Sisa jelaga kembang api masih menggantung di langit Tangerang Selatan. Asap rokok berputar lambat, menabrak pendar dingin lampu neon yang berkedip pelan di ruang Reskrim Polres Tangsel. Di sudut meja, cangkir berisi sisa kopi hitam yang mendingin meninggalkan lingkaran noda pekat.
Gilang menatap kalender di dinding yang penuh coretan spidol merah. Setiap bulan punya bekas lukanya sendiri. Maret adalah awal neraka saat Black Ribal dan Wild Liar mulai saling bantai. Disusul Juli yang hambar karena pertemuan dengan Riki dan Noval tak kunjung membuahkan hasil soal Rizal. November memberinya napas saat kabar lamaran Noval dan kesuksesan Riki sampai ke telinganya. Dan Desember adalah bulan di mana takdir mempermainkannya lewat insiden Aura.
Gilang menegakkan duduknya, beralih ke papan investigasi di hadapannya. Tiga nama besar tertulis di sana. Dari ketiga ketua geng, hanya Olay yang sudah diidentifikasi bentuk wajah dan fisiknya dari sebuah foto buram yang dia dapat dari laporan anak buahnya.
Pandangan Gilang terpaku di catatan di bawah foto Renggo. Catatan deskriptif yang ditulis Gilang dengan penekanan kuat. Tato tribal melingkari leher. Tiga anting perak di telinga kiri. Tubuh penuh jaringan parut. Lalu, matanya tertuju ke kolom terakhir. KRUGGER. Tidak ada sketsa, tidak ada ciri fisik, bahkan jenis kelaminnya masih ditandai dengan tanda tanya besar.
KRIET-
Engsel pintu yang haus pelumas memecah keheningan. Gilang meraih puntung rokoknya. Seorang Bintara muda berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, seragam yang sedikit berantakan.
“Malam Ndan. Lapor ada info terbaru dari Black Ribal,” lapor anak buah Gilang, berdiri tegak.
“Info apa?” Gilang berdiri dari kursinya.
“Menurut info yang beredar, Black Ribal merekrut anggota baru dari geng motor. Dari info terbaru, malam ini akan ada pertemuan antara Black Ribal dan Red Viper di terminal terbengkalai di perbatasan Tangsel-Depok,” jelas anak buahnya.
Gilang mengepalkan tangannya. “Kumpulkan anggota lain! Lapor ke Kabag Ops, minta back up! Dalam lima belas menit kita berangkat ke lokasi. Kita nggak bisa biarin Black Ribal nambah anggota mereka,” perintah Gilang.
“Siap Ndan.”
Lima belas menit kemudian, iring-iringan mobil Reskrim keluar dari halaman Polres. Rotator merah-biru membelah jalanan yang mulai lengang setelah pesta tahun baru. Radio komunikasi terus hidup, saling bertukar posisi dan perkembangan situasi.
Di saat yang sama, beberapa kilometer dari sana. Di terminal yang terbengkalai di perbatasan antara Kota Tangerang Selatan dan Depok, terlihat banyak anggota geng motor Red Viper berkumpul. Cahaya rembulan yang samar dan lampu merkuri yang berkedip-kedip menyorot puluhan sepeda motor sport yang terparkir sembarangan. Diantara bangkai bus tua, mereka bertemu dengan Renggo ketua gangster Black Ribal.
Aban menatap tumpukan bus tua di terminal itu seolah sedang memandang singgasana. Satu minggu sebelum pergantian tahun, Aban mendatangi Renggo menawarkan dirinya menjadi anggota Black Ribal dengan catatan dia masih menjadi ketua dari Red Viper. Renggo meminta waktu untuk memikirkan tawaran itu, dan Aban memberinya waktu seminggu.
Malam itu menjadi pertemuan Renggo dan Aban yang kedua. Renggo terkesan melihat banyaknya anggota The Red Viper. Ratusan motor berjejer.
“Gua denger wakil lo cewek?” Renggo menaikkan satu alisnya.
“Ternyata waktu seminggu yang gua kasih itu lo pake buat nyelidikin gue ya?” Aban balik bertanya.
“Gue butuh alesan yang cukup buat nerima lo,” sahut Renggo.
“Dan alasan itu udah lebih dari cukup?” tanya Aban lagi.
“Iya,” jawab Renggo pendek.
“Oh iya... soal tadi. Wakil gua cewek, tapi lo nggak usah khawatir, dia nggak bakal ngecewain.”
“Lo yakin?”
“Tenang aja, dia nggak pernah ngecewain gue. Lagi pula dia nggak bakal ngerepotin. Dia bisa jaga diri sendiri, dia punya bela diri dan udah ban item. Oh iya, pesan gue satu, jangan minta dia buat ngelepas maskernya.”
“Masker?”
“Dia nggak pernah ngelepas maskernya,” sambung Aban.
“Jadi lo dan anggota lo belom pernah liat mukanya?”
“Anggota gue nggak ada yang tau, cuma gue yang pernah liat mukanya.”
“Oke, bisa gua tes?”
“Boleh aja. Tuh dia baru nyampe,” sahut Aban, melihat ke arah pintu masuk terminal.
Dari kejauhan, raungan knalpot membelah terminal. Sebuah motor sport menyelinap di antara rongsokan bus dengan kemiringan ekstrem, lalu berhenti tepat di ujung sepatu Renggo. Aurell menegakkan motornya, kakinya berpijak kokoh di aspal tanpa guncangan.
“Sori, gue telat,” sapa wanita itu setelah melepas helm full face-nya. Ia menyerahkan helm itu pada Aban.
“Udah biasa,” sahut Aban tersenyum. “Bos, ini Aurell wakil gue. Rell, ini bos Renggo yang bakal jadi ketua kita.”
“Ketua kita? Ketua gue cuma lo, nggak ada yang lain,” sahut Aurell, suaranya serak.
Renggo berjalan mendekat. Tangan kanannya bergerak cepat, mencoba melepas masker yang dikenakan Aurell.
Aurell menepis tangan Renggo, balik mengunci tangannya. Dalam sepersekian detik, Aurell mencoba memelintirnya. Dengan cepat Renggo, yang lebih besar dan kuat, memutar telapak tangannya, memegang pergelangan tangan kanan Aurell.
Renggo memelintir tangan kanan Aurell, memutar tubuhnya, memaksa Aurell ke posisi defensif. Aurell membalas menyerang menggunakan siku tangan kirinya, mencoba menghantam rusuk Renggo, namun berhasil ditahan Renggo.
“Boleh juga.” Renggo tersenyum tipis. Ia melepas kedua tangan Aurell, mendorongnya ke depan.
“Tahan Rell, bos Renggo cuma ngetes lo doang,” Aban mencoba menahan Aurell yang siap menyerang lagi.
Aurell mengurungkan niatnya. Ia mengambil napas dalam-dalam di balik maskernya.
“Motor lo bagus, boleh gue coba?” Renggo menepuk jok motor Aurell.
Aurell melempar kunci motornya.
Renggo menaiki sepeda motor Aurell, di saat bersamaan, suara sirine mulai terdengar samar dari kejauhan diiringi sepuluh mobil polisi mendekat, lampu rotator merah-biru mereka menyala terang, menyapu kegelapan terminal.
Tembakan peringatan dilepaskan. Beberapa anggota Red Viper berhasil diamankan oleh Gilang dan pasukannya, yang bergerak cepat mengepung. Renggo yang sudah duduk di atas motor menyalakan sepeda motor Aurell dan mendekati Aurell.
“Ayo naik!” teriak Renggo.
Aurell melompat ke belakang. Renggo memacu sepeda motor sport Aurell, melaju kencang, menembus garis polisi. Aban dan beberapa pengawalnya mengikuti. Renggo dan Aban berhasil melarikan diri dari sana, meninggalkan kekacauan dan puluhan anggota yang tertangkap.
Suara sirene perlahan tertinggal di belakang. Lampu rotator yang semula memenuhi kaca spion berubah menjadi titik-titik merah dan biru yang semakin mengecil. Angin malam menghantam jaket Renggo saat motor sport itu terus melesat meninggalkan batas kota.
Sepeda motor dengan kecepatan tinggi melewati Jalan Raya Jakarta Bogor, membelah malam. Sepeda motor itu dikendarai oleh Renggo ketua gangster Black Ribal. Di belakangnya, duduk seorang wanita, wakil ketua geng motor Red Viper.
Tiga puluh menit mereka berkendara melewati wilayah Pamulang Timur yang berbatasan dengan Kota Depok, melarikan diri dari kejaran polisi. Sesuai arahan dari Aurell, mereka tiba di sebuah perumahan dekat Universitas Pamulang.
Aurell turun dari sepeda motornya saat mereka sampai di sebuah rumah berpagar putih.
“Lo yakin pulang sendiri?” Aurell membalik tubuhnya di depan pagar.
“Lo nggak perlu khawatirin gue.” Renggo melempar kunci motor. “Soal helm lo yang ketinggalan di sana, nanti gue ganti helm yang sama.”
“Nggak usah, gue masih ada helm lain.”
Renggo berjalan mendekat. “Gue nggak bisa nerima lo sebagai anggota gue kalo gue nggak tau gimana bentuk muka lo.”
Aurell menatap lurus mata Renggo. Ia menghela napas panjang. “Oke... Cuma Aban dan lo yang tau muka gue. Jadi, simpen baik-baik rahasia gue.” Aurell mengangkat tangannya, membuka masker yang menutupi wajahnya.
Rokok yang baru saja Renggo sulut terjatuh dari bibirnya. Pupil matanya melebar, menatap lurus wajah Aurell. Aurell berlalu, masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Renggo yang hanya terdiam mematung di depan gerbang, menatap wajah cantik dan mata yang baru saja ia lihat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!