Suara ketikan memenuhi kamar. Aldo menatap layar laptop dengan mata yang sayu.
“Skripsi, skripsi, aku cinta skripsi...” Aldo bersenandung dengan monoton, matanya menatap kosong ke depan.
Merasa jengkel dengan kipas angin yang tidak berguna, Aldo mengibas-ngibaskan bajunya, lalu menoleh ke arah jendela yang terbuka. “Buset panas banget di luar,” gumamnya sambil menyipitkan mata menahan silau.
Tiga ketukan terdengar dari belakang.
Kibasan bajunya berhenti.
Aldo mematung sebentar, lalu perlahan berbalik ke arah sumber ketukan.
“Apa nih? Digangguin setan, kah?”
Cat abu-abu pada dinding itu sudah mulai memudar. Aldo menyipitkan mata dan mengamati dinding tersebut selama beberapa detik.
Tiga ketukan terdengar lagi.
“Oke, beneran ada setannya nih kosan.”
“Ee... maaf, bisa minta tolong nggak?”
Suara perempuan terdengar dari kamar sebelah. Lembut, namun cukup jelas menembus dinding.
Aldo tidak langsung menjawab. ”Siapa, ya?” sahutnya agak keras.
Perempuan itu tidak langsung menjawab.
“Aku boleh minta tolong nggak?” ucap perempuan itu pelan.
“Nggak sih.” Aldo berbalik membelakangi dinding dan kembali menatap laptopnya.
Hening sebentar.
“K-kamu beliin aku sesuatu, nanti kembaliannya kamu ambil.”
“Scam,” sahut Aldo agak keras ke arah laptopnya.
“Aku nggak bohong! Kalo bohong, aku sumpahin tanganku sendiri yang melepuh!”
“Hah? Maksudnya?” gumam Aldo dengan dahinya yang mengerut. “Aneh nih, cewek.”
“Hei, aku denger loh...”
Tipis banget nih tembok...
Telunjuknya mengetuk-ngetuk trackpad laptop selama beberapa detik.
Dia menyerah, lalu menghela napas panjang dan berdiri dari kursinya.
Karna duit aja ini mah. Lumayan... ”Yaudah mana duitnya?”
“M-mending kamu yang kesini.”
“Ampun dah... aneh banget sumpah,” gumam Aldo sambil meraih jaketnya yang menggantung. “Panas gini lagi. Keluar bentar aja udah gosong.”
Pintu kamar terbuka. Udara panas mulai masuk ke ruangan. Aldo melangkah ke luar, mengunci pintunya, lalu berjalan ke arah kamar sebelah.
Sesampainya di depan pintu, dia mengetuknya.
“Iya... “
Langkah kaki terdengar mendekat ke arah pintu.
Pintu terbuka.
Di baliknya berdiri seorang perempuan bermata merah. Rambut perak halus terurai ke bawah, sementara pakaian serba tertutup menutupi hampir seluruh kulit pucatnya.
Mata Aldo yang sayu perlahan terbuka lebar. “Vampir...” celetuknya tanpa sadar.
Perempuan itu menunduk sedikit. “K-kenapa emangnya?”
“A-ah, nggak.” Aldo menggaruk pipinya. “Jarang liat aja.”
“Ohh...” gumam perempuan itu dari ambang pintu. Badannya sedikit membungkuk, sementara satu tangannya mencengkeram gagang pintu untuk menopang diri.
Aldo mengerutkan dahi. Buset, keringet dingin gitu... ”Lu... kenapa?”
“Hmm? A-ah, nggak apa-apa...”
Dia berdeham pelan, lalu berdiri tegak dan melepaskan genggamannya dari gagang pintu.
“Jadi, beli apaan nih?”
Perempuan itu terdiam sebentar seperti sedang memberanikan diri untuk menjawab.
“... Saus tomat.”
Aldo berkedip dua kali. “Saus tomat?”
Perempuan itu membuang muka, membuat senyum Aldo menjadi kaku.
“Lu ngetok kamar orang cuma buat saus tomat?”
Perempuan itu mengerutkan dahi “Emangnya kamu nggak tau?” tanyanya pelan, lalu kembali menatapnya. “Vampir memang makan saus tomat...”
“Hah?” Aldo memundurkan kepalanya kaget. “Bukannya dara—“
“K-kamu jadi nolongin nggak?” potong perempuan itu cepat, wajahnya mendadak panik bercampur malu. Tangannya yang makin lemas mencengkeram kembali gagang pintu di sampingnya. “K-kalo enggak mau, ya udah.”
Nggak beres...
Aldo terdiam sebentar, memperhatikan gelagatnya.
“Yaudah, mana duitnya,” minta Aldo sambil membuka telapak tangannya.
Perempuan itu menghela napas pelan, lalu mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu
“Nih.” Dia memberikan uang itu ke Aldo.
“Buset, dua ratus ribu? Banyak amat.” Aldo mendekatkan uang itu ke matanya. “Buat sebotol mah kebanyakan nggak, sih?”
“Yang bilang beli sebotol siapa?” Perempuan itu memiringkan kepala. “Aku kan memang mau beli satu kardus.”
Aldo menatap uang itu. “Gua mulai takut nanya abis ini lu mau apa lagi.” Tapi lumayan, kembaliannya gede nih. Dia memasukkan uang itu di kantong celananya.
“Yaudah, tunggu. Gua pake sepeda harusnya cepet,” lanjut Aldo.
“Bagus deh kalo gitu.”
Aldo mengangguk dan beranjak dari sana.
“Hati-hati di jalan...” ucap perempuan itu sambil mengintip dari balik pintu.
Langkah Aldo terhenti sesaat. Dia melirik kecil ke belakang. “Hmm,” gumamnya tanpa menoleh, lalu kembali berjalan.
Lima belas menit kemudian.
Matahari bersinar terik. Kendaraan berlalu-lalang, diiringi bunyi klakson yang saling bersahutan.
Aldo keluar dari sebuah toko grosir dengan satu kardus dalam pelukannya.
Harganya Rp199.000, woy!
“Cewek sialan... kembaliannya buat gua, katanya...” Aldo menatap datar kardus tersebut. “Seribu perak doang.”
Keringat mengalir dari dahinya. Dia mendongak ke arah langit sambil menyipitkan mata.
“Panas...”
Aldo membawa kardus itu ke sepeda, lalu mengikatnya di atas boncengan di belakang.
Saat hendak naik, suara peluit terdengar dari belakang.
Ah, elah!
Seorang tukang parkir genderuwo tinggi besar berdiri di belakangnya, tangannya memberi isyarat agar Aldo memundurkan sepeda.
Duh, ngelesnya gimana ini. ”B-bang, aduh maap, nggak bawa duit kecil nih, haha.” Aldo tertawa kaku.
Genderuwo itu menatapnya beberapa detik.
“Tch.”
Dia pergi menjauh.
Wooo, sialan!
Setelah lolos dari pungli parkir, Aldo akhirnya mengayuh pulang.
Dua puluh menit kemudian.
Sambil memeluk kardus dengan kedua tangan, Aldo menaiki tangga kos dengan langkah sempoyongan. “Gua... ngapain, dah...”
Setibanya di lantai tiga, dia berjalan menuju kamar perempuan yang baru ditemuinya. Aldo menaruh kardus itu di lantai, lalu mengetuk pintu.
“Paket!”
Langkah kaki terdengar dari dalam. “Iya, tunggu!”
Pintu terbuka.
“Oh, aku kira beneran tukang paket,” ucap perempuan itu sambil tertawa kecil.
“Beneran dikira tukang paket, dong...”
Perempuan itu tertawa kecil. “Bercanda.”
“Tuh, satu kardus pesenan lu.” Aldo menunjuk kardus di lantai. “Sori, gua cuma nemu yang sasetan.”
Pandangan perempuan itu turun ke arah kardus. Senyum di wajahnya perlahan memudar.
Aldo yang melihat itu langsung mengerutkan dahi. Aneh. Harusnya dia seneng... ”Lu maunya yang botolan?”
“A-ah nggak.” Perempuan itu segera menggeleng. “Yang ini bener, kok.”
Perlahan, dia menurunkan tubuhnya untuk meraih kardus tersebut. Kedua tangannya mencengkeram sisi kardus, lalu mengangkatnya dari lantai.
“Makasih, ya, udah bantu beliin,” ucapnya sambil tersenyum.
Aldo mengangguk. “Yaudah, gua balik dulu.”
“Makasih lagi, ya...”
Aldo berbalik dan mulai berjalan.
“Eh, nama kamu siapa?” panggil perempuan itu dari belakang.
Aldo berhenti, lalu menoleh.
“Aldo.”
Perempuan itu tersenyum. “Aku Vira.”
Aldo mengangguk, lalu melanjutkan beberapa langkah menuju kamarnya. Vira pun membawa kardus tersebut masuk ke kamarnya.
Hampir bersamaan, kedua pintu tertutup.
Setelah masuk kamar, Aldo menghela napas panjang sambil menggantung jaketnya di pintu.
“Hah... absurd banget hari ini.”
Dia meregangkan badannya sebentar, lalu duduk di depan meja berniat untuk melanjutkan skripsinya. Namun, tangannya berhenti sebelum menyentuh keyboard.
Saus tomat...
Aldo membuka tab baru di browser. Dia mengetik cepat.
Apakah vampir ganti darah pake saus tomat?
Enter
Hasil teratas: Tidak. Vampir tidak menggantikan darah dengan saus tomat—
“...”
Aldo menatap layar beberapa detik.
“Terus kenapa dia panik pas gua tanya?”
Pandangannya bergeser ke arah dinding kamar sebelah.
“... Aneh nih cewek.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!