Bab 2 Utang Yang Dibayar Darah

0 dibaca

A

Pagi di Sentana selalu dimulai dengan suara ayam.

Bukan ayam-ayam gemuk yang dipelihara di peternakan modern dengan pakan terukur dan kandang bersih berlantai kawat. Ayam-ayam Sentana adalah makhluk-makhluk kurus dan tangguh, petarung kehidupan yang mencari makan sendiri di antara rerumputan liar dan genangan air hujan, mematuk-matuk apa pun yang bisa dimakan, cacing, serangga, butiran beras yang jatuh dari karung bocor, bahkan kerikil-kerikil kecil yang entah bagaimana mereka olah di dalam tembolok mereka yang sekeras batu. Bulu-bulu mereka tidak pernah mulus atau berkilau seperti ayam-ayam pameran. Ayam-ayam itu kusam, beberapa rontok di bagian leher dan ekor, namun kokokan mereka lantang, keras, dan penuh percaya diri, seolah-olah mereka tahu bahwa merekalah yang bertanggung jawab membangunkan seluruh permukiman setiap pagi.

Dan mereka tidak pernah gagal.

Pukul empat tiga puluh pagi, ketika langit masih gelap dan bintang-bintang terakhir belum sepenuhnya pudar, kokok pertama terdengar dari halaman belakang rumah Budunsair. Satu kokok panjang yang melengking, membelah kesunyian fajar seperti pisau yang mengiris kain sutra. Kemudian, seperti rantai domino yang tak terhindarkan, ayam-ayam lain ikut merespons dari halaman Nenek Yuko, dari pekarangan Klobas, dari kandang kecil di belakang warung Pak Sano hingga seluruh Sentana dipenuhi oleh paduan suara ayam jantan yang tidak terkoordinasi namun penuh semangat.

Kavka, yang tidak tidur. Vampir tidak tidur dalam pengertian manusia. Mereka memasuki kondisi semi-kesadaran yang disebut Dormire, di mana tubuh beristirahat namun pikiran tetap terjaga di lapisan terluar dan membuka matanya saat kokok pertama terdengar. Ia sudah duduk di sudut gubuknya yang biasa, punggung bersandar ke dinding, kaki diluruskan di lantai kayu. Sarung tangan kulitnya sudah terpasang kembali, menutupi kuku-kuku yang tadi malam masih berlumuran darah anggota geng Svandal.

Cahaya fajar mulai menyusup melalui celah-celah dinding gubuknya, menciptakan garis-garis tipis emas di lantai yang gelap. Kavka menatap garis-garis cahaya itu dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara apresiasi estetik dan kewaspadaan naluriah. Cahaya matahari tidak membunuh vampir klan Enchant secepat legenda manusia mengklaim. Tidak ada ledakan spontan, tidak ada tubuh yang terbakar hingga menjadi abu dalam hitungan detik. Yang terjadi lebih lambat dan lebih menyiksa, cahaya matahari langsung mengikis energi vampir secara perlahan, seperti air yang menggerus batu yang tidak terasa di awal, namun setelah berjam-jam, tubuh vampir akan melemah drastis, kulit menjadi sensitif dan melepuh, dan kemampuan-kemampuan supernatural menghilang satu per satu. Paparan berkepanjangan lebih dari enam jam di bawah sinar matahari langsung bisa mematikan.

Karena itulah Kavka jarang keluar di siang hari. Bukan karena ia takut, tapi karena ia pragmatis. Seorang pelindung yang lemah sama buruknya dengan tidak ada pelindung sama sekali.

PLETOK! PLETOK!

Permen karet berputar pelan di mulutnya saat ia bangkit berdiri. Tulang-tulangnya tidak berbunyi. Tulang vampir tidak memiliki kerapuhan yang sama dengan tulang manusia, namun otot-ototnya terasa sedikit kaku, sisa dari pertarungan semalam. Bukan karena ia terluka karena tidak ada satu pun anggota geng Svandal yang berhasil menyentuhnya. Kekakuan itu datang dari ketegangan yang ia tahan selama pertarungan, dari kendali diri yang ia paksakan agar tidak membunuh satu pun dari mereka.

Membunuh akan sangat mudah. Terlalu mudah. Setiap kuku di tangannya bisa menembus tulang rusuk manusia seperti jari yang menembus tanah liat basah. Setiap pukulannya bisa menghancurkan tengkorak. Setiap gigitan bisa mengosongkan seluruh darah dalam tubuh manusia dalam hitungan menit. Namun Kavka memilih untuk tidak membunuh. Bukan karena belas kasihan terhadap para penjahat, melainkan, perasaan itu sudah lama mengering dalam dirinya dan karena ia memegang prinsip yang diajarkan oleh almarhum ibunya, Bertarung untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan.

Prinsip itu terasa semakin berat setiap tahun. Semakin sulit dipegang. Semakin sering ia mempertanyakannya. Tapi ia tetap memegangnya, seperti pelaut yang berpegang pada tali di tengah badai bukan karena ia yakin tali itu akan menyelamatkannya, melainkan karena melepaskannya berarti menyerah pada kegelapan yang selalu mengintai dari dalam dirinya.


Suara ketukan di pintu gubuknya kembali terdengar, kali ini lebih keras dan lebih bersemangat daripada ketukan Nenek Yuko semalam. Tiga ketukan cepat, jeda sedetik, lalu tiga ketukan lagi. Kavka mengenali pola itu bahkan sebelum ia mendengar suara yang menyertainya.

“Kavka! Kavka, buka pintunya! Ini aku, Budunsair!”

Suara bariton Budunsair yang khas dalam, bergemuruh, seperti guntur yang datang dari jarak jauh menembus dinding kayu gubuk dan memenuhi ruangan kecil itu. Suara itu selalu membawa energi bersamanya, energi seorang pria tua yang menolak untuk menyerah pada usia, penyakit, atau keputusasaan.

Kavka membuka pintu.

Budunsair berdiri di sana, tubuhnya yang besar yang dulunya atletis, kini membulat oleh usia dan terlalu banyak nasi putih yang memblokir hampir seluruh pintu masuk. Wajahnya yang bulat berseri-seri, mata kecilnya yang tenggelam di antara lipatan pipi dan dahi menyala dengan kegembiraan yang tak bisa disembunyikan. Kulit sawo matangnya basah oleh keringat, meskipun matahari bahkan belum sepenuhnya terbit, itu adalah tanda bahwa ia sudah beraktivitas sejak sebelum fajar, seperti kebiasaannya.

Di tangan kanannya, ia memegang dua ekor ayam jago yang sudah mati, kakinya diikat dengan tali rafia. Bulu-bulu ayam itu berwarna merah dan hitam, leher mereka terkulai lemas, dan darah segar masih menetes perlahan dari paruh mereka. Di tangan kirinya, sebotol besar sabun cair berwarna hijau muda dengan aroma Mint yang kuat keluar dari tutup botol yang tidak sepenuhnya tertutup.

“Kavka!” seru Budunsair, giginya yang tinggal beberapa buah terlihat saat ia tersenyum lebar. “Astagfirullah, Nak, kau benar-benar luar biasa! Luar biasa! geng Svandal itu-polisi menemukan mereka pagi ini, terikat seperti sosis di dalam gudang tua! Semua! Lima belas orang! Bahkan Orizzal yang terkenal kejam itu terikat dengan celana dalamnya sendiri!”

Kavka menaikkan satu alisnya. Ia tidak ingat mengikat Orizzal dengan celana dalamnya. Mungkin anggota geng yang lain melakukannya saat panik. Atau mungkin Budunsair menambahkan detail dramatis, seperti kebiasaannya.

“Masuk, Bud,” kata Kavka datar, mundur selangkah untuk memberi jalan.

Budunsair tidak perlu diminta dua kali. Ia melangkah masuk dengan langkah bersemangat yang membuat lantai kayu berderit protes di bawah berat badannya. Ia meletakkan ayam-ayam mati di atas lantai dengan hati-hati, lalu menyodorkan botol sabun cair ke arah Kavka dengan kedua tangan, seperti menyerahkan piala.

“Ini untukmu, Nak!” katanya bangga. “Sabun cair terbaik yang bisa kubeli. Aroma mint! Bukan lavender biasa yang selalu diberikan Nenek Yuko. Mint! Segar! Seperti dirimu!”

Kavka menerima botol itu, menimbang-nimbangnya di tangan. Botolnya penuh, beratnya cukup. Ia membuka tutupnya sedikit dan mencium aromanya. Mint yang tajam dan menyegarkan menyentuh indra penciumannya, menggantikan aroma tanah basah dan kayu lapuk yang biasa memenuhi gubuknya.

“Terima kasih,” kata Kavka singkat.

“Dan ini,” Budunsair menunjuk ayam-ayam mati di lantai, “bonus dariku. Dua ekor jago terbaik dari kandangku. Dagingnya keras sih, karena mereka sudah tua, tapi kalau direbus lama-lama, kaldunya mantap! Atau... eh...” Budunsair menggaruk kepalanya yang botak, menyadari sesuatu. “Kau makan ayam, kan? Maksudku, kau... makan makanan biasa?”

Kavka menatap ayam-ayam itu. Ia tidak membutuhkan makanan dalam pengertian konvensional. Tubuh vampir memperoleh energi utamanya dari darah yang merupakan satu-satunya sumber nutrisi yang benar-benar esensial. Namun, selama bertahun-tahun hidup di antara manusia, Kavka telah belajar untuk makan makanan biasa. Bukan untuk nutrisi, melainkan untuk normalitas. Untuk menjaga ilusi bahwa ia sama seperti mereka. Dan jujur saja, sup ayam buatan Nenek Yuko memang enak meskipun Kavka tidak yakin apakah enak yang ia rasakan adalah enak yang sama dengan yang dirasakan manusia.

“Ya, aku makan ayam,” jawab Kavka akhirnya.

“Bagus! Bagus!” Budunsair tertawa lebar, menepuk-nepuk perutnya yang buncit. “Kalau begitu, nanti malam aku akan minta istriku memasak sup ayam untukmu. Resep spesial keluarga kami. Dengan jahe, bawang putih, dan sedikit merica hitam. Kau akan suka!”

Kavka tidak menjawab, tapi ia tidak menolak. Dalam bahasa Kavka, diam berarti setuju.

Budunsair duduk di bangku kayu, tubuhnya yang besar nyaris menelan bangku kecil itu sepenuhnya. Ia mengeluarkan rokok kretek dari saku celananya, rokok buatan tangan yang ia gulung sendiri dari tembakau lokal dan cengkeh kering dan menyalakannya dengan korek api kayu. Asap kecokelatan mengepul, membawa aroma cengkeh yang manis dan tajam ke dalam gubuk.

“Kau tahu, Kavka,” kata Budunsair, suaranya kini lebih pelan, lebih serius, “aku tidak pernah bertanya soal... yah, soal kau.” Ia membuat gerakan melingkar yang ambigu dengan tangannya yang memegang rokok, seolah mencoba mengindikasikan sesuatu tanpa harus mengatakannya secara eksplisit. “Soal apa yang kau lakukan. Bagaimana kau melakukannya. Mengapa kau... berbeda.”

Kavka menatapnya tanpa ekspresi.

Budunsair menghirup rokoknya dalam-dalam, mengeluarkan asap melalui hidungnya. “Dan aku tidak akan bertanya sekarang. Itu urusanmu. Yang aku tahu, kau adalah orang baik. Aneh, menyeramkan, dan kau makan permen karet lebih banyak dari orang mana pun yang pernah ku kenal, tapi kau orang baik.”

Jeda. Suara ayam-ayam berkokok dari luar mengisi keheningan.

“Tapi ada sesuatu yang harus kuceritakan padamu, Nak,” lanjut Budunsair, dan kali ini suaranya benar-benar serius. Senyum yang biasanya menghiasi wajahnya menghilang, digantikan oleh kerutan kekhawatiran yang dalam.

Kavka memiringkan kepalanya sedikit, isyarat minimal yang menunjukkan bahwa ia mendengarkan.

“Tadi pagi, sebelum aku datang ke sini, Klobas menemuiku,” kata Budunsair. “Kau tahu Klobas, kan? Pria tua dengan kaki pincang, yang selalu mengeluh soal punggungnya?”

“Ya.”

“Dia bilang dia melihat sesuatu semalam. Bukan di gudang tempat kau... mengurus geng Svandal.” Budunsair menurunkan suaranya, seolah takut dinding-dinding gubuk bisa mendengar. “Di sisi lain Sentana, di dekat pohon beringin besar yang tumbuh di perbatasan timur permukiman. Kau tahu pohon itu?”

Kavka tahu. Pohon beringin itu adalah salah satu penanda paling tua di Sentana yang batangnya begitu besar sehingga dibutuhkan enam orang dewasa untuk memeluknya, akar-akar gantungnya menjuntai ke tanah seperti tirai raksasa, dan daunnya yang lebat menciptakan area teduh seluas lapangan kecil. Penduduk Sentana menyebutnya Mbah Ringin dan banyak yang percaya bahwa pohon itu dihuni oleh roh pelindung.

“Klobas bilang dia melihat seseorang atau sesuatu berdiri di bawah pohon itu,” bisik Budunsair, matanya melebar. “Tengah malam, saat hujan sudah berhenti, sosok itu tinggi, lebih tinggi dari manusia biasa. Mengenakan jubah panjang berwarna gelap. Dan matanya...” Budunsair menelan ludah. “Klobas bilang matanya bercahaya. Kuning. Seperti mata kucing, tapi lebih besar.”

Kavka merasakan perubahan halus di udara di dalam gubuknya. Bulu-bulu angsa di pundaknya sedikit bergerak menandakan reaksi naluriah yang terjadi di luar kendali sadarnya seperti bulu kucing yang berdiri ketika merasakan bahaya.

“Mata kuning,” ulang Kavka, suaranya tetap datar, tapi ada ketajaman baru di dalamnya.

“Ya,” Budunsair mengangguk cepat. “Kuning terang. Klobas ketakutan setengah mati, larinya sampai lupa kakinya pincang. Dia bilang sosok itu hanya berdiri di sana, menatap ke arah Sentana. Tidak bergerak. Tidak bicara. Hanya... menatap.”

Keheningan yang panjang menyelimuti gubuk itu. Asap rokok Budunsair bergulung-gulung ke atas, menembus celah-celah atap seng dan menghilang ke langit pagi yang semakin terang.

Kavka tahu apa arti mata kuning itu.

Di antara semua klan vampir yang pernah ada di dunia ini, warna mata adalah penanda identitas yang tak bisa dipalsukan. Mata merah seperti milik Kavka adalah ciri khas klan Enchant, klan yang mengandalkan kelembutan sihir dan harmoni dengan alam. Mata biru milik klan Seraphim, klan yang mendiami pegunungan es di utara. Mata hijau milik klan Verdant, klan yang hidup menyatu dengan hutan-hutan purba. Dan mata kuning...

Mata kuning adalah milik klan Kregor.

Klan yang telah membantai seluruh keluarga Kavka. Klan yang dipimpin oleh Zuriatador, vampir paling kejam yang pernah menginjak bumi ini.

“Budunsair,” kata Kavka, suaranya kini keras dan tegas, kontras tajam dengan nada datar yang biasa ia gunakan. “Dengarkan aku baik-baik.”

Budunsair menegakkan tubuhnya, rokok di tangannya dilupakan.

“Jika ada orang Sentana yang melihat sosok dengan mata kuning lagi,” lanjut Kavka, setiap kata diucapkan dengan presisi yang menusuk, “jangan dekati. Jangan bicara padanya. Jangan bahkan menatap matanya. Lari. Secepat mungkin. Dan temui aku.”

“A-apa itu, Kavka?” tanya Budunsair, suaranya bergetar untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke gubuk ini. Pria tua yang biasanya ceria dan tanpa beban itu kini terlihat seperti anak kecil yang ketakutan. “Apa yang dilihat Klobas?”

Kavka menatap ke arah jendela kecil gubuknya. Di luar, matahari sudah terbit sepenuhnya, menyinari Sentana dengan cahaya kuning keemasan yang hangat. Rumah-rumah kecil itu tampak damai, asap dari dapur-dapur pagi mulai mengepul, dan anak-anak sudah berlarian di jalanan tanah, mengejar ayam-ayam yang kabur dari kandang.

Damai. Indah. Rapuh.

“Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari geng Svandal,” jawab Kavka akhirnya, suaranya seperti bisikan yang membawa dinginnya malam ke dalam pagi yang cerah. “Jauh lebih berbahaya.”


Setelah Budunsair pergi dengan langkah yang jauh lebih berat dan lambat daripada saat ia datang, wajahnya yang biasanya ceria kini diwarnai bayangan kekhawatiran. Kavka duduk kembali di sudut gubuknya. Kali ini, ia tidak memasuki Dormire. Pikirannya terlalu aktif, terlalu tajam, terlalu penuh dengan ingatan-ingatan yang biasanya ia kurung rapat-rapat di bagian terdalam kesadarannya.

Klan Kregor.

Nama itu saja sudah cukup untuk membuat Kavka merasakan sesuatu yang jarang ia akui, ketakutan. Bukan ketakutan fisik-Kavka tidak takut pada rasa sakit atau kematian, konsep-konsep yang sudah kehilangan maknanya setelah dua ratus tahun lebih keberadaan. Ketakutannya lebih dalam dari itu. Lebih primitif. Ketakutan seekor hewan yang mencium bau predator yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih ganas darinya.

Klan Kregor berbeda dari klan-klan vampir lainnya. Jika klan Enchant mewakili sisi “manusiawi” dari keberadaan vampir-kelembutan, kebijaksanaan, empati-maka klan Kregor mewakili sisi paling gelap, paling brutal, paling murni dari naluri predator. Mereka tidak melihat manusia sebagai makhluk yang setara atau bahkan sebagai mangsa yang harus dihormati. Bagi klan Kregor, manusia adalah sumber daya. Seperti air, atau udara, atau tanah. Sesuatu yang diambil, digunakan, dan dibuang tanpa pertimbangan moral.

Zuriatador, pemimpin klan Kregor, adalah inkarnasi dari filosofi itu. Vampir yang usianya diperkirakan melebihi seribu tahun, yang tubuhnya telah melampaui batasan fisik normal bahkan untuk ukuran vampir. Rambut hitam pekat yang jatuh lurus melewati bahu, kulit pucat yang nyaris transparan sehingga urat-urat hitam di bawahnya terlihat seperti peta sungai di bawah es, dan mata kuning yang menyala dengan kecerdasan dingin dan kekejaman yang tak terbatas.

Kavka masih ingat mata itu.

Malam pembantaian klan Enchant, saat ia berlari melalui terowongan rahasia, ia sempat menoleh ke belakang-hanya sekali, hanya sedetik. Dan dalam sedetik itu, melalui celah kecil di dinding terowongan, ia melihat Zuriatador berdiri di halaman kastil, dikelilingi oleh mayat-mayat anggota klan Enchant. Api berkobar di sekelilingnya, menelan bangunan yang telah berdiri selama berabad-abad. Dan Zuriatador... tersenyum. Senyum tipis yang penuh kepuasan, seperti seniman yang mengagumi karyanya sendiri.

Senyum itu menghantui Kavka selama dua ratus tahun. Senyum itu muncul dalam setiap Dormire, dalam setiap momen ketenangan, dalam setiap saat ketika Kavka mencoba melupakan masa lalunya. Senyum itu adalah pengingat abadi bahwa di suatu tempat di dunia ini, Zuriatador masih ada. Masih bernafas. Masih tersenyum.

Dan kini, seekor vampir bermata kuning telah terlihat di perbatasan Sentana.

Apakah mereka menemukanku?

Pertanyaan itu bergema di benak Kavka, dan jawabannya-atau lebih tepatnya, kemungkinan jawabannya-membuat darah dingin di tubuhnya terasa semakin beku.


Siang hari di Sentana memiliki ritme tersendiri.

Meskipun permukiman ini tersembunyi di jantung Asbaratos, kota metropolitan yang tidak pernah tidur, Sentana hidup dengan ritme yang lebih lambat, lebih organik, lebih manusiawi. Di sini, waktu tidak diukur dengan jam digital atau jadwal rapat, melainkan dengan posisi matahari, aroma masakan yang berubah dari pagi ke sore, dan suara-suara alam yang bergeser seiring hari berjalan.

Pagi adalah waktu aktivitas tertinggi. Ibu-ibu Sentana menyapu halaman mereka dengan sapu lidi, menciptakan suara SREK! SREK! yang ritmis dan menenangkan. Anak-anak berlarian ke sekolah darurat yang diadakan di garasi terbuka milik Pak Tarno, sebuah ruangan sempit dengan bangku-bangku kayu yang tidak rata dan papan tulis yang sudah retak, namun diisi oleh semangat belajar yang tak kalah dari sekolah mana pun. Pria-pria dewasa berangkat ke ladang kecil di pinggir permukiman, atau ke kota besar untuk bekerja sebagai buruh harian, tukang ojek, atau pedagang kaki lima.

Siang adalah waktu istirahat. Matahari tropis memanggang Sentana dengan panas yang brutal, mengubah jalanan tanah menjadi tungku yang memanaskan telapak kaki. Penduduk berlindung di rumah-rumah mereka yang teduh, tidur siang di atas tikar anyaman, atau duduk-duduk di teras sambil menikmati teh manis dan kue-kue murah dari warung kelontong.

Sore adalah waktu berkumpul. Anak-anak bermain di lapangan kecil di tengah permukiman, menendang bola dari gulungan kain bekas, bermain petak umpet di antara rumah-rumah, atau mengejar layang-layang yang terbang di langit senja. Para tetua duduk di bawah pohon-pohon besar, berbagi cerita dan gosip, tertawa dengan tawa yang tulus dan tanpa beban.

Kavka mengamati semua itu dari gubuknya.

Jendela kecilnya menjadi bingkai yang membatasinya dari dunia siang hari, dunia yang indah dan hidup, namun secara harfiah berbahaya baginya. Ia melihat anak-anak berlarian, mendengar tawa mereka yang renyah, dan merasakan getaran kehidupan yang mengalir melalui Sentana seperti arus sungai bawah tanah. Setiap suara, setiap aroma, setiap getaran itu mengingatkannya mengapa ia memilih tempat ini. Mengapa, dari semua tempat di dunia yang bisa ia jadikan persembunyian, ia memilih Sentana ?

Karena di sini, ia bisa merasakan.

Vampir yang hidup sendirian, tanpa koneksi dengan makhluk hidup lain, perlahan kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi. Ini bukan metafora atau puisi gelap. Ini adalah fakta biologis klan Enchant. Tanpa rangsangan emosional dari luar, pusat emosi di otak vampir secara bertahap mati, neuron-neuronnya berhenti berkomunikasi, dan yang tersisa hanyalah logika dingin dan naluri predator. Kavka telah melihat hal itu terjadi pada vampir-vampir yang hidup terisolasi selama berabad-abad di mana mereka berubah menjadi mesin pembunuh yang efisien, tanpa remorse, tanpa keraguan, tanpa apa pun selain lapar dan berburu.

Sentana menyelamatkannya dari nasib itu. Orang-orang di sini dengan kebaikan hati mereka yang sederhana, dengan kepercayaan mereka yang tak bersyarat, dengan kehangatan mereka yang tak diminta namun selalu diberikan dan menjaga pusat emosi Kavka agar tetap hidup. Setiap kali Nenek Yuko memberikannya sabun cair dengan senyum lembut, setiap kali Budunsair tertawa keras dan menepuk punggungnya, setiap kali anak-anak Sentana memanggilnya Kak Kavka dan mengajaknya bermain meskipun ia selalu menolak, sesuatu di dalam dada Kavka bergerak. Berdenyut. Hidup.

Dan itulah utang yang tak bisa ia bayar dengan sekadar melindungi mereka dari geng jalanan.


Menjelang sore, saat matahari mulai turun dan panasnya mereda, seorang tamu yang tidak terduga datang ke gubuk Kavka.

Ketukan di pintu kali ini berbeda dari ketukan Nenek Yuko yang pelan dan penuh kecemasan, atau ketukan Budunsair yang keras dan bersemangat. Ketukan ini ragu-ragu, pelan, cepat, lalu berhenti, seolah si pengetuk sedang mempertimbangkan apakah ia benar-benar ingin berada di sana.

Kavka membuka pintu.

Di ambang pintu berdiri seorang gadis kecil, usianya tidak lebih dari sepuluh tahun. Rambutnya hitam dan dikepang dua, pita-pita merah yang mengikat kepangannya sudah lusuh dan sedikit kotor. Wajahnya bulat, dengan pipi yang gembil dan hidung yang mancung merupakan wajah khas anak-anak Sentana yang tumbuh dengan nutrisi pas-pasan namun kasih sayang berlebih. Matanya besar dan bulat, berwarna cokelat gelap, dan saat ini dipenuhi campuran antara rasa takut dan tekad yang kuat.

Kavka mengenalnya. Rina. Anak perempuan yang disebutkan Nenek Yuko semalam-anak yang mendengar rencana geng Svandal di belakang gudang.

“Kak Kavka,” sapanya, suaranya kecil namun mantap, seperti anak sungai yang mengalir tenang di atas batu-batu licin. “Boleh aku masuk?”

Kavka menatapnya sejenak, lalu mundur selangkah. “Masuk.”

Rina melangkah masuk ke dalam gubuk dengan langkah hati-hati, matanya menjelajahi ruangan yang gelap dan hampir kosong itu. Ia melihat lantai kayu yang bersih Kavka selalu menjaga kebersihan dan itu adalah kebiasaan yang mungkin berkaitan dengan obsesinya terhadap sabun cair, dinding-dinding yang kosong tanpa hiasan, dan sudut tempat Kavka biasa duduk yang merupakan satu-satunya tanda bahwa gubuk ini dihuni.

“Kak Kavka,” kata Rina lagi, kali ini lebih pelan, “aku mau bilang terima kasih.”

“Untuk apa?” tanya Kavka, duduk kembali di sudutnya. Ia sengaja duduk di lantai agar matanya sejajar dengan mata Rina, mengurangi intimidasi yang biasanya dipancarkan oleh postur tubuhnya yang tinggi.

“Untuk semalam,” jawab Rina. “Geng Svandal itu... mereka menakutkan. Dua hari yang lalu, mereka datang ke rumahku. Mama sedang masak, Papa belum pulang kerja. Mereka mengetuk pintu keras-keras, dan ketika Mama buka, mereka bilang kami harus bayar pajak dua ratus ribu rupiah setiap minggu. Mama bilang kami tidak punya uang sebanyak itu. Lalu mereka...”

Rina berhenti. Bibirnya bergetar, dan matanya yang bulat berkaca-kaca. Ia menunduk, menatap lantai kayu seolah mencari kekuatan di sana.

Kavka menunggu. Ia tidak menyentuh Rina, tidak memeluknya, tidak mengucapkan kata-kata penghiburan. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan, karena ia tahu bahwa kadang-kadang, anak-anak membutuhkan ruang untuk menemukan kekuatan mereka sendiri sebelum melanjutkan.

Setelah beberapa detik, Rina mengangkat wajahnya. Air mata mengalir di pipinya, tapi ekspresinya keras. Teguh. Marah.

“Mereka dorong Mama,” lanjutnya, suaranya sekarang gemetar oleh kemarahan, bukan ketakutan. “Sampai jatuh. Mama terbentur meja dan kepalanya berdarah. Mereka tertawa, Kak. Mereka tertawa melihat Mama berdarah.”

Kavka merasakan amarah itu lagi, amarah panas yang sama seperti semalam di gudang. Tapi kali ini, ia menahannya lebih rapat. Di depan anak ini, ia tidak boleh menunjukkan sisi gelapnya.

“Ibumu baik-baik saja sekarang?” tanya Kavka.

Rina mengangguk. “Nenek Yuko yang merawatnya. Lukanya sudah ditutup. Tapi Mama masih takut, Kak. Dia tidak bisa tidur. Setiap kali ada suara di luar, dia bangun dan menangis.”

Kavka memejamkan matanya sejenak. Di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan ibunya sendiri, Selena Helios, yang mendorongnya ke dalam terowongan rahasia. Ekspresi ibunya saat itu, ketakutan yang melebihi ketakutan apa pun yang pernah Kavka lihat, namun juga keberanian yang melampaui keberanian pejuang mana pun. Ketakutan seorang ibu yang tahu bahwa ia akan mati, namun memilih untuk memastikan anaknya hidup.

Setiap ibu, di mana pun, dari ras apa pun, memiliki keberanian yang sama.

“Rina,” kata Kavka, membuka matanya. Mata merahnya menatap mata cokelat Rina, dan untuk sesaat, gadis kecil itu melihat sesuatu di dalam mata merah itu. Bukan kengerian, bukan keganasan, melainkan sesuatu yang lembut. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang mirip rasa sakit.

“Geng Svandal tidak akan kembali,” kata Kavka, setiap kata diucapkan dengan absolut yang meninggalkan nol ruang untuk keraguan. “Tidak ada yang akan menyakiti ibumu lagi. Atau siapa pun di Sentana. Selama aku di sini.”

Rina menatapnya, dan dalam tatapan itu, transformasi kecil terjadi. Ketakutan di matanya perlahan surut, digantikan oleh sesuatu yang lebih kuat, kepercayaan. Kepercayaan total seorang anak kepada seseorang yang ia yakini bisa menjaga dunianya.

“Janji, Kak?” bisiknya.

Kavka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk dengan anggukan kecil, hampir tak terlihat, namun sarat dengan beban janji yang ia tahu mungkin lebih berat dari apa pun yang pernah ia pikul.

Setelah Rina pergi dengan langkah yang sedikit lebih ringan, pipinya yang masih basah oleh air mata kini dihiasi senyum kecil yang rapuh dan Kavka berdiri dan melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan.


Esoknya, Ia keluar dari gubuknya di siang hari.

Dengan tudung jubah hitam yang ditarik rendah menutupi wajahnya, sarung tangan kulit yang terpasang rapat, dan setiap inci kulit terlindungi dari paparan langsung sinar matahari, ia berjalan menyusuri jalanan Sentana. Cahaya sore yang miring dan keemasan membuatnya sedikit tidak nyaman seperti sensasi gatal yang konstan di seluruh permukaan kulitnya namun tidak cukup kuat untuk melukainya, selama ia tetap di bawah naungan bayangan bangunan dan pepohonan.

Tujuannya adalah pohon beringin di perbatasan timur Sentana. Pohon yang disebut Klobas, tempat sosok bermata kuning terlihat semalam.

Jarak dari gubuknya ke pohon beringin sekitar dua ratus meter. Bagi manusia normal, itu adalah perjalanan singkat yang bisa ditempuh dalam beberapa menit. Bagi Kavka, di bawah sinar matahari sore, perjalanan itu terasa seperti berjalan melalui padang pasir yang tak berujung. Setiap langkah menguras energinya sedikit, seperti lilin yang meleleh perlahan namun pasti.

Ia sampai di pohon beringin dalam sepuluh menit.

Pohon itu benar-benar mengesankan. Batangnya yang cokelat keabu-abuan, penuh dengan tonjolan dan lekukan yang dibentuk oleh ratusan tahun pertumbuhan, menjulang tinggi di atas permukiman. Akar-akar gantungnya menjuntai dari cabang-cabang besar, beberapa sudah mencapai tanah dan menebal menjadi batang-batang sekunder, menciptakan struktur yang menyerupai pilar-pilar katedral alam. Daunnya yang lebat dan hijau tua membentuk kanopi yang luas, menghalangi sebagian besar cahaya matahari dan menciptakan area teduh yang sejuk dan lembap di bawahnya.

Kavka berdiri di bawah kanopi itu, merasakan perbedaan suhu yang langsung terasa dari panas matahari yang mengikis ke sejuknya bayangan yang menenangkan. Ia menurunkan tudungnya sedikit, memperlihatkan mata merahnya yang kini menyipit, memindai setiap detail di sekitarnya.

Tanah di bawah pohon beringin lembap dan dipenuhi serasah daun. Kavka berlutut, menyentuh tanah itu dengan jari-jari bersarung tangannya. Ia merasakan sesuatu, getaran halus di permukaan tanah, sisa-sisa energi yang tertinggal di tempat ini. Energi vampir yang berbeda dari energi manusia. Energi manusia hangat, organik, dan cepat menguap. Energi vampir dingin, metalik, dan bertahan lama seperti noda tinta di atas kain putih, susah dihilangkan bahkan setelah berhari-hari.

Ada energi vampir di sini. Segar. Mungkin dari semalam.

Kavka menyentuh akar beringin yang terdekat, menutup matanya, dan mengaktifkan kemampuan Aurasensenya yang merupakan kemampuan klan Enchant untuk membaca jejak energi yang ditinggalkan oleh makhluk hidup. Dalam gelap di balik kelopak matanya, ia melihat jejak itu, sebuah siluet tinggi, bercahaya kuning redup, berdiri tegak di bawah pohon ini. Siluet itu tidak bergerak. Hanya berdiri. Dan menatap. Menatap ke arah Sentana.

Kemudian, siluet itu bergerak cepat, seperti kilatan petir dan menghilang ke arah timur. Keluar dari Sentana. Menuju jantung kota Asbaratos.

Kavka membuka matanya.

Jejak energi itu mengkonfirmasi ketakutannya. Vampir bermata kuning itu bukan sekadar pengembara yang kebetulan lewat. Ia datang dengan tujuan. Ia mengamati Sentana. Mengamati penduduknya. Dan mungkin, mungkin, mengamati Kavka.

“Apakah ini pengintai?” pikir Kavka. “Atau peringatan?”

Di antara klan vampir, mengunjungi wilayah vampir lain tanpa izin bisa berarti dua hal, tantangan, atau ultimatum. Keduanya tidak pernah berakhir baik.

“Jika kau ingin menemukanku,” bisik Kavka pada angin yang berhembus melalui akar-akar beringin, matanya menatap ke arah timur, ke arah cakrawala kota Asbaratos yang bersinar dengan cahaya neon bahkan di siang hari, “datanglah. Aku tidak akan lari lagi.”

Angin menjawab dengan kesunyian.


Malam itu, Kavka tidak pergi berburu.

Biasanya, setiap dua atau tiga hari, ia meninggalkan Sentana untuk berburu di distrik-distrik gelap Asbaratos, tempat-tempat di mana penjahat, gembong narkoba, dan predator manusia berkumpul seperti tikus di gorong-gorong. Ia memilih mangsanya dengan hati-hati, menggunakan Aurasensenya untuk membedakan yang benar-benar jahat dari yang sekadar tersesat. Hanya yang benar-benar jahat yang ia sentuh. Hanya darah mereka yang ia minum.

Tapi malam ini, ia tetap di Sentana. Ia duduk di atap gubuknya, tempat favoritnya untuk mengamati malam, kaki menjuntai di tepi atap seng yang berkarat, mata merahnya menyapu cakrawala dari utara ke selatan, dari barat ke timur. Ia mengawasi. Menunggu.

Jika vampir bermata kuning itu kembali, Kavka akan tahu.

Sementara ia menunggu, pikirannya kembali melayang ke percakapannya dengan Rina tadi sore. Gadis kecil itu mengingatkannya pada seseorang, bukan secara fisik, tapi secara spiritual. Kekuatan yang tersembunyi di balik kerapuhan. Keberanian yang bertumbuh dari tanah ketakutan. Kemampuan untuk tetap percaya, tetap berharap, tetap mencintai, meskipun dunia telah menunjukkan sisi tergelapnya.

Ibunya memiliki kekuatan yang sama.

“Kekuatan kita ada di sini,” kata Selena, menunjuk dadanya. “Di kemampuan kita untuk merasakan.”

Kavka menyentuh dadanya sendiri. Di balik kulit pucat dan tulang yang lebih keras dari baja, di balik otot-otot yang bisa merobek logam, ada sesuatu yang masih berdenyut. Bukan jantung dalam pengertian biologis manusia-jantung vampir berdenyut sangat lambat, sekali setiap beberapa menit, cukup untuk mengalirkan darah yang mereka konsumsi ke seluruh tubuh. Bukan itu. Yang berdenyut adalah sesuatu yang lebih abstrak, lebih sulit didefinisikan. Sesuatu yang membedakan Kavka dari monster-monster lain yang berkeliaran di malam Asbaratos.

Empati.

Kata itu terdengar aneh jika dikaitkan dengan makhluk yang minum darah untuk bertahan hidup. Tapi begitulah adanya. Kavka Helios, vampir terakhir dari klan Enchant, masih bisa merasakan. Masih bisa peduli. Masih bisa mencintai, meskipun dengan cara yang canggung, kaku, dan sering kali tersembunyi di balik topeng ketidakpedulian.

Dan itulah yang membuatnya berbahaya bagi klan Kregor.

Vampir yang masih bisa merasakan adalah vampir yang masih bisa memilih. Yang masih bisa berkata tidak. Yang masih bisa melawan, bukan hanya karena naluri bertahan hidup, tapi karena prinsip. Karena cinta. Karena sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Zuriatador tahu itu. Dan itulah mengapa ia membantai klan Enchant. Bukan karena klan Enchant mengancam kekuasaannya secara militer-klan Enchant tidak pernah menjadi ancaman militer bagi siapa pun. Tapi karena klan Enchant mewakili kemungkinan bahwa vampir bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar predator. Kemungkinan itu, bagi Zuriatador, adalah ancaman eksistensial yang jauh lebih berbahaya dari seribu pasukan musuh.

“Dan sekarang, aku adalah satu-satunya yang tersisa,” pikir Kavka, matanya menatap bulan yang menggantung di langit malam, penuh dan terang, membasahi Sentana dengan cahaya peraknya yang lembut. “Satu-satunya bukti bahwa klan Enchant pernah ada. Satu-satunya ancaman yang belum Zuriatador musnahkan.”

PLETOK!

Permen karet berputar di mulutnya. Ritme yang familiar. Jangkar yang mengikatnya pada kenyataan.

“Jika mereka datang untukku,” pikir Kavka, “aku akan menghadapi mereka. Tapi tidak di sini. Tidak di Sentana. Orang-orang ini sudah cukup menderita.”

Malam terus berjalan. Kavka terus mengawasi. Dan di suatu tempat di kegelapan Asbaratos yang tak berujung, sepasang mata kuning mungkin juga sedang mengawasi.

Tapi tidak malam ini. Malam ini, Sentana aman.

Malam ini, sabun cair beraroma Mint menunggu di dalam gubuk, siap untuk ritual pembersihan yang akan datang.

Malam ini, janji seorang vampir kepada seorang gadis kecil masih utuh.

Dan untuk Kavka Helios, itu sudah cukup.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk