Bab 01

Prolog

5 dibaca

A

Setiap manusia akan melalui proses kehidupan: lahir sebagai sesosok bayi, anak-anak, remaja, tumbuh dewasa, dan menua. Lalu, apa yang akan kamu alami ketika kamu tua?

Semoga tidak seperti apa yang aku alami.

Kalau kamu ingin tahu apa yang kualami, akan kuceritakan kisahku padamu. Tapi, tolong rahasiakan ini dari siapa pun. Sebab, kisah ini hanya akan berisi kesedihan dan kepedihan. Aku hanya tak ingin setelah membaca kisahku ini, semakin banyak orang yang takut untuk menjadi tua.

Aku cuma ingin kamu tahu, kalau kadang harapan tak sesuai realitas. Seperti harapanku dulu: hidup tenang di usia senja dengan anak dan cucu. Tapi, nyatanya aku kini malah sendirian. Tidak benar-benar sendirian memang. Karena masih ada teman-teman seusiaku di panti jompo ini.

Ya, belasan tahun yang lalu, anak-anakku memilih membuangku ke sini. Ke panti jompo kecil di pinggiran kota.

Kalau kamu bertanya kapan terakhir aku bertemu dengan anak-anakku, jawabannya adalah ketika mereka menitipkanku di sini. Aku masih ingat bagaimana tegapnya punggung Zain yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru dongker dan juga jilbab ungu Seli yang menutup sebagian corak bunga-bunga di gamisnya, saat mereka meninggalkan panti ini. Hanya itu yang terakhir kulihat dari sosok mereka. Karena setelah itu, mataku langsung berkabut. Dan, air mata pecah dari kedua netra.

Lalu, setelah itu, Zain ataupun Seli tak pernah lagi menjengukku.

Oiya, apa sekarang kamu sudah siap untuk mengikuti semua ceritaku dari awal?

Kalau kamu sudah siap, duduklah dengan tenang, karena aku akan mulai menceritakan semuanya padamu. Dimulai dari saat aku melahirkan anak keduaku, Seli.

***

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk