The Wife At Home

1 dibaca

A

Cuaca hari ini sedikit mendung. Harris berangkat lebih awal agar di perjalanan menuju stasiun dia tidak keburu kehujanan. Kalia membawakan setangkup roti sebagai bekal, dengan telur mata sapi dan… bumbu rendang. Kalia masih menahan tawa mengingat percakapan mereka tadi pagi.

“Ris, ini sarapan kamu aku bungkus aja ya. Roti tawar sama telur mata sapi aja, kan?”

Harris mengangguk, sambil memasukkan laptop ke dalam tasnya. “Hon, sama rendang yang semalam, dong.”

“Rendang? Kan udah kamu abisin. Besok aku masakin lagi, deh.”

“Bumbunya masih ada, aku simpan di kulkas.”

Kalia menggeleng keheranan. “Ya ampun, Hon. Serius?”

“Serius. Biar kerjanya makin semangat, sarapan pakai masakan istri,” jawab Harris lalu mengecup pipi Kalia. “Udah ya, Kal. Aku berangkat dulu. Kamu jangan capek-capek di rumah,”

Bunyi mesin pengering yang baru selesai membuyarkan lamunan Kalia. Dia mengambil baju dari dalam mesin, mulai melipat, dan memisahkannya sesuai kategori di lemari.

Pukul sebelas, semua pekerjaan rumah selesai dan tidak ada lagi yang harus Kalia lakukan. Ia menatap jam, mesin cuci, dapur, lalu jam lagi. Memastikan semuanya benar-benar beres. Kalia memeriksa lemari dapur, mencatat bumbu-bumbu yang sudah mulai habis.

Demi hidup lebih hemat, Kalia dan Harris banyak makan di rumah dan hanya pergi sesekali untuk makan di restoran. Sedikit berbeda dengan gaya hidup mereka sebelumnya, tapi Kalia sama sekali tidak keberatan. Ia bisa memasak dan Mami Ros, mertuanya, punya banyak resep yang patut dicoba. Keluarga Tedja punya usaha restoran dan toko roti yang cukup terkenal di Jakarta. Beberapa cabang bahkan ada di bandara kota-kota besar di Indonesia.

Kalia mengisi botol minumnya dengan air kran, mengambil sebuah buku yang tengah ditamatkannya, lalu membawa tas belanja. Dia akan pergi ke supermarket, membeli satu dua roti sebagai makan siang, dan mencari taman terdekat untuk duduk tenang dan membaca.


Rencana membaca buku Kalia agaknya harus tertunda karena baru dia menikmati dua gigit belegte brötchen, semacam roti dengan isian sayur dan daging asap yang dijual di supermarket, Tania menelepon.

“Halo, Mbak, lagi apa?” tanya Tania sambil melihat tampilan layarnya dan sadar Kalia tidak sedang di rumah.

Kalia menunjukkan area sekitarnya dari kamera, “Taman. Baru aja mau makan siang. Kenapa, Tan?”

“Oh iya masih jam 1 ya di Jerman? Aku baru aja sampai rumah. Duh, biasa deh Ibu lagi di rumah jadi aku tadi disambut oleh siraman rohani.”

‘Siraman rohani’ adalah cara Tania menyebutkan hobi ibu mereka untuk memberikan ceramah yang tidak diminta. Kalia tertawa kecil, “Trus gimana, udah lebih cerah belum rohani kamu?”

“Boro-boro, makin suram yang ada,” cibir Tania. “Eh, Mbak, aku telepon karena mau tanya kontak perusahaan kamu yang lama. Masih ada?”

“Kontak buat apa?”

“Aku lagi kumpulin brand manager karena mau nawarin mereka buat coba program yang aku bikin. Aku lagi bikin program buat integrasikan sentimen brand di media sosial, budget marketing mereka, dan impact dari KOL marketing ke performance mereka.”

Kalia manggut-manggut, “Ada. Aku bisa kasi kontaknya Andre kalau kamu mau.”

“Mas Andre partner Mbak? Andre Hagia?”

“Iya,” Kalia mengerutkan kening, “Kenapa, Tan?”

“Enggak apa-apa. Masih single ga sih, dia?”

Kalia berpikir sebentar, “Pas kerja bareng sama aku, kayaknya baru divorce. Cuma aku enggak tahu sekarang. Kenapa, sih, Tan?” tanya Kalia tak sabar melihat gelagat aneh adiknya.

“Enggak apa-apa, beneran. Kalau masih single, biar sekalian.”

“Sekalian apa?!”

“Ada dehhhh..”

Kalia melirik curiga melihat gelagat adiknya, “Heh. Kamu, nih. Satu-satu, fokus dulu.”

“Jangan lupa kirim kontak Mas Andre ya, Mbak. Byeeee…”

Tut. Panggilan diputus Tania. Kalia hanya menggelengkan kepala karena kelakuan adiknya.


Berbeda dengan Kalia, Tania lebih santai dan tidak mudah terpengaruh oleh teguran atau ‘siraman rohani’ dari ibu mereka. Meskipun ia tetap akan mengadu ke Kalia. Namun, Kalia tahu bahwa kata-kata dan kritik yang diberikan Ibu, tidak meninggalkan bekas di hati Tania. Mungkin karena adiknya itu tidak pernah serius mendengarkan juga.

Tania lebih dekat dengan Ayah karena saat Tania tumbuh besar, kesibukan Ayah di kantor sudah mulai menurun. Berbeda dengan Kalia yang terlambat mengenal Ayah karena di ingatan Kalia, Ayah biasanya berangkat sangat pagi dan pulang sangat larut. Di akhir pekan pun, kadang acara keluarga mereka harus mengalah oleh keperluan pekerjaan Ayah.

Mungkin itu yang membuat hidup Kalia begitu nyaman dengan Harris. Harris selalu ada. Sejak pria itu berusaha mengambil hatinya sampai akhirnya mereka pacaran, konsistensi Harris untuk tetap ada untuk Kalia tidak berubah. Mereka akan berusaha untuk pergi dan pulang kerja bersama meski itu artinya Harris harus memulai hari lebih awal. Saat Kalia harus lembur di kantor, Harris akan datang membawakan makanan untuk semua rekan kerja Kalia dan duduk menunggu sampai ia bisa mengantar Kalia kembali pulang.

Terdengar suara kunci pintu diputar. Harris pulang.

“Hon, aku pulang.”

Kalia bangun dari kursi dan menyambut suaminya pulang. Saat melihat wajah Harris, Kalia menyadari ada sesuatu yang terjadi. Namun, ia memilih untuk menyapa suaminya lebih dulu, “Tebak aku masak apa?” ujarnya dengan nada riang.

“Sop ya? Aku bisa cium nih baunya.”

Kalia menggeleng, “Betul! Sama bikinin kamu bakwan udang, katanya kemarin pingin gorengan?”

“Makasih, Hon. Ada sambal kecapnya juga?”

“Lengkap pakai irisan bawang merah dan cabe rawit! Aku gorengin kerupuk juga.”

“Kaaaal.. Makasih ya. Aku mau mandi terus langsung makan, ya,” ucap Harris buru-buru meletakkan tasnya di foyer dan pergi ke kamar utama.


Di meja makan duduk Kalia, Harris, dan piring-piring kosong karena semua makanan sudah tandas.

“Thanks ya, Kal. Aku tadi ada masalah di kantor. Seneng deh pulang ketemu kamu, makan masakan kamu.”

“Is everything okay?”

“I hope so. Aku kan lagi handle satu klien potensial, nggak ada masalah apa-apa, sih. Cuma pas contact person di kliennya ganti, mereka mau pindah ke konsultan lain. Ada rekan kerja aku, orang lokal. Kayaknya mereka saling kenal.”

Dahi Kalia berkerut, “Emang boleh seperti itu?”

Harris mengangkat bahu, “Mereka belum deal, sih. Kantor aku juga masih offering, jadi ya… boleh aja for the sake of winning the client.”

Kalia manggut-manggut. Dia bisa paham kenapa Harris kecewa. Di Jakarta, nama Tedja mungkin membuka beberapa pintu. Di sini, nama itu tidak berarti apa-apa. Harris harus membangun semuanya dari awal.

“I am sorry it happened to you. Tenang aja, Hon. Nanti juga bakal ada klien selanjutnya. Aku percaya sama kemampuan kamu.”

“Semoga ya, Kal. Kamu gimana hari ini? Happy?”

Kalia mengangguk, “Tadi aku makan siang di taman. Beli roti di supermarket. Trus Tania telepon, minta nomornya Andre.”

“Andre temen kantor kamu dulu?”

“Iya. Aneh banget, pakai nanya segala Andre lagi single apa nggak,”

Harris melirik ke Kalia, “Kalau kamu sama Andre jadi kakak adik ipar, mau emangnya, Kal?”

“Nggaaaaaak..”

Harris tertawa melihat reaksi Kalia. Kalia sendiri merasa lebih tenang melihat suaminya sudah bisa tertawa lepas. Ada rasa lega merayap di dadanya.

Mungkin hidup seharusnya memang sesederhana ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk