Aldo berdandan rapi di depan kaca. Dia mengambil bando hitam kecil di meja, lalu memakainya mengangkat poni yang panjang.
“Lu tunggu aja di sana, ntar gua nyusul,” gumamnya sambil mengetik cepat layar HP-nya.
Send.
HP dimasukkan ke kantong celana.
“Ah, elah, baru juga plong skripsi, muncul lagi tugas lain.”
Aldo merogoh kantong celananya mengeluarkan uang receh. Dia menghitung nominalnya satu per satu. “Duit gua keknya ada yang kurang deh...”
Oh, iya lupa.
Pandangannya langsung beralih pada dinding abu-abu di sebelah. “Gua masih ada duit lima ribu di Vira.”
“Vira.” Ado mengetuk tembok di depannya.
Terdengar suara benturan pelan. “Aww...” ringis Vira.
Kaget dia.
“T-tunggu.” Suara langkahnya mendekat.
“Apa Aldo?”
“Eh, duit kembalian gua masih ada di lu, kan?”
“... oh iya, lima ribu, ya?”
“Nah, iya.”
“Yaudah, kamu ke sini aja.”
“Oke.”
Aldo membuka pintu kamar, lalu mendongak ke arah langit. Matahari bersinar terik di atasnya. “Vira nggak bisa keluar nih,” gumamnya sambil tertawa kecil.
Aldo mengetuk pintu kamar Vira.
“Iya...”
Pintu kamar dibuka tidak terlalu lebar.
Napas Aldo tercekat. Matanya menyipit melihat ke arah sesuatu di depannya. Ada bekas cairan merah yang menempel di bibir Vira. Beberapa senti di samping bekas cairan itu, terlihat ada taring kecil yang keluar dari sela bibirnya.
Darah...?
“Nih kembalian kamu,” Vira menyerahkan uang lima ribu ke Aldo.
Aldo yang dari tadi fokus ke bibir Vira, langsung tersadar kembali. “A-ah. Lima ribu. Nice,” ucapnya terbata-bata sambil menerima uang itu.
“Kenapa?”
Refleks, Aldo memalingkan wajah ke arah lain. “Nggak apa-apa.”
“Hmm?”
“A-ah, iya, di luar lagi terik banget. Lu nggak nitip? Saos misal? siapa tau dah abis...”
Vira membuang muka pelan. “Kayaknya belum deh...”
“Oh, oke...”
Aldo sempat menyipitkan matanya sebelum dia akhirnya berbalik pergi.
“Gua cabut dulu.”
“Oke, hati-hati ya...” Vira melambai pelan ke arah Aldo.
Kata itu lagi...
“Yo...” Aldo melambaikan tangan tanpa menoleh, lalu berjalan meninggalkan pintu Vira.
Darah di bibir? Bener kan, nggak salah lagi, gumamnya dalam hati sambil berlari kecil menuruni tangga.
“Eugh... nggak ngerti gua kenapa dia harus bohong soal darah segala.” Aldo menggeleng, berusaha menyingkirkan pikiran itu.
Tiga puluh menit kemudian.
Suara orang-orang ramai terdengar di alun-alun kota.
Aldo yang baru sampai, memarkirkan sepedanya di parkiran. “Mana sih tempatnya?” gumamnya sambil melihat maps yang ada di HP.
Dia mulai berjalan masuk ke dalam alun-alun.
Beberapa tuyul berlarian di sekitar alun-alun. Werewolf lagi berpacaran duduk di bangku. Sementara genderuwo sedang berjaga di parkiran.
“Sial, pungli, kah?” celetuk Aldo melihat ke arah Genderuwo. “Kali ini gua harus bayar parkir.”
Beberapa saat kemudian, langkah Aldo terhenti.
Matanya menyipit menatap sebuah bangunan putih dengan sedikit aksen merah. Di papan namanya tertulis Toko Darah.
Dari jauh, terlihat orang-orang dengan pakaian serba panjang sedang berbelanja. Suasananya tidak jauh berbeda dari supermarket yang menjual makanan dan minuman. Bedanya, yang mereka beli adalah kantong darah.
Vampir...
Selesai memperhatikan toko itu, Aldo langsung bergegas pergi dari situ.
Setelah berjalan beberapa menit, sampailah Aldo di sebuah kafe yang cukup ramai. Dia sedikit mengangkat dagunya, memperhatikan kafe itu dari jauh.
“Ini bukan, sih?”
Pandangannya terhenti pada seorang laki-laki kribo yang melambaikan tangan dari dalam kafe. “Woi, sini!”
“Nah, itu,” gumam Aldo, lalu mendekat ke laki-laki itu.
“Buset dah, gua cariin nih tempat nggak nemu-nemu,” lanjutnya.
“Hahaha, masuk dulu lah.”
Mereka berdua masuk ke dalam kafe. Aroma kopi dan makanan panggang langsung menyambut Aldo. Dari jauh terlihat seorang elf berambut pirang yang sudah duduk di kursi, ditemani dengan laptop di depannya.
“Yo, Do,” sahut elf itu.
“Lex. Dari tadi lu?”
“Hmm.” Dia mengangguk.
“Si Adit ngasih share loc nggak jelas, sumpah...”
“Kebiasaan emang.”
“Gampang gitu dibilang ribet,” balas Adit.
“Lah, lu yang shareloc nggak bener, gua kira di depan alun-alun. Masuk lagi padahal,” ucap Aldo sedikit kesal.
“Hahaha, iya, kah?”
Aldo menaruh tas yang dia bawa dari tadi. Adit kemudian duduk di seberangnya.
“Lu udah pesen, Do?” tanya Alex.
“Belum, gua pesen dulu dah.”
“Nah, sekalian. Gua nitip cake coklat ya?”
Aldo mengulurkan tangannya.
Alex langsung mengambil uangnya dari dompet, lalu memberikannya lima puluh ribu kepada Aldo.
“Cake coklat ya, Do.”
“Yoo...” jawab Aldo langsung pergi dari situ.
Beberapa menit berlalu. Masing-masing dari mereka menatap layar laptop, sementara Adit malah asyik dengan HP-nya.
“Gila, dari tadi FYP gua cuman ngebahas kasus vampir,” celetuk Adit.
“Oh, tau gua yang itu. Dia gigit temannya kan?” ucap Alex yg matanya masih fokus ke laptop.
“Nah, iya, katanya sih, vampirnya nggak bisa ngendaliin diri gitu. Lebih parahnya lagi,” Adit mendekatkan HP-nya ke wajahnya. “Orang yang digigit nggak bersalah sama sekali.”
Aldo tetap menatap layar laptop sambil meminum minumannya.
“Tapi...” lanjut Adit sambil membungkuk ke depan. “Emangnya vampir bisa nyerang orang ya?” bisiknya.
“Bisa,” celetuk Alex.
Aldo berhenti mengetik.
“Bisa kalo kelaparan.” Jari Alex mulai mengetik. “Vampir yang kekurangan darah bisa kehilangan kendali. Kalo kebutuhannya cukup, biasanya aman.”
Alex berhenti mengetik.
“Sotoy, kek lu vampir aja,” ucap Adit ke Alex ngeledek.
“Lah dia kan memang skripsinya ambil tema monster, lu lupa ya?” celetuk Aldo.
“Oh, iyakah? Hahaha.”
“Buset dah, makanya kerjain tuh skripsi, ntar pas dah deadline aja—baru dah tuh pusing.”
“Males banget! Hahaha.”
Beberapa jam berlalu. Mereka sudah memasukkan laptop mereka ke tas masing-masing.
“Eh, ngomong-ngomong darah—“ celetuk Adit.
“Astaga, masih dibahas nggak tuh” balas Aldo.
“Yee... dengerin dulu. Dari tadi kita kan ngomongin darah, kan.” Adit menunjuk ke menu kafe dengan dagunya. “Nah, gua denger kafe ini jualan minuman kayak darah, cuy... jadi pengen gua.”
“Heh, gimik apa lagi coba,” balas Alex tertawa pelan.
Aldo yang menggenggam satu tali tasnya, mulai meremas kuat.
“Emang pake darah beneran?”
“Katanya sih bukan darah beneran. Cuman minuman rasa darah... mungkin?” jawab Adit.
“Hmm...”
“Tapi, emang lu pernah minum darah, Do?”
“Ya nggak, lah!” bantah Aldo sambil berbisik.
“Ya siapa tau, hahaha.”
Mereka berjalan ke arah pintu kafe untuk pulang. Namun, Aldo mendadak berhenti dan menatap papan menu di atas konter.
“Kenapa Do?” tanya Alex.
“Lu berdua duluan aja.”
“Hmm?” Alex dan Adit saling berpandangan.
Langit sudah menjadi gelap. Aldo memarkirkan sepedanya di tempat parkir kos, lalu berjalan menaiki anak tangga.
“Eugh... tiga puluh ribu buat minuman ginian? Boncos gua.”
Langkah demi langkah, sampailah dia di lantai tiga.
Aldo berhenti sebentar. Dia mengangkat dan menatap minuman warna merah yang dia pegang. “Kata Adit ini bukan darah. Tapi kok... warnanya mirip ya?” Matanya menatap pintu Vira dari jauh “Gua penasaran, apa reaksi dia kalo gua kasih ini.”
Kakinya mulai bergerak maju. Bukan menuju ke kamarnya, melainkan ke depan pintu Vira.
Tangan Aldo sempat terdiam di udara. Dia menghela napas pelan, lalu mengetuk.
“Vira.”
Tidak ada suara.
“Tidur gitu...?” gumam Aldo.
Sekali lagi kali ya...
Pintu diketuk kedua kali.
“Vira.”
Terdengar suara gesekan kain dari dalam.
“A-Aldo?” sahut Vira samar.
“A-ah, sorry, dah tidur ya?”
“B-belum kok...”
Langkah kaki terdengar mendekat. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan isi ruangan yang gelap dan hanya diterangi lampu tidur.
Vira berdiri di balik pintu, tangannya masih menggenggam gagang pintu. Napasnya terengah-engah, keringat dingin mengalir di lehernya.
“K-kenapa, Aldo?”
Keringat dingin lagi...
“A-ah, ini.” Aldo mengulurkan tangannya.
Plastik tebal yang bening itu sudah basah oleh embun dingin. Di dalamnya, gelas plastik berisi cairan merah dipenuhi es batu yang mengambang di permukaannya.
“Apa ini...?” tanya Vira menatap minuman itu.
“Oleh - oleh. Biasa, gentleman, kan ?” ucap Aldo tersenyum tipis.
“Oh... m-makasih, kok aku jadi haus ya? hehe...”
Haus...?
“Nah, yaudah minum. Lu emang lagi keliatan capek sih.” ucap Aldo menggoyang gelas plastik itu.
Kedua tangan Vira perlahan terulur, sempat berhenti di udara beberapa detik sebelum dia menyentuh gelas plastik itu.
“A-aku minum ya...?” tanya Vira sambil menatap minuman itu.
“H-hmm,” jawab Aldo sedikit mengangguk.
Vira perlahan mendekatkan gelas itu ke bibirnya. Perlahan.
Terlalu perlahan.
Tangan Aldo mengepal. Matanya menyipit.
Ujung sedotan sudah menyentuh bibir Vira.
Dia menyedotnya.
Belum sempat meneguk minuman itu, napasnya langsung tercekat. Ujung taring kecil terlihat memanjang di balik bibir yang terbuka.
“INI DARAH!”
Vira langsung melempar minuman itu ke arah Aldo.
Aldo tersentak ke belakang.
“Vir—“
Brak.
Bunyi pintu yang tertutup menggema di sepanjang lorong kosan.
“Pergi!” teriak Vira dari dalam kamar.
Aldo membeku.
Tangannya masih terangkat di udara.
Perlahan, Aldo menurunkan tangannya.
Dagunya ikut turun. Matanya tertuju pada cairan merah yang menggenang di lantai.
“Sialan Adit, beneran darah ternyata...” Dia menghela napas panjang. “Gua ngapain, dah...”
Aldo bergegas ke kamarnya, lalu keluar dengan membawa kain pel dan juga ember berisi air.
Tangannya menggenggam gagang pel, mengusap sisa cairan merah yang menggenang di lantai.
“Bahaya nih kalo ada orang lain yang liat...” gumamnya.
Kenapa? Kalo dia se-histeris itu sama darah... terus tadi siang tu apaan?
Semalaman, Aldo tidak bisa tidur.
Bayangan wajah Vira terus terlintas di kepalanya.
INI DARAH!
“Hah...”
Pagi harinya, Aldo menyerah mencoba memejamkan mata. Dia bangkit dari kasur, mencuci muka, lalu keluar membawa kantong sampah.
Saat hendak turun dari tangga, Aldo refleks sembunyi di balik tembok begitu melihat sosok Vira di bawah.
Kok gua sembunyi sih...?
Dari balik tembok, Aldo memperhatikan Vira yang sedang menepuk-nepuk kedua tangannya seperti menghilangkan sisa kotoran yang menempel.
Kenapa sih kalo buang sampah selalu barengan...
Setelah dirasa aman, Aldo akhirnya turun ke lantai dasar untuk membuang sampah.
Saat hendak kembali ke kamarnya, matanya tertuju pada kantong sampah yang masih baru.
Sebuah plastik transparan menyembul dari sela-sela kantong sampah itu. Di dalamnya masih ada sisa cairan berwarna merah.
“Kantong darah... sama kayak yang kemarin gua liat di toko darah...” gumamnya.
Aldo sempat terdiam sebentar.
“Beneran ternyata...”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!