Bab 1 Aroma Malam Sentana

1 dibaca

A

Asbaratos tidak pernah benar-benar tidur.

Kota itu bernapas dengan ritme yang berbeda dari kota-kota lain di dunia. Jika kota-kota manusia biasa meredupkan lampunya saat tengah malam dan biarkan kesunyian menjadi selimut bagi penduduknya, Asbaratos justru bangun. Ia menggeliat seperti binatang purba yang telah lama tertidur, membuka matanya perlahan-lahan, memperlihatkan cahaya-cahaya neon yang berkedip-kedip dari balik kelopak gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Begitu tinggi hingga puncaknya hilang ditelan kabut malam.

Dari ketinggian, kota ini tampak seperti kanvas raksasa yang dilukis oleh tangan gila. Goresan-goresan cahaya neon merah, biru, ungu, dan hijau membelah kegelapan seperti urat-urat darah yang bercahaya, mengalir di sepanjang jalan-jalan utama yang tak pernah sepi. Gedung-gedung kaca memantulkan cahaya itu, menciptakan labirin cermin yang menipu mata, membuat orang tak pernah yakin apakah yang mereka lihat adalah kenyataan atau refleksi dari kenyataan lain. Di antara gedung-gedung itu, lorong-lorong sempit dan gang-gang gelap bersembunyi seperti rahasia yang tak mau diungkap. Itu adalah tempat-tempat di mana cahaya neon tak pernah sampai, di mana kegelapan memiliki suara dan bentuknya sendiri.

Di jantung labirin metropolitan itu, tersembunyi di balik deretan bangunan industri yang sudah lama ditinggalkan, ada sebuah permukiman kecil bernama Sentana.

Sentana bukanlah tempat yang bisa ditemukan di peta resmi Asbaratos. Tidak ada papan penunjuk jalan yang mengarahkan orang ke sana. Tidak ada stasiun kereta atau halte bus yang melayani rute ke permukiman itu. Sentana ada, namun keberadaannya seolah dihapus dari kesadaran kota besar yang melingkupinya seperti noda tinta yang sengaja ditutup dengan kertas baru, masih ada di bawahnya, namun tak terlihat oleh mata yang tidak mencari.

Untuk sampai ke Sentana, seseorang harus melewati tiga gang sempit yang semakin mengecil, kemudian menyeberangi jembatan kayu reyot yang melintasi selokan besar, dan akhirnya melewati gerbang besi berkarat yang engselnya sudah lama patah. Di balik gerbang itu, dunia berubah total. Suara hiruk-pikuk kota menghilang, digantikan oleh kesunyian yang hampir sakral, kesunyian yang hanya dipecahkan oleh suara jangkrik, desahan angin yang menyapu dedaunan, dan sesekali, gonggongan anjing liar dari kejauhan.

Rumah-rumah di Sentana dibangun dari kayu dan seng, berdiri berdekatan satu sama lain seperti sekumpulan anak-anak yang saling melindungi dari badai. Atap-atap seng mereka berkarat, menciptakan pola-pola cokelat dan oranye yang unik, seperti lukisan abstrak yang dibuat oleh waktu. Jalan-jalan di antara rumah-rumah itu tidak diaspal. Hanya tanah padat yang menjadi becek setiap kali hujan turun, mengirimkan aroma tanah basah yang khas ke seluruh penjuru permukiman. Aroma itu bercampur dengan wangi masakan rumahan seperti nasi yang baru matang, sup kaldu yang mendidih, ikan asin yang digoreng yang baunya keluar dari jendela-jendela kayu setiap sore, menciptakan parfum kehidupan yang sederhana namun menghangatkan hati.

Malam ini, aroma itu terasa lebih kuat dari biasanya.

Hujan sore telah berlalu, meninggalkan genangan-genangan kecil di jalanan yang memantulkan cahaya rembulan seperti pecahan cermin yang tersebar. Udara terasa segar dan bersih, seolah hujan telah mencuci seluruh debu dan kepenatan dari permukaan Sentana. Uap tipis mengepul dari tanah yang masih hangat, menciptakan kabut rendah yang bergulung-gulung di permukaan jalan, memberikan kesan mistis pada pemandangan yang sudah sunyi itu.

Di sudut terdalam Sentana, jauh dari rumah-rumah penduduk lainnya, berdiri sebuah gubuk. Gubuk itu lebih kecil dari rumah-rumah lain, lebih sederhana, dan lebih gelap. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah menghitam dimakan usia, beberapa di antaranya retak dan membiarkan angin malam menyelinap masuk melalui celah-celahnya. Atapnya rendah, nyaris menyentuh kepala orang dewasa yang berdiri tegak, dan terbuat dari lembaran seng yang ditambal-tambal dengan potongan plastik. Tidak ada lampu listrik di dalamnya. Hanya sebuah lilin tua yang sesekali dinyalakan, itu pun terkadang lebih karena kebiasaan daripada kebutuhan.

Di dalam gubuk itulah Kavka Helios berdiam.

Kavka duduk di lantai kayu yang dingin, punggungnya bersandar pada dinding gubuk yang lembap. Matanya yang merah, merah seperti darah segar, merah seperti batu rubi yang dipoles sempurna, merah yang bukan milik manusia menatap ke arah jendela kecil yang satu-satunya ada di gubuk itu. Melalui jendela itu, ia bisa melihat langit malam Asbaratos, sebuah kanvas gelap yang ditaburi bintang-bintang redup, nyaris tak terlihat karena polusi cahaya dari kota besar.



Rambut putihnya, disisir rapi ke belakang dan gaya estetika yang khas. Warna putih itu bukan putih biasa, bukan putih uban atau putih pucat karena sakit. Itu adalah putih salju abadi, putih cahaya bulan yang terjebak dalam helai-helai rambut, putih yang memancarkan cahayanya sendiri di kegelapan. Setiap helai rambutnya bagai duri es yang menantang gravitasi, mencuat ke atas, ke belakang, dan ke bawah seolah memiliki kehendaknya sendiri. Saat angin malam meniupnya, rambut itu berkibar seperti api putih yang berkobar diam.

Di pundaknya, bulu-bulu angsa hitam yang tebal bertengger dengan anggun. Bulu-bulu itu bukan sekadar hiasan, ia adalah bagian dari identitasnya, tumbuh alami dari kulitnya, membentuk semacam jubah bulu yang menutupi bahunya dan sebagian punggungnya. Setiap helai bulu itu berwarna hitam pekat, lebih hitam dari malam terdalam, menyerap cahaya di sekitarnya dan memberikan kesan sayap malam yang terlipat rapi, menunggu saat yang tepat untuk membentang.

Baju lekbongnya adalah kanvas hitam yang dihiasi sabuk-sabuk kulit yang melingkar di pinggang dan dadanya. Gesper-gesper logam yang berkarat di beberapa bagian berkilau redup ketika tertimpa cahaya rembulan, seperti mata-mata kecil yang mengintip dari kegelapan. Pakaian itu membungkus tubuhnya yang tegap dengan ketat, memamerkan garis-garis otot yang terbentuk bukan dari latihan fisik manusia, melainkan dari ratusan tahun keberadaan sebagai predator puncak.

Di tangannya, sarung tangan kulit hitam melekat erat, seolah menjadi kulit keduanya. Sarung tangan itu bukan untuk gaya atau kehangatan. Di baliknya, tersembunyi kuku-kuku tajam yang bisa merobek baja seperti kertas warisan genetik dari garis keturunan vampir yang tak terbantahkan.

Dan di mulutnya, seperti biasa, sebuah permen karet tanpa rasa berputar tak henti.

PLETOK! PLETOK! PLETOK!

Bunyi kecil itu memecah kesunyian gubuk dengan ritme yang konstan, sebuah kebiasaan aneh yang sudah ia lakukan selama lebih dari dua ratus tahun. Permen karet itu adalah jangkar baginya, pengalih perhatian yang mencegah pikirannya tenggelam terlalu dalam ke dalam jurang ingatan yang menyakitkan.

“Malam yang tenang,” gumamnya pada diri sendiri, suaranya seperti bisikan angin yang melintas di antara dedaunan kering.

Kesunyian menjawabnya. Tidak ada yang menemaninya di gubuk ini. Tidak ada hewan peliharaan, tidak ada tanaman, tidak ada foto keluarga di dinding. Hanya kekosongan, dan bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.

Kavka memejamkan matanya, membiarkan pikirannya melayang ke tempat yang biasanya ia hindari.

Klan Enchant.

Nama itu sendiri terasa seperti luka yang tak pernah sembuh setiap kali ia mengucapkannya, bahkan dalam pikiran, rasa perih itu kembali muncul, segar seperti hari pertama.

Klan Enchant dulunya adalah salah satu klan vampir paling disegani di seluruh dunia malam. Bukan karena kekerasan atau kekuatan brutal, hal-hal yang biasanya menjadi ukuran kehebatan di kalangan vampir melainkan karena kelembutan sihir dan kebijaksanaan mereka. Para tetua Enchant dikenal sebagai penjaga pengetahuan kuno, menyimpan manuskrip-manuskrip tentang seni penyembuhan, mantra pelindung, dan ritual-ritual yang bisa menenangkan bahkan jiwa yang paling gelap sekalipun. Mereka percaya bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan untuk menghancurkan, melainkan pada kemampuan untuk memahami dan menyembuhkan.

Kavka masih ingat dengan kejelasan yang menyakitkan tentang malam-malam di kastil klan Enchant. Kastil itu berdiri di atas bukit yang ditumbuhi pohon-pohon ek tua, dindingnya terbuat dari batu putih yang bercahaya di bawah sinar bulan. Di halaman kastil, taman bunga malam bermekaran, mengeluarkan aroma yang menenangkan jiwa. Ibunya, Selena Helios, biasa duduk di taman itu, menyanyikan lagu-lagu pengantar tidur dalam bahasa kuno yang kini sudah tak ada yang mengerti. Suaranya lembut, mengalun seperti air sungai yang jernih, membawa ketenangan yang tak tergantikan.

“Kavka,” ibunya pernah berkata suatu malam, saat Kavka masih muda, muda menurut ukuran vampir, yang berarti ia baru berusia sekitar lima puluh tahun. “Kekuatan kita bukan pada kuku atau taring. Kekuatan kita ada di sini.” Selena menunjuk dadanya, tepat di jantung. “Di kemampuan kita untuk merasakan. Untuk berempati. Untuk mencintai, bahkan ketika dunia mengajarkan kita untuk membenci.”

Kavka kecil mengangguk, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti. Ia lebih tertarik pada latihan bertarung dengan ayahnya, Marvos Helios, yang mengajarkannya cara menggunakan kuku-kukunya dengan presisi mematikan, cara bergerak tanpa suara, dan cara membaca gerakan lawan sebelum mereka sempat menyerang. Marvos adalah pejuang klan Enchant, salah satu yang terbaik, namun bahkan ia selalu mengingatkan Kavka, “Bertarunglah hanya untuk melindungi. Jangan pernah untuk menghancurkan.”

Semua itu hancur dalam satu malam.

Klan Kregor datang tanpa peringatan. Mereka menyerang saat fajar, ketika para vampir Enchant paling lemah saat cahaya matahari pertama mulai menyentuh cakrawala dan kekuatan vampir Enchant berada di titik terendah. Klan Kregor adalah klan yang kuat dan tak terbakar saat terkena paparan sinar matahari. Zuriatador, pemimpin klan Kregor, memimpin serangan itu sendiri. Dengan ratusan vampir di belakangnya, ia menghancurkan gerbang kastil Enchant dan membantai setiap penghuni di dalamnya.

Kavka selamat karena ibunya. Selena mendorongnya ke dalam lorong rahasia di bawah kastil, sebuah terowongan sempit yang hanya diketahui oleh keluarga Helios.

“Larilah, Kavka! Jangan pernah menoleh ke belakang!”

Itu adalah kata-kata terakhir ibunya, diucapkan dengan suara yang dipenuhi ketakutan dan cinta yang tak terbatas. Setelah itu, hanya ada suara teriakan, suara benda pecah, dan kemudian, kesunyian.

Kavka berlari. Ia berlari melalui terowongan gelap, tangannya merobek tanah dan batu, kukunya berdarah karena mencakar dinding. Ia berlari sampai kakinya tak bisa lagi menopang tubuhnya, sampai ia jatuh tersungkur di tepi hutan, jauh dari kastil yang kini dilalap api. Dari kejauhan, ia bisa melihat asap hitam membumbung tinggi ke langit pagi, dan ia tahu dengan kepastian yang menghancurkan hatinya bahwa semua yang ia cintai telah musnah.

PLETOK!

Permen karet di mulutnya berputar lagi, menariknya kembali ke kenyataan. Kavka membuka matanya. Bayangan masa lalu itu mundur, kembali ke sudut gelap pikirannya tempat mereka biasa bersembunyi, menunggu momen kelemahan berikutnya untuk muncul kembali.

“Sudah cukup,” bisiknya pada diri sendiri, suaranya datar. “Masa lalu tidak akan mengubah apa pun.”

Di luar gubuk, Sentana bersiap untuk tidur. Lampu-lampu minyak di beberapa rumah mulai dipadamkan, satu per satu, seperti bintang-bintang yang padam di langit yang semakin gelap. Suara-suara manusia, percakapan pelan antara suami istri, tawa anak-anak yang enggan tidur, gonggongan anjing penjaga perlahan mereda, digantikan oleh orkestra alam yang lebih halus, jangkrik, kodok, dan angin yang berbisik di antara atap-atap seng.

Kavka mengenal setiap suara itu. Setelah bertahun-tahun tinggal di Sentana, ia sudah menghafal ritme kehidupan permukiman ini seperti menghafal detak jantungnya sendiri dan itu jika ia masih memiliki detak jantung, tentu saja. Ia tahu jam berapa Nenek Yuko mematikan lampu dapurnya. Biasanya pukul delapan malam, kecuali jika ia sedang membuat kue beras untuk perayaan. Ia tahu kapan Budunsair selesai memberi makan ayam-ayamnya dan itu selalu setelah matahari benar-benar terbenam, karena pria tua itu percaya ayam tidur lebih nyenyak jika diberi makan menjelang malam. Ia tahu bunyi langkah kaki Klobas yang berat dan sedikit timpang akibat luka lama di kakinya saat pria itu berjalan pulang dari ladang kecilnya di pinggir permukiman.

Ironi. Kata itu selalu terlintas di benak Kavka setiap kali ia merenungkan kehidupannya di Sentana. Seorang vampir, makhluk yang dalam cerita-cerita manusia digambarkan sebagai monster penghisap darah, pembawa malapetaka, teror malam, justru menemukan tempat berlindung di antara manusia. Manusia yang seharusnya menjadi mangsanya.

Tapi penduduk Sentana tidak memandangnya seperti itu. Bagi mereka, Kavka bukanlah monster. Ia adalah pelindung. Algojo bayangan mereka. Mereka memanggilnya penerkam ulung, sebuah julukan yang mereka berikan dengan campuran rasa hormat dan sedikit ketakutan yang sehat. Mereka tidak sepenuhnya memahami siapa Kavka sebenarnya. Beberapa menduga ia adalah manusia dengan kemampuan luar biasa, mungkin petarung terlatih dari masa lalu. Beberapa lagi percaya ia memiliki kekuatan supernatural, tetapi memilih untuk tidak bertanya terlalu banyak. Yang mereka tahu pasti ketika masalah datang, ketika pencuri merajalela, ketika berandal mengancam, ketika kekerasan menyelinap masuk ke Sentana, Kavka selalu ada untuk menyelesaikannya.

Dan imbalannya, Sabun cair. Selalu sabun cair.

Kavka tersenyum tipis memikirkan hal itu. Baginya, sabun cair memiliki arti yang lebih dari sekadar alat pembersih. Setiap botol sabun yang diberikan kepadanya adalah simbol kepercayaan. Simbol bahwa meskipun ia adalah makhluk malam yang berburu darah, ada orang-orang yang melihat sesuatu yang lebih dalam dirinya, sesuatu yang layak dibalas dengan kebaikan.

Sabun itu juga adalah ritual. Setiap kali ia selesai menjalankan pekerjaan, setiap kali ia kembali dengan tangan yang berlumuran darah penjahat dan bau kematian yang melekat di tubuhnya, ia akan mandi dengan sabun cair itu. Busa putih yang mengalir dari tubuhnya, membawa serta noda merah dan bau anyir, seolah membersihkan lebih dari sekadar fisik. Itu adalah cara Kavka untuk kembali menjadi dirinya, bukan sang predator, bukan sang pembunuh, tapi Kavka Helios, penghuni Sentana.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan pelan namun mantap di pintu gubuknya memecah lamunan Kavka. Ia menoleh ke arah pintu, telinganya yang tajam sudah mengenali langkah kaki yang mendekati gubuknya bahkan sebelum ketukan itu terdengar. Langkah kaki itu ringan, sedikit terseret, langkah seseorang yang sudah tua namun masih teguh.

Nenek Yuko.

Kavka bangkit dari duduknya dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu tanpa menghasilkan derit sedikit pun. Ia melangkah ke pintu dan membukanya.

Di ambang pintu, di bawah cahaya rembulan yang pucat, berdiri Nenek Yuko. Wanita tua itu mengenakan baju kurung lusuh berwarna putih, dengan selendang tipis yang melingkar di bahunya. Wajahnya yang keriput, setiap kerutan menceritakan puluhan tahun kehidupan yang keras namun bermartabat dan kini dihiasi kekhawatiran yang mendalam. Matanya yang kecil, biasanya bersinar dengan kehangatan seorang nenek, kini terlihat gelisah, bergerak-gerak seperti mencari sesuatu yang tidak ada.

“Kavka, Nak,” sapanya, suaranya serak dan bergetar, seolah setiap kata harus dipaksa keluar dari tenggorokannya yang kering.

“Nenek,” jawab Kavka datar, membuka pintu lebih lebar dan mundur satu langkah, memberi isyarat agar wanita tua itu masuk. “Masuklah.”

Nenek Yuko melangkah masuk ke dalam gubuk yang gelap, matanya membutuhkan beberapa detik untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan. Ia duduk di bangku kayu satu-satunya yang ada di gubuk itu, sebuah bangku pendek dengan permukaan yang sudah halus karena penggunaan bertahun-tahun.

“Ada apa, Nenek?” tanya Kavka, meskipun ia sudah bisa menduga jawabannya. Nenek Yuko tidak pernah datang ke gubuknya di malam hari kecuali ada masalah serius.

Nenek Yuko menarik napas panjang, dadanya naik turun dengan berat. “Geng Svandal, Nak,” katanya akhirnya, dan nama itu keluar dari mulutnya seperti racun yang dipaksakan keluar. “Mereka... mereka semakin berani. Semakin menakutkan.”

Kavka tidak menjawab. Ia berdiri bersandar pada dinding, lengannya disilangkan di dada, menunggu Nenek Yuko melanjutkan. Ia tahu bahwa wanita tua itu perlu melepaskan bebannya dengan kata-katanya sendiri.

“Awalnya, mereka hanya mencuri barang-barang kecil,” lanjut Nenek Yuko, tangannya yang keriput meremas ujung selendangnya. “Buah-buahan di pasar, beberapa potong ikan dari gerobak Pak Sano. Kami pikir, anak-anak muda yang nakal, pasti mereka akan berhenti. Tapi mereka tidak berhenti, Kavka. Mereka justru semakin berani.”

“Apa yang mereka lakukan sekarang?” tanya Kavka, suaranya tetap datar, namun mata merahnya menyipit sedikit.

Nenek Yuko menelan ludah. “Mereka mulai mengambil uang. Mereka mendatangi rumah-rumah, mengetuk pintu, dan meminta pajak perlindungan. Begitu mereka menyebutnya.” Suaranya bergetar saat ia mengucapkan kata-kata itu, jijik dan marah bercampur jadi satu. “Pajak perlindungan! Seolah-olah mereka yang melindungi kami! Padahal merekalah yang kami takuti!”

“Berapa orang mereka?” tanya Kavka.

“Kurang lebih lima belas, mungkin dua puluh,” jawab Nenek Yuko. “Dipimpin oleh seseorang yang mereka panggil Orizzal. Pria bertubuh gempal, dengan bekas luka besar melintang di pipinya. Matanya kejam, Kavka. Aku pernah melihat matanya dari dekat, dan aku... aku merasa seperti menatap ke dalam mata binatang buas.”

Kavka mengangguk pelan. Ia pernah mendengar nama Orizzal sebelumnya dari bisikan orang-orang di gang-gang Asbaratos, desas-desus di kedai-kedai malam yang ia lewati. Orizzal adalah mantan narapidana yang membentuk gengnya sendiri setelah keluar dari penjara, mengumpulkan anak-anak muda yang putus asa dan mengubah mereka menjadi tentara jalanan.

“Dan malam ini,” suara Nenek Yuko semakin pelan, hampir berbisik, “aku mendengar sesuatu yang lebih buruk. Anak perempuan tetanggaku, si Rina, dia mendengar mereka berbicara di belakang gudang tua. Mereka berencana... mereka berencana membakar beberapa rumah di Sentana.”

Kavka menegakkan tubuhnya. Bulu-bulu angsa di pundaknya sedikit mengembang, sebuah reaksi naluriah yang terjadi ketika ia merasa terancam atau ketika ia merasakan ancaman terhadap sesuatu yang ia anggap miliknya.

“Membakar?” ulangnya, suaranya kini lebih tajam.

“Ya, Nak,” Nenek Yuko mengangguk, air mata mulai menggenang di matanya yang tua. “Mereka ingin menakut-nakuti kami. Mereka pikir jika beberapa rumah terbakar, kami akan menyerah dan membayar apa pun yang mereka minta. Kavka, aku sudah tua. Aku sudah melihat banyak hal buruk dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa... aku tidak bisa membiarkan Sentana hancur.”

Keheningan menyelimuti gubuk itu selama beberapa detik. Hanya suara letupan permen karet Kavka yang terdengar dan monoton.

Lalu Nenek Yuko melakukan sesuatu yang selalu membuat Kavka merasa tidak nyaman. Wanita tua itu mengulurkan pergelangan tangannya, memperlihatkan urat-urat biru yang berdenyut lemah di bawah kulit tipisnya.

“Nak,” katanya, suaranya kini datar, penuh tekad. “Jika kau membutuhkan darahku... ambillah. Itu harga yang pantas untuk kedamaian desa ini.”

Kavka menatap pergelangan tangan itu. Ia bisa melihat denyut nadi Nenek Yuko, bisa merasakan aliran darah di bawah kulit itu, darah yang hangat, darah yang murni, darah seorang wanita tua yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk kebaikan orang lain. Aroma darah itu menyentuh indra penciumannya yang tajam, namun bukannya membangkitkan nafsu, aroma itu justru membangkitkan rasa bersalah.

Darah manusia Sentana berbeda. Kavka telah lama menyadari hal itu. Darah para penjahat para pencuri, perampok, pembunuh terasa pahit dan kotor, dipenuhi kebusukan jiwa yang telah lama tercemar. Darah itu mengenyangkan, tapi tidak memuaskan seperti memakan makanan yang hanya mengisi perut tanpa menyentuh hati. Tapi darah orang-orang Sentana, orang-orang seperti Nenek Yuko, Budunsair, Klobas, darah mereka terasa ringan, murni, seperti air pegunungan yang jernih. Meminum darah mereka akan terasa seperti melukai sesuatu yang suci.

Kavka menurunkan tangan Nenek Yuko dengan lembut, menyentuh jari-jari keriput itu dengan sarung tangan kulitnya. “Nenek tidak perlu,” jawabnya pelan, suaranya seperti bisikan angin malam yang menyapu dedaunan. “Darah mereka yang jahat... cukuplah bagiku. Mereka pantas mendapatkan kegelapan abadi.”

Air mata Nenek Yuko akhirnya jatuh, mengalir di pipinya yang keriput seperti sungai kecil yang menemukan jalannya melalui lembah-lembah kulit yang sudah tua. Namun, itu bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata lega, air mata syukur, air mata seorang wanita tua yang tahu bahwa malam ini, Sentana memiliki pelindung.

“Terima kasih, Nak,” bisiknya, menggenggam tangan Kavka yang terbungkus sarung tangan. “Terima kasih.”

Setelah Nenek Yuko pergi, Kavka berdiri di ambang pintu gubuknya, menatap langit malam. Bulan sabit menggantung rendah, cahayanya redup dan keperakan, nyaris tidak cukup untuk menerangi jalan-jalan Sentana yang sudah sepi. Angin malam berhembus, membawa aroma tanah basah dan sisa hujan sore.

Kavka menarik napas dalam-dalam, bukan karena ia membutuhkan udara, tapi karena ia ingin merasakan aroma malam. Di antara bau tanah dan embun, ia bisa mencium sesuatu yang lain. Sesuatu yang tajam dan menyengat. Bau minyak tanah. Bau plastik yang dipanaskan. Bau kemarahan dan niat jahat yang mengotori udara.

Geng Svandal sudah bergerak.

PLETOK!

Permen karet berputar di mulutnya untuk terakhir kalinya malam itu. Kavka meludahkannya ke tanah, membuangnya seperti membuang keraguan terakhir.

Dengan gerakan secepat kilat, begitu cepat hingga mata manusia tidak akan bisa menangkap gerakannya, hanya melihat hembusan angin yang tiba-tiba dan bayangan putih yang melintas. Kavka melesat ke udara malam. Bulu-bulu angsa hitam di pundaknya berkibar liar, melebar, seolah memang sayap gagak raksasa yang akhirnya membentang. Tubuhnya terangkat dari tanah, melayang di atas atap-atap seng Sentana, di atas puncak-puncak pohon yang bergoyang ditiup angin.

Dari ketinggian, Sentana terlihat begitu kecil dan rapuh. Rumah-rumah kayu itu, dengan lampunya yang sudah padam, terlihat seperti sekumpulan kotak-kotak kecil yang bisa hancur oleh satu hembusan angin kencang. Di antara rumah-rumah itu, orang-orang tidur dengan nyenyak, anak-anak yang memeluk boneka kain, ibu-ibu yang memeluk bayi mereka, ayah-ayah yang kelelahan setelah seharian bekerja. Mereka tidak tahu bahwa di atas mereka, seorang vampir terbang dengan sayap hitamnya, menjaga mereka dari bahaya.

Kavka menutup matanya sejenak, membiarkan instingnya yang tajam mengambil alih. Warisan dari klan Enchant, kemampuan untuk merasakan aura makhluk hidup, untuk membedakan niat baik dari niat jahat, untuk membaca emosi melalui udara, membimbingnya menembus kegelapan. Di antara semua aura di Sentana, aura tenang para penduduk yang tidur, aura hangat hewan-hewan peliharaan, aura netral pohon-pohon dan tanaman, ia mencari aura yang berbeda. Aura gelap. Aura yang dipenuhi amarah, keserakahan, dan keinginan untuk menghancurkan.

Ia menemukannya.

Di selatan Sentana, di pinggiran permukiman, sekumpulan aura gelap berkumpul seperti noda tinta di atas kertas putih. Kavka membuka matanya dan mengarahkan penerbangannya ke sana. Angin malam menerpa wajahnya, dingin dan menusuk, membawa aroma yang semakin kuat, minyak tanah, alkohol, dan keringat manusia.

Di bawahnya, sebuah gudang terbengkalai berdiri sendirian di pinggir lahan kosong. Gudang itu sudah lama ditinggalkan. Dulunya adalah tempat penyimpanan hasil panen, namun setelah ladang-ladang di sekitarnya mati karena pencemaran air tanah, gudang itu menjadi bangunan kosong yang perlahan dimakan waktu. Dindingnya dari seng berkarat, beberapa sudah berlubang besar. Atapnya setengah runtuh, memperlihatkan rangka kayu yang lapuk. Di sekelilingnya, rumput liar tumbuh setinggi pinggang, menutupi jalanan yang sudah lama tak dilalui.

Namun malam ini, gudang itu hidup.

Dari ketinggian, Kavka melihat cahaya obor yang bergoyang-goyang di dalam gudang. Siluet-siluet manusia bergerak, bayangan mereka menari di dinding seng yang berkarat. Ia mendengar suara tawa kasar, umpatan, dan percakapan yang terpotong-potong oleh angin malam.

Kavka mendarat tanpa suara di atap gudang yang setengah runtuh, kakinya menyentuh rangka kayu dengan kelembutan bulu angsa. Ia merendahkan tubuhnya, mengintip melalui lubang besar di atap.

Di bawahnya, sekitar lima belas orang berkumpul membentuk lingkaran. Mereka duduk di atas peti-peti kayu dan drum-drum minyak bekas, wajah-wajah mereka diterangi oleh cahaya obor yang menari-nari, memperlihatkan seringai jahat dan mata-mata yang dipenuhi ambisi gelap. Di tengah lingkaran, tersebar botol-botol kaca yang sudah setengah diisi cairan kuning, minyak tanah, dengan potongan kain yang menyembul dari mulut botol. Bom Molotov buatan sendiri.

“Malam ini, kita tunjukkan pada orang-orang kampung itu siapa yang berkuasa di sini!” suara seorang pria menggema di dalam gudang. Pria itu berdiri di tengah lingkaran, tubuhnya gempal dan pendek namun memancarkan aura kekuasaan yang tak terbantahkan. Bekas luka besar, garis putih yang melintang dari pelipis kiri hingga dagu kanan membelah wajahnya menjadi dua bagian yang tidak simetris, memberikan kesan brutalitas yang permanen. Matanya kecil, tajam, dan tanpa belas kasihan.

Orizzal.

“Kita bakar tiga rumah di ujung utara dulu,” lanjut Orizzal, mengepalkan tinjunya yang besar. “Biar mereka tahu bahwa geng Svandal bukan main-main. Besok, mereka akan berlutut dan membayar apa pun yang kita minta!”

Anggota gengnya bersorak, mengangkat botol-botol Molotov mereka ke udara seperti piala kemenangan. Tawa mengejek dan umpatan kasar memenuhi gudang, menciptakan kakofoni yang menjijikkan.

“Lalu, bagaimana jika ada yang berani melawan?” tanya salah satu anggota, pemuda kurus dengan tato ular di lehernya.

Orizzal menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi kuning yang ompong di beberapa bagian. “Kita potong jari mereka. Satu jari untuk setiap penolakan. Setelah sepuluh jari habis, kita mulai potong yang lain.”

Tawa biadab kembali menggelegar.

Kavka, yang mengamati dari atas, merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan, amarah yang murni. Bukan amarah dingin yang biasanya ia simpan untuk dendam terhadap klan Kregor. Ini berbeda. Ini adalah amarah panas yang membakar dadanya, amarah pelindung terhadap mereka yang tak bisa melindungi diri sendiri. Wajah Nenek Yuko yang menangis terlintas di benaknya. Wajah anak-anak Sentana yang tertawa tanpa beban. Wajah-wajah orang-orang yang telah menerima dirinya sebagai bagian dari komunitas mereka, meskipun ia adalah makhluk yang berbeda.

Tidak akan ia biarkan.

Kavka menarik napas panjang. Bulu-bulu angsa di pundaknya mengembang sepenuhnya, menciptakan siluet sayap raksasa yang menutupi sebagian langit di atas gudang. Matanya berubah. Warna merah yang tadinya redup, kini menyala terang seperti bara api yang ditiup angin, memancarkan cahaya merah yang menyeramkan di kegelapan.

Tiba-tiba, Orizzal menoleh ke arah atap. Instingnya sebagai penjahat kawakan, instingnya yang bertahan hidup di jalanan selama puluhan tahun memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia melihat bayangan di atas gudang, bayangan yang bergerak terlalu cepat untuk dikenali, bayangan yang seharusnya tidak ada di sana.

“Hei! Siapa itu?” bentaknya, suaranya menggelegar memenuhi gudang. Ia menunjuk ke arah atap dengan tangan yang memegang pisau berkarat.

Keheningan sesaat. Semua mata tertuju ke atas.

Lalu, bayangan itu bergerak.

Yang terjadi selanjutnya berlangsung dalam hitungan detik, namun bagi para anggota geng Svandal, waktu seolah melambat, dan setiap detik terasa seperti keabadian yang dipenuhi teror.

Atap gudang meledak ke dalam bukan meledak secara literal, namun sesuatu jatuh dari atas dengan kecepatan dan kekuatan yang membuat beberapa lembar seng terlepas dari rangkanya dan jatuh berisik ke lantai. Di tengah hujan seng dan debu, sesosok makhluk mendarat di lantai gudang.

Rambut putih yang menyala dalam kegelapan. Mata merah yang berkobar seperti api neraka. Bulu-bulu hitam yang berkibar seperti sayap iblis. Dan kuku-kuku tajam yang berkilau di bawah cahaya obor, lebih tajam dan lebih mematikan dari senjata apa pun yang pernah mereka pegang.

“A...apa itu?” teriak salah satu anggota geng, suaranya melengking ketakutan.

“Tembak! Tembak!” perintah Orizzal, yang menjadi orang pertama yang pulih dari keterkejutan.

Beberapa anggota geng mengeluarkan pistol-pistol berkarat, senjata murah yang didapat dari pasar gelap dan mulai menembak ke arah Kavka. Kilatan api dari moncong pistol menerangi gudang seperti lampu Strobo, suara letusan beruntun memekakkan telinga, dan bau mesiu memenuhi udara.

Namun peluru-peluru itu menembus kekosongan.

Kavka bergerak dengan kecepatan yang melampaui batas pemahaman manusia. Tubuhnya melesat dari satu posisi ke posisi lain, meninggalkan bayangan-bayangan semu di tempat ia berdiri sebelumnya. Bayangan yang masih terlihat oleh mata manusia saat tubuh aslinya sudah berpindah. Peluru-peluru itu menghantam bayangan, tembok, drum minyak, dan apa pun kecuali target yang mereka incar.

Dalam sekejap, Kavka sudah berada di antara mereka.

Yang pertama jatuh adalah pemuda bertato ular. Ia bahkan tidak sempat melihat apa yang memukulnya dan hanya merasakan hantaman keras di perutnya yang membuatnya terlipat dua, lalu kegelapan menelan kesadarannya. Yang kedua dan ketiga jatuh hampir bersamaan. Lalu, dua pria yang berdiri berdampingan, tumbang oleh pukulan cepat ke pelipis mereka, tubuh mereka terlempar ke samping seperti boneka kain.

Panik melanda gudang. Anggota geng Svandal yang tersisa mulai berlari ke segala arah, menabrak satu sama lain, menjatuhkan botol-botol Molotov yang pecah dan menggenangkan minyak tanah di lantai. Teriakan ketakutan bercampur aduk dengan sumpah serapah dan isak tangis, menciptakan simfoni kekacauan yang memekakkan.

“Apa itu? Apa itu?” seseorang berteriak histeris.

“Setan! Setan dari neraka!”

“Lari! Lari!”

Tapi tidak ada tempat untuk lari. Kavka bagai badai yang tak terlihat di dalam ruangan tertutup. Ia ada di mana-mana dan di mana pun sekaligus. Setiap kali seseorang mencoba berlari ke pintu, bayangan putih itu sudah ada di sana, menghalangi jalan mereka. Setiap kali seseorang mengangkat senjata, tangan itu sudah dipelintir sebelum jari bisa menarik pelatuk.

Satu per satu, anggota geng Svandal tumbang. Beberapa tidak sadarkan diri. Beberapa meringkuk di lantai, memeluk lutut mereka, tubuh gemetar, mulut mereka mengeluarkan kata-kata tak bermakna. Beberapa lagi sudah menyerah sebelum dipukul, berlutut dengan tangan terangkat, berteriak minta ampun.

Akhirnya, hanya Orizzal yang tersisa.

Pemimpin geng itu berdiri di sudut gudang, punggungnya menempel pada dinding seng yang dingin. Pisaunya yang berkarat diacungkan ke depan dengan tangan yang gemetar hebat, ujungnya bergoyang-goyang seperti daun yang tertiup angin. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, membasahi bekas luka di wajahnya. Matanya yang tadinya tajam dan kejam kini dipenuhi ketakutan murni, ketakutan seorang manusia yang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.

“J... jangan mendekat!” teriak Orizzal, suaranya pecah dan bergetar. “Aku... aku akan membunuhmu!”

Kavka berdiri di hadapannya, berjarak tiga langkah. Matanya yang merah menyala menatap Orizzal tanpa berkedip, tanpa emosi, tanpa belas kasihan. Cahaya merah dari matanya memantul di bilah pisau berkarat Orizzal, menciptakan ilusi bahwa pisau itu sendiri berdarah.

“Kau mengancam Sentana,” kata Kavka, suaranya datar, dingin, setenang air danau yang membeku di musim dingin. “Kau mengancam orang-orang yang tidak bisa membela diri mereka sendiri.”

“M...mereka hanya orang-orang kampung... orang-orang kampung bodoh!” Orizzal mencoba menantang, tapi suaranya tidak meyakinkan siapa pun, bahkan dirinya sendiri.

“Mereka adalah keluargaku,” jawab Kavka.

Dua kata terakhir itu membuat Orizzal terdiam. Ada sesuatu dalam cara Kavka mengucapkannya. Ketulusan yang dingin, komitmen yang absolut yang lebih menakutkan dari kuku-kuku tajam atau mata merah itu. Ini bukan sekadar monster yang menyerang. Ini adalah makhluk yang melindungi sesuatu yang ia cintai.

Kavka melangkah maju. Orizzal menusukkan pisaunya ke depan, sebuah gerakan putus asa. Kavka menangkap pergelangan tangan Orizzal dengan satu tangan, meremasnya perlahan, dan pisau itu jatuh ke lantai dengan bunyi dentingan yang menggema di gudang yang kini sunyi.

Lalu, kegelapan menelan Orizzal dan Orizzal pingsan tak berkutik. Kavka menggigit leher Orizzal dan meminum darahnya.


Ketika fajar hampir menyingsing, Kavka kembali ke Sentana. Tubuhnya masih dipenuhi sisa-sisa adrenalin dari pertarungan. Meskipun pertarungan rasanya terlalu berlebihan untuk menggambarkan apa yang baru saja terjadi, itu lebih tepat disebut pembersihan.

Nenek Yuko sudah menunggunya di depan gubuknya, duduk di bangku kayu dengan selimut tipis menutupi bahunya. Cahaya fajar yang pertama terbit dengan garis tipis emas di ufuk timur menerangi wajahnya yang penuh harap dan cemas.

Ketika ia melihat Kavka muncul dari kegelapan, berjalan dengan langkah tenang menuju gubuknya, Nenek Yuko bangkit dari bangkunya. Matanya mencari-cari tanda luka atau kesakitan di tubuh Kavka, namun yang ia temukan hanyalah ekspresi datar yang biasa dan beberapa noda merah di sarung tangannya yang hitam.

“Selesai, Nek,” kata Kavka singkat.

Nenek Yuko menghela napas lega, begitu dalam sehingga seluruh tubuhnya tampak mengempis. Air mata mengalir diam-diam di pipinya yang keriput, dan ia mengangguk berkali-kali, bibirnya gemetar.

“Terima kasih, Nak,” bisiknya, suaranya penuh rasa syukur yang tak bisa diukur dengan kata-kata. “Sentana berutang budi padamu. Lagi.”

Lalu, seperti ritual yang sudah menjadi bagian dari hubungan mereka, Nenek Yuko mengeluarkan sesuatu dari balik selendangnya. Sebotol sabun cair. Wadah plastik bening yang berisi cairan wangi, dengan aroma bunga lavender yang samar.

“Ini, Nak,” katanya lembut, menyerahkan botol itu kepada Kavka. “Bersihkan dirimu.”

Kavka menerima botol sabun itu. Plastiknya terasa dingin di tangannya yang terbungkus sarung tangan, namun ada kehangatan di balik pemberian itu, kehangatan yang melampaui suhu fisik, kehangatan yang datang dari ketulusan hati seorang wanita tua yang melihatnya sebagai anak, bukan monster.

“Terima kasih, Nek,” jawab Kavka, dan untuk sesaat, senyum tipis muncul di bibirnya. Senyum yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat Nenek Yuko tersenyum balik.

Di dalam gubuknya, setelah Nenek Yuko pergi, Kavka menuangkan sabun cair itu ke tangannya. Busa putih muncul, mengalir di antara jari-jarinya yang sekarang tanpa sarung tangan, memperlihatkan kuku-kuku hitam yang panjang dan tajam. Air dingin dari ember kayu membasahi tubuhnya, membawa serta noda-noda darah, keringat, debu, dan bau mesiu.

Saat busa putih itu mengalir di kulitnya yang pucat, Kavka merasakan sesuatu yang selalu ia rasakan setelah semua itu. Bukan kesucian. Bukan penyesalan. Tapi sebuah transisi. Dari predator kembali ke penghuni. Dari monster kembali ke tetangga. Dari Kavka sang vampir kembali ke Kavka, anak angkat Sentana.

Air sabun itu mengalir ke lantai kayu, meresap ke celah-celah papan, dan menghilang. Bersama dengan noda-noda malam itu, sedikit dari beban jiwa Kavka juga ikut terbawa pergi.

Ia menatap ke luar jendela. Fajar telah tiba sepenuhnya, mewarnai langit Sentana dengan gradasi emas dan merah muda. Hari baru dimulai. Dan untuk saat ini, Sentana aman.

PLETOK!

Permen karet baru sudah berputar di mulutnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk