Worth It

1 dibaca

A

Kalia tahu hari ini bukan hari yang baik untuk suaminya. Mulai dari pesan-pesan yang dibalas terlambat, kalimat yang singkat-singkat, dan informasi bahwa Harris akan pulang terlambat malam ini. Beberapa kali memang Harris pulang lebih malam dari biasanya, tapi tidak selarut ini. Sekarang pukul delapan dan belum ada tanda-tanda suaminya akan pulang.

Kalia melirik panci berisi sop buntut di atas kompor. Saat ini, itu adalah satu dari sedikit usaha yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki hari Harris. Sepasang telinga yang siap mendengar dan menu makan malam yang membuat hati nyaman. Dibesarkan oleh Mami Ros, Harris dimanjakan dengan menu-menu masakan rumahan di atas meja makan. Kalia juga menyadari, waktu makan adalah waktu dimana Harris akan menumpahkan uneg-uneg di hatinya sambil menikmati makanan yang terhidang.

Pukul sembilan, Kalia sedang membaca buku di sofa saat pintu apartemen dibuka. Harris masuk ke dalam dengan langkah gontai, tidak ada sapaan seperti biasanya. Saat melihat Kalia di sofa, Harris mendekat.

“Hon, kok nggak ngabarin kalau udah pulang?” tanya Kalia sambil bangun dari sofa.

Harris tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu memeluk Kalia. Napasnya terasa di leher belakang Kalia. Merasakan itu, Kalia diam dan mulai mengusap punggung Harris pelan. Harris makin mengeratkan pelukannya, “Aku mau di sini aja, Kal,” ucap Harris pelan.

Kalia mengangguk dan membiarkan Harris ada di pelukannya untuk beberapa saat.


“Enak banget, Kal. Jago kamu masaknya,” puji Harris sambil menuang lagi sop buntut hangat ke mangkuknya.

Kalia tersenyum kecil, “Resep Mami, Hon. Besok mau aku bawain buat makan siang di kantor sekalian?”

Harris menggeleng sambil menyelesaikan kunyahannya, “Enggak sempat kayaknya, Kal. Nanti aku ambil roti dari pantry kantor aja. Trus kayaknya aku perlu ambil les Bahasa Jerman lebih serius deh. Ternyata butuh banyak ngobrol santai sama klien dan mereka lebih suka ngobrol dalam Bahasa Jerman.”

“Hm.. Nanti kita bisa cari, Ris. Kalau orang kantor kamu gimana?”

“Biasa lah. Semua kantor sama, rebutan klien dan kompetitif juga, sama seperti di Jakarta. Cuma di sini bedanya ngomongnya pakai Bahasa Inggris aja,” canda Harris sambil mulai menumpuk piring dan mangkuk kosong.

Kalia tertawa. “Sama dong. Waktu aku di pasar juga sama. Mau di sini atau di Jakarta, aku sama-sama enggak bisa nawar harga.”

Sekarang giliran Harris tertawa mendengar kelakar istrinya. “Makasih ya, Kal. Kadang aku takut gagal,” akunya kemudian.

Kalia mengambil tangan Harris yang terkulai di atas meja, menggenggamnya erat. “Ini hidup kita, Harris. Dan kamu nggak perlu membuktikan apapun ke Papi kamu.”

“Iya, aku tahu.”

“Kamu juga nggak perlu membuktikan apapun ke aku. Kita lalui ini sama-sama, oke?”

Harris mengangguk, tangannya menggenggam tangan Kalia erat.


Hari berikutnya, Kalia pergi ke Frankfurt usai makan siang. Ada sebuah toko buku bekas yang mau ia singgahi di Töngesgasse. Terbatasnya ruang di tempat tinggal mereka membuat banyak buku-buku Kalia harus tetap tinggal di Jakarta. Membeli satu dua buku dalam sebulan adalah solusi yang mudah untuk membuat Kalia tetap terhibur.

Setelah menghabiskan satu jam di toko buku dan berkeliling sebentar menikmati suasana Frankfurt yang sangat berbeda dengan area tempat tinggalnya dengan Harris, muncul ide di kepala Kalia. Dia lalu mengirimkan pesan ke suaminya.


To: Harris

Hon, Aku di Frankfurt.

Kamu pulang jam berapa?


From: Harris

Kok di Frankfurt?

Ada apa?


To:  Harris

Rahasia.

Jam berapa selesai?


From: Harris

Kamu dimana?

Biar aku yang susul ke sana.


Hal yang Harris tidak tahu, sejak jam enam tepat, Kalia sudah duduk di bangku yang berada di dekat pintu masuk gedung kantor Harris. Di tangannya, dua buah currywurst hangat sudah siap sebagai bekal.

Di situ dia, Harris Tedja suaminya baru saja keluar dan membuka ponselnya. Kalia sengaja tidak memanggil dan berjalan ke belakang Harris.

“Hai,” sapa Kalia pelan.

Harris menoleh, wajahnya terkejut lalu cepat berganti dengan senyum sumringah. “Hon, kamu ke sini?”

“Iya, jemput kamu. Nih,” tangan Kalia menyodorkan satu kantong coklat berisi currywurst yang disambut Harris antusias.

“Habis ngapain?”

“Beli buku. Jalan yuk?” ajak Kalia sambil mengarahkan dagunya ke jalanan di depan mereka.

Harris mengangguk. Petang itu mereka habiskan dengan berjalan bersisian sambil menikmati sosis panggang dan kentang goreng yang disiram saus kari khas Jerman. Tidak ada obrolan yang serius. Kadang mereka membicarakan soal Tania, adik Kalia atau Amal dan Raina, kedua kakak Harris.

Saat Kalia menoleh, ada saus yang menempel di ujung bibir Harris. Dengan refleks, Kalia mengusapnya, “Kamu tuh, kayak anak kecil.”

Harris tertawa, tak keberatan sedikit pun. “Aku kangen kayak gini, Kal.”

“Kayak gimana?” Kalia menatap wajah suaminya dengan teliti.

Harris melihat ke sekeliling mereka sebelum menjawab, “Nggak ada agenda. Nggak ada kerjaan. Cuma jalan sama kamu.”

Mereka pulang ke rumah seperti Kalia dan Harris yang dulu masih kencan sepulang kerja. Semua terasa manis dan ringan tanpa beban.


Di kamar tidur saat hari mereka hampir berakhir dan lampu kamar sudah dimatikan, Kalia masih berbaring memikirkan momen mereka di Frankfurt tadi.

Harris tiba-tiba bicara dalam gelap, “Kal, sebenarnya ada sesuatu dari kantor yang mau aku ceritain.”

“Hm?”

“Senior Manager-ku mau resign,” ucap Harris yang membuat Kalia terdiam. Dia tidak yakin apakah kabar dari suaminya adalah kabar yang baik atau sebaliknya.

Harris kemudian melanjutkan, “Posisi dia nanti akan diisi oleh kandidat internal. Perusahaan udah bikin shortlist dan aku masuk ke dalam lima kandidatnya.”

Kalia menghela napas, ada sedikit kelegaan di sana. Namun, nada suaranya lalu berganti hati-hati, “Trus, kamu mau dapet posisi itu?”

“Kalau aku bisa dapet posisi itu, tunjangan rumahnya lebih besar, Kal. Kita bisa sewa rumah yang ada tamannya atau nabung buat beli. Kamu masih suka rumah yang ada tamannya, kan?”

Kalia bergeser pelan, dia menyandarkan kepalanya ke bahu Harris. “Tapi aku mau kamu happy juga ngejalaninnya, Hon.”

“Aku happy dimanapun yang kamunya juga happy, Kal,” ujar Harris sambil mengecup kepala Kalia, membuat perempuan itu mengerjap karena merasa matanya mulai basah.

Kalia tersenyum dalam gelap.

Tangannya mencari tangan Harris di antara selimut, lalu menggenggamnya erat. Mungkin hidup mereka memang akan berubah lagi setelah ini. Tapi, malam itu Kalia tidak takut karena ia yakin apa pun yang menunggu di depan, mereka akan menjalaninya bersama.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk