BLOK C

1 dibaca

A

Rizal berdiri di depan meja kayu berlapis yang sudah melengkung. Sepatunya basah menginjak sisa genakan air hujan yang terbawa sepatu bot petugas. Di balik kaca ruang administrasi, buku besar dibuka oleh seorang petugas, ujung kertas menekuk di beberapa bagian.

“Nama?” tanya petugas itu tanpa menoleh.

“Rizal.”

Ujung pulpen bergerak di atas kertas yang sudah menguning. “Buka sepatu.”

Rizal melepas sepatunya, lalu meletakkan di atas meja. Petugas itu menekan solnya dengan ibu jari, memeriksa sela-sela jahitan.

“Isi,” petugas di samping Risal melempar plastik bening ke depan dada Rizal.

Rizal memasukkan sepatu ke dalam plastik bening, jaket menyusul. Ikat pinggang ditarik keluar dari lubang celana dengan satu sentakan. Jam tangan dilepas. Ia mendorong buntalan plastik melalui lubang kecil di bawah kaca. Petugas menarik pelat staples, menekannya tiga kali hingga plastik itu tersegel rapat. Spidol permanen hitam mencoret nama Rizal di permukaan plastik.

“Ganti.”

Satu setel pakaian drill berwarna kuning pudar dilemparkan. Kainnya kaku, berbau deterjen murah dan apek gudang. Rizal melepas kaosnya. Udara dingin koridor menyentuh kulit punggungnya. Ia memakai seragam itu; potongannya gombrang, lengannya menggantung di atas siku.

“742,” ucap petugas itu. Jempol Rizal ditekan ke bantalan tinta, lalu ditekan ke atas kertas.

Petugas itu berdiri, mengambil serangkaian kunci besar yang tergantung di pinggangnya. Logam-logam itu berdenting, bertabrakan satu sama lain saat ia berjalan menuju lorong gelap di balik jeruji besi pertama.

“Jalan.”

Lampu neon di langit-langit berkedip. Sol sepatu bot petugas menghantam lantai semen dengan irama yang statis. Rizal berjalan di belakangnya.

“Berhenti.”

Petugas memasukkan kunci pintu besi nomor tiga belas, memutarnya dua kali ke kanan. Pintu berayun terbuka. Bau keringat manusia, pesing kakus, dan asap rokok murahan menyergap. La orang duduk di dalam ruangan tiga kali empat meter.

Rizal melangkah masuk. Pintu besi di belakangnya ditutup dengan satu sentakan keras. Bunyi benturan logam mengakhiri suara dari luar.

Langkah kaki petugas terdengar menjauh, menyisakan kesunyian di dalam sel. Di sudut sel, seorang pria berkaus dalam kuning menatapnya tanpa berkedip, mengikuti setiap gerak kaki Rizal sampai ia menemukan sisa ubin kosong di dekat bak mandi yang berlumut.

Lima pasang mata memandang ke arah Rizal dengan cara yang berbeda. Seorang pria kurus sedang menyusun kartu remi lusuh di atas lantai. Di ranjang paling atas, seorang bertubuh besar tetap berbaring sambil melipat kedua tangan di belakang kepala. Di dekat kakus, pria tua berkumis putih duduk memunggungi semua orang, sibuk menggosok gelas plastik.

“Kasus?” tanya pria di ranjang atas.

“Penganiayaan,” Rizal duduk bersandar di ujung ruangan.

“Berapa tahun?”

“Lima.”

Pria itu mengangguk pelan. “Bukan narkoba?”

“Bukan.”

“Bukan pembunuhan?”

“Bukan.”

Pria itu mengembuskan asap rokok ke langit-langit. “Masih bocah.”

Mereka kembali pada aktivitas masing-masing.

Lampu sel dipadamkan tepat pukul sepuluh dengan satu sentakan sakelar dari luar. Suara napas berat mulai bersahutan, berubah menjadi dengkur yang tidak beraturan dari arah ranjang. Rizal berbaring di atas busa tipis. Bau keringat lama menguap dari bantalnya.


Bang! Bang! Bang!

Tongkat kayu menghantam jeruji besi bertubi-tubi.

“Bangun!” Teriak petugas sipir.

Orang-orang berebut menuju bak mandi, sebagian lagi mengantri di depan kakus. Bau pesing bercampur aroma sabun colek memenuhi ruangan sempit itu. Rizal berdiri paling belakang.

Air di dalam bak sedingin es. Rizal menciduk satu gayung, menyiram wajahnya perlahan. Pantulan wajahnya bergoyang di permukaan air yang keruh. Rambutnya sudah dipangkas pendek.

Seragam kuning kusam menggantung longgar di tubuhnya. Bekas jahitan di bawah mata masih terlihat jelas.

Palu besi kembali dipukul ke tiang berkali-kali. Di ruang tengah, Rizal menerima nampan plastik berisi nasi gumpalan dan sepotong ikan asin yang mengeras. Rizal menoleh saat tangan dengan tato macan mendarat di bahunya. Pria itu tidak bicara, hanya menunjuk ke arah lantai.

Rizal berdiri. Saat ia berbalik, nampan plastiknya sudah berpindah tangan.

“Punya gue.” Seorang penghuni lain menarik nampan plastik Rizal saat ia hendak berdiri.

Rizal menyandarkan punggungnya di sudut kamar sel, menatap penghuni sel yang mengambil nampan plastiknya.

Sore harinya, kasur Rizal sudah pindah ke bawah ranjang utama. Seorang pria gempal berbaring di sana, tangan bersedekap di belakang kepala.

Rizal melipat seragam birunya, menjadikannya tumpuan kepala di atas ubin dingin yang lembap. Di sekelilingnya, suara dengkur dan igauan penghuni lain menjadi musik pengantar tidur. Di depannya, seseorang sedang mengasah ujung sendok plastik ke lantai semen.

Seorang pria kurus berjongkok di dekatnya sambil menggoyang-goyangkan gelas plastik kosong. “Masih sekolah?”

Rizal mengangguk pelan.

“Kelas berapa?”

“Tiga.”

Pria itu terkekeh. “Sial. Umur segitu gue baru belajar nyolong motor.”

Beberapa penghuni sel ikut tertawa kecil.

“Tenang aja,” pria itu menyodorkan gelas plastiknya. “Gue bukan mau malak.”

“Gue cuma penasaran... anak sekolah sekarang ternyata kalau mukul orang bisa sampai masuk sini juga.”

Rizal tidak menjawab. Pria itu mengangkat bahu lalu pergi begitu saja.

Dua hari kemudian. Bayangan pria berbahu lebar menutupi tubuh Rizal yang sedang duduk. Ujung jempol kakinya menendang tulang kering Rizal.

“Pindah.”

Rizal menggeser tubuhnya ke sudut. Bundel kain basah mendarat tepat di wajah Rizal tepat setelah Rizal menyandarkan tubuhnya ke dinding.

Rizal menurunkan celana itu dari wajahnya perlahan, lalu berdiri. Pria yang melempar celana itu mendengus, berjalan mendekat ke arah Rizal. Pria itu mendorong tubuh Rizal hingga membentur dinding kamar.

Dorongan kedua datang. Rizal bergeser sepuluh sentimeter, tangan kiri Rizal menahan lengan pria itu, bahunya berputar, sikut kanan Rizal naik menghantam telak di bawah rahang. Suara tak dari gigi yang beradu terdengar. Pria itu terhuyung, lututnya menghantam semen, lalu ambruk menyamping.

Dua orang yang tadinya bermain kartu berhenti di tengah jalan. Rizal kembali ke posisi semula, tangannya diam di atas lutut. Tidak ada yang bergerak maju untuk menolong yang jatuh.

Keesokan harinya, piring nasi Rizal tidak lagi berpindah tangan. Saat ia berjalan menuju pancuran air, orang-orang yang biasanya sengaja menyenggol bahunya kini memberi jalan lebar.

Saat jam udara dibuka, seluruh penghuni blok keluar menuju lapangan sempit yang dikelilingi tembok tinggi.

Sebagian duduk melingkar memainkan domino dengan taruhan sebungkus kopi saset. Dua orang lain mengukir bidak catur dari sabun mandi bekas.

Di sudut lapangan, beberapa narapidana mengangkat ember cucian sambil bercanda keras, lalu mendadak diam setiap sipir melintas.

Rizal duduk sendirian di dekat tembok. Matanya memperhatikan arah pandang menara jaga. Menghitung berapa menit sekali sipir berganti patroli.

Di sel, ia hanya bersuara ketika diabsen. Kesunyiannya mulai terasa lebih berat daripada suara teriakan narapidana di sel sebelah. Mata Rizal terus bergerak, memetakan setiap wajah, setiap jam jaga, dan setiap bayangan yang melintas di balik jeruji besi.


Tiga bayangan bergerak dari arah sudut sel tepat setelah lampu sel dimatikan. Satu tendangan mendarat di rusuk kiri. Sebelum ia bisa berguling, sebuah kepalan menghantam pelipisnya.

Tanpa jeda, sehelai sarung melilit leher Rizal, menariknya ke belakang hingga napasnya tersumbat. Rizal meronta, sikutnya menghantam rusuk salah satu penyerangnya hingga terdengar bunyi krak. Kemudian Rizal menghantamkan dahi ke wajah orang di depannya. Ada bunyi tulang hidung yang berderak.

Seseorang menarik kaosnya dari belakang, menyeretnya jatuh ke semen. Sepatu-sepatu menghujam perut, bahu, dan punggungnya. Rizal meringkuk, melindungi kepala dengan kedua lengan.

Pukulan demi pukulan menghujam perut dan wajahnya. Rizal menggigit bibirnya sendiri hingga sobek demi menahan suara agar tidak meledak dari tenggorokan.

Ketika langkah kaki menjauh, sel kembali senyap. Rizal berbaring menyamping di atas semen yang terasa makin dingin. Cairan hangat merayap dari pelipis, melewati pipi, dan menetes ke lantai. Ia menunggu satu menit, lalu menyeret badannya perlahan sampai punggungnya menyentuh tembok. Matanya terbuka di tengah gelap, menatap lurus ke arah pintu besi yang tak bergeming.

Pintu terbuka saat fajar masih abu-abu.

Petugas jaga berdiri dengan tongkat kayu menggantung di pinggang. Matanya berhenti di wajah Rizal-mata kiri yang membengkak hampir menutup dan bercak merah gelap di kerah seragamnya.

“Kenapa?”

“Jatuh.” jawab Rizal. Ia. berdiri, tangannya menumpu pada dinding yang kasar.

Petugas itu mendecitkan giginya, lalu berjalan pergi.

Pagi itu, saat penghuni sel mulai sibuk melipat selimut masing-masing, pria tua yang sejak hari pertama nyaris tidak pernah berbicara berjalan melewati Rizal.

Langkahnya berhenti sebentar. “Lumayan.”

Rizal mengangkat wajah.

“Belum pernah ada anak baru yang masih sanggup berdiri setelah dihajar tiga orang semalaman.”

Pria tua itu melanjutkan langkahnya menuju bak mandi.

Siang harinya, sel itu sunyi. Saat Rizal duduk di sudutnya, pria tua menjatuhkan dua batang rokok kretek ke atas kasur Rizal.

Rizal menatap dua batang rokok itu. Matanya beralih ke langit-langit, mengikuti garis retakan beton yang disinari cahaya dari lubang angin. Cahaya itu bergerak lambat, menyapu retakan demi retakan, sampai akhirnya hilang ditelan bayangan sore.

Rizal mengambil kedua batang kretek itu perlahan. Ia memutarnya beberapa kali di antara jemarinya.

Pria tua itu duduk kembali di dekat kakus. “Kalau orang mulai ngasih rokok...” ucapnya pelan tanpa menoleh. “...berarti mereka udah berhenti nyoba ngusir lo.”

Rizal menyelipkan dua batang rokok itu ke balik lipatan kasurnya. Ia menyandarkan punggung ke dinding yang dingin.

Di luar jeruji, matahari mulai turun perlahan. Cahaya jingga masuk melalui lubang angin kecil, bergerak sedikit demi sedikit di atas lantai semen sebelum akhirnya menghilang ditelan bayangan malam.

Rizal memejamkan mata. Jemarinya mencengkeram pinggiran kasur busa yang tipis itu hingga kukunya memutih. Satu tarikan napas panjang, lalu genggamannya lepas.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk