Bayi Seli

19 dibaca

A

Waktu itu aku yang sedang hamil besar tiba-tiba mengalami kontraksi hebat. Perutku mendadak terasa melilit. Aku kira karena tadi malam aku hanya makan beberapa suap nasi. Tapi, semakin lama sakitnya semakin menjadi-jadi. Sedang langit masih pekat-pekatnya. Kandunganku yang sudah memasuki bulan kesepuluh benar-benar tidak bisa lagi diajak kompromi. Bayi di dalam perutku seperti tidak sabar untuk melihat dunia. Tidak mau menunggu fajar yang sebentar lagi hendak menyingsing. Padahal suamiku masih pergi melaut. Beberapa jam lagi ia baru akan kembali.

Aku kira aku tidak akan melahirkan sekarang. Sebab sebelum-sebelumnya, tak ada pertanda aku akan melahirkan. Aku tidak merasakan mulas seperti ketika aku melahirkan Zain dulu. Dan di rumah berdinding papan sederhana ini, aku terbaring sendirian. Dengan si jabang bayi yang terus-terusan berontak. Kakinya menendang-nendang. Tangannya meninju-ninju.

Di kamar ini, hanya ada penerangan seadanya yang berasal dari lampu teplok. Juga aroma tanah becek sisa hujan yang menggenang di ruang tengah. Hasil tetesan dari atap yang bocor. Kalaupun aku berteriak, aku yakin tak akan ada yang bisa mendengar teriakanku. Lantaran jarak rumah tetangga terdekat, tak kurang dari satu kilometer.

Harapanku satu-satunya hanya Zain. Bocah yang baru berusia delapan tahun itu kuminta untuk berlari secepatnya ke rumah Bu Fatma, istri si pengepul ikan langganan suamiku, untuk mencari pertolongan. Sudah hampir satu jam, tapi anak sulungku itu belum juga kembali. Aku hanya takut di luar sana ia tersesat. Atau yang lebih parah, ia terpeleset dan masuk ke kanal. Apalagi tadi malam hujan turun dengan membabi-buta, membuat jalanan pasti licin. Ditambah hari sedang gelap-gelapnya. Padahal jarak rumahku dan rumah Bu Fatma biasanya biasa kutempuh dalam dua puluh menit dengan berjalan kaki ketika siang.

Aku kembali mengerang menahan kesakitan. Ketubanku sudah pecah sedari tadi. Aku bahkan merasa inilah akhir dari hidupku. Tidak heran jika banyak orang yang bilang kalau jarak antara proses melahirkan dan kematian itu begitu tipis. Karena hal itu juga yang sedang kualami sekarang.

Aku hanya takut jika nanti suamiku datang, ia menemukan tubuhku telah terbujur kaku. Atau ketika Zain dan Bu Fatma tiba, ia sudah mendapati tubuhku lemas dengan seonggok bayi yang lehernya tersangkut di dinding rahimku. Pokoknya, semua pikiran buruk di kepalaku terus-terusan melintas.

Aku mengerang sekali lagi dengan sekuat-kuatnya. Berharap keberuntungan agar ada yang bisa mendengar teriakanku dan memberikan pertolongan. Apalagi setelah kurasakan ada sesuatu yang mulai menyembul dari selangkanganku: kepala bayi.

Tuhan, beri aku kekuatan!

Waktu itu, syukurlah Tuhan langsung menjawab doaku. Kudengar dari kejauhan suara motor butut Bu Fatma mendekat. Setelah itu, dari balik daun pintu rumah yang didorong dengan tergesa, aku melihat perempuan berambut sebahu itu datang bersama seorang bidan desa.

Aku bisa bernapas lega sekarang.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk