Pintu kamar terbuka.
Aldo melangkah keluar dengan kemeja hitam yang sudah rapi dikenakannya.
Dia mengetuk-ngetukkan ujung sneakers-nya ke lantai.
“Eugh... kenapa harus kelas pagi sih...” gumamnya sambil memasukkan kunci ke lubang pintu.
Terdengar bunyi gagang pintu dari kamar Vira.
Duh, bad timing...
Gerakan tangan Aldo terhenti. Kuncinya masih tertancap di pintu.
Tahan, tahan... biarin dia pergi duluan...
“Ngampus?” celetuk Vira dari arah kamarnya.
Aldo refleks mengunci pintu.
Dia perlahan berdiri tegap, lalu menghadap Vira.
“H-hmm...”
Pandangan Aldo turun ke payung putih di tangannya, lalu melirik ke arah langit.
Hari ini bakal hujan... ?
Aldo melangkah mendekat, lalu berhenti di depan Vira.
Tunggu. Ini mah good timing...
“Vir—“
“Ntar telat loh,” sela Vira sambil tersenyum tipis. Dia membuang pandangan.
Tangan Aldo yang semula mengepal perlahan mengendur. Dia membuang pandangan juga.
Menyerah dengan reaksi Vira, Aldo berjalan lebih dulu menuju tangga, diikuti Vira dari belakang.
Sesampainya di pintu menuju parkiran, Aldo berhenti. Dia memperhatikan Vira yang terus berjalan keluar dari kos.
Tangannya mengepal.
”Sori!”
Vira berhenti.
Aldo menutup matanya sejenak, lalu kembali menatap Vira.
“Gua...” Kepalan tangannya makin kuat. “Gua nggak tau kalo minuman itu—“
“Nggak,” potong Vira. “Aku yang harusnya minta maaf.”
Vira akhirnya berbalik menghadap Aldo.
“Aku teriak ke kamu.”
“Nggak, nggak, nggak,” gumam Aldo sambil menggeleng pelan. “Itu salah gua. Gua seharusnya nggak ngasih itu ke lu.”
Aldo menghela napas.
“Gua pikir itu bisa ngebantu. Ternyata malah jadi...”
Hening kembali menyelimuti mereka.
“Waktu itu kamu ngeliat bibir aku, ya?” tanya Vira. Tatapannya masih mengarah ke tempat lain.
Tubuh Aldo menegang.
“N-nggak, kok.”
“Hmm...” Vira tersenyum tipis. “Waktu itu kamu ngeliatin aku lama, loh...”
Aldo refleks maju selangkah. “Lah, soalnya—“
“Kamu...” Vira melirik kecil ke arahnya. “Cowok mesum, ya?”
Bangke!
“Nggak, lah!”
Mereka kembali hening beberapa saat sambil menatap ke arah lain.
”Gua cuma nggak sengaja merhatiin,” gumam Aldo. “Sori, tapi... soal saus tomat itu jelas-jelas konyol. Mana ada vampir ganti darah pakai saus?”
Aldo menatap ke arah Vira.
“Lu... bohong, kan?”
Vira tersentak, lalu menunduk pelan.
“Jujur, gua nggak masalah lu mau makan saus kek, minum darah kek. Tapi waktu itu lu keliatan lemes banget sampai keringet dingin. Malem kemarin juga sama...”
Aldo terdiam sejenak.
“Gua bukan mau ngurusin hidup orang ya, tapi...” Dia menggaruk pelipis dengan telunjuknya. ”Kalo lu pingsan, ya... gua juga yang repot.”
Kelopak mata Vira melebar. Dia menoleh ke arah Aldo. Namun, sebelum satu kata pun keluar dari bibir Vira—
Ting!
Dering ponsel memotong ketegangan di antara mereka.
“Hah? Siapa sih?” gerutu Aldo.
Dia merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan dari Alex muncul di layar.
Woi cepet, dosennya dah dateng nih.
“Duh!” Aldo buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke saku. “Ra, sori. Gua harus cepet-cepet ke kampus!”
“A-ah, iya.”
Aldo berlari masuk ke parkiran. Tak lama kemudian, dia keluar sambil menuntun sepedanya. Begitu melewati pintu, dia langsung menaikinya dan mengayuh sekuat tenaga.
“Sori, Ra! Gua duluan!” teriaknya saat melewati Vira.
“Hati-hati!”
“Yo!”
Suara Aldo semakin samar. Sambil terus melaju, dia mengangkat sebelah tangannya dan melambaikannya.
Vira hanya terdiam memandangi Aldo pergi.
Setetes air jatuh mengenai punggung tangannya.
Setetes.
Dua tetes.
Gerimis mulai membasahi permukaan tanah.
Vira menatap payung di tangannya.
“... dia nggak bawa payung.”
“Makasih, Pak.”
Vira turun dari taksi, lalu membuka payungnya.
Alun-alun kota dipenuhi orang-orang. Sebagian berjalan cepat di bawah payung, sementara yang lain berteduh di depan toko sambil memandangi rintik hujan.
Vira menadahkan sebelah tangannya ke luar payung. Beberapa tetes air hujan jatuh mengenai telapak tangannya.
“Awet banget hujannya...”
Dia mulai menyusuri alun-alun. Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan.
Toko darah.
Vira menatapnya selama beberapa saat.
Harus bisa. Genggaman pada gagang payung mengerat.
Dari balik kaca, toko itu tampak sepi. Cahaya putih menerangi kulkas-kulkas yang berjejer rapi.
Vira akhirnya melangkah menuju pintu dan menutup payungnya.
Tangannya terulur memegang gagang pintu. Genggamannya perlahan mengerat. Vira menarik napas panjang sebelum mendorong pintu itu.
Meski samar, aroma darah di ruangan itu langsung tertangkap indra penciumannya. Napas Vira mulai memburu. Ujung taring kecil perlahan menyembul di balik bibir.
Di tengah keheningan, hanya dengungan kulkas yang terdengar.
Vira melepaskan genggamannya dari gagang pintu, lalu menaruh payungnya di tempat payung di samping pintu.
“Ih, kamu?!”
Seorang wanita berseru dari balik meja kasir. Dia tersenyum lebar dan berlari kecil menghampiri Vira.
“Ih, kamu ke mana aja?! Udah lama aku nggak ngeliat kamu beli di sini,” lanjutnya.
“Hehe...” Vira menggaruk pipinya dengan telunjuk. Senyumnya terlihat kaku.
Wanita itu menempelkan telunjuk di dagunya. Taring kecilnya terlihat di balik bibirnya.
“Hmm... udah berapa lama, ya? Tiga bulan?”
“Hehe, iya. A-aku beli di toko lain.”
“Ih! Kok nggak beli di sini, sih?” Wanita vampir itu meletakkan tangan di pundak Vira. “Kuliah kamu gimana?”
Vira terdiam sejenak.
“... Kuliah aman, kok, Bu,” jawabnya tersenyum tipis.
“Syukur kalo gitu, aku khawatir loh kamu kenapa-kenapa,” Wanita itu membalas senyum Vira, lalu melepaskan tangannya dari pundak Vira.
“Yaudah kalo gitu, selamat berbelanja!” lanjutnya sebelum kembali menuju meja kasir.
Vira mengangguk. Setelah wanita itu berbalik, senyum di wajahnya perlahan memudar.
Dia mulai menyusuri deretan lemari pendingin, dan berhenti di depan salah satunya.
Vira menunduk. Lapisan embun tipis mulai menutupi kaca di atas lemari itu.
Perlahan, dia mengusap kaca dengan telapak tangan. Di balik kaca yang mulai jernih, kantong-kantong darah tampak tersusun rapi.
Vira terdiam sebentar.
Jemarinya meraih pegangan di ujung kaca, lalu menggeser penutup lemari pendingin hingga terbuka.
Tangannya terulur. Ujung jarinya menyentuh salah satu kantong darah sebelum akhirnya mengambilnya.
Vira memegang kantong itu dengan kedua tangan, terpaku menatap cairan merah di dalamnya.
“Yang itu enak, loh...”
“Wah!” Vira tersentak, lalu menoleh ke belakang.
Wanita vampir itu sudah berdiri di belakangnya dengan senyum lebar.
“Ih, kaget bu!” ucap Vira sambil tertawa kecil.
“Hihi, udah selesai pilih-pilihnya?”
“Mhm... yang ini,” jawab Vira sambil mengusap kantong darah itu dengan jempolnya.
“Loh, cuman satu? Ada promo, loh! Beli dua gratis satu.”
“A-ah nggak, Bu. Satu aja.” Vira tersenyum kaku.
“Yah... sayang banget.” Wanita itu menggeser kembali kaca lemari pendingin hingga tertutup.
Vira tersentak. “A-ah, maaf, aku lupa.”
“Hehe, nggak apa-apa. Yuk, langsung ke kasir aja.”
Vira mengangguk sambil tersenyum.
Mereka berjalan menuju meja kasir.
Wanita itu memindai barcode pada kantong darah pilihan Vira. Setelah itu, dia mengambil sebuah tas pendingin dari bawah meja dan memasukkan kantong darah ke dalamnya dengan hati-hati.
“Totalnya jadi tiga ratus lima puluh ribu, ya. Udah termasuk lima puluh ribu untuk cooler bag.”
Vira mengambil kartu debit dari dompet, lalu menyerahkannya.
“Pake debit, ya,” ucap wanita vampir itu.
Wanita itu memasukkan kartu ke mesin EDC, lalu menggeser mesinnya ke arah Vira.
“Silakan.”
Vira memasukkan PIN sementara wanita itu memalingkan wajah.
“Udah,” ucap Vira.
Mesin itu mengeluarkan struk pembayaran. Wanita itu mencabut kartu Vira, lalu menyerahkannya kembali bersama struk.
“Makasih! Nanti ke sini lagi, ya!” ucapnya sambil memberikan tas pendingin kepada Vira.
“Iya Bu, makasih juga.”
Vira berjalan menuju pintu, lalu mengambil payungnya. Dengan pelan, dia mendorong pintu dan melangkah ke luar.
Di bawah kanopi, dia berdiri sambil memandangi jalanan di depannya.
“Ah, hujannya udah berenti.”
Dia mendongak. Langit kembali cerah, sementara matahari pagi mulai muncul dari balik awan.
Tangan kiri membuka payung, sedangkan tas pendingin tetap berada di tangan kanannya.
Alih-alih mengambil jalan pulang, Vira berbelok ke arah sebaliknya.
“Mumpung cuacanya mendukung,” gumamnya sambil tersenyum tipis.
Dalam perjalanan, Vira melihat dua vampir saling mengobrol. Langkahnya melambat ketika pandangannya tertuju pada minuman merah di tangan mereka.
“...”
Genggaman pada tas pendingin mengerat.
Vira menghela napas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan langkahnya.
Menjelang siang, sebuah taksi berhenti di depan gang.
“Makasih, Pak.”
Vira keluar dari taksi dan menutup pintunya.
Dia membuka payung sebelum memasuki gang, sementara tas pendingin tetap berada di tangan satunya.
Setibanya di area kos, Vira melirik ke arah parkiran.
“Dia udah pulang belum...?” gumamnya.
Setelah sampai di bawah atap, dia menutup payungnya lalu menaiki tangga.
Sesampainya di lantai tiga, Vira berjalan menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti. Dia menoleh ke kanan, ke arah kamar Aldo.
Pintu kamar Aldo tertutup. Sepasang sneakers basah tergeletak di depan pintu. Air yang menetes dari sepatu itu membentuk genangan kecil di lantai.
“Udah pulang, ternyata...”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!