Bab 5 Perpisahan Sementara

1 dibaca

A

Tiga hari.

Kavka memiliki tiga hari untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan harus dilakukan, mengucapkan selamat tinggal.

Bukan selamat tinggal yang permanen, setidaknya ia berharap begitu. Bukan selamat tinggal seperti yang ibunya ucapkan di mulut terowongan rahasia, dengan api berkobar di belakangnya dan kematian berdiri menunggu di sisinya. Ini seharusnya selamat tinggal yang sementara. Seharusnya. Tapi Kavka telah hidup cukup lama untuk tahu bahwa kata sementara adalah salah satu kebohongan termanis yang pernah diciptakan oleh bahasa mana pun. Setiap perpisahan berpotensi menjadi yang terakhir. Setiap sampai jumpa bisa berubah menjadi selamat jalan tanpa peringatan.

Hari pertama dari tiga hari itu, Kavka habiskan untuk mengamati.

Ia duduk di atap gubuknya dari senja hingga fajar, tidak bergerak, tidak bersuara, hanya mengamati Sentana hidup. Matanya yang merah yang biasanya menyapu cakrawala dengan kewaspadaan predator, mencari ancaman dan bahaya, kali ini menyapu permukiman dengan intensitas yang berbeda. Ia merekam. Setiap detail. Setiap sudut. Setiap wajah.

Ia merekam cara Nenek Yuko menyapu halamannya setiap pagi, sapu lidinya bergerak dalam pola setengah lingkaran yang konstan, punggungnya yang bungkuk naik-turun dengan ritme yang menyerupai roda penggilingan tua, lambat, sabar, tak kenal lelah. Ia merekam cara wanita tua itu sesekali berhenti, menegakkan tubuhnya sejauh yang tulang punggungnya izinkan, dan menatap langit pagi dengan mata yang menerawang, seolah berbicara diam-diam dengan seseorang yang tidak ada di sana. Mungkin almarhum suaminya. Mungkin Tuhan. Mungkin langit itu sendiri.

Ia merekam cara Budunsair memberi makan ayam-ayamnya setiap sore, ritual yang dilakukan pria itu dengan keseriusan seorang jenderal yang meninjau pasukannya. Budunsair berjalan di antara ayam-ayamnya yang berkerubut di kakinya, tangannya yang besar menaburkan biji-bijian dengan presisi yang mengejutkan, mulutnya terus bergerak, entah berbicara kepada ayam-ayamnya, entah bernyanyi, entah mengomel tentang harga pakan yang naik lagi. Kadang-kadang ia tertawa sendiri, tawa bariton yang menggelegar, dan ayam-ayamnya berkokok seolah ikut merespons leluconnya.

Ia merekam cara Klobas berjalan pulang dari ladangnya setiap petang, langkah timpangnya yang DUK! TAP! DUK! TAP! sudah menjadi musik yang akrab di telinga Kavka. Di sampingnya, Karina berjalan, gadis yang baru beberapa hari lalu ia selamatkan dari cengkeraman Jigumen. Karina tidak lagi berjalan dengan langkah yang ketakutan dan ragu-ragu. Langkahnya kini mantap, dan sesekali ia menoleh ke arah ayahnya, tersenyum, lalu melingkarkan lengannya di lengan Klobas yang kurus. Klobas selalu merespons dengan cara yang sama, menepuk tangan putrinya dua kali, PAK! PAK! lalu kembali berjalan, wajahnya memerah oleh kebahagiaan yang sederhana.

Dan Rina. Kavka merekam cara gadis kecil itu berlarian di jalanan Sentana setiap sore, kepang-kepangnya yang diikat pita merah berkibar di belakangnya seperti ekor layang-layang. Ia bermain dengan anak-anak lain, mengejar bola kain, melompati genangan, bersembunyi di balik tong-tong air dan tawanya yang renyah, tinggi, dan tanpa beban membelah udara sore seperti lonceng kristal yang dibunyikan oleh angin. Sesekali, di tengah permainan, Rina berhenti dan menatap ke arah gubuk Kavka. Matanya yang bulat mencari-cari sosok yang biasanya duduk di balik jendela kecil itu, dan ketika ia menemukannya atau mengira menemukannya, karena Kavka sering kali duduk di kegelapan yang terlalu pekat untuk ditembus mata manusia, ia melambaikan tangan. Satu lambaian kecil. Lalu kembali bermain.

Kavka tidak pernah membalas lambaian itu. Tapi ia selalu melihatnya.


Hari kedua, Kavka melakukan sesuatu yang lebih sulit dari melawan lima belas anggota geng Svandal atau mendobrak markas Jigumen di Kawah Gelap.

Ia berbicara.

Bukan berbicara dalam pengertian menjawab pertanyaan dengan satu atau dua kata datar, hal yang sudah menjadi spesialisasinya selama bertahun-tahun. Bukan pula berbicara dalam pengertian memberikan perintah atau peringatan singkat, hal yang ia lakukan saat situasi mengharuskannya. Kavka berbicara dalam pengertian yang sesungguhnya, ia mendatangi orang-orang, duduk bersama mereka, dan menjelaskan.

Ia mulai dengan Nenek Yuko.

Sore itu, setelah matahari turun cukup rendah sehingga cahayanya hanya tinggal semburat oranye kemerahan di cakrawala barat, Kavka berjalan dari gubuknya ke rumah Nenek Yuko. Rumah itu berjarak empat puluh langkah dari gubuknya, jarak yang sangat pendek secara fisik, namun terasa seperti perjalanan melintasi benua bagi seorang vampir yang tidak terbiasa mengunjungi orang lain.

Rumah Nenek Yuko adalah rumah kayu terbesar di Sentana, bukan karena ukurannya yang luar biasa besar, melainkan karena rumah-rumah lain sangat kecil. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang dicat putih, catnya sudah mengelupas di banyak bagian, memperlihatkan kayu keabu-abuan di bawahnya dan atapnya dari genteng tanah liat yang beberapa sudah retak dan diganti dengan potongan seng. Di halaman depannya, sebuah pohon mangga tua berdiri tegak, dahan-dahannya yang kokoh menjadi gantungan untuk tali jemuran, ayunan anak-anak dari ban bekas, dan sebuah sangkar burung yang sudah lama kosong.

Nenek Yuko sedang duduk di teras kayunya, di kursi goyang yang dibuat almarhum suaminya dari kayu jati, satu-satunya barang mewah yang dimiliki wanita itu. Di pangkuannya, sekeranjang buncis yang sedang ia petiki ujung-ujungnya, jari-jarinya yang keriput bergerak dengan kecepatan dan ketepatan yang bertentangan dengan usianya.

“Kavka, Nak!” sapanya saat melihat siluet Kavka muncul dari bayangan senja. Suaranya cerah, penuh kehangatan, seperti teko yang mendidih di atas tungku, selalu siap menuangkan sesuatu yang menghangatkan. “Tumben sekali kau datang! Mau makan malam? Aku baru masak sayur lodeh.”

Kavka duduk di lantai teras, di samping kursi goyang Nenek Yuko. Posisi yang menempatkan kepalanya sedikit di bawah kepala wanita tua itu, posisi yang secara tidak sadar ia pilih karena mengingatkannya pada saat-saat duduk di dekat ibunya. Ia tidak menjawab tawaran makan malam. Ia langsung ke intinya.

“Nek, aku harus pergi.”

Jari-jari Nenek Yuko berhenti bergerak di atas buncis. Keranjang di pangkuannya terdiam, seolah buncis-buncis itu pun ikut mendengarkan. Wanita tua itu tidak langsung menjawab. Ia meletakkan keranjangnya di samping kursi, mengelap tangannya di celemek yang sudah lusuh, lalu menatap Kavka dengan mata tua yang meskipun sering berair karena usia, kini tajam dan jernih.

“Pergi ke mana?” tanyanya, dan suaranya telah berubah. Bukan lagi suara nenek yang menawarkan makanan. Ini adalah suara wanita yang telah bertahan hidup dari puluhan badai kehidupan dan tahu bahwa badai baru sedang mendekat.

“Jauh,” jawab Kavka. “Ke tempat yang mungkin bisa memberiku cara untuk melindungi Sentana secara permanen.”

“Berapa lama?”

“Aku tidak tahu.”

Keheningan. Kursi goyang Nenek Yuko berderit pelan, meskipun tidak ada yang menggoyanginya. Angin sore meniup dedaunan pohon mangga, mengirimkan bayangan-bayangan yang menari di lantai teras.

“Kau tahu, Kavka,” kata Nenek Yuko akhirnya, suaranya kini lebih pelan, lebih intim, seperti berbicara kepada cucunya sendiri, “sejak pertama kali kau muncul di Sentana, berapa? Enam tahun yang lalu? Aku tahu kau bukan orang biasa. Bukan karena matamu yang merah atau rambutmu yang putih. Bukan karena kau mengunyah permen karet sepanjang hari. Bukan karena kau bisa mengalahkan lima belas preman sendirian.” Ia tersenyum kecil, kerutan-kerutan di wajahnya bergerak seperti peta sungai yang hidup. “Tapi karena caramu menatap anak-anak Sentana saat mereka bermain. Caramu berdiri di sudut saat ada perayaan, tidak ikut bergabung, tapi matamu... matamu tidak pernah pergi.”

Kavka tidak menjawab. Tenggorokannya yang tidak membutuhkan air atau makanan untuk berfungsi, terasa kering.

“Kau menatap mereka seperti seseorang yang pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga,” lanjut Nenek Yuko, suaranya kini bergetar sedikit, bukan karena ketakutan, melainkan karena emosi yang dalam. “Dan yang takut untuk memilikinya lagi.”

PLETOK!

Permen karet berputar di mulut Kavka. Satu-satunya suara yang keluar dari dirinya.

“Nak,” Nenek Yuko mengulurkan tangannya dan menyentuh pundak Kavka, pundak yang dipenuhi bulu-bulu angsa hitam yang anehnya terasa lembut di bawah jari-jarinya yang keriput. “Pergilah. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Sentana tidak akan ke mana-mana. Dan kami...” Ia tersenyum, senyum yang penuh dengan kebijaksanaan puluhan tahun kehidupan. “Kami akan menunggumu.”

Kavka mengangguk. Gerakan kecil yang menyimpan emosi yang besar. Ia bangkit dari lantai teras, berdiri di hadapan Nenek Yuko yang duduk di kursi goyangnya, dan untuk sesaat, hanya sesaat, begitu cepat sehingga ia sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar melakukannya, ia menyentuh tangan Nenek Yuko yang masih terulur di pundaknya. Sentuhan ringan, hampir tak terasa, seperti kupu-kupu yang hinggap dan terbang lagi.

“Terima kasih, Nek,” katanya. “Untuk segalanya.”

Nenek Yuko mengangguk, air mata mengalir diam-diam di pipinya. Tapi ia tidak menangis. Wanita ini tidak menangis di depan orang lain. Itu bukan caranya. Air mata itu hanya mengalir, seperti hujan yang turun tanpa badai, tenang, pasti, dan tidak meminta izin.


Budunsair bereaksi berbeda.

Kavka menemukan pria itu di kandang ayamnya, sebuah konstruksi ganjil yang terbuat dari bambu, kawat ayam, dan potongan-potongan kayu bekas, yang entah bagaimana berdiri kokoh meskipun tampak seperti bisa runtuh kapan saja. Budunsair sedang berlutut di dalam kandang, tangannya yang besar dan kasar memeriksa kaki seekor ayam betina yang tampak pincang. Ia menggumamkan sesuatu kepada ayam itu, kata-kata yang terlalu pelan untuk didengar manusia biasa, namun Aurasense Kavka menangkapnya. Sudah, sudah, sini Bapak lihat kakimu. Jangan berontak. Bapak bukan musuhmu.

“Budunsair,” panggil Kavka dari luar kandang.

Budunsair mendongak. Wajah bulatnya yang biasanya berseri-seri terlihat agak lelah hari ini, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan kurang tidur, dan keringat membasahi keningnya meskipun matahari sudah hampir terbenam. Tapi ketika ia melihat Kavka, senyum refleksnya muncul, senyum yang sepertinya terpasang permanen di wajahnya, senyum yang menolak untuk padam bahkan di hari-hari yang paling berat.

“Kavka! Masuk, masuk! Ayam ini sedang rewel, mungkin kau bisa....”

“Aku harus pergi, Bud.”

Senyum Budunsair tidak padam. Tapi ia berubah. Bergeser dari ceria ke sesuatu yang lebih kompleks, campuran antara pengertian, kekhawatiran, dan kesedihan yang dijaga rapat-rapat di balik fasad kegembiraan.

Pria itu meletakkan ayamnya dengan lembut ke tanah kandang, mengelus bulunya sekali, lalu bangkit dan keluar dari kandang. Ia berdiri di hadapan Kavka, dan untuk pertama kalinya, Kavka menyadari betapa pendeknya Budunsair dibandingkan dirinya. Pria tua itu hanya setinggi dada Kavka, dan ia harus mendongak untuk menatap mata merah Kavka, mendongak jauh, seperti anak kecil yang menatap menara.

“Berapa lama?” tanya Budunsair, dan pertanyaan itu keluar tanpa embel-embel, tanpa drama, praktis dan langsung seperti sifat Budunsair sendiri.

“Aku tidak tahu.”

“Apakah berbahaya?”

“Ya.”

“Apakah penting?”

“Sangat.”

Budunsair mengangguk. Lambat, berat, setiap anggukan seperti mengangkat beban yang tak terlihat di kepalanya.

“Kau tahu, Kavka,” katanya, dan suara baritonnya yang biasanya menggelegar kini terdengar lebih rendah, lebih privat, seolah ia tidak ingin angin membawa kata-katanya ke telinga orang lain, “aku tidak pernah bertanya padamu tentang... yah, tentang kau. Tentang mengapa matamu merah. Mengapa rambutmu putih. Mengapa kau bisa memukul lima belas orang tanpa kena pukul balik. Mengapa kau tidak pernah makan di siang hari.”

Ia berhenti, menggaruk kepalanya yang botak, kebiasaan yang selalu ia lakukan saat berpikir keras.

“Aku tidak bertanya bukan karena tidak ingin tahu,” lanjutnya. “Tapi karena aku sudah tahu. Bukan detailnya, aku tidak tahu apa kau ini alien atau siluman atau apa. Tapi aku tahu siapa kau. Kau adalah orang yang bangun di tengah malam untuk menjaga kami. Yang menghajar preman-preman yang mengganggu kami. Yang membawa pulang anak gadis Klobas dari tangan penculik. Itu yang penting. Sisanya... sisanya cuma detail.”

Kavka menatap pria tua itu. Di balik tubuh yang gemuk dan pendek, di balik senyum yang selalu menyala dan tawa yang selalu menggelegar, ada kebijaksanaan yang sederhana namun tak tergoyahkan. Budunsair tidak memiliki pendidikan formal. Ia tidak bisa membaca dengan lancar. Ia tidak tahu apa itu vampir, klan Enchant, atau Zuriatador. Tapi ia mengerti sesuatu yang lebih fundamental dari semua itu, kebaikan mengenali kebaikan, apa pun bentuk luarnya.

“Aku titipkan Sentana padamu, Bud,” kata Kavka.

“Hah?” Budunsair mengerjap. “Padaku? Kavka, aku ini cuma peternak ayam. Bagaimana aku bisa...”

“Bukan untuk bertarung,” potong Kavka. “Untuk menjaga semangat mereka. Kau yang paling bisa melakukan itu. Buat mereka tertawa. Buat mereka merasa aman. Itu sudah cukup.”

Budunsair menatap Kavka lama. Lalu, perlahan, senyumnya kembali, bukan senyum ceria yang biasa, tapi senyum yang lebih dalam, lebih dewasa, senyum seorang pria yang baru saja diberi tanggung jawab yang ia tahu lebih besar dari dirinya, tapi yang ia terima dengan ketulusan yang total.

“Baiklah, Nak,” katanya, dan ia mengulurkan tangannya. Bukan untuk berjabat tangan, gerakan itu terlalu formal untuk hubungan mereka. Ia mengulurkan tangannya dan meninju pelan dada Kavka. DUK! Satu tinju kecil yang mengandung seluruh persahabatan, rasa hormat, dan doa keselamatan yang bisa dikandung oleh satu tinju.

“Jaga dirimu. Dan...” Budunsair merogoh saku celananya, saku yang tampaknya selalu berisi sesuatu dan mengeluarkan sebuah benda. Sebotol sabun cair. Kecil, pas di telapak tangan, dengan aroma sereh yang menyegarkan.

“Bawa ini,” katanya. “Untuk perjalananmu. Biar kau selalu ingat pulang.”

Kavka menerima botol itu. Plastiknya yang murah terasa hangat dari panas tubuh Budunsair. Ia memasukkannya ke dalam saku jubahnya, di samping peta kulit kuno dari Raguel.

Dua benda. Dua dunia. Masa lalu dan masa kini, dibawa bersama-sama dalam saku yang sama.


Pertemuan dengan Klobas adalah yang paling sulit.

Kavka datang ke rumah Klobas menjelang malam, saat langit berwarna ungu tua dan bintang pertama mulai muncul di atas Sentana. Rumah Klobas adalah rumah kayu sederhana dengan dua kamar, satu untuk Klobas, satu untuk Karina, dan sebuah dapur kecil yang juga berfungsi sebagai ruang makan, ruang tamu, dan kadang-kadang ruang tidur jika tamu datang.

Klobas duduk di teras depannya, di kursi plastik yang sudah retak di bagian sandaran. Kakinya yang pincang diluruskan di depannya, dan tongkatnya, tongkat kayu yang sudah ia gunakan selama lebih dari sepuluh tahun, permukaannya halus dan mengkilap karena gesekan ribuan kali pegangan, bersandar di dinding di sampingnya. Di tangannya, secangkir kopi hitam yang sudah mendingin, uapnya sudah lama menghilang.

Karina duduk di sampingnya, di kursi plastik yang sama retaknya. Gadis itu sedang membaca buku novel romansa murah dengan sampul yang mencolok di bawah cahaya lampu minyak yang digantung di tiang teras. Sejak peristiwa penculikan, Karina tidak pernah jauh dari ayahnya. Bahkan saat tidur, ia memindahkan kasurnya ke kamar Klobas, tidur di lantai di samping tempat tidur ayahnya, tangan mereka sesekali bertautan dalam gelap.

“Kavka.” Klobas melihatnya datang, dan suaranya yang baru beberapa hari lalu pecah dan bergetar oleh ketakutan, kini kembali stabil. Tidak sepenuhnya seperti dulu, ada celah kecil di setiap kata yang ia ucapkan, retakan halus yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya menyatu, tapi cukup stabil untuk menjalani hari-hari.

“Klobas. Karina,” sapa Kavka. Ia berdiri di halaman, tidak naik ke teras. Jarak yang ia pertahankan secara sadar cukup dekat untuk berbicara, cukup jauh untuk tidak mengintimidasi.

Karina mengangkat wajahnya dari buku. Matanya yang cokelat, mata yang beberapa malam lalu dipenuhi teror mutlak, kini menatap Kavka dengan ekspresi yang rumit. Di sana ada rasa terima kasih yang tak terhingga, tentu saja. Tapi juga ada rasa kagum yang nyaris religius, tatapan seseorang yang melihat malaikat turun dari langit dan menyelamatkannya dari neraka. Dan di bawah semua itu, tersembunyi rapi namun tidak cukup dalam untuk lolos dari Aurasense Kavka, rasa takut. Bukan takut pada Kavka, melainkan takut untuk Kavka. Ketakutan bahwa suatu hari, makhluk yang menyelamatkannya tidak akan kembali.

“Aku harus pergi,” kata Kavka, untuk ketiga kalinya hari itu mengucapkan kata-kata yang semakin terasa seperti pecahan kaca di mulutnya.

Klobas tidak bereaksi seperti Nenek Yuko yang bijak atau Budunsair yang langsung menerima. Pria tua itu meletakkan cangkir kopinya di lantai teras, meraih tongkatnya, dan bangkit berdiri. Langkahnya yang timpang membawanya turun dari teras ke halaman, berdiri di hadapan Kavka. Dari dekat, Kavka bisa melihat garis-garis penuaan yang semakin dalam di wajah Klobas, garis-garis yang mungkin tidak ada beberapa hari yang lalu, ditambahkan oleh malam-malam tanpa tidur dan ketakutan yang menggerogoti.

“Apakah ini ada hubungannya dengan sosok bermata kuning yang kulihat di pohon beringin?” tanya Klobas, suaranya rendah dan langsung.

Kavka mengangguk.

“Apakah mereka berbahaya?”

“Sangat.”

“Lebih berbahaya dari Jigumen?”

“Jigumen adalah nyamuk dibandingkan mereka.”

Klobas menelan ludah. Tangan yang memegang tongkat menggenggam lebih erat, buku-buku jarinya memutih. “Dan kau pergi... untuk menghadapi mereka?”

“Untuk mencari cara menghadapi mereka,” koreksi Kavka. “Ada perbedaan.”

Klobas menatapnya lama, mata kecilnya yang biasanya sabar dan teduh kini berkilat dengan sesuatu yang Kavka kenali sebagai konflik internal yang berat. Pria ini berutang nyawa putrinya pada Kavka. Ia ingin Kavka tinggal, menjaga Sentana, menjaga Karina. Tapi ia juga mengerti dengan pemahaman seorang petani yang tahu bahwa kadang-kadang kau harus memotong cabang yang sakit untuk menyelamatkan seluruh pohon, bahwa pergi mungkin adalah satu-satunya cara untuk benar-benar melindungi apa yang tersisa.

“Papa,” suara Karina terdengar dari teras. Gadis itu sudah berdiri, bukunya ditutup, matanya menatap Kavka dengan intensitas yang melampaui usianya. “Biarkan Kak Kavka pergi.”

Klobas menoleh ke putrinya, alisnya terangkat.

Karina turun dari teras dan berdiri di samping ayahnya. Ia lebih pendek dari keduanya, gadis tujuh belas tahun yang tubuhnya masih dalam proses pertumbuhan, rambutnya hitam panjang diikat ekor kuda, kulit sawo matangnya kecokelatan oleh sinar matahari. Tapi ada sesuatu di caranya berdiri, tegak, bahu terbuka, dagu terangkat yang membuat Kavka melihat bayangan kekuatan yang sama dengan yang ia lihat pada Rina, pada ibunya sendiri, pada setiap wanita yang pernah memilih untuk bangkit alih-alih menyerah.

“Kak Kavka menyelamatkan aku,” kata Karina, suaranya jelas dan mantap, tanpa jejak gadis yang menangis di sudut container beberapa hari lalu. “Sekarang dia perlu menyelamatkan dirinya sendiri. Dan mungkin... kita semua.”

Klobas menatap putrinya. Dan dalam tatapan itu, Kavka melihat sesuatu yang mengharukan ayah itu menyadari bahwa putrinya tidak lagi anak kecil. Bahwa pengalaman yang mengerikan itu, penculikan, penyekapan, dan penyelamatan telah mengubahnya. Bukan menghancurkannya, melainkan menempanya. Seperti besi yang dimasukkan ke dalam api, yang keluar bukan lagi besi mentah, tapi baja.

Klobas menoleh kembali ke Kavka. Ia mengangguk-anggukan lambat, berat, penuh makna. Lalu ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda yang sudah familiar.

Sebotol sabun cair. Aroma kenanga.

“Dari Karina dan aku,” katanya, suaranya serak. “Untuk perjalananmu.”

Kavka menerima botol itu. Botol keempat dalam koleksinya, Lavender dari Nenek Yuko, Mint dari Budunsair, melati dari Klobas setelah penyelamatan Karina, dan kini kenanga dari ayah dan anak yang berdiri di hadapannya.

“Terima kasih,” kata Kavka.

“Kembalilah,” bisik Karina, dan dalam dua kata itu ada sebuah perintah yang lebih kuat dari permohonan mana pun.

Kavka mengangguk. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke gubuknya, bayangan panjangnya terseret di jalanan tanah yang mulai mengering. Di belakangnya, ia mendengar Klobas memeluk Karina, dan suara ciuman di puncak kepala putrinya.


Pertemuan terakhir adalah dengan Rina.

Kavka tidak perlu mendatangi gadis kecil itu. Rina yang mendatanginya.

Malam terakhir sebelum keberangkatan, saat Kavka sedang mengemas barang-barangnya,jika barang-barang bisa digunakan untuk mendeskripsikan satu set sarung tangan cadangan, beberapa bungkus permen karet, empat botol sabun cair, dan peta kulit kuno yang mengandung rahasia berabad-abad, ketukan di pintu gubuknya terdengar.

TOK! TOK!

Dua ketukan ringan. Seperti ketukan burung yang mematuk kulit pohon.

Kavka membuka pintu, dan Rina berdiri di sana.

Gadis kecil itu mengenakan piyama bermotif bunga-bunga kecil, piyama yang sudah terlalu pendek di bagian lengan dan kaki, menunjukkan bahwa ia tumbuh lebih cepat dari kemampuan ekonomi keluarganya untuk membeli pakaian baru. Rambutnya tidak dikepang malam ini, dibiarkan terurai jatuh di bahunya, hitam dan lurus. Di tangannya, ia memegang sesuatu, benda kecil yang disembunyikan di balik punggungnya.

“Kak Kavka,” sapanya, dan suaranya yang kecil bergetar sedikit, seperti senar biola yang baru saja dipetik.

“Rina. Sudah malam. Kau seharusnya tidur.”

“Aku tahu,” jawab Rina. “Tapi aku dengar dari Nenek Yuko bahwa Kakak mau pergi.”

Kavka menunduk sedikit, menyamakan pandangannya dengan mata Rina yang bulat dan cokelat.

“Ya.”

“Jauh?”

“Ya.”

“Lama?”

“Mungkin.”

Air mata menggenang di mata Rina, tapi gadis kecil itu melakukan sesuatu yang mengesankan, ia tidak membiarkan air mata itu jatuh. Ia berkedip keras, menarik napas yang bergetar, dan menguatkan dirinya. Sepuluh tahun. Baru sepuluh tahun umurnya, dan ia sudah belajar untuk menahan tangis demi orang lain.

“Kakak janji akan kembali?” tanyanya, dan pertanyaan itu, pertanyaan yang sama yang pernah ia ajukan sebelumnya, di konteks yang berbeda, kini membawa berat yang jauh lebih besar. Karena kali ini, bukan tentang menjaga Sentana dari preman. Ini tentang pergi ke tempat yang tidak diketahui, menghadapi bahaya yang tidak bisa dibayangkan, dan mungkin, mungkin, tidak pernah kembali.

Kavka terdiam selama beberapa detik. Ia bisa saja berbohong. Mengatakan ya, aku janji dengan nada datar yang biasa, memberikan kepastian palsu yang akan membuat gadis kecil ini tidur lebih nyenyak malam ini. Kebohongan yang baik. Kebohongan yang lembut.

Tapi ibunya tidak pernah mengajarkannya berbohong. Dan Rina layak mendapat lebih dari kebohongan.

“Aku tidak bisa berjanji,” kata Kavka, suaranya pelan. “Tapi aku akan berusaha sekuat yang ku bisa.”

Rina menatapnya. Air mata yang tadi ia tahan akhirnya jatuh, satu tetes dari mata kiri, satu dari mata kanan, mengalir di pipinya yang gembil dan menetes dari dagunya ke piyama bermotif bunganya. Tapi ia tidak menangis. Tidak terisak. Air mata itu jatuh dalam keheningan, seperti hujan malam Sentana, pelan, konstan, dan bermartabat.

“Kalau begitu,” kata Rina, dan ia akhirnya menunjukkan benda yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggungnya.

Sebuah gelang. Gelang tali yang dianyam dengan tangan, tali rafia berwarna merah dan putih, dijalin dalam pola sederhana yang tidak sempurna, dengan beberapa simpul yang terlalu besar dan beberapa yang terlalu kecil. Pekerjaan tangan seorang anak berusia sepuluh tahun yang jelas menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk membuatnya.

“Aku buatkan ini untuk Kakak,” kata Rina, mengulurkan gelang itu. “Biar Kakak ingat Sentana. Biar Kakak ingat... kami.”

Kavka menatap gelang itu. Tali rafia yang murah, anyaman yang tidak rapi, simpul yang berantakan. Benda yang secara material tidak bernilai apa-apa. Benda yang, jika dijual, mungkin tidak akan laku bahkan satu rupiah.

Tapi bagi Kavka Helios, vampir terakhir klan Enchant, makhluk malam yang telah hidup selama lebih dari dua ratus tahun, predator puncak yang kuku-kukunya bisa merobek baja, gelang tali itu adalah benda paling berharga yang pernah ia terima.

Ia mengulurkan tangannya. Tangan kiri. Pergelangan tangan yang biasanya tertutup sarung tangan kulit hitam kini telanjang, ia melepas sarung tangannya untuk pertama kalinya di depan orang Sentana. Kulit di bawahnya pucat, nyaris transparan, dan kuku-kukunya yang hitam dan tajam terlihat jelas di bawah cahaya rembulan. Tangan yang bisa membunuh. Tangan yang telah membunuh, meskipun hanya yang pantas dibunuh.

Rina melihat kuku-kuku itu. Matanya sedikit melebar. Tapi ia tidak mundur. Ia tidak berteriak. Ia tidak lari.

Dengan tangan kecilnya yang sedikit gemetar, bukan karena takut, Kavka tahu, tapi karena emosi, Rina mengikatkan gelang tali itu di pergelangan tangan Kavka. Jari-jarinya yang mungil bekerja dengan hati-hati, memasukkan ujung tali melalui lubang, menariknya kencang, dan mengikat simpul akhir dengan dua putaran yang rapat.

Gelang itu terpasang.

Merah dan putih. Di pergelangan tangan yang pucat, di antara kuku-kuku hitam yang tajam.

Kontras yang menggambarkan seluruh eksistensi Kavka Helios, keindahan dan kekerasan, kelembutan dan kekuatan, cinta dan kehilangan, berdampingan dalam satu ruang yang sama.

“Sempurna,” bisik Rina, menatap karyanya dengan ekspresi puas.

“Sempurna,” ulang Kavka, dan kata itu, kata yang tidak pernah ia gunakan untuk mendeskripsikan apa pun dalam hidupnya, keluar dari mulutnya dengan ketulusan yang mengejutkan dirinya sendiri.

Rina tersenyum. Senyum lebar, polos, dan penuh harap. Lalu, tanpa peringatan, ia memeluk Kavka. Lengan-lengan kecilnya melingkar di pinggang vampir itu, kepalanya menempel di perutnya, dan ia memeluk dengan kekuatan seorang anak yang memeluk sesuatu yang ia tahu mungkin akan pergi dan mungkin tidak akan kembali.

Kavka berdiri kaku selama beberapa detik, pelukan bukan sesuatu yang ada dalam tanda interaksi sosialnya. Tangannya menggantung di samping tubuhnya, tidak tahu harus melakukan apa. Lalu, perlahan, sangat perlahan, seperti gletser yang bergerak satu milimeter per tahun, tangan kanannya terangkat dan mendarat di puncak kepala Rina. Ia tidak mengelus. Tidak menepuk. Hanya meletakkan tangannya di sana. Sentuhan yang ringan dan canggung. Sentuhan terakhir sebelum perpisahan.

“Tidurlah, Rina,” katanya akhirnya.

Rina melepaskan pelukannya, mundur selangkah, dan menatap Kavka sekali lagi. Air mata masih berkilau di pipinya, tapi senyumnya tidak pudar.

“Selamat jalan, Kak Kavka,” katanya. “Kami sayang Kakak.”

Lalu ia berbalik dan berlari pulang, sandal jeleknya PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! menghantam jalanan tanah Sentana, rambut hitamnya berkibar di belakangnya.

Kavka menatap kepergiannya sampai gadis kecil itu menghilang di balik rumah-rumah yang gelap. Lalu ia menatap gelang di pergelangan tangannya. Merah dan putih. Simpul yang tidak rapi. Cinta yang sempurna.

PLETOK!

Permen karet berputar di mulutnya, tapi malam ini, ritmenya terasa berbeda. Lebih lambat. Lebih berat. Seperti detak jantung yang tahu bahwa setelah malam ini, segalanya akan berubah.


Fajar hari ketiga menyingsing di atas Sentana.

Kavka berdiri di depan gubuknya untuk terakhir kalinya, mungkin, menatap permukiman kecil itu tertidur dalam cahaya emas yang lembut. Atap-atap seng berkilau ditimpa embun pagi, asap tipis mulai mengepul dari cerobong-cerobong dapur yang pertama kali dinyalakan, dan ayam-ayam sudah mulai berkokok dalam paduan suara pagi mereka yang tak terkoordinasi.

Di tangannya, sebuah tas kulit kecil, pinjaman dari Raguel, berisi perlengkapan perjalanannya, sarung tangan cadangan, permen karet, empat botol sabun cair, dan peta kulit kuno menuju Sanggraham. Dia memakai tudung seperti saat dia mendeteksi vampir bermata kuning di pohon beringin kemarin agar kulitnya tidak terbakar. Di pergelangan tangan kirinya, gelang tali anyaman Rina terpasang di bawah sarung tangan kulitnya, tersembunyi dari dunia, tapi menyentuh kulitnya secara langsung, konstan, seperti pengingat yang tidak pernah berhenti berbisik.

Di perbatasan timur Sentana, di bawah pohon beringin tua, Raguel menunggu. Kavka bisa melihat siluetnya dari kejauhan, tinggi, bertopi koboi, bersandar pada batang pohon yang besar, cerutu tak menyala terjepit di bibirnya. Pria itu tampak rileks, seolah menunggu bus, bukan menunggu untuk memulai perjalanan yang mungkin akan membunuh mereka berdua.

Kavka menarik napas panjang, napas terakhir udara Sentana. Aroma tanah basah, masakan rumahan, dan kehidupan sederhana memenuhi paru-parunya. Ia menyimpan aroma itu dalam memorinya, menguncinya rapat-rapat di tempat yang sama dengan kenangan ibunya, ayahnya, dan kastil klan Enchant.

“Aku akan kembali,”janjinya dalam hati. Janji yang tidak ia ucapkan pada siapa pun kecuali dirinya sendiri. Janji yang mungkin tidak bisa ia tepati. Tapi janji yang selama ia masih bisa menggenggamnya akan menjadi alasan untuk terus melangkah.

PLETOK!

Permen karet baru masuk ke mulutnya. Rasa yang familiar. Ritme yang familiar. Jangkar yang akan menemaninya melewati apa pun yang menunggu di depan sana.

Kavka Helios melangkah pergi dari Sentana.

Di belakangnya, matahari terbit sepenuhnya, mencurahkan cahaya emas ke atas rumah-rumah kayu, jalanan tanah, dan orang-orang yang masih tidur, orang-orang yang, tanpa mereka sadari, telah menjadi alasan paling kuat bagi seorang vampir untuk bertarung.

Di depannya, pegunungan Carpathia menunggu. Sanggraham menunggu. Liber Sanguinis menunggu.

Dan di suatu tempat di kegelapan yang belum datang di balik bayangan-bayangan yang belum tercipta, di dalam malam-malam yang belum lahir, Zuriatador menunggu.

Dua vampir berjalan berdampingan menuju fajar.

Yang satu berambut putih dengan mata merah, bulu-bulu angsa hitam di pundaknya, dan gelang tali dari seorang gadis kecil di pergelangan tangannya.

Yang satu bertopi koboi dengan mata abu-abu, mantel kulit yang berbau tembakau, dan siul melankolis yang mengalun di bibirnya.

Perjalanan dimulai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk