Bau karbol dan oli dingin menguap dari lantai beton bengkel Om Bewok. Matahari sore menyelinap masuk melalui celah-celah seng, garis-garis cahaya yang membelah debu-debu halus yang menari di udara. Di atas meja kayu panjang, ijazah SMA dalam map plastik biru diletakkan begitu saja, bersandingan dengan gelas kopi yang separuh isinya sudah mendingin.
Seremoni kelulusan tadi pagi berlangsung dua jam di aula sekolah yang pengap. Tidak ada pesta, tidak ada konvoi motor yang berlebihan. Hanya beberapa lembar foto yang diambil dengan kamera ponsel di depan spanduk kelulusan.
Noval, Riki, Nadia, dan Novi duduk melingkar di atas kursi plastik. Gilang berdiri di dekat pintu masuk, menyandarkan bahunya ke pilar besi sambil menatap aspal jalanan yang masih mengeluarkan uap panas.
Om Bewok menuangkan kopi ke dalam lima gelas. Tangannya berhenti sepersekian detik saat hendak mengisi gelas keenam yang biasa diletakkan di ujung meja. Ia memandang gelas itu sebentar, lalu mengembalikan teko ke atas kompor tanpa menuangkannya.
Noval menunduk. Riki menggeser pandangan ke luar bengkel. Nadia memutar sendok di dalam gelasnya tanpa benar-benar mengaduk gula yang sudah larut sejak tadi.
Noval melepas dasinya, membiarkannya menggantung tidak rapi di leher kemejanya yang mulai basah oleh keringat. Ia menatap map ijazahnya sebentar, lalu beralih menatap Om Bewok yang sedang sibuk membersihkan busi motor di sudut lain.
“Gue mau ambil hukum,” Noval menatap kalender dinding bergambar bengkel yang angkanya sudah lewat satu minggu.
“Pengacaranya Om Bewok yang bantuin Rizal,” lanjut Noval pelan, suaranya hampir kalah oleh bunyi klakson Metro Mini di luar. “Gue rasa gue perlu tahu caranya ngomong di depan hakim tanpa harus gemetar.”
Riki mengangguk pelan. “Gue palingan ikut dagang orang tua dulu di pasar.” Tangannya sibuk memutar-mutar tutup botol minuman ringan yang sudah kosong. “Belajar dagang. Lumayan buat muter modal kecil-kecilan, jalani aja dulu yang ada di depan mata. Peluang biasanya nggak nunggu kita siap.”
Nadia menatap Riki, lalu berpindah ke arah jalan raya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. “Gue cari kerja. Praktis aja. Showroom motor di Ciputat butuh sales. Gue mulai training.”
“Gue juga,” timpal Novi singkat. Ia tersenyum tipis ke arah Noval. “Mungkin di gerai kosmetik atau apa pun. Yang penting ada pemasukan dulu.”
Suara radio Om Bewok yang memutar lagu pop mengisi kesunyian bengkel.
“Jadi, lo semua udah punya rencana masing-masing ya.” Gilang berjalan mendekat ke arah meja, meletakkan kunci motornya.
“Lo gimana?” tanya Noval
“Gue mau ngejar SKS, fokus skripsi trus lulus.”
“Udah?” Riki ikut bertanya.
“Lanjut pendidikan polisi,” jawab Gilang datar.
Nadia menoleh cepat, bibirnya sempat terbuka lalu menutup.
Om Bewok berhenti membersihkan busi. Ia mengelap tangannya yang hitam dengan kain majun yang kusam, menatap Gilang lama, lalu mengangguk sekali.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil sewaan menuju Lapas. Di luar jendela, Jakarta tetap bergerak. Orang-orang menyeberang jalan, pedagang asongan mengetuk kaca mobil, dan baliho kampanye politik yang mulai memudar warnanya.
Lapas Salemba tampak seperti benteng abu-abu yang menolak cahaya. Aroma pengap tubuh manusia dan aroma pembersih lantai memenugi ruangan. Rizal muncul dari balik pintu besi yang berat.
Seragam kuning tahanannya terlihat sedikit lebih besar. Rambutnya mulai tumbuh. Ia duduk di depan mereka, hanya dibatasi meja kayu lebar.
“Lulus semua?” tanya Rizal, suaranya serak.
Noval mengangguk, meletakkan tangannya di atas meja. “Lulus semua, Zal. Wisuda tadi pagi.”
“Baguslah. Nggak sia-sia lo semua ikutan Try Out.” Rizal tersenyum tipis
Rizal mengusap kedua telapak tangannya perlahan di atas paha seragam tahanannya. Kulit jemarinya lebih kasar daripada beberapa bulan lalu. Bekas kapalan baru memenuhi pangkal jari dan telapak tangannya.
“Kerja apa sekarang?” tanya Gilang pelan.
“Bengkel kayu sama kebun,” jawab Rizal santai. “Pagi nyapu blok, siang mindahin papan sama karung pupuk. Lumayan... badan nggak kaku.”
Noval menggeser map ijazahnya sedikit ke depan. “Gue mau ambil hukum.”
“Serius?” tanya Rizal.
“Iya. Pengacaranya Om Bewok yang bantuin lo itu. Gue pengen ngerti cara kerja mereka. Cara ngomong di ruang sidang, cara ngebalik perkara. Gue nggak mau lagi cuma berdiri di belakang kursi penonton.”
Rizal mengangguk pelan. “Bagus. Tapi siap-siap aja kepala lo diisi kitab tebel semua.”
Noval menyeringai tipis. “Daripada isi kepala gue cuma jadwal tawuran.”
Rizal mengangguk, lalu menoleh ke Riki yang sejak tadi diam. “Lo gimana, Ki?”
Riki menggeser kursinya sedikit. Ia menggaruk bekas luka di pelipisnya. “Gue bantu orang tua dulu di pasar.”
“Pasar?” tanya Rizal.
“Iya. Lapak sembako kecil. Dari dulu gue cuma lewat doang tiap subuh, sekarang gue yang buka terpalnya.” Riki tersenyum samar. “Belajar nawar, belajar nyari barang, belajar gimana caranya duit kecil bisa muter terus.”
Rizal menatapnya beberapa detik. “Dagangan apa?”
“Beras sama minyak dulu. Kata bapak gue, kalau dua itu bisa jalan, yang lain gampang nyusul.” Riki mengangkat bahu. “Ya udah. Gue mulai dari situ aja. Nggak muluk-muluk. Yang penting tiap hari ada yang dikerjain.”
Rizal mengangguk pelan. “Bagus itu.”
Riki menepuk meja sekali. “Nanti kalau lo keluar, siapa tau gue udah punya toko beneran. Lo tinggal nongkrong depan kasir, jaga orang yang ngutang.”
Rizal terkekeh kecil. “Yang ngutang gue gebukin sekalian?”
“Jangan, nanti pelanggan gue habis,” sahut Riki cepat.
Nadia mencondongkan tubuhnya ke depan meja. “Kalau gue jadi sales yang paling rajin nagih.”
“Sales?” tanya Rizal melirik Nadia.
“Iya. Showroom motor di Ciputat.” Nadia mengangkat dagunya. “Kalau lo keluar nanti, motor pertama yang lo beli harus lewat gue. Diskon khusus mantan napi.”
Rizal mendengus pelan. “Diskonnya berapa?”
Novi yang duduk di sebelahnya ikut nimbrung. “Jangan percaya sama dia, Zal. Dia baru training udah dimarahin supervisor gara-gara terlalu galak sama pelanggan.”
“Itu bukan galak,” bela Nadia cepat. “Itu namanya negosiasi.”
“Ngos-ngosan kali negosiasinya,” potong Novi sambil tertawa kecil.
Nadia menyikut lengan Novi. “Pokoknya nanti kalau Rizal keluar, kita kasih motor kredit paling murah.”
Rizal menatap mereka berdua bergantian, sudut bibirnya naik sedikit. “Gue baru keluar penjara, bukan langsung jadi pejabat.”
“Makanya cicilan, Zal,” sahut Novi santai. “Pelan-pelan.”
Suasana meja sempat hidup beberapa detik. Tawa kecil muncul.
“Gue rencana masuk polisi, Zal.” Gilang memotong pembicaraan.
“Polisi ya?” Rizal memajukan tubuhnya sedikit. “Jaga diri lo baik-baik di sana. Jangan sampai seragam itu bikin lo lupa cara napas di jalanan.”
“Waktu kunjungan habis! Silakan keluar!” teriak petugas dari pojok ruangan sambil memukul-mukul pintu besi.
Rizal berdiri lebih dulu. “Lanjutin hidup kalian.”
Ia berbalik, berjalan menuju pintu besi. Langkah kakinya terdengar teratur di atas lantai semen. Ia tidak menoleh ke belakang, bahkan ketika Nadia memanggil namanya. Gerbang besi menutup, bergema di seluruh ruangan.
Di parkiran Lapas, mereka berdiri mematung di samping mobil. Sisa sore yang jingga menyinari gerbang abu-abu di depan mereka.
“Dia barusan... ngusir kita ya?” tanya Riki pelan, tangannya meraba kantong celananya mencari rokok.
“Bukan ngusir,” Noval membuka pintu mobil. “Dia cuma nggak mau kita nunggu di depan pintu selnya selama lima tahun ke depan. Dia pengen kita gerak.”
Nadia menatap pintu gerbang Lapas yang sudah tertutup rapat.
Gilang masuk ke kursi kemudi, menghidupkan mesin mobil. Getaran mesin merambat melalui setir ke telapak tangannya. Ia menatap spion tengah, melihat wajah teman-temannya.
Riki membuka sedikit kaca jendela. Angin sore masuk membawa bau solar dan aspal yang masih panas. “Lima tahun ya...”
Noval menatap lurus ke depan. “Cepet kok.”
Mobil bergerak perlahan meninggalkan area Lapas, menyatu dengan arus lalu lintas Jakarta yang mulai padat oleh orang-orang yang pulang kerja. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, berwarna kuning redup, menerangi aspal yang masih menyimpan sisa panas.
Tidak ada yang bicara sepanjang jalan pulang. Mereka semua tenggelam dalam rencana masing-masing. Di balik kaca jendela mobil, Jakarta terus bergerak tanpa peduli bahwa di dalam satu sel yang sempit.
Gilang memindahkan tuas gigi ke posisi tiga saat mobil meluncur di jalan bebas hambatan. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah lampu-lampu mobil yang berjajar rapi seperti rantai yang tidak terputus.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!