Noval. “Ck...” Ia menarik napas pendek. “Kalau sampai siang belum turun juga, kita bawa ke puskesmas.”

Noval membuka mata setengah. “Nggak usah...”

“Sok kuat.”

“Bener, Pak...”

“Kemarin berani tawuran. Sekarang ngelawan demam aja kalah.”

Sudut bibir Novi terangkat tipis.

Noval ikut menyeringai lemah. “Itu... beda, Pak.”

Haji Ridho menggeleng kecil sambil menepuk pelan kaki Noval yang tertutup selimut. “Istirahat. Urusan jago-jagoan nanti aja.”

Ia melangkah keluar kamar. Dari arah belakang rumah terdengar kembali suara mesin penggiling kedelai mulai menyala, disusul suara para pekerja yang saling memanggil. Rumah itu kembali tenang. Dengung kipas angin tua dan napas berat Noval memenuhi udara kamar.

Di ruang BEM Universitas, meja panjang dipenuhi tumpukan bingkisan Valentine. Kotak cokelat berbagai ukuran bertumpuk dengan bunga mawar yang mulai layu karena seharian dibiarkan di ruangan berpendingin mati. Kertas-kertas kecil berisi ucapan cinta berserakan di antara proposal kegiatan kampus yang belum sempat dirapikan.

Ilham duduk di atas meja paling ujung sambil membalik-balik proposal seminar. Sesekali ia melirik tumpukan hadiah itu lalu terkekeh sendiri.

“Gila... Fans lo malah nambah.”

Gilang mendengus pelan. Tatapannya menyapu satu per satu nama yang tertulis di kartu ucapan.

“Nih.” Ilham mengangkat sebuah boneka kecil berwarna merah muda. “Gue bawa pulang, ya?”

“Bawa aja.”

“Serius?”

“Iya.”

Ilham melempar boneka itu ke tasnya sambil tertawa. “Gue bilang ke cewek gue hadiah dari Ketua BEM.”

“Terus besok putus.”

“Anjing.”

Gilang kembali menggeser beberapa kotak hadiah. Jemarinya berhenti di kotak merah marun dengan inisial A.P. yang ditulis rapi di sudut pita. Ia mengambil kotak itu, membacanya sekilas, lalu memasukkannya ke dalam tas tanpa membuka isinya.

“Yang itu kok dibawa?” Ilham menatap gerakan Gilang.

Gilang menutup ritsleting tasnya. “Ada perlu.”

“Cewek lo?”

“Bukan.”

“Terus?”

Gilang mengenakan jaket kulitnya tanpa menjawab.

Ilham mengangkat sebelah alis. “Halah... kalau bukan cewek, berarti buat adek lo.”

Gilang berhenti sepersekian detik sebelum menyampirkan tas ke bahunya. “Dia suka cokelat.”

Ilham tersenyum kecil. “Udah gue tebak.” Ia bersandar santai di meja, menyilangkan kedua tangan di dada. “Ngomong-ngomong...”

“Hm?” sahut Gilang tanpa menoleh.

“Lo dapet beginian tiap tahun, nggak pernah kepikiran pacaran?”

Gilang mendengus pelan. “Ribet.”

“Cocok. Jawaban standar lo.”

Gilang mengaitkan tasnya ke bahu. “Lo juga mana cewek lo? nggak pernah dikenalin.”

Ilham menggeleng cepat. “Ogah.”

“Kenapa?”

Ilham menunjuk wajah Gilang. “Ntar dia malah demen sama lo.”

Gilang tertawa kecil. “Lebay.”

“Bukan lebay. Fakta.”

Ilham berdiri mengambil jaketnya. “Udah berkali-kali gue liat sendiri. Cewek yang awalnya ngobrol sama gue, ujung-ujungnya nanya, ‘Eh, itu Ketua BEM siapa?’”

Gilang mengangkat bahu. “Terus salah gue?”

“Nah itu. Makanya gue nggak bakal ngenalin.”

Gilang menggeleng pelan sambil membuka pintu. “Kasian amat hidup lo.”

Ilham ikut tertawa, senyumnya menghilang sesaat ketika matanya tanpa sengaja kembali menatap tas Gilang, tepat ke arah kotak merah marun yang baru saja dimasukkan ke dalamnya. “Dari Aura ya,” bisiknya pelan.

Gilang mengambil kunci motornya dari atas meja. “Ruangannya lo kunci kalau pulang.”

“Iya, Bos.”

Gilang melangkah keluar ruangan. Pintu kayu menutup pelan di belakangnya.

Ilham menggeleng, menatap tumpukan bingkisan Valentine di atas meja. “Cowok beginian masih aja laris...”

Di depan gerbang sekolah, beberapa siswa masih bergerombol menunggu jemputan, bercanda di atas motor, membeli es di gerobak depan sekolah. Suara klakson dan pedagang kaki lima yang menawarkan dagangannya bercampur di udara.

Seorang kakak kelas berkepala botak menghampiri Chacha sambil menggenggam setangkai mawar merah dan sekotak cokelat kecil yang dibungkus kertas mengilap.

“Cha...”

Chacha menoleh. “Iya, Kak?”

Cowok itu menggaruk tengkuknya sebelum mengulurkan bunga. “Ini... buat kamu.”

Chacha berkedip beberapa kali. Ia menatap bunga itu sebentar, lalu kembali menatap wajah kakak kelasnya. “Valentine ya, Kak?”

Cowok itu mengangguk pelan. “Iya.”

Chacha tersenyum kecil, lalu menjabat tangan kakak kelas itu dengan kedua tangannya. “Maaf ya, Kak. Tapi aku nggak boleh pacaran.”

Cowok itu masih memegang bunga yang belum sempat diterima. “Oh... iya.” Ia tersenyum canggung, menarik kembali tangannya perlahan. “Enggak apa-apa.”

“Semangat ya, Kak.”

“Iya...”

Cowok itu mundur beberapa langkah, lalu berbalik pergi. Beberapa temannya yang sejak tadi mengintip dari balik gerbang langsung menepuk bahunya sambil tertawa.

“Gagal, Bro?”

“Udah gue bilang.”

“Minimal udah nyoba.”

Di parkiran SMK Trijaya Utama Riki sedang memoles krom motor lowrider-nya sampai mengkilap. Mawar merah terselip di saku celananya.

Riki membuka spion motornya untuk ketiga kali. “Rambut gue udah bener?”

Temannya menghela napas. “Lo mau nembak cewek apa interview kerja?”

“Anjing.” Riki mengeluarkan secarik kertas dari dompet, menatap tulisan tangannya.

Cha, lo mau nggak jadi pacar gue?

“Goblog, nembak cewek malu-maluin amat pake kertas,” Riki membaca tulisanya beberapa kali, ia meremas kertasnya lalu melempar ke tong sampah.

Riki menarik napas panjang, lalu memasukkan kembali dompetnya ke saku belakang celana. Ia mengusap wajah sekali, mengenakan helm, kemudian menyalakan mesin motor lowrider kesayangannya. Raungan knalpot menggema memenuhi parkiran sekolah.

“Jadi nggak jadi?” teriak temannya.

Riki mengangkat tangan tanpa menoleh. Motor meluncur keluar gerbang SMK Trijaya Utama, membelah kemacetan siang Jakarta. Di lampu merah pertama, ia kembali melirik mawar merah yang terselip di saku celananya. Beberapa kali ia mengulang kalimat yang tadi sempat ia tulis di secarik kertas, lalu menggeleng sendiri.

“Goblok... ngomong aja susah amat.”

Semakin dekat ke sekolah Chacha, detak jantungnya semakin cepat. Telapak tangannya mulai berkeringat. Sesampainya di seberang gerbang sekolah, ia memarkir motor di depan warung kosong, mematikan mesin, lalu menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya mengetik sebuah pesan singkat.

Tepat pukul 13.30, Riki menunggu di sebuah warung kosong di seberang sekolah Chacha. Ia mengirim pesan SMS ke nomor Chacha.

“Kakak di depan.”

Chacha keluar, melihat Riki, dan tersenyum. “Kak Riki...”

“Hehe.”

“Ngapain jauh-jauh jemput Chacha ke sini?”

“Kan Valentine.”

Chacha tertawa kecil. “Berani ya.”

“Banget.”

“Kalau Kak Gilang tahu?”

Riki menggaruk kepalanya “Ya... paling dipukul.”

“Terus masih nekat?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Soalnya lebih takut nyesel.”

Chacha menunduk. Pipinya mulai merah.

Aroma kopi hitam bercampur asap rokok tipis memenuhi kafe kecil di samping gedung fakultas. Beberapa mahasiswa masih mengenakan jas almamater, sebagian sibuk menyelesaikan laporan di depan laptop, sebagian lain tertawa membahas rencana malam Valentine.

Di sudut dekat jendela, Gilang duduk bersandar di kursinya. Kotak merah marun berinisial A.P. tergeletak di atas meja. Ilham sibuk mengaduk es kopi susu sambil sesekali meledek pasangan mahasiswa yang lewat membawa bunga.

Ponsel Gilang bergetar di atas meja kafe kampus. Nama Chacha muncul di layar ponsel,

“Kenapa, Cha?” tanya Gilang santai.

Suara napas memburu dan langkah kaki terdengar dari seberang telepon.

“Chacha?”

“K-Kak...” Suara Chacha pecah. Isaknya tertahan. “Tolongin Chacha...”

Gilang langsung berdiri. “Ada apa?!”

“Kak Riki... Kak...”

Terdengar suara laki-laki berteriak dari kejauhan. Disusul bunyi sesuatu menghantam benda keras.

Chacha menjerit. “Kak!”

Sambungan mendadak dipenuhi suara berisik, lalu terputus.

Wajah Gilang memerah padam, urat lehernya menegang. Ia bangkit, menyambar jaket kulit hitamnya. “Ham, ikut gue! Sekarang!”

Di saat yang sama, bel pulang baru saja berbunyi di SMK Pelita Bangsa. Suara kursi bergeser bercampur teriakan siswa yang berebut keluar kelas. Ponsel Rizal bergetar di dalam saku celananya.

“Lu di mana?!” bentak Gilang dari seberang.

“Di kelas.”

“Riki diayamin!”

“Apaan?!” Rizal terlonjak, menepis sisa cokelat dari mejanya.

“Riki dikeroyok anak 47! Chacha telepon barusan. Si goblok itu nyari mati jemput Chacha di kandang lawan!”

Rizal berdiri, menyambar kunci motor. Mengabaikan Nadia yang memanggil namanya. “Anjing! Gue OTW! Ketemu di PGA!” Ia berlari menembus koridor yang dipenuhi siswa pulang sekolah. Beberapa anak yang berjalan santai buru-buru menepi ketika Rizal menerobos di tengah kerumunan.

“Ton!” teriak Rizal dari lantai bawah.

Toni menoleh dari depan kelas.

“Temenin gue!” Rizal terus berlari. “Bawa Amoy!”

di Persimpangan PGA. Gilang dan Ilham sudah menunggu, helm tertutup rapat. Dari kejauhan terdengar raungan motor Rizal, Toni duduk di jok belakang menggendong tas panjang.

“Di mana?” tanya Rizal singkat.

“Kebun kosong dekat 47,” jawab Gilang.

Sepuluh menit kemudian, motor-motor itu berhenti di depan lahan kosong yang dikelilingi pagar kawat berkarat. Bau tanah basah bercampur sampah yang baru dibakar menyambut mereka. Dari balik pepohonan terdengar suara gagak yang beterbangan.

Chacha terduduk di pojok pagar kawat. Rambutnya acak-acakan, satu matanya bengkak kebiruan, seragamnya kotor. Tubuhnya gemetar, tangannya memeluk lutut.

“Cha!” Gilang jatuh berlutut, memeluk Chacha. “Bangsat! Siapa yang bikin adek gue begini!”

Tak jauh dari mereka, Riki tergantung terbalik di pohon akasia. Kakinya diikat tali tambang ke dahan yang kuat, tubuhnya terkulai lemas, berlumuran darah yang menetes perlahan ke tanah. Napasnya terdengar dangkal dan tersendat-sendat.

“Anjing!” Rizal berlari, mengeluarkan pisau lipat, lalu memotong tali dalam satu sentakan. Tubuh Riki jatuh ke pelukannya.

“Ton, bawa ke klinik. Ikat badannya ke badan lo pakai sabuk,” perintah Rizal.

Sebuah motor datang meraung dari kejauhan. Noval tiba dibonceng Novi. Wajahnya pucat pasi, matanya sayu karena demam, tangannya masih menggigil.

“Ngapain lu ke sini, bego!” bentak Rizal ke Noval.

“Gue nggak bakal diem... si bogel diayamin...” jawab Noval lemas, berusaha turun.

Gilang berdiri, menghampiri Noval.

Bugh.

Sebuah pukulan mendarat telak di pipi Noval. Noval ambruk, kombinasi antara demam dan hantaman Gilang.

“Bawa dia pulang, Nov,” ucap Gilang pada Novi.

“Ham, bawa Chacha tapi kawal dia dulu,” perintah Gilang. “Urusan di sini... biar gue sama Rizal yang ngurus.”

“Lo yakin, Lang?” tanya Ilham. “Kita alumni 47.”

“Gue nggak peduli,” sahut Gilang menutup visor helm full facenya

Raungan mesin motor kembali memecah sore. Gilang memimpin di depan, Rizal mengikuti rapat di belakangnya. Mereka meninggalkan Chacha bersama Ilham tanpa menoleh.

Semakin mendekati wilayah Alvita Jaya, jalanan mulai lengang. Gilang memperlambat laju motornya beberapa ratus meter sebelum tujuan. Motor mereka berhenti di balik deretan semak liar.

Langkah mereka menyusuri sisi pagar seng yang mengelilingi gudang. Suara tawa terdengar dari dalam gudang tidak jauh dari sekolah Alvita Jaya, membicarakan bagaimana mereka “memberi pelajaran” pada anak Trijaya Utama.

Rizal membuka tas gitar tua milik Toni. Isinya dua stik baseball besi dan stik golf. Gilang memilih stik golf sepanjang 1,5 meter.

Gue ditolak Chacha gara-gara bocah Trijaya, anjing nggak tuh?” Terdengar suara tawa dari dalam. “Gue kasih kenang-kenangan di mukanya tadi. Si Chacha juga kena tampol dikit, biar pinter.”

Tangan Gilang gemetar di atas stik golfnya saat mendengar nama Chacha disebut. Ia berlari menuju depan gudang, lalu mendobrak pintu kayu dengan bahunya. Rizal masuk seperti bayangan di belakangnya.

Tiga orang terdekat ambruk sebelum sempat berdiri terhantam stik baseball. Enam orang menyerang dengan tangan kosong, sisanya menyambar balok kayu dan parang di sudut ruangan.

Rizal bergerak tanpa suara, setiap ayunan Amoy menghantam tulang kering, sendi bahu, atau rusuk yang terbuka. Di bawah matanya, darah mengalir dari luka sayat yang ia dapatkan.

Gilang terlindungi helmnya, menggunakan stik golf, berputar di tengah ruangan, menghantam lengan dan dada hingga suara krak tulang patah terdengar jelas.

Satu per satu pelaku tumbang bersimbah darah. Tersisa si Botak yang tadi menampar Chacha. Rizal mencengkeram kerahnya, mendaratkan lutut ke wajah si botak tiga kali sampai hidungnya remuk. Ia terus memukul tanpa berhenti.

“Zal, cukup. Bisa mati dia.” Gilang menarik bahu Rizal.

Mereka bejalan ke arah pintu Gudang.

Si Botak yang sudah mandi darah mencoba meludah. “Anjing... gue belum kalah... monyet...”

Rizal berhenti, lalu berbalik, dalam satu gerakan ia mengayunkan Amoy sekuat tenaga ke arah pelipis si Botak. Tubuh itu ambruk seperti karung beras. Rizal tidak berhenti memukul hingga Gilang menahan lengannya dengan sangat kuat.

Rizal dan Gilang kembali melangkah keluar Gudang. Derap langkah mereka memudar.

Di sudut gudang, siswa lain meringkuk sambil memeluk lututnya. Ia menatap ke arah tubuh si Botak yang mengejang pelan. Ia merangkak gemetar. Tangannya yang berkeringat merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dengan layar retak. Jarinya menekan tombol darurat.

“Ambulan, panggilin ambulan ke gudang!”


Bau karbol dan kopi pahit yang kental memenuhi teras. Luka di bawah nata Rizal sudah dijahit. Riki masih di rumah sakit, kritis, menjalani transfusi darah yang diambil langsung dari Gilang.

Om Bewok berdiri di depan mereka, bayangannya panjang menutupi lantai teras. Mantan ketua geng motor itu mengelus brewok tebalnya, menatap dua anak muda di depannya.

“Udah dihajar?” tanya Om Bewok pendek. Suaranya rendah.

“Udah, Yah,” jawab Gilang pelan.

Om Bewok menatap perban di wajah Rizal, lalu menghela napas panjang. “Ayah nggak bisa bilang tindakan kamu bener, Lang. Kekerasan itu salah. Tapi Ayah juga nggak bakal nyalahin kalian karena jagain Chacha dan sahabat kalian.”

Ia menyulut rokoknya. “Tapi inget. Setiap pukulan ada konsekuensinya. Hukum nggak bakal diem. Apa pun yang terjadi nanti, Ayah bakal pasang badan semampu Ayah. Tapi kalian harus siap dengan apa yang datang setelah ini.”


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk