“We made it,” ujar Harris sambil memeluk Kalia dari belakang.
Mereka masih berdiri di ruang tengah apartemen mereka yang dipenuhi kardus. Baru tadi pagi paket-paket berisi barang mereka dari Jakarta sampai. Tiga puluh dua kotak kardus yang merangkum hidup mereka. Kini harus dibongkar dan ditata kembali di Kronberg, Jerman.
Kalia tersenyum, mengusap lengan Harris yang menyilang di dadanya. Baru dua bulan lalu mereka menikah. Sampai sekarang Kalia masih ingat wajah kedua orang tua mereka ketika Harris mengumumkan bahwa mereka akan menikah. Ibu Harris bahkan sempat protes karena waktu mereka terlalu mepet untuk mencari gedung pernikahan yang sesuai standar keluarga Tedja. Ayah Harris lebih aneh lagi, reaksi pertamanya saat Harris mengumumkan rencana pernikahan segera adalah, “Kamu bikin Kalia hamil?”
“Weekend nanti, piknik di taman, yuk?” ajak Harris sambil mengecup pipi Kalia.
Kalia tertawa geli, “Jauh-jauh ke Jerman, mau duduk di atas rumput aja? Di Tebet juga ada kali, Hon.”
“Rumput di Jerman beda tau, sama rumput Tebet. Kamu cobain deh,”
“Oke, oke. Pas weekend ya. Kalau semua beres di-unpack, aku siapin deh snack buat pikniknya,” Kalia melepaskan diri dari pelukan Harris dan kembali ke tumpukan kardus yang harus mereka bereskan.
“Kal,” Harris menariknya kembali sebelum Kalia sempat menjauh.
Kalia menoleh, “Hm?”
“Seriously, makasih udah ikut aku ke sini, ya,” Harris mengecup punggung tangannya. Tatapannya membuat Kalia tersenyum.
Entah sudah berapa kali laki-laki itu mengatakan betapa bahagianya bisa membawanya ke Jerman. Kalia sendiri masih merasa semuanya sedikit tidak masuk akal. Dua bulan lalu mereka baru menikah. Sekarang mereka berdiri di apartemen baru, ribuan kilometer dari Jakarta, dengan tumpukan kardus mengelilingi mereka.
“Makasih juga udah bawa aku ke sini, Ris.”
“Kamu yakin nggak mau nunggu kasurnya dateng dulu besok pagi?” Kalia mendorong suaminya lembut.
“Besok pagi lagi, Kal,” goda Harris kembali mendekat dan menciumi leher istrinya yang sekarang tertawa ringan.
Sore hari saat Kalia membuka mata, selimut sudah menutupi sebagian besar tubuhnya. Harris tidak ada di sampingnya. Dari arah dapur terdengar suara air mendidih, disusul derap langkah kaki yang semakin mendekat.
“Hon,” panggil Kalia dengan suara serak.
Harris menyahut ringan, “Sebentar ya, Hon. Aku bawain roti dan teh panas.”
Sesaat kemudian, pria itu muncul sambil membawa sepotong roti dan secangkir teh.
“Makan ini dulu, ya, Kal. Nanti malam kita beli döner aja. Besok kalau dapurnya udah siap, baru mulai masak.”
Kalia mengangguk dan menggigit roti yang disodorkan suaminya.
Ia tersenyum melihat Harris mengumpulkan pakaian mereka yang berserakan di sekitar sofa. Rasanya sedikit lucu melihat mereka masih tidur di sofa bed dengan kardus-kardus menumpuk di sekeliling.
“Kalau makannya udah, kamu bisa mandi terus kita keluar, oke?”
“Kamu udah?” tanya Kalia.
Harris mengangguk. “Kenapa?”
“Enggak apa-apa. Tumben duluan.”
“Kal... kalau barengan, kapan kita pergi makan malamnya?”
“Yeee...” Kalia mencibir.
Ia memasang wajah malas, meskipun dalam hati menikmati bagaimana Harris selalu berhasil membuatnya merasa diinginkan.
Hari kerja pertama Harris. Rumah sederhana mereka sudah semakin terasa seperti rumah. Ada ruang tidur, ruang kerja dan rak berisi buku-buku, serta dapur dan ruang makan yang menyatu dengan ruang tengah.
Kalia tersenyum sambil berjalan menuju supermarket, tadi pagi Harris bangun dan mengecup keningnya untuk pamit berangkat. Sekarang, ia pergi berbelanja untuk kebutuhan rumah dan makan malam mereka. What a new life.
Di Jakarta, ia jarang sekali menikmati momen-momen seperti ini. Mana mungkin bisa berjalan kaki tanpa mendengar keributan klakson mobil yang saling tak sabar atau berebut ruang dengan motor yang melawan arah. Momen berjalan kaki Kalia terbatas pada teras rumah menuju mobil, lalu area parkir menuju pintu supermarket. Mengingat Jakarta membuat Kalia spontan mendongak ke atas langit.
Biru. Ini juga warna langit yang jarang terlihat di Jakarta.
Kalia melangkahkan kakinya dengan ringan. Tinggal di tempat baru, berdua dengan Harris. Kalia tahu, ia tidak pernah benar-benar dipaksa untuk datang ke sini. Harris memberinya pilihan saat pertama kali menawarkan Jerman kepadanya. Setengah jam kemudian, laki-laki itu melamarnya.
Ponselnya bergetar, ada pesan dari Harris.
From Harris:
Udah jalan ke supermarket, Hon?
Hati-hati ya. Masak yang gampang-gampang aja.
Aku baru selesai induction meeting sama HR. Kirim foto dong :*
Kalia mengirimkan foto gerbang supermarket karena kebetulan ia baru sampai.
From Harris:
Foto kamu, dong. Masa foto supermarket, Kal.
Mana bisa aku cium fotonya.
To: Harris
Genit -_-
Kerja yang serius, Ris. Aku belanja dulu.
From: Harris
Kalau galak gini makin gemesin deh, Kal.
Oke oke aku kerja dulu. See you, Hon!
Baru Kalia akan memasukkan ponselnya ke saku, ada pesan baru masuk.
From: Tania
Mbak, lagi apa? Ngobrol yuk. Aku galau nih.
To: Tania
Masih belanja. Nanti sampai rumah aku telp ya, Tan.
Tania sedang memotong-motong tomat sambil mendengarkan adik bungsunya itu bercerita macam-macam. Awalnya tentang pertanyaan Ibu soal rencana masa depannya setelah lulus kuliah master. Lalu Ayah yang selalu mengajak Kenzo (teman laki-laki yang menurut Tania bukan pacarnya padahal mereka sudah jalan berdua sekian lama) ngobrol terlalu serius setiap dia menjemput Tania ke rumah.
Kalia tersenyum mendengarkan suara adiknya. Seharian ini setelah Harris pergi bekerja, ia baru mendengarkan lagi kalimat dalam Bahasa Indonesia saat mengobrol dengan Tania.
“Kok kamu senyum-senyum doang sih, Mbak. Aku harus gimana nih menurut kamu?”
Kalia meminggirkan tomat potong dan mulai mengupas bawang putih. “Emang rencana kamu apa habis lulus, Tan?”
“Ya mana aku tahu. Sekarang aja aku masih pusing sama tesisku. Masa udah ditanya habis lulus mau ngapain?!”
“Trus kenapa kamu nggak bilang gitu aja sama Ibu?”
Tania mendengus, “Kamu kayak nggak kenal Ibu deh, Mbak. Menurut dia, hidup ini tuh harus udah direncanain sampai mati. Jadi nggak ada tuh istilah menikmati hidup, harus kejar-kejaran terus… nggak jelas deh ngejar apa.”
“Ya, bilang aja, untuk sekarang kamu masih fokus di tesis kamu.”
“Ih, yang ada nanti malah aku dijodohin sama anak temen arisannya dan disuruh kawin habis lulus,” tukas Tania kesal.
Kalia tertawa, “Bagus dong. Kan kata kamu tadi kamu juga nggak lagi pacaran sama Kenzo,”
Mendengar kalimat Kalia, Tania buru-buru mengoreksi, “Tapi bukan berarti aku trus mau kawin sama orang lain kan, Mbak. Aku cocok sih sama Kenzo, tapi dia juga belum jelas kasi status hubungan kami tuh apa,”
“Tanya dong, kalau belum jelas,” kelakar Kalia yang disambut gelengan penolakan adiknya.
“Mbak, Mas Harris pernah nggak sih bikin kamu bingung gini?”
“Kayaknya pernah, sih. Kadang aku bingung sebenarnya dia mau makan apa.”
Tania memutar bola matanya mendengar reaksi bercanda Kalia. “Serius Mbakkk..”
Kalia tertawa, semakin kesal Tania rasanya ia jadi semakin terhibur. “Nggak, Tan. Harris nggak pernah bikin aku bingung. Everything feels easy with him.”
“Aduh aduuuh.. Capek deh dengerin orang kasmaran. Sampe dibelain loh pindah negara, jadi ibu rumah tangga pula. Gimana, Mbak, betah?”
Kalia mengangguk. “Oke, sih. Agak aneh aja karena seharian nggak dikejar-kejar target kerjaan. Semoga aku betah, doain ya, Tan.”
“Kalau punya suami kayak Mas Harris sih nggak perlu didoain, Mbakk.. Perlunya disyukurin aja. Kamu doain dong aku bisa dapet suami yang sayang sama aku kayak Mas Harris sayang sama kamu,”
“Itu, Kenzo?”
“Mbakkkkk…”
Mereka lalu tertawa bersama.
Malam harinya, Harris pulang sebelum jam makan malam. Perjalanan 40 menit dari kantor ke rumah dengan kereta masih menyisakan banyak waktu untuk mereka mengobrol sambil menyelesaikan makan malam.
“Thanks udah masak ya, Hon,” ucap Harris sambil menggulung pasta di garpu lalu memakannya dengan lahap. “Enak banget.”
Kalia tersenyum, menyodorkan potongan garlic bread sebagai pelengkap. “Kamu laper kali, Hon.”
Harris mengangguk-angguk dengan mulut penuh, “Iya, orang di kantor makannya cuma roti sama keju doang. Nggak ada yang jual nasi bebek kayak di Jakarta.”
“Mau aku masakin besok?”
“Emang bisa?” tanya Harris tak percaya.
Kalia meringis, “Tanya Mami Ros dulu, resepnya. Trus aku belanjain bahan-bahannya di toko yang jual produk impor Asia.”
Mendengar nama ibunya disebut, Harris langsung menolak cepat. “Jangan, Hon. Kalau Mami tahu, aku bikin menantu kesayangannya repot-repot masak ini itu. Malah nanti dia ngomel, trus kamu disuruh balik ke Jakarta,”
“Aku kan istri kamu, Ris. Tempat aku ya dimanapun kamu berada.”
Harris berhenti menyuap mendengar jawaban Kalia. Matanya menatap Kalia dengan senyum, “Kita bakal baik-baik aja, kan, Kal?”
Kalia mengangguk, tangannya mengusap punggung tangan suaminya, “Of course, Hon.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!