Jiwa yang menghangatkan

1 dibaca

A

Sayap-sayap magis Elaina sudah mulai kehilangan keseimbangannya. Untung saja daratan sudah terlihat, Elaina menambah kecepatannya hingga sayap-sayap cahaya itu berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sirna.


“Aaaaaaaa….”


Tubuh kecil Elaina terlempar jatuh, ia bisa merasakan tekanan gravitasi menekannya terus ke bawah hingga membentur air.


Plasshhh..


Kini tubuhnya basah, begitupun dengan rambut putihnya yang sudah lepek terkena air. Untung saja permukaan laut itu tidak terlalu dalam sehingga ia masih bisa berenang ke tepian.


Untung saja lautnya dangkal, pikirnya.


Energi mana nya sudah habis setelah ia gunakan terbang sejauh itu. Kini ia perlu mengistirahatkan sihirnya sebelum ia gunakan kembali..


Karena kelelahan badannya ambruk begitu saja di pasir pantai yang sangat lembut, bersih, dan putih ini. Tidak ada siapapun di sana, hanya kegelapan dan cahaya dari rembulan dan bintang-bintang yang menemaninya hingga ia terlelap.




Everdelle, sebuah dunia dimana semua ras hidup berdampingan. Mereka semua menjunjung tinggi perdamaian dibanding apapun, sebuah dunia yang mengedepankan rasa saling asih dan sayang di tengah perbedaan yang mencolok.


Para manusia terbiasa hidup di daerah yang memungkinkan mereka untuk bertani, berkebun, berladang, ataupun mencari ikan sebagai lauk pauk mereka. Meskipun dibanding ras lain mereka tidak punya kekuatan yang berarti, tetapi otak-otak mereka mampu menciptakan ide cemerlang yang membuat pekerjaan mereka terbantu.


Mereka tidak bisa terbang, mereka menciptakan kendaraan.


Mereka tidak bisa menyelam terlalu lama di atas air, mereka membuat kano atau perahu.


Mereka tidak punya kekuatan untuk bertahan dari serangan hewan buas, mereka membuat senjata yang mematikan.


Apapun itu, hanya manusia yang bisa menemukan atau membuat benda-benda aneh yang memperingan kehidupannya.


Sedangkan para naga terbiasa hidup di daerah-daerah ekstrim yang tidak bisa di tinggali oleh manusia. Mereka memilih lembah yang dalam, lereng gunung vulkanik, atau laut-laut terdalam. Para naga kini sudah sering bergaul dengan ras lain meskipun mereka terkesan introvert, tetapi disitulah letak keindahannya.


Para kurcaci adalah ras yang sangat sibuk bekerja. Sama seperti manusia, mereka ini juga kreatif bahkan sering bekerja sama dengan manusia untuk saling memberikan inovasi-inovasinya. Hanya saja kurcaci sangatlah kuat, ia bisa mengangkat batu dengan berat 100 kg dengan satu tangan. Umur mereka juga jauh lebih panjang, mungkin 5 kali umur manusia.


Sedangkan para penyihir dan elf sibuk berpindah-pindah tempat dan berkelana. Mereka selalu berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Bagi mereka, berkelana adalah hidup, mencari pengalaman dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Hanya saja, penyihir jauh lebih sering mendekat ke wilayah manusia dibanding elf yang lebih menyendiri.


Setidaknya begitulah gambaran kehidupan yang menenangkan di Everdelle…


“Uhh… sudah berapa jam aku tertidur?”


Elaina akhirnya dapat membuka matanya lagi, tapi masalahnya bukan langit biru yang ia dapati melainkan ubin-ubin dari kayu yang nampak sangat cantik dan mengkilat karena dipernis.


“Dimana aku?” gumamnya pelan, ia masih belum bergerak dari kasur empuk yang membuatnya nyaman.


Krieeet…


Sebuah pintu kayu terbuka dengan pelan, namun tetap menimbulkan bunyi khasnya. Seorang pria muda menunjukkan eksistensinya di depan mata Elaina yang kini sudah terduduk.


Ia dengan sedikit merunduk, melepas topi ladangnya dan memberi hormat kepada Elaina.


“Maaf, Nona Elf. Aku membawamu ke rumahku karena aku khawatir saat menemukanmu jatuh pingsan di tepi pantai sendirian.”


Elaina masih belum menjawab, jauh di dalam pikirannya banyak hal-hal yang perlu ia proses.


Dia manusia? Pikirnya.


Seperti pikirannya, tubuhnya masih belum memberikan reflek apapun saat bertemu dengan pemuda itu. Ketakutan dikira ia adalah seorang penjahat, pemuda itu melangkah dan mendekati Elaina dan memperkenalkan namanya.


“Aku Tobi Nona Elf, kamu tidak perlu takut. Aku bukanlah penculik,” ujarnya sembari menyengirkan barisan giginya yang nampak putih dan rapi.


Aku tidak takut denganmu, aku hanya takut membuatmu rapuh, jawab Elaina di dalam pikirannya sendiri. Meskipun begitu, realitanya ia hanya memberikan anggukan kecil tanpa senyuman atau apapun.


Tobi tersenyum lega, setidaknya elf kecil yang ia temukan tidak menganggapnya penjahat. Kenapa Tobi berpikir bahwa Elaina hanya Elf kecil? Tobi adalah pria jakun yang kemungkinan berusia 19 tahun dengan 187 cm sedangkan Elaina hanya 147 cm. Terpaut jauh sekali bukan, itu sebabnya Tobi mengira Elaina hanyalah seorang elf yang masih anak-anak.


“Nona Elf…”


“Elaina, namaku Elaina.”


“Nona Elaina, aku sudah…”


“Panggil Elaina saja,” jawab Elaina dengan nada yang datar. Tobi tentu saja masih tersenyum hangat ke arah Elaina.


“Baiklah, Elaina. Aku baru saja memasak sup labu hasil panen dari kebunku kemarin. Benar-benar masih segar! Aku menunggumu di lantai bawah ya!”


Tobi melambaikan tangannya, ia membuka pintu lalu menutupnya lagi. Meninggal Elaina yang masih merenungkan kejadian demi kejadian sejak ia membuka mata.


“Meski sangat rapuh, namun hawa kehadiran mereka sangat menghangatkan.”


Elaina melihat garis lembut di telapak tangannya yang terlihat sedikit demi sedikit menjalarkan cahaya seolah mana Elaina sedang terisi ulang. Hawa kehidupan manusia yang sependek itu ternyata memberikan kehangatan yang jauh lebih hangat dibandingkan ras-ras lainnya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk