Warning : R Rated
Dua bulan setelah pergantian tahun, Chacha masih bergelut di bengkel ayahnya. Bau oli dan bensin menguap dari sela-sela drum di sudut bengkel. Chacha meletakkan ponsel di atas meja bengkel yang berminyak. Selepas kuliah, ia lanjut membantu mengurus administari bengkel, sambil sesekali jemarinya bergerak di antara barisan kode di layar laptopnya. Di sudut ruangan, tumpukan draf skripsi yang belum disentuh tertindih baut dan kunci pas yang mulai berkarat.
Di depan bengkel, sebuah mobil berhenti dengan suara mesin yang halus. Chacha menyambar ponselnya, lalu melangkah keluar melewati deretan motor yang sedang dibongkar.
“Yah, Chacha main dulu ya.” Chacha meraih telapak tangan Om Bewok yang hitam oleh noda oli. Ia mencium punggung tangan itu sebentar.
“Jangan pulang malem-malem ya,” sahut Om Bewok. Matanya menatap punggung Chacha sampai masuk ke dalam mobil dan menghilang di belokan jalan.
Lampu neon fuchsia di atas gerbang berkedip ritmis, menyiram aspal dengan warna ungu lebam. Bas dari dalam gedung menggetarkan sol sepatu Converse putih Chacha. Antrean di depan pintu baja bergerak lambat di bawah tatapan penjaga pintu.
Sherly pertama turun dari mobil, diikuti Tika dan Indah, Chacha turun terakhir. Ia berdiri beberapa langkah di belakang mereka, jarinya meremas tali tas selempang yang melintang di dada.
“Sekali aja, Cha. Lo pucat banget.” Sherly merangkul bahunya.
“Gue belum pernah ke sana,” sahut Chacha, matanya melirik pria berbadan tegap yang sedang memeriksa KTP rombongan di depan mereka.
“Justru itu, biar lo pernah-pernah ke tempat itu,” Tika menimpali, teman sekelas Chacha lainnya. “Sekali seumur hidup nggak apa-apa kali.”
“Hhhmmm.” Chacha memegang erat tas selempangnya.
“Ini ulang tahunnya Indah lho Cha, masa lo nggak ikut sih,” ucap Tika.
“Gue izin ke Kak Gilang dulu ya. Nanti dia marah kalau nggak dikasih kabar.” Chacha mencoba mencari alasan.
“Ya ampun, Cha. Lo anak kecil apa gimana sih?”
“Serius,” kata Chacha. “Dia pasti-“
Sherly meraih ponsel dari tangan Chacha sebelum kalimatnya selesai. “HP lo gue pegang dulu,” katanya santai. “Nanti juga balik.”
“Iya. Abang lo kan kenal kita, dia nggak bakal makan lo cuma gara-gara nongkrong bentar,” tambah Tika. Ia memoles lipstik merah di depan layar ponsel yang menyala.
Chacha menatap layar ponsel di tangan Sherly lalu beralih ke Tika.
“Udah, ayo,” kata Indah, meraih tangan Chacha
Chacha melangkah masuk mengikuti Sherly. Pintu baja tertutup, meredam suara knalpot dari jalan raya.
Aroma alkohol tumpah dan asap rokok menggantung tebal di bawah lampu stroboskop. Musik house menghantam telinga, membuat dada terasa sesak. Sherly menarik tangan Caca ke arah bar. Botol-botol berjejer di belakang bartender. Gelas-gelas berkilau di bawah lampu.
“Minum dulu!” Sherly menyodorkan gelas ke bibir Chacha
Chacha memejamkan mata saat cairan dingin itu melewati tenggorokannya. Ia terbatuk kecil, menjauhkan gelas itu dengan punggung tangan.
“Nah, lo udah bukan anak kecil sekarang.” Sherly meletakkan kembali gelas kosong ke meja.
Chacha menyeka bibirnya, matanya melirik ke arah papan penunjuk jalan keluar yang menyala hijau redup di ujung ruangan.
Satu jam pertama berlalu, gelas-gelas yang terus terisi di atas meja. Tika sesekali tertawa keras. Indah beberapa kali naik ke lantai dansa. Chacha ikut berdiri di tengah kerumunan.
Sekitar pukul sebelas malam, seorang pria bernama Beler menghampiri mereka. Tubuhnya kurus, matanya bergerak cepat, ia berdiri terlalu dekat dengan Sherly.
“Hei cantik, ikut kita yuk,” ajak Beler menyentuh lengan Sherly tanpa izin.
“Eh.” Sherly refleks menarik tangannya.
“Apaan sih Lo!” bentak Tika, menarik Sherly menjauh.
Tyson muncul dari balik punggung Beler. Tubuh besar, tato penuh hingga ke leher. Ia berdiri menutup jalur keluar.
“Si Bos mau ditemani.” Suaranya berat mengalahkan dentuman musik. “Enggak ada yang pergi sebelum Bos senang.”
“Cari jablay aja sana!” bentak Sherly tak mau kalah.
“Bos nggak suka ditolak! “ sahut Tyson melotot.
Beler memberi isyarat ke arah tangga VIP. Mereka berjalan beriringan, kepala menunduk. Chacha paling belakang, jarinya tidak lepas dari tali tas selempang.
Zona VIP terpisah oleh sekat kaca gelap dan karpet beludru tebal. Suara musik dari lantai bawah hanya terdengar seperti gumaman rendah. Botol-botol whiskey berserakan di atas meja dan di bawah sofa kulit.
“Bos, cewek cantik nih,” ucap Beler, menyeringai sambil mendorong Sherly ke depan.
Olay duduk di tengah, menyandarkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya tambun, kepala plontos, matanya memerah bergerak perlahan. Pandangannya berhenti di Sherly sebentar, lalu di Tika, lanjut ke Indah, kemudian di Chacha.
“Yang itu.” Olay menunjuk ke arah Chacha yang berdiri paling dekat dengan jalur keluar. Tangannya masih memegang erat tali tasnya.
Beler menarik Chacha ke depan. Chacha menahan langkahnya, tangannya sudah didorong ke sofa di samping Olay. Teman-temannya berdiri di belakang.
“Udah turutin aja,” bisik Sherly pelan. “Nanti juga selesai.”
Olay menuang minuman ke gelas, lalu memberikan minumannya ke Chacha. Tangannya bergerak santai ke paha Caca.
Plak.
Suara tamparan yang nyaring memecah dentuman musik. Beberapa kepala di meja lain menoleh. Tangan Chacha masih terangkat di udara. Wajah Olay diam beberapa detik.
“Anjing! Berani lu nabok gua!” bentak Olay, wajahnya yang plontos merah padam.
“Bos, maafin dia. Dia nggak sengaja lakuin itu,” ucap Indah maju mencoba melerai.
“Bacot!” bentak Olay. “Ikut gua lu!” Ia mencengkeram rambut Chacha, menariknya berdiri lalu menyeret ke ruangan pribadi di belakang zona VIP.
“Aaaahhhh!” teriak Caca kesakitan, terhuyung-huyung diseret paksa.
“Bos jangan bos!” mohon Sherly, air matanya tumpah.
“Tolong bos lepasin dia!” Tika ikut memohon.
“Bacot lu anjing!” bentak Olay, menendang pintu ruangan. “Lu pada urusin nih jablay! Son, Ler ikut gua!” perintah Olay pada anak buahnya yang lain.
Tyson dan Beler sudah berdiri di depan mereka.
“Udah,” kata Tyson pelan. “Kalian nggak usah ikut campur.”
Tiga anggota gangster lain menarik Indah, Sherly, dan Tika menjauh, membawa mereka ke ruangan lain. Olay menyeret tubuh Chacha yang sudah setengah tak berdaya.
Ruangan itu hanya diterangi cahaya remang dari celah pintu. Chacha dilempar ke sofa kulit. Tubuhnya membentur sandaran kayu yang keras, lalu diam setengah detik.
Belum sempat ia merangkak, Olay sudah menindihnya. Chacha menendang, sikutnya menghantam rahang Olay sekali. Olay menggeram, kepalan tangannya menghantam ulu hati Chacha
Chacha tersedak. Suara napasnya berubah menjadi tarikan udara yang terputus. Matanya membelalak, air mata merembes tanpa suara. Olay mengunci kedua tangan Chacha di atas kepala, menindihnya dengan satu telapak tangan yang lebar. Chacha kembali menendang, tenaganya lebih lemah dari sebelumnya.
Pintu terbuka. Beler dan Tyson masuk.
“Bos aja dulu.” Beler menyeringai, bersandar di dekat pintu tangannya menarik kepala ikat pinggang hingga bunyi logam beradu terdengar di ruangan yang kedap. Tyson berdiri di sisi sofa, matanya tidak lepas dari tubuh Chacha yang terjepit di bawah Olay.
Kain kemeja Chacha robek. Kancing plastik memantul di lantai kayu. Celana jeansnya ditarik paksa sampai ke mata kaki. Chacha menendang ketiga kalinya, Beler mencengkeram pergelangan kakinya, menekannya ke pinggiran sofa. Tyson menahan bahu Chacha dengan kedua tangan.
Chacha memejamkan mata saat tubuh Olay menghantamnya berkali-kali. Sofa kulit berderit mengikuti setiap sentakan. Tyson tetap menekan bahu Chacha ke busa sofa, Beler masih mencengkeram pergelangan kakinya.
Olay mendengus keras, tubuhnya menegang sejenak sebelum ia ambruk di atas dada Chacha. Hanya beberapa detik, ia bangkit sambil membetulkan celananya yang melorot.
Mata Chacha terpaku menatap retakan panjang di plafon. Setiap tubuh Tyson menghantamnya, garis hitam itu bergeser ke kiri dan kanan. Bibir Cacaa bergerak pelan tanpa suara, membentuk pola angka yang berubah setiap kali sofa kulit di bawahnya berderit. Pandangannya tidak berkedip, bahkan saat debu putih jatuh dari sela plafon dan mendarat di pupil matanya. Ia tetap menatap lurus ke atas, garis hitam itu bergoyang mengikuti guncangan tubuhnya yang terus dihantam ke busa sofa.
Di luar, Sherly menatap pintu ruangan itu dengan tangis tertahan, jemarinya gemetar hebat di atas layar BBM.
Bang, Chacha. Di Club Ciputat. Tolong.
Sherly menekan tombol kirim. Layar BBM-nya menunjukkan status Pending, lalu berubah Delivered. Ia menyandarkan punggungnya di tembok dingin ruang VIP club, sambil terus menatap tirai yang tertutup rapat.
Setengah jam kemudian, SUV hitam dan beberapa motor dinas berhenti melintang di depan klub. Pintu mobil terbuka. Gilang turun, menarik rompi pelindungnya hingga kencang. Tangannya mencengkeram senjata.
“Belakang,” ucap Gilang pendek pada anak buahnya. “Kiri kanan tutup.”
Baku tembak pecah selama sepuluh menit. Dentuman senjata bersahutan, mengoyak dentum musik yang masih meraung dari dalam klub. Di lantai dansa, beberapa anggota gangster roboh. Sebagian mencoba kabur lewat celah jendela, sisanya mengangkat tangan ke atas kepala.
Klub itu mendadak senyap, menyisakan bau mesiu yang menyengat bercampur aroma alkohol tumpah. Indah, Sherly, dan Tika terduduk di lantai satu ruangan, bahu mereka bergetar, tangan mereka mencengkeram kusen pintu agar tidak ambruk.
Gilang menyisir lorong, membuka pintu satu per satu sampai langkahnya berhenti di ambang ruangan VIP. Di dalam, Chacha terbaring. Matanya tidak berkedip, tetap menatap lurus ke satu titik di plafon. Gilang tidak bergerak. Moncong senjatanya bergetar, mengetuk pelan rompi pelindung di dadanya. Ia hanya berdiri di sana, menatap Chacha yang diam.
Sirene ambulans meraung memecah jalanan Ciputat yang mulai lengang. Lampu rotator memantul di kaca-kaca ruko yang sudah tutup. Di dalam ambulans, tidak ada satu kata pun yang terucap, hanya suara monitor medis dan napas pendek para petugas.
Beberapa menit kemudian, iring-iringan kendaraan itu memasuki halaman rumah sakit.
Lampu lorong rumah sakit berpijar putih. Brankar meluncur cepat, rodanya berderit di atas lantai porselen. Gilang berjalan di sampingnya, matanya lurus ke depan, tangannya tergantung kaku di samping tubuh.
Di depan pintu ruang perawatan, langkahnya berhenti.
“Dua orang jaga,” ucap Gilang tanpa menoleh. Ia berbalik, berjalan menjauh menyusuri lorong yang sepi.
Malam terus berjalan, Gilang kembali ke kantor Polres. Papan investigasi di sudut ruangan masih tertutup deretan foto dan coretan spidol merah. Gilang menarik laci meja hingga terbuka. Ia mengeluarkan sebilah belati kecil dari dalam sana.
Langkah kakinya berhenti tepat di depan papan. Mata Gilang menatap foto Olay yang tersemat di antara catatan-catatan lain. Ia mengayunkan tangan, mata belati amblas membelah bagian tengah foto dan tertancap dalam ke papan kayu.
“Target utama.”
Satu klik sakelar memadamkan lampu ruangan. Gilang tetap berdiri di depan papan, menatap foto yang terkoyak belati di bawah sisa cahaya dari celah jendela. Satu detik berlalu, lalu ia berbalik.
Kabar penyerbuan klub malam tidak membutuhkan waktu lama keluar dari jaringan kepolisian. Dari satu telepon ke telepon lain, berita itu menyebar lebih cepat daripada laporan resmi yang sedang disusun.
Salah satu panggilan berhenti di ponsel Noval. Antrean popcorn di lobi bioskop masih mengular. Noval menempelkan ponsel ke telinga, matanya menatap poster film di dinding. Rahangnya mengeras. Ia menurunkan ponsel, lalu menyambar pergelangan tangan Novi, menariknya membelah kerumunan antrean tanpa menoleh.
“Kenapa, bee?” Novi tersandung, mencoba menyamai langkah lebar Noval.
Noval terus menarik Novi melewati pintu kaca, menembus udara malam yang lembap hingga mereka tiba di trotoar depan gedung. Noval berhenti, napasnya pendek.
“Chacha diperkosa.”
Genggaman tangan Novi di lengan Noval terlepas. Bahunya merosot, tangannya jatuh terkulai di samping tubuh.
Sementara itu, di Bandung. Ponsel di atas nakas berdering, menggetarkan permukaan kayu hotel berkali-kali. Riki menyambarnya dengan sentakan kasar, menekan tombol terima tanpa mengubah posisi baringnya.
Beberapa detik berlalu. Tubuh Riki menegang. Ia duduk tegak, lalu melompat turun dari ranjang. Jemarinya menarik kemeja dari sandaran kursi, memaksakan kancing masuk ke lubangnya.
“Mau ke mana?” Wanita di balik selimut menumpu dagu dengan tangan, menatap punggung Riki.
“Jakarta.”
“Sekarang? Kamu baru sampai tadi dan kita baru ketemu, apa nggak bisa besok kamu pulangnya?”
Riki terus merapikan kerah kemejanya, mengabaikan kancing yang meleset dari lubang yang seharusnya. “Nggak bisa. Adikku diperkosa,”
Tangannya berhenti di kancing terakhir. Ia menyambar kunci mobil di atas meja, lalu melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi ke arah ranjang.
Dua hari berlalu. Berita itu tidak pernah masuk koran dengan cerita yang sebenarnya. Di jalanan hanya beredar potongan-potongan kabar, berpindah dari mulut ke mulut, dari anak buah ke mantan narapidana, hingga akhirnya sampai kepada satu orang yang selama ini sengaja menghilang.
berdiri mematung. Setelah suara di seberang berhenti, ia menurunkan tangan.
Brak!
Tinju Rizal menghantam dinding beton. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Kulit di buku jarinya robek, meninggalkan jejak merah di permukaan cat yang kusam. Darah mulai menetes, jatuh satu per satu ke lantai semen.
Rizal menarik tangannya ketika jemarinya kaku, tidak lagi bisa ditekuk untuk mengepal. Ia menatap noda darah di dinding tanpa suara. Matanya tidak berkedip, tidak ada air mata yang jatuh, hanya rahang yang mengatup rapat hingga urat lehernya menegang.
Ia menyambar hoodie di atas kursi. Langkah kakinya berat melewati ambang pintu.
Pengasingannya selesai.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!