Manusia-manusia yang rapuh

4 dibaca

A

Di kehidupan yang tak pernah bertahan lama, Elaina hanya menatap lurus ke cakrawala. Langit yang berwarna kejinggaan dengan awan-awan bermotif garis-garis lurus.

Ia mendengar desiran ombak-ombak dari bawah tebing yang ia duduki.

“Aku dengar manusia hanya memiliki rentang umur kurang dari 100 tahun. Bagaimana mereka bisa menikmati keindahan hidup seperti ini jika hanya sibuk bekerja?”

Gumaman-gumaman itu mengganggu pikirannya tentang bagaimana para manusia tetap bisa bahagia dengan usianya yang hanya seumur jagung bagi seorang elf seperti Elaina.

Umumnya Elf bisa hidup hingga 1000 tahun bahkan lebih, menikmati perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi manusia tidak seperti demikian. Mereka terkadang hanya menetap di satu tempat tanpa berpindah, bahkan hingga mereka meninggal masih di tempat yang sama.

Elaina, elf dengan usia hampir 100 tahun, masih tergolong sangat muda alias remaja untuk ras elf. Ia masih bingung tentang manusia. Dalam hati kecilnya sebenarnya ia sangat penasaran, tetapi ia tidak berani mendekati mereka apalagi berteman. Mereka sangat rapuh, bisa-bisa mereka mati hanya karena terkena sentuhan tangannya.

Elaina berhenti melamun, ia harus melanjutkan perjalanannya. Ia melihat tangannya yang sangat lembut membuat sebuah pola di sana. Dengan sedikit dorongan tenaga, ia bisa memuncul sebuah cipratan cahaya yang terbuat dari kekuatan sihir yang ia miliki.

Cipratan cahaya itu mengelilingi tubuhnya, membentuk sebuah sayap yang sangat cantik. Ia melangkahkan kakinya, berlari menuju ujung tebing, membiarkan tubuhnya terjatuh dan melayang di angkasa lepas dengan sayap sihirnya.

Sayap-sayap itu berkibas dengan lembut, membuat cahaya-cahaya kecil terpercik dan menambah indah pemandangan di senja yang hampir kehilangan cahayanya.

Di tepian pantai seorang bocah lima tahun, menunjuk ke arah cahaya-cahaya yang terpecik itu, “Ibu… ada peri yang terbang di sana!” teriaknya dengan suara yang sangat ceria, ia lalu melambaikan tangannya ke arah Elaina yang terbang melintasi samudra yang panjang.


Ah! Seorang manusia, pikir Elaina.


Dengan sedikit sihir yang ia punya, Elaina membuat sekelompok kupu-kupu yang terbang menghampiri bocah itu dan berdansa bersamanya. Elaina tersenyum, melambaikan tangannya lalu menundukkan kepalanya, tanda ia harus segera pergi dari sana.

Samudra-samudra itu sangat luas, Elaina bisa melihat hewan-hewan laut magis yang mulai memberikan sinyal-sinyal cahaya di bawah sana. Ia juga bertemu dengan salah satu naga laut yang sedang berenang, memecah arus samudra yang deras.

Elaina terbang merendah, ia mencoba menyapa sang naga yang penuh dengan sisik biru dengan kilauan seperti mutiara di punggungnya.


“Tuan Naga laut, anda hendak pergi kemana?”


Naga laut itu masih terus berenang meski ia kini tampak memelankan kayuhan sirip, dan menengadahkan wajahnya keluar dari air.


“Hai Nona Elf, aku hendak pergi menuju Dragon Castle, di Wymreach. Ada pertemuan dengan para naga tentang masalah pembagian daerah kekuasaan. Kamu mau kemana Nona Elf?” tanya sang naga laut dengan ramah.


Tidak seperti dahulu, sekarang kaum naga sudah berdamai dengan ras-ras lain dan memilih hidup berdampingan.


“Aku Elaina Tuan, aku hendak mencari tujuan baru untuk berkelana tapi aku masih kebingungan menentukan arah tujuanku,” jawab Elaina dengan wajah yang cukup kecut.


“Kenapa tidak menuju ke arah selatan, di sana ada kota yang sangat besar bernama Westheaven. Kamu bisa menemukan makanan, pakaian, atau bahkan perlengkapan yang kamu butuhkan selama berkelana. Aku sangat merekomendasikannya, loh!”


Elaina sedikit mengernyitkan dahinya saat mendengar kata Westheaven, setahunya itu adalah kota dengan banyak pengembara dari kalangan elf, kurcaci, penyihir, dan naga yang mampir ke sana.

Dia sudah memasukkan kota itu di wistlistnya tetapi masih ragu karena kota itu adalah kota manusia. Ia akan berjumpa dengan banyak manusia yang berumur pendek di sana. Hatinya seakan tak siap.


“Aku sudah memasukkannya ke daftar wishlistku tetapi masih ragu Tuan Naga Laut. Di sana dipenuhi oleh para manusia yang rapuh. Aku takut, aku malah akan membuat mereka makin rapuh.”


Ungkapan itu bukannya membuat naga laut bersimpati malah membuatnya tertawa, “Hahaha.. kamu ini lucu sekali Nona Elf. Sudahlah, pergilah ke sana terlebih dahulu. Kamu pasti akan menyukai suasananya. Aku pergi dulu sebelum telat! Dadah Nona Elaina.”

Sang naga laut itu lalu mengibaskan ekornya dengan cepat meninggalkan Elaina yang belum sempat menanyakan siapa nama sang naga itu.


“Mungkin suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya.”


Elaina menghentikan laju terbangnya, kini ia ada di persimpangan jalan. Jika ia memilih ke arah selatan maka sudah dipastikan ia menuju Westheaven sedangkan jika ke utara, ia masih harus terbang melewati beberapa samudra lagi.


“Mungkin untuk kali ini saja…”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk