Jari-jemari kecil Naoya membawa gelas yang berisi air dengan bercampur sedikit sihir. Ia membawakannya dengan perlahan-lahan. Hampir saja air-air itu beriak terciprat ke bajunya.
Ia melihat Elaina masih duduk dengan menatapnya dengan tatapan yang tidak Naoya mengerti.
“Nona Elf, ini minumnya.” Naoya memberikan gelas yang pecah-pecah itu kepada Elaina yang masih terdiam sembari menerimanya.
Elaina mengamati Naoya. Badannya kurus, rambutnya panjang sebahu; membuatnya tampak kumal tak terawat. Kata-katanya pun masih belum jelas terdengar, wajar saja jika agak cadel tapi ia masih memberikan senyum terhangatnya kepada dunia— bukan, mama bonekanya. Dia melakukan itu demi mama bonekanya.
“Naoya…”
Elaina tak sanggup melanjutkan perkataannya ketika melihat mata Naoya menatapnya dengan penuh harap. Siapa manusia rapuh yang tega-teganya menghasilkan manusia lain ketika dia tahu jiwanya sudah benar-benar mendekati ajal.
Elaina mungkin masih tergolong remaja, itu sebabnya terkadang emosinya tidak stabil. Ia bisa tiba-tiba menangis apalagi setelah mengetahui kondisi Naoya.
“Kenapa Nona Elf menangis? Apa karena Naoya?” Naoya bertanya dengan wajahnya yang sedikit tertunduk.
Naoya bukan manusia biasa, dia darah campuran. Jiwanya kuat dan membara; Elaina pun dapat merasakannya. Hanya saja, ia kini masih tenggelam dengan emosinya sendiri.
Semakin ia melihat Naoya, semakin pikirannya bertanya bagaimana caranya manusia benar-benar bisa bahagia memiliki umur yang sependek itu dan beraninya melahirkan anak dengan darah campuran yang jauh berumur panjang.
Ia melirik bocah 4 tahun di sebelahnya.
“Naoya, namaku Elaina. aku baru datang di Bellavere. Kamu mau menemaniku berjalan-jalan?”
Tawaran itu nampaknya menjadi sebuah kejutan yang membuat mata Naoya langsung berbinar. Sepertinya sudah lama dia hidup sendiri tanpa orang lain—kecuali boneka itu di sisinya.
“Aku mau Nona Elaina.”
“Panggil saja aku kakak.”
“Baik Kak Elaina.”
Deretan baju lucu dengan warna cerah yang menyegarkan mata berjejer di rak toko khusus anak-anak.
Mata Elaina tertuju pada sebuah baju berwarna oranye seperti labu yang berada di kebun Tobi. “Ah, ini imut sekali. Aku rasa cocok dengan kulit Naoya.”
“Nona Elf, Tuan Kecil sudah selesai potong rambutnya,” ujar salah satu staff toko yang menghampirinya. Elaina hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya, ia masih cukup grogi apabila bersebelahan dengan manusia.
Parfumnya menyengat sekali, pikir Elaina.
Elaina berjalan menjemput Naoya yang kini sudah terlihat rapi, ia dapat melihat wajahnya yang sangat cerah. Rambut Naoya dipotong dengan model rambut mandarin. Poni yang berasa di atas alis, menambah poin plus pada keimutan Naoya karena pipinya kini terlihat kenyal seperti puding.
“Wah, kamu terlihat sangat lucu jika rapi seperti ini.” Elaina menutup mulutnya, dan menjawil pipi Naoya yang menggemaskan.
“Hentikan Kak Elaina, aku tidak lucu. aku sangat dewasa,” pekik Naoya dengan menggembungkan pipinya yang hanya menambah rasa gemas pada Elaina.
“Baiklah-baiklah, gunakan baju ini. Aku membelikannya khusus untukmu.”
Naoya membeku melihat baju barunya, ia terlihat hampir menangis karena bahagia sebelum akhirnya berlari menuju ruang ganti.
Kini Naoya sudah sepenuhnya tampak seperti bocah bangsawan tanpa perlu sihir. Ia berlarian dan bernyanyi di sepanjang jalan.
“Ayo cepat kak.” Naoya melambaikan tangannya, meminta Elaina mempercepat langkahnya.
Mereka berdua berkeliling Bellavere, bermain di pusat air mancur, menikmati jajanan kaki lima, dan juga membaca buku di perpustakaan kecil yang berada di pojokan gang.
Elaina juga akhirnya menemukan mie yang ia inginkan. Kuahnya kental dengan daging sapi dan potongan daun bawang di atasnya. Mereka berdua saling mengetukkan mangkok mereka dan melahap habis mie kuah itu hingga tetes terakhir.
Elaina juga mengajak Naoya untuk meminta maaf pada kedai-kedai yang pernah ia curi, meski sempat kaget kenapa Elaina bisa mengetahuinya tapi ia hanya mengangguk menurutinya. Elaina juga memberi uang untuk membayar semua makanan yang ia ambil saat itu.
“Dasar kau?! Bocah ba..”
Elaina mengernyitkan dahinya dan maju melindungi Naoya yang hendak dipukul oleh pemilik kedai roti lapis yang tadi pagi ia curi, “Anak ini sudah meminta maaf dan membayarnya, setidaknya maafkan dia.”
Akhirnya emosi pemilik kedai itu menurun, ia mengangguk dan mengambil uang Elaina sebelum akhirnya ia mengusap kepala mungil Naoya.
“Bocah… jika kamu tidak punya uang, kamu bisa meminta roti lapis kepada paman. Tidak perlu mencuri seperti tadi. Akan sangat baik jika kamu meminta saja, oke?” ujar pemilik kedai dengan mengangkat jempolnya dan menyengirkan giginya yang putih dan bersinar.
Naoya mengangguk dan memberikan senyumannya. Akhirnya ia tidak perlu menunggu dewasa untuk melunasi hutang-hutangnya.
Kini tibalah langit senja. Mereka berdua duduk menikmati udara sejuk di pinggiran taman kota.
“Aaahh.. hari ini aku bahagia sekali. Terimakasih Kak Elaina sudah mengajakku berjalan-jalan hari ini.” Naoya menyatukan tangannya seolah ia malu-malu dengan Elaina.
“Jangan berterima kasih dulu, aku masih mau mengajakmu ke satu tempat. Mungkin setelah ini aku harap penderitaanmu akan berakhir.”
Elaina lalu menggandeng tangan Naoya, menariknya terbang melewati langit senja. Naoya hanya terdiam terpaku melihat keindahan dan kedamaian Bellavere yang penuh dengan pengembara yang berlalu-lalang.
Kini, Naoya berada di sebuah gedung yang tinggi. Ia melihat banyak sekali jendela. Entah itu terlihat seperti hotel—atau asrama?
“Nona Elaina, aku sudah menerima pesan darimu. Aku sangat senang sekali bisa membantumu. Ah, apakah dia Naoya? Hai Naoya?”
Seorang suster anak dengan pakaian dress hitam selutut. Ia menyapa Naoya dengan sangat ramah meski Naoya memilih bersembunyi di balik kaki Elaina.
“Tidak apa-apa, kamu tidak perlu takut. Namaku Suster Ana. Hai Naoya,” sapa Suster Ana dengan melambaikan tangannya. Naoya mau tidak mau, membalas lambaian tangannya itu.
Suster Ana yang ramah itu akhirnya membawa Naoya yang masih belum mengerti apa-apa masuk ke dalam rumah asrama megah itu— alias panti asuhan anak Bellavere.
Elaina menatap kepergian Naoya dengan senyuman dan lambaian tangan hingga jejak Naoya dan Suster Ana menghilang bersamaan dengan pintu panti tertutup.
Elaina tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Naoya selanjutnya, yang jelas ia sudah melakukan hal yang benar.
Naoya masih memberontak. Ia menangis setelah dipisahkan oleh ibunya atau malah kini ia menyadari bahwa ibu yang ada di benaknya hanyalah boneka teddy bear yang sudah usang.
Naoya akhirnya tersadar setelah Suster Ana melakukan terapi dengan seorang psikolog anak tentang kondisinya, akhirnya Naoya normal kembali.
Belakangan diketahui liontin merah itu lah yang berisi sihir untuk tetap melihat penampakan ibunya pada boneka itu sehingga pihak panti memilih untuk menghancurkannya diam-diam.
Naoya perlahan-lahan mulai menerima keadaannya di dalam panti itu, bermain dengan anak seumurannya, belajar menulis, makan dengan layak, dan yang lebih menyenangkannya lagi—
“Naoya, mulai sekarang panggil kami berdua mama dan papa, oke!”
Sepasang suami istri muda; Nona Naga dan Tuan Penyihir memilih Naoya untuk diadopsi menjadi anak mereka setelah tiga tahun menikah dan belum dikaruniai seorang anak.
Mereka membawa Naoya pulang ke rumah yang sangat hangat
dengan kebersamaan di dalamnya; jauh lebih layak daripada reruntuhan bangunan dan sebuah boneka yang usang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!