Aroma buah persik yang manis memenuhi ruangan ketika Elaina melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang penuh dengan pengembara.
“Ramai sekali,” guman Elaina. Ia masih berdiri di depan pintu kedai karena tidak ada tempat untuk duduk.
Ketika hendak berbalik sebuah suara memanggilnya, “Nona Elf, kamu bisa duduk denganku.”
Suara itu tidak terasa asing bagi Elaina, ia pernah mendengar suara ini sebelumnya. Elaina membalikkan badannya melihat ke arah wanita yang sedang melambaikan tangannya di pojokan kedai.
Ah… staff yang menggunakan parfum menyengat itu, pikir Elaina sembari berjalan ke arah wanita itu.
“Kamu bisa duduk di sini, Nona Elf. Kedai ini memang selalu ramai pembeli ketika jam makan siang. Banyak pengembara yang menyukai manisan dan roti-roti di sini!”
Staff wanita itu masih sama, ia memiliki karakter yang cocok untuk bagiannya yaitu mampu mempromosikan sesuatu sehingga tampak menarik bagi pembeli. Begitupun dengan Elaina yang akhirnya mengikuti saran staff wanita itu; ia membeli manisan pepaya dengan cermai lalu sepotong kue keju lumer dengan tambahan ceri di atasnya.
“Cantik,” ujar Elaina. Staff itu tersenyum simpul saat mengetahui Elaina memuji makanan pilihannya.
Meski terlihat tenang dan datar namun sebenarnya hati Elaina bergejolak. Berbeda dengan Tobi atau Naoya sebelumnya, hawa keberadaan gadis ini sangatlah tipis. Senyumannya tidak sejalan dengan aura yang dipancarkan tubuhnya.
Ada apa dengannya?
Elaina menatap wanita yang mengunyah lahap kue yang berada di depannya sembari menggoyang-goyangkan pundaknya. Ia memang terlihat saat senang tetapi Elaina tidak bisa merasakan kehidupannya. Bahkan jika dibandingkan dengan Tuan Naga memiliki wajah menyeramkan dan tidak ramah, aura kehidupannya sangat terasa mencolok dibanding wanita di depannya.
“Kamu tidak apa-apa, Nona?” tanya Elaina tanpa basa-basi. Staff wanita itu berhenti menggoyangkan tubuhnya lalu menatap Elaina dengan tatapan bingung dengan maksud perkataannya.
“Aku baik-baik saja. Nona Elf bisa melihatnya kan, aku tampak sangat bahagia bisa memakan kue keju lapis dengan selai stroberi segar. Ini enak sekali.”
Benar, Elaina tahu bahwa wanita itu tidak baik-baik saja. Ia hanya tersenyum dengan hati yang menangis. Tanpa kekuatan magis Elaina pun tahu kalau wanita ini sedang bermasalah. Normalnya seseorang akan menjawab dengan jawaban— Memang wajahku tampak bersedih? — Jika mendapat pertanyaan seperti itu, namun wanita itu malah menjawab kebalikannya seolah ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia baik-baik saja.
Elaina kembali memakan kue yang sudah ia potong, mengingat baru saja beberapa hari yang lalu ia meninggalkan seorang anak yatim piatu ke panti asuhan; ia tidak ingin ikut campur lagi dengan masalah manusia.
“Baiklah Nona, aku sudah selesai. Terimakasih sudah berbagi tempat duduk denganku.” Elaina menganggukkan kepalanya, memberi tanda terimakasih, lalu meninggalkan staff wanita yang membalasnya dengan senyuman kosongnya.
Manusia itu aneh, mereka mencoba ramah ke orang lain namun tidak dengan diri mereka sendiri.
Di seluruh penjuru kota Bellavere menjadi sangat wangi hari ini, banyak taburan-taburan kelopak bunga yang berserakan di hampir setiap gang-gang jalanan kota. Bukan karena ini adalah musim gugur, namun sedang ada perhelatan pernikahan masal.
“Selamat atas pernikahannya.”
“Terimakasih.. terimakasih..”
Setiap pasangan pengantin yang mengikuti event ini diarak dari tempat catatan sipil dan pemberkatan hingga ke rumah mereka masing-masing.
Elaina melihat event bahagia itu dari atap penginapan tempatnya menginap. Ia bisa melihat betapa menghangatkannya aura mereka yang membuat mana sihir Elaina berkedip penuh dengan kilatan cahaya keemasan.
Aku baru tahu mana sihirku benar-benar cocok dengan energi dari aura manusia. Jangan-jangan itu sebabnya para penyihir suka berkunjung ke wilayah manusia.
Namun, ada satu bagian yang menarik mata Elaina. Benar, dari dalam toko pakaian anak, tempat dia dan Naoya membeli pakaian; ia melihat seorang wanita dengan mata yang cekung dan menghitam menatap tajam ke arah pasangan pengantin yang lewat di depannya.
Elaina menyipitkan matanya, melihat ke arah pandangan mata staff wanita yang ditemuinya kemarin. Pasangan pengantin itu tampak bahagia, berciuman, dan memamerkan kemesraan di depan kerumunan warga yang melihatnya.
“Aku dengar sang pria meninggalkan kekasihnya demi menikahi perempuan yang lebih muda.”
“Benar, rumornya juga saldo tabungan sang wanita dihabiskan oleh sang pria tanpa diketahuinya dan ternyata demi gaun pernikahan perempuan lain. Malang sekali nasibnya.”
“Kalau aku jadi wanita itu, aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup lagi di dunia ini.”
Kini Elaina mengerti kenapa aura wanita itu berbeda, sepintas ia melihat kilatan memori saat wanita itu tersenyum dengan mata yang lebam setelah menangis, makan dengan suara tawaan yang renyah untuk menutupi suaranya yang gemetar, dan memilih makanan-makanan manis untuk melupakan masalahnya sejenak.
Mata Elaina berkedip, ia tak menyangka ternyata di tengah-tengah kerapuhan manusia masih ada waktu untuk mereka mengkhianati pasangan mereka. Ia mengingat bahwa kebanyakan kaum elf, naga, dan penyihir sangat setia dengan pasangan. Mereka bahkan lebih memilih sendiri hingga ajal menjemput jika pasangan mereka meninggalkan mereka terlebih dahulu.
“Apakah ini sebabnya mereka memiliki usia yang pendek?”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!