Waktu itu aku yang sedang hamil besar tiba-tiba mengalami kontraksi hebat. Perutku mendadak terasa melilit. Aku kira karena tadi malam aku hanya makan beberapa suap nasi. Tapi, semakin lama sakitnya semakin menjadi-jadi. Sedang langit masih pekat-pekatnya. Kandunganku yang sudah memasuki bulan kesepuluh benar-benar tidak bisa lagi diajak kompromi. Bayi di dalam perutku seperti tidak sabar untuk melihat dunia. Tidak mau menunggu fajar yang sebentar lagi hendak menyingsing. Padahal suamiku masih pergi melaut. Beberapa jam lagi ia baru akan kembali.
Aku kira aku tidak akan melahirkan sekarang. Sebab sebelum-sebelumnya, tak ada pertanda aku akan melahirkan. Aku tidak merasakan mulas seperti ketika aku melahirkan Zain dulu. Dan di rumah berdinding papan sederhana ini, aku terbaring sendirian. Dengan si jabang bayi yang terus-terusan berontak. Kakinya menendang-nendang. Tangannya meninju-ninju.
Di kamar ini, hanya ada penerangan seadanya yang berasal dari lampu teplok. Juga aroma tanah becek sisa hujan yang menggenang di ruang tengah. Hasil tetesan dari atap yang bocor. Kalaupun aku berteriak, aku yakin tak akan ada yang bisa mendengar teriakanku. Lantaran jarak rumah tetangga terdekat, tak kurang dari satu kilometer.
Harapanku satu-satunya hanya Zain. Bocah yang baru berusia delapan tahun itu kuminta untuk berlari secepatnya ke rumah Bu Fatma, istri si pengepul ikan langganan suamiku, untuk mencari pertolongan. Sudah hampir satu jam, tapi anak sulungku itu belum juga kembali. Aku hanya takut di luar sana ia tersesat. Atau yang lebih parah, ia terpeleset dan masuk ke kanal. Apalagi tadi malam hujan turun dengan membabi-buta, membuat jalanan pasti licin. Ditambah hari sedang gelap-gelapnya. Padahal jarak rumahku dan rumah Bu Fatma biasanya biasa kutempuh dalam dua puluh menit dengan berjalan kaki ketika siang.
Aku kembali mengerang menahan kesakitan. Ketubanku sudah pecah sedari tadi. Aku bahkan merasa inilah akhir dari hidupku. Tidak heran jika banyak orang yang bilang kalau jarak antara proses melahirkan dan kematian itu begitu tipis. Karena hal itu juga yang sedang kualami sekarang.
Aku hanya takut jika nanti suamiku datang, ia menemukan tubuhku telah terbujur kaku. Atau ketika Zain dan Bu Fatma tiba, ia sudah mendapati tubuhku lemas dengan seonggok bayi yang lehernya tersangkut di dinding rahimku. Pokoknya, semua pikiran buruk di kepalaku terus-terusan melintas.
Aku mengerang sekali lagi dengan sekuat-kuatnya. Berharap keberuntungan agar ada yang bisa mendengar teriakanku dan memberikan pertolongan. Apalagi setelah kurasakan ada sesuatu yang mulai menyembul dari selangkanganku: kepala bayi.
Tuhan, beri aku kekuatan!
Waktu itu, syukurlah Tuhan langsung menjawab doaku. Kudengar dari kejauhan suara motor butut Bu Fatma mendekat. Setelah itu, dari balik daun pintu rumah yang didorong dengan tergesa, aku melihat perempuan berambut sebahu itu datang bersama seorang bidan desa.
Aku bisa bernapas lega sekarang.
***
Cahaya matahari sudah masuk dari jendela di kamar, juga dari celah-celah dinding papan yang lapuk. Bayi perempuan yang baru kulahirkan tadi kini sudah tenang dalam pelukan. Setelah berterima kasih pada Bu Fatma dan bidan desa yang sudah menyelamatkan nyawaku dan si kecil, mereka pun segera berpamitan. Untuk biaya bersalin, sudah biasa di kampung ini untuk berutang. Biasa baru akan kami cicil ketika suami-suami kami yang hanya bermata pencaharian sebagai nelayan mendapatkan hasil tangkapan yang lumayan. Sedang, kata Bu Fatma, setelah mandi nanti, ia akan kembali ke sini dan membawakan beberapa lembar jarik untuk membedong anakku.
Bu Fatma memang terkenal begitu baik pada keluargaku, juga pada nelayan yang biasa menyetor hasil tangkapan ikan kepada suaminya. Sayang, di usia pernikahannya yang kedua puluh, ia belum juga dikaruniai seorang anak. Kabarnya, Pak Rahman, suaminyalah yang mandul. Tapi, entah hal itu benar atau tidak. Aku tidak peduli. Bagiku, selama orang itu baik padaku, maka aku tak berhak mengurusi urusan pribadinya. Toh, dulu Zain juga lahir sepuluh tahun setelah aku dan suamiku menikah.
Bukankah rezeki dari Tuhan memang tidak ada seorang pun yang tahu kapan akan kita terima?
Aku lantas menatapi kembali wajah bayi perempuanku. Dan seketika itu juga aku langsung merasa agak jengkel. Bukan apa-apa. Hanya saja hidung bayiku ini, mata serta bibirnya benar-benar mirip dengan milik suamiku. Padahal aku yang mengandungnya selama hampir sepuluh bulan dan hampir mati ketika melahirkannya, tapi kenapa lagi-lagi anakku ini mirip dengan suamiku. Aku juga ingin sedikit saja parasku menitis padanya. Terlebih anakku kali ini adalah perempuan. Namun apa daya, aku cuma bisa tersenyum kecut karenanya.
Meski demikian, aku tentu harus tetap bersyukur pada Tuhan. Anakku ini lahir dengan sehat. Meski selama dalam kandungan, aku tidak pernah memeriksakan kesehatannya. Makanku juga cuma itu-itu saja. Nasi dan lauk ikan sisa tangkapan yang tidak masuk kriteria untuk bisa dijual.
Kupandangi jam dinding usang yag menggantung di atas pintu. Pukul setengah delapan. Tiga jam sudah bayi di dalam pelukanku ini lahir, namun suamiku belum juga datang. Padahal biasanya jam segini ia sudah kembali dari laut. Membawa dua atau tiga ekor ikan untuk dimasak. Tapi, batang hidung lelaki yang tak pernah sekali pun membuatku merasa menyesal pernah menikahinya itu, belum juga terlihat.
Namun, lantaran terlalu sering memandangi jam dinding tadi, aku jadi dapat inspirasi untuk memberi nama putriku. Namanya Seli. Tercetus karena ia lahir tepat pukul setengah lima. Sebab nyatanya Seli adalah singkatan dari setengah lima.
Suamiku pasti juga akan meyukai nama itu.
Tiba-tiba pintu rumah diketuk seseorang, sambil terus-terusan meneriakkan namaku.
Aku kira itu Bu Fatma yang hendak mengantarkan jarik. Tapi, dari suaranya jelas itu bukan ia. Suara itu milik seorang lelaki.
“Bu Nuni! Bu Nuni!”
“Ya, masuk.”
“Ba--bapak, Bu.” Kulihat remaja tanggung yang juga merupakan salah satu rekan suamiku bekerja di pelabuhan itu tampak terengah-engah.
“Suamiku kenapa?”
“Kapalnya tenggelam, Bu. Diterjang badai tadi malam.”
Tubuhku yang masih terbaring di tempat tidur, langsung lemas. Seperti tiada daya upaya. Untung saja saat itu aku tidak sedang berdiri. Kalau demikian adanya, pasti tubuhku akan langsung limbung.
“Suami Ibu dan empat nelayan lainnya sampai saat ini belum ditemukan ....”
Aku tak bisa lagi mendengar apa yang pemuda kurus berambut ikal itu ucapkan. Sebab semuanya kini berubah layaknya dengungan lebah.
Kini aku tahu mengapa Tuhan memberikan anugerah wajah Seli yang begitu mirip dengan wajah ayahnya.
***










