ARTI LUKA

0 dibaca

A

Rizal memulai kebiasaannya lebih awal. Setelah selesai melakukan pekerjaan harian, ia pergi menuju ke warung makan langganannya, memesan tiga puluh kotak nasi dengan menu yang berbeda setiap harinya. Ia menatap tumpukan kotak nasi di dashboard motornya. Kalimat Rama di sel penjara dulu kembali berdengung, lebih nyaring dari deru mesin motornya.

Jika kamu tidak bisa memberi satu juta, maka berikanlah seratus ribu.

Jika tidak bisa seratus ribu, berikanlah sepuluh ribu.

Jika masih tidak bisa, maka berikanlah seribu.

Jika masih belum bisa juga, maka berikanlah tenaga mu.

Jika tak bisa memberikan tenaga, maka berikanlah sebuah doa.

Kalimat diukir lebih dalam daripada luka sayat di bawah mata kanannya. Ia hanya berharap, nasi hangat dalam kotak itu bisa menahan rasa lapar mereka, setidaknya untuk satu malam lagi

Rizal menarik tudung hoodie hitamnya sampai batas dahi. Masker kain naik menutupi hidung, menyisakan luka sayat di bawah mata kanan. Gambar tengkorak di punggungnya menyeringai di bawah lampu jalan yang remang. Masker kain menutupi hidung, menyisakan luka sayat di bawah mata kanannya.

Motor matiknya perlahan meninggalkan warung makan. Jalur yang ia ambil nyaris selalu sama. Kolong jembatan. Emperan ruko. Halte yang sudah lama tidak dipakai. Taman kota tempat para pemulung biasa menggelar kardus. Ia hafal siapa yang lebih dulu harus didatangi ketika hujan turun dan siapa yang selalu menyisakan sebagian nasi untuk istrinya yang sakit.

Tidak ada seorang pun yang mengenal namanya. Mereka hanya mengenal pria bertudung hitam yang datang membawa makan malam lalu menghilang sebelum sempat menerima ucapan terima kasih.


Masih ada sepuluh kotak nasi yang harus Rizal bagikan, disimpan di dashboar motor matiknya. Laju motor Rizal melambat saat melihat siluet perempuan berjalan cepat di trotoar. Tiga lelaki keluar dari bayangan toko yang sudah tutup di belakangnya, menjaga jarak namun konsisten mengikuti.

Rizal mematikan lampu depan, lalu memarkir motor di balik tumpukan kardus bekas pabrik. Ia memperhatikan jarak di antara mereka menyempit.

Di ujung gang sempit dan gelap, ketiga lelaki tersebut menjegat wanita yang mereka buntuti. Salah satu dari mereka menarik paksa kerah baju wanita itu, mengancam wanita itu memberikan tas yang dia bawa. Wanita itu melempar tasnya ke arah mereka. Namun, hal itu tidak menghentikan para pelaku. Ketiga lelaki tersebut tergoda dengan kecantikan wanita itu.

Rizal membetulkan posisi maskernya. Ia mencabut stick baton dari balik pinggang, lalu bergerak masuk. Ia berjalan mengendap-endap, memanfaatkan bayangan, mendekati mereka dari belakang.

Langkahnya terhenti tepat di belakang orang ketiga. Rizal menepuk pundak lelaki paling belakang. Lelaki itu menoleh, ayunan stick baton sudah menghantam wajahnya, suara keras memantul di gang sepi. Lelaki itu tersungkur ke aspal, memegang hidungnya yang patah.

Dua pria yang sudah dikuasai nafsu itu berbalik. Perhatian mereka teralihkan melihat temannya diserang. Dua mata pisau berkilat di depan wajahnya.

Lawan kedua maju dengan tusukan lurus, nyari mengenai perut. Rizal bergeser satu langkah ke samping, menghantamkan baton ke tempurung lutut lawan. Bunyi retak tulang menggema di gang sempit. Pria itu menjerit, jatuh memegangi kaki.

Lawan terakhir maju, mengayun lengannya tanpa arah, Rizal menangkis serangan. Darah merembes dari balik kain hoodie saat mata pisau mengenai lengan kirinya. Ia mengayunkan tinju kanan, mendarat telak di rahang bawah lawan. Pria itu terhuyung ke belakang menabrak tiang lampu jalan. Rizal bergerak maju, mengayun stik baton ke pelipis lawan. Pria itu tersungkur di samping kakinya.

Rizal menunduk sebentar. Darah hangat mulai merembes dari lengan kirinya, membasahi ujung hoodie hitam yang dikenakannya. Ia menekan luka itu beberapa detik dengan telapak tangan, memastikan pendarahannya tidak terlalu deras, lalu berjalan mendekati wanita yang bersimpuh di ujung gang. Tubuhnya bergetar, air mata mengalir di pipinya. Ia merangkul bahu wanita itu, lalu membawanya keluar dari gang, berjalan menuju tempat Rizal meninggalkan sepeda motornya.

Wanita itu berkulit putih dan rambut panjang berombak dengan mata sayu, serta alis tebal yang hampir menyatu. Pipi chubby-nya sedikit merona karena sisa tangis, memperlihatkan barisan behel di balik bibirnya yang masih gemetar

“Nama saya Aurora,” wanita itu mengenalkan diri. Napas Aura terdengar teratur dari balik tudung hoodie Rizal. “Panggil aja Aura”

“Saya Biantara,” jawab Rizal menatap Aura dari spion motornya.

Sepeda motor Rizal berhenti di parkiran minimarket. Rizal menuntun Aura sampai di depan pintu minimarket.

“Ini... buat Mas.” Aura merogoh tasnya, menyodorkan beberapa lembar uang.

Rizal menggeleng pelan. Ia menjauhkan tangan Aura dengan halus. “Tunggu di sini. Ramai. Jangan jalan sendirian lagi.”

Aura terdiam, menatap punggung dengan gambar tengkorak saat Rizal berjalan kembali ke arah motornya. Rizal menghilang ke kegelapan sebelum Aura sempat menanyakan hal lain.

Tiga puluh menit berlalu. Dari kejauhan mobil SUV hitam mendekat, lalu berhenti di depan minimarket. Seorang pria tampan menggunakan jaket kulit hitam keluar dari mobilnya dan mendekati Aura dengan langkah cepat.

“Kamu nggak apa-apa?” Gilang memeluk Aura erat.

Gilang mengajaknya masuk ke mobil untuk mengantarnya pulang.

Sebelum Gilang mengantar Aura pulang, ia bergegas kembali ke tempat di mana kekasihnya diserang dan meminta anak buahnya untuk mengamankan ketiga pelaku yang tergeletak tak berdaya. Gilang menatap tato tribul melingkar di pergelangan tangan mereka, tanda bahwa mereka anggota Black Ribal.

Di pertengahan jalan, Gilang mengemudi dalam keheningan.

“Siapa pria yang nyelametin kamu tadi?” tanya Gilang.

“Dia baik banget, Yang, nggak mau dibayar. Orangnya tinggi, pakai hoodie hitam,” cerita Aura.

“Ciri-ciri fisik lainnya?”

“Em... ada luka di bawah mata kanannya. Kayak bekas sayatan kecil. Tapi mukanya nggak kelihatan jelas,” ujar Aura.

Gilang menginjak pedal rem, suara decit ban terdengar dari luar kabin. Ia menatap Aura.

“Luka di bawah mata kanannya?” tanya Gilang, pupil matanya melebar.

“Iya, kenapa, Yang?” Aura balik bertanya. “Ko tiba-tiba berenti?”

“Siapa namanya?” tanya Gilang lagi, suaranya tercekat.

“Biantara, kalau nggak salah deh. Kenapa sih?”

Gilang menahan napasnya. “Rizal Biantara.”

“Hah! Bentar deh...” Telapak tangan Aura menutup mulutnya. “Rizal? Teman yang lagi kamu cari itu, kan? Namanya Rizal Biantara? Jadi tadi... yang nyelamatin aku itu...”

Gilang menatap setir di depannya. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya. “Iya, itu dia,” ia tersenyum lebar.

Gilang menyandarkan punggungnya ke kursi, menarik napas dalam-dalam.

Sementara itu, di kedai kopi milik Riki, Nadia mengaduk es teh manisnya tanpa henti. Di depannya, Toni menarik kursi, lalu menyampirkan jaket kulit di kursi sebelahnya.

“Lama banget sih lo,” sergah Nadia saat Toni baru duduk di hadapannya.

“Sorry Nad, gue kan perlu make sure info yang gue dapet dari anak buah gue,” jawab Toni menatap Nadia.

“Jadi, gimana?” Nadia menyesap es teh manisnya.

“Gua belum tau info ini valid atau nggak, tapi info dari anak buah gua, mereka pernah liat ada orang yang suka bagiin nasi box ke pemulung, dan ciri-cirinya mirip Rizal.” Toni merendahkan suara.

“Lo bilang tadi udah make sure infonya.”

“Paham Nad, tapi ciri-ciri Rizal itu yang perlu gue make sure lagi tadi.”

“Hasilnya?”

“Gue yakin itu Rizal.”

“Diliat dari mana?”

“Luka di bawah mata.” Toni menyesap kopi yang baru diantar oleh pelayan. “Lo tau luka itu kan?”

“Tapi siapa aja bisa punya luka itu.”

“Bener,” sahut Toni. Matanya menyusuri isi kedai. “Tapi Tangsel itu kota kecil, Nad. Nggak banyak orang yang punya luka spesifik kaya gitu.”

“Semoga bener. Gue mau langsung tampol mukanya kalo ketemu sama dia,” Nadia menunduk, tangannya mengepal di atas meja.

Toni terkekeh. “Lo nyari dia dan pengen langsung nampol pas ketemu? Hebat lo.”

“Ya abis kesel gue! Bebas bukannya nemuin gue malah ngilang, kaya nggak punya temen aja,” keluh Nadia, matanya berkaca-kaca.

“Dia pasti punya alesan sendiri, lo tau kan dia kaya gimana.”

“Iya sih, udahlah. Terus gimana kabar lo?” Nadia mengganti topik.

“Alhamdulillah baik,” jawab Toni.

“Kerjaan lo lancar?”

“Lo liat sendiri, kan. Gue udah jadi DanYon. Walaupun cuma security, tapi gue punya anak buah.”

“Bagus, berarti lo udah mampu beli mobil. Siapin datanya, biar langsung proses pengajuan.”

“Dasar sales, sempet-sempetnya nawarin orang kredit mobil,” sahut Toni sambil memperhatikan cara Nadia mengaduk kopi. Cara yang sama seperti di kantin belakang sekolah tujuh tahun lalu.

Ia menatap Nadia sedikit lebih lama dari biasanya, jakunnya naik turun. Setiap informasi mengenai Rizal yang diberikan pada Nadia adalah satu langkah mundur bagi perasaannya sendiri.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk