Empat hari setelah peristiwa pemerkosaan Chacha.
Aroma kopi Arabika memenuhi ruangan Starbucks Jakarta Selatan. Di balik meja sudut, Gilang duduk dengan bahu merosot. Di depannya, segelas Americano menyisakan es batu di dasar gelas. Jari-jarinya memutar gelas itu perlahan, searah jarum jam, lalu berbalik. Matanya ke pintu masuk setiap kali ada bayangan yang lewat di balik kaca.
Ilham melangkah masuk. Jaket denimnya terbuka, menyembunyikan lencana kepolisian yang terselip di pinggang. Gilang menarik sudut bibirnya tipis. Rambut Ilham dipotong cepak sesuai regulasi, garis wajah mengeras, binar mata nakal saat mereka masih sering memanjat pagar sekolah dulu belum sepenuhnya hilang.
“Gimana kabar dia?” Ilham menarik kursi, duduk tepat di hadapan Gilang.
“Udah mendingan. Tapi matanya masih kosong, Ham.” Suara Gilang tercekat. Ia menatap ke luar jendela.
“Gue turut sedih, Lang. Apa yang dialami Chacha itu berat. Kalau lo salah ngadepin dia, Chacha bisa bunuh diri,” Ilham menyandarkan tangan di meja.
“Iya... Gue tahu. Recovery mentalnya butuh waktu. Abis dari sini kita jenguk Chacha dulu.”
“Boleh, gue mau ngelihat kondisinya juga, siapa tahu gue bisa ikut menghibur dia, kan,” Ilham menganggugk
Gilang menunduk sebentar. “Makasih, Ham. Lo jauh-jauh dari Bandung cuma buat ini.”
“Chacha itu adik gue juga, dan lo saudara gue.” Ilham memajukan duduknya, suaranya merendah. “Gue bakal bantu lo seret orang yang bikin dia kayak gitu,”
Gilang menegakkan punggung. “Soal bantuan yang lo bilang di telepon. Apa?”
“Waktu gue dengar pelakunya ketua Wild Liar, gue langsung ingat satu nama.” Ilham menatap lurus ke mata Gilang. “Tapi, sebelum gue temuin lo sama dia, gue minta satu hal,”
“Apa?”
“Gua minta lo jamin keamanan dan keselamatan dia,” kata Ilham.
“Oke. Selama dia kooperatif, gua pasang badan.” Gilang mengangguk.
Ilham menarik napas panjang, jemarinya mengetuk meja. “Satu lagi. Ini berat, lo boleh nolak.”
Gilang menyipitkan mata. “Ngomong aja.”
“Hapus data kejahatan dia dari sistem. Dia masuk DPO karena dia yang bangun Wild Liar dari nol.”
Gilang tersentak. Tangannya berhenti memutar gelas. “Ketua Wild Liar?”
“Mantan,” ralat Ilham cepat.
Gilang terdiam cukup lama. “Gue nggak bisa janji soal hapus data, Ham. Itu pelanggaran berat. Tapi gue jamin dia aman di bawah kendali gue, asal dia bisa buktiin kalau dia beneran mau tobat dan ikut aturan main gua.”
Ilham mengangguk pelan. “Besok datang ke kantor gue. Gue bakal kenalin lo sama dia. Dia punya warung rombong di pinggiran kota. Kita bahas detailnya di sana.
“Gilang menyambar kunci mobilnya di atas meja. “Oke, besok gua ke sana. Sekarang ikut gua dulu jengukin Chacha.”
Langit Jakarta mulai menggelap ketika mobil Gilang memasuki pelataran Rumah Sakit. Lampu-lampu taman menyala satu persatu, memantulkan warna kekuningan di jalan setapak yang masih basah oleh sisa hujan sore.
Ilham memandang bangunan rumah sakit beberapa detik sebelum membuka pintu mobil. “Gue nggak nyangka bakal ketemu Chacha lagi dalam keadaan begini.”
Mereka berjalan berdampingan melewati lorong yang dipenuhi bau antiseptik. Langkah Gilang terdengar berat, Ilham sesekali melirik ke arah Gilang.
Di depan pintu ruang rawat, dua anggota polisi berdiri memberi hormat. “Siap, Komandan.”
Gilang mengangguk. Ia membuka pintu perlahan. Suara monitor detak jantung berbunyi pelan di sudut ruangan.
Chacha duduk di atas ranjang. Tubuhnya dibalut sweater rumah sakit berwarna putih pucat. Rambut panjangnya dibiarkan terurai berantakan menutupi sebagian wajah. Ia menatap kosong ke arah jendela.
“Chacha...” Panggil Gilang sangat pelan.
Chacha masih menatap ke arah jendela.
“Cha...”
Chacha berkedip pelan. Beberapa detik kemudian kepalanya bergerak sedikit menoleh. Tatapan matanya kosong berhenti di wajah Gilang.
“Ham...” ucap Gilang lirih.
Ilham mengangguk lalu berjalan mendekat. “Hai, Cha...” Tangan Ilham terulur ke kepala Chacha lalu berhenti sebelum sampai. “Masih kenal gue?”
Chacha menoleh ke arah Ilham tanpa merespon.
Ilham tersenyum kaku. “Ini Kak Ilham.”
Beberapa detik berlalu. Bibir Chacha bergerak sangat pelan. “...Kak...” suaranya nyaris tidak terdengar.
“Iya.” Ilham tersenyum lega.
“Kak Ilham,” ucap Chacha datar lalu menoleh kembali ke arah jendela.
Ilham melirik ke gelas susu masih penuh yang mulai dingin di atas meja dekat ranjang. Kotak makan di sampingnya masih belum tersentuh.
Perawat yang berjaga mendekati Gilang. “Dari pagi cuma makan beberapa sendok.”
Gilang menoleh ke arah perawat. “Masih susah tidur?”
Perawat mengangguk. “Kalau malam sering mimpi buruk. Kadang teriak. Kadang nangis.”
Ilham menelan ludah. Gilang memejamkan mata. Rahangnya mengeras.
“Chacha...” lham duduk di kursi samping ranjang. “Kakak bawain cheesburger favorit kamu.” Ia meletakkan kotak kecil di atas meja. “Dulu tiap kita ketemu kamu selalu rebutan sama Aura.”
Chacha tidak merespon.
Ilham tertawa kecil sendiri. “Inget nggak?”
Hening.
Beberapa saat kemudian, Chacha perlahan menarik lututnya ke dada, memeluk kedua kakinya. Tubuhnya mulai gemetar, tatapannya kembali kosong.
Ilham menarik kursi perlahan lalu duduk di samping ranjang. Ia membuka bungkus kertas burger perlahan, aroma daging panggang dan keju hangat memenuhi ruangan. “Nih... Masih anget.”
Chacha tetap menatap kosong ke arah jendela.
Ilham menghela napas kecil. “Yaudah... nanti kalau laper tinggal dimakan.”
Tangan Ilham bergerak meletakkan burger itu ke meja kecil di samping ranjang, sikunya tanpa sengaja menyenggol lengan Chacha.
Tubuh Chacha menegang, napasnya tersentak. Matanya membelalak. “Jangan...” Suara lirih berubah menjadi jeritan. “JANGAN!”
Chacha meringkuk di sudut ranjang sambil memeluk kepala. Tangannya menepis udara membabi buta. “Jangan... Tolong... Jangan...”
Air mata Chacha mengalir deras, tubuhnya gemetar hebat.
Burger di tangan Ilham terjatuh ke lantai.
“Chacha!” Ilham refleks hendak memegang bahunya.
“Jangan!” Chacha menjerit semakin keras. Ia menutup kepalanya dengan kedua tangan sambil terus mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. “Jangan sentuh aku... Tolong... Jangan...”
Perawat lain berlari masuk bersama seorang dokter. “Pak, jangan didekati dulu!”
Perawat segera berdiri di sisi ranjang. “Chacha...” suaranya sangat pelan. “Nggak apa-apa... Aman... Nggak ada yang nyakitin kamu...”
Hampir satu menit sampai napas Chacha mulai melambat. Tangisnya berubah menjadi isakan kecil. Tubuhnya masih gemetar, matanya kembali menatap kosong ke depan.
Ilham membeku, tangannya menggantung di udara. Wajahnya pucat, ia menatap burger yang tergeletak di lantai.
Gilang menatap Chahca beberapa detik, lalu menggeleng pelan ke arah Ilham. “Cukup, Ham”
Mereka keluar dari ruang rawat hampir bersamaan. Pintu tertutup di belakang mereka.
Ilham menghembuskan napas panjang. “Anjing...” Tangannya mengepal di samping paha. “Gue baru ngerti kenapa waktu itu suara lo di telepon kayak orang kehilangan nyawa.”
“Dokter bilang...” Gilang menyandarkan punggung ke dinding lorong. “Secara fisik dia mulai membaik.” Ia menatap lurus mata Ilham “Yang susah... kepalanya.”
“Kita cari mereka.” Rahang Ilham mengeras. “Satu-satu.”
Gilang tidak menjawab.
Malam turun sepenuhnya. Di seberang jalan rumah sakit, motor matic hitam terparkir di bawah pohon trembesi. Rizal berdiri di samping motornya, matanya menatap lurus lantai tiga rumah sakit. Lampu ruang rawat itu masih menyala.
Dari kejauhan Gilang keluar dari pintu utama. Tatapan Rizal beralih ke Gilang, lalu kembali Chacha. Tirai ruang rawat rawatnya tersibak tertiup angin.
Rizal menunduk, rahangnya mengeras.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Seorang pria berambut gondrong berhenti beberapa langkah di sampingnya. “Lo peduli sama korbannya Olay?”
Rizal tidak menoleh. “Ada masalah?”
“Nggak.” Pria itu ikut memandang rumah sakit. “Tapi perempuan itu...”
“Dia adek gue,” potong Rizal
Pria itu terdiam beberapa detik. “Olay bakal jadi target personal buat lo?”
Rizal menoleh, sorot matanya datar “Kalau iya?”
Pria itu mengangguk pelan. “Gue bakal ikutin semua keputusan lo.”
Rizal kembali menatap bangunan rumah sakit. “Panggil Robi.”
Pria itu mengernyit.
“Suruh dia nemuin gue.”
Tanpa menunggu jawaban, Rizal mengenakan helmnya. Mesin motor menyala pelan. Lampu belakang merah itu perlahan menjauh, meninggalkan rumah sakit yang kembali tenggelam dalam kesunyian malam.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!