Aldo membuka matanya. Kepala yang sudah menempel di meja perlahan diangkatnya.
Mata yang masih setengah terbuka menatap kaleng kopi yang masih berada di tangannya. Dia mendekatkan kaleng itu ke wajah, lalu meneguk sisa kopi di dalamnya.
Pait...
Aldo meletakkan kaleng kopi itu di atas meja. Matanya kemudian tertuju pada angka di sudut layar laptop.
9:00 AM.
“Jam sembilan...” gumamnya.
Dia terdiam beberapa detik.
“Jam sembilan?!”
Aldo tersentak, lalu menarik kursinya mendekat ke arah laptop. Badannya sedikit membungkuk, matanya bergerak cepat membaca tulisan di layar.
Beberapa detik berlalu.
Dia menghela napas, lalu bersandar di kursinya. “Bab tiga dah kelar ternyata...” gumamnya.
Aldo melepas sandarannya, lalu meraih HP di meja. Jempolnya menggeser layar HP beberapa kali sebelum berhenti di laman pengumuman kampus.
Pengumuman Seminar Proposal
...
Waktu: 10:00 WIB
“Besok perang, nih...” gumamnya.
Aldo mematikan HP, lalu kembali menaruhnya di meja. Dia berdiri dan meregangkan badannya. “Hoamm...” Matanya berair.
Pandangannya menyapu sekeliling kamar sebelum berhenti pada tempat sampah. Kakinya melangkah ke sana, lalu dia menatap tajam isinya.
“Huek... bau banget,” ucapnya sambil menutup hidung.
Aldo dengan hati-hati mengangkat kantong sampah itu dan membawanya mendekat ke meja kerjanya.
Kaleng kopi yang kosong, plastik bekas camilan, dia masukkan ke dalam kantong sampah.
Aldo mengikat kantong itu, kemudian membuka pintu kamarnya.
Pintu terbuka.
Udara pagi masuk memenuhi ruangan. Aldo menghela napas, lalu keluar kamar dan mengunci pintunya.
Suara pintu di samping kamarnya terdengar.
Aldo berjalan beberapa langkah sebelum terhenti dan berhadapan dengan Vira.
Vira mengenakan kaos putih dengan outer krem yang menutupi lengannya, dipadu dengan rok panjang warna merah tua.
Aldo melirik ke arah tangan Vira yang sedang memegang kantong sampah. Dia mengangguk sopan, lalu dibalas Vira. Tanpa basa-basi, Aldo berjalan duluan sedikit membungkuk, lalu diikuti oleh Vira di belakangnya.
Langkah sandal mereka tidak seirama, saling menggema di lorong kosan yang sunyi. Perlahan, Aldo menuruni tangga dengan satu tangannya dimasukkan ke dalam saku. Vira di belakangnya, memegang besi tangga untuk menopang badannya.
Lantai dua.
Lantai satu.
Sampailah mereka di halaman kosan, tepatnya di depan tempat sampah besar. Aldo sedikit mengayunkan tangannya, dan—kantong sampah mendarat ke tempat sampah.
Dia menepuk pelan tangannya, lalu berbalik badan dan melangkah melewati Vira. Vira yang sedari tadi menunggu di belakang, mulai maju ke arah tong sampah.
Terdengar suara kantong sampah kedua berhasil mendarat.
Baru saja Aldo melangkah beberapa senti, tiba-tiba— “Ihh...” Terdengar suara Vira dari belakang.
Mendengar itu, Aldo langsung menoleh ke belakang.
Dengan tatapan yang kosong, Vira berdiri membeku sambil mengangkat punggung tangannya ke depan.
Terlihat cairan merah menempel di kulit pucatnya.
“Iiuw...” ucap Aldo dengan ekspresi geli.
Masih dengan tatapan kosong, Vira perlahan maju ke arah Aldo.
Mata Aldo terbuka. “Dia kira, dia zombie...” gumamnya pelan sambil mundur satu langkah ke belakang.
Vira masih melangkah ke depan. “Aku pinjam baju kamu, ya...” ucapnya menatap kosong ke arah Aldo.
“G-gila, ya lu...” ucap Aldo panik sambil kakinya perlahan mundur, dia menyipitkan matanya. Tatapannya tertuju pada cairan merah itu. Itu kan...
Beberapa detik memproses apa yang terjadi, Aldo akhirnya membuka mulut.
“Pfft.” Dia tertawa. “Hahaha, itu saus tomat yang kemarin ya!?”
“Aku nggak peduli... pinjem baju kamu,” balas Vira datar.
“Dih, jilat aja sendiri, kan lu suka saus tomat,” ucap Aldo sambil tertawa kecil.
“Ihh! Jorok!” bentak Vira kesal.
Vira tetap melangkah ke depan, sedangkan Aldo masih mundur. D-dia serius, nih... ?
Aldo melirik-lirik ke sekitar. Sampai matanya berhenti ke suatu benda. “Mending pake keran, tuh!” Aldo menunjuk ke arah keran air yang menetes.
Langkah Vira terhenti. Begitu juga dengan Aldo.
Aldo menatap Vira waspada. Sedangkan Vira di depannya masih diam membeku. Tidak berselang lama, Vira berbalik arah. Melangkahkan kakinya sambil masih mengangkat punggung tangannya.
Merasa sudah aman, Aldo mengendurkan bahunya. “Ada-ada aja...”
Dia melangkah ke arah keran itu, lalu berdiri di samping Vira.
Vira memutar keran dan membiarkan air mengalir ke tanah. Dia berjongkok perlahan, lalu mengusap tangannya di bawah kucuran air.
“Dah dibilang jilat aja, haha,” ucap Aldo sambil tertawa kecil.
“Jorok, ih.”
Aldo menyipitkan mata melihat ke arah Vira. Perlahan, mulutnya terbuka.
“Gua masih bingung...”
Vira berkedip, masih mengusap tangannya.
“... kenapa vampir pake saos tomat buat ganti darah?” lanjut Aldo.
Suara gemericik air terdengar semakin kencang.
Gerakan tangan Vira membeku.
Satu detik.
Dua detik.
Mulutnya tertutup rapat, matanya menyipit.
Detik berikutnya, dia kembali mengusap tangannya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Aldo hanya diam, berdiri mematung di samping Vira.
Vira memutar keran hingga berdecit. Air pun berhenti mengalir.
Dia berdiri, lalu menghadap ke arah Aldo.
“Kan udah dibilang vampir makan saus tomat.” Mata merahnya menatap Aldo sambil tersenyum tipis.
Aldo menatapnya. Tidak menjawab sama sekali.
Keliatan banget tuh bohongnya...
“Hehe... maaf, ya, tadi.” Senyum Vira terlihat kaku.
Mendengar itu, Aldo hanya menaruh tangannya ke saku celana. Mulutnya tertutup rapat. “Hmm,” gumamnya.
“Kalo gitu, aku duluan,” ucap Vira mengangguk pelan.
Perlahan, dia melangkahkan kakinya ke arah tangga.
Aldo hanya menatap punggung Vira dari jauh, memperhatikan Vira menaiki anak tangga.
Sunyi. Tidak ada orang lain lagi di sana selain dirinya.
“Cuci tangan, ah.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!