Bab 4 Utusan Bertopi Koboi

0 dibaca

A

Malam kelima setelah penyelamatan Karina, hujan turun lagi di Sentana.

Bukan hujan deras yang menggempur atap-atap seng dengan keganasan tentara yang menyerbu benteng, hujan seperti itu biasanya datang di bulan-bulan puncak musim penghujan, mengubah jalanan tanah Sentana menjadi sungai-sungai lumpur kecil yang mengalir tak terkendali. Hujan malam ini berbeda. Hujan ini halus, konstan, dan dingin, tetesan-tetesan kecil yang jatuh dari langit seperti jarum-jarum kristal yang tak terlihat, begitu halus sehingga nyaris tak terdengar saat menyentuh permukaan tanah, namun cukup gigih untuk membasahi segalanya dalam hitungan menit. Jenis hujan yang membuat orang tidak repot-repot membuka payung karena merasa tidak cukup basah, tapi kemudian menyadari bahwa seluruh tubuhnya sudah basah kuyup tanpa mereka sadari kapan itu terjadi.

Kabut tipis mengambang rendah di atas tanah, menggulung-gulung di antara rumah-rumah kayu Sentana seperti napas raksasa yang tak terlihat. Lampu-lampu minyak di dalam rumah-rumah menciptakan titik-titik kuning hangat yang bersinar samar-samar melalui kabut, seperti kunang-kunang raksasa yang memutuskan untuk berhenti terbang dan duduk diam di satu tempat. Udara berbau petrichor, aroma tanah basah yang khas, primordial, seolah bumi sendiri sedang bernapas, bercampur dengan wangi kayu bakar dari dapur-dapur yang masih menyalakan tungku untuk menghangatkan ruangan.

Kavka duduk di bangku kayu di dalam gubuknya, kali ini bukan di sudut lantai yang biasa. Perubahan posisi kecil ini menandakan sesuatu, ia gelisah. Selama lima hari terakhir, setiap malam, ia terbang keliling Sentana dan perbatasannya, mencari jejak aura bermata kuning yang dilaporkan Klobas. Setiap malam, ia menemukan sisa-sisa energi vampir di pohon beringin, semakin samar setiap hari, menguap perlahan seperti genangan air di bawah sinar matahari. Tapi tidak ada penampakan baru. Tidak ada ancaman langsung. Tidak ada apa-apa.

Dan tidak ada apa-apa itulah yang membuat Kavka gelisah.

Dalam pengalamannya, dua ratus tahun lebih pengalaman yang ditempa oleh kehilangan, persembunyian, dan pertarungan. Keheningan sebelum serangan selalu lebih menakutkan dari serangan itu sendiri. Keheningan berarti musuh sedang merencanakan. Mengamati. Menimbang. Menunggu momen yang tepat.

PLETOK! PLETOK! PLETOK!

Permen karet berputar lebih cepat dari biasanya, mencerminkan ritme pikirannya yang tidak tenang.

Lalu, ia mendengarnya.

Langkah kaki itu tidak seperti langkah kaki siapa pun yang pernah datang ke gubuknya.

Bukan langkah ragu-ragu Nenek Yuko yang pelan dan penuh kecemasan. Bukan langkah bersemangat Budunsair yang berat dan bertenaga. Bukan langkah timpang Klobas yang menderita di setiap pijakannya. Bukan langkah kecil Rina yang ringan seperti daun jatuh. Dan yang paling penting, bukan langkah senyap vampir yang menghapus jejaknya dari udara.

Langkah ini...

DUK! DUK! DUK!

Berat. Mantap. Ritmis. Setiap pijakan menghantam tanah becek dengan kepastian seseorang yang tahu persis ke mana ia pergi dan tidak memiliki keraguan sedikit pun tentang haknya untuk berada di sana. Langkah seseorang yang terbiasa berjalan di segala medan, hutan belantara, gurun pasir, jalanan kota, lorong-lorong gelap,dan memperlakukan semuanya dengan sikap yang sama, ketidakpedulian yang nyaris angkuh terhadap bahaya.

Dan ada suara lain yang menyertai langkah itu. Suara yang aneh dan tidak pada tempatnya di tengah hujan malam Sentana. Suara bersiul. Sebuah melodi yang Kavka tidak kenali, nada-nada rendah yang mengalun lambat, melankolis, seperti lagu koboi dari film-film barat yang pernah ia dengar samar-samar dari televisi rumah penduduk Sentana.

Kavka bangkit dari bangkunya. Bulu-bulu angsa di pundaknya mulai mengembang reaksi defensif yang terjadi secara otomatis. Matanya menyala lebih terang, memfokuskan pandangan menembus dinding kayu gubuknya, menembus kabut dan hujan, mencari sumber langkah dan siulan itu.

Ia menemukannya.

Sebuah siluet berjalan di jalanan utama Sentana, jalan tanah yang kini berubah menjadi jalur lumpur yang licin. Siluet itu tinggi, sangat tinggi, mungkin lebih dari 190 sentimeter dan lebar di bagian bahu, menyempit di pinggang, memberi kesan tubuh yang dipahat dari batu granit oleh pematung yang memiliki obsesi terhadap proporsi maskulin. Langkahnya panjang dan tenang, seolah hujan dan lumpur hanyalah ketidaknyamanan kecil yang tidak layak diperhatikan.

Tapi yang paling mencolok dari siluet itu yang membuat Kavka menyipitkan mata dan memiringkan kepalanya sedikit adalah topinya.

Topi koboi.

Sebuah topi koboi berwarna hitam, dengan pinggiran lebar yang menunduk di bagian depan, meneteskan air hujan dari tepinya seperti tirai air mini. Topi itu tampak tua, lusuh, dengan beberapa bagian yang sudah menipis dan beberapa noda yang tidak bisa diidentifikasi. Tapi ia duduk di kepala pemiliknya dengan kewibawaan yang tak terbantahkan, seolah topi itu bukan sekadar aksesori, melainkan mahkota.

Siluet itu berhenti di depan gubuk Kavka.

Siulan itu berhenti.

Ketukan di pintu datang tiga kali. Bukan ketukan yang ragu-ragu atau terburu-buru. Tiga ketukan yang dipisahkan oleh interval yang sama persis, satu detik di antara masing-masing-seolah si pengetuk telah menghitung waktunya dengan presisi metronom.

TOK! TOK! TOK!

Kavka membuka pintu.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mungkin bertahun-tahun, mungkin puluhan tahun, Kavka Helios terkejut.

Pria yang berdiri di ambang pintunya... bukan manusia.

Kavka bisa merasakannya langsung. Bukan dari penampilannya pria itu terlihat sepenuhnya manusia dari luar. Bukan dari auranya yang anehnya, hampir tidak terdeteksi oleh Aurasense Kavka, seolah pria itu tahu cara menyembunyikan jejak energinya. Yang memberi tahu Kavka bahwa pria ini bukan manusia adalah baunya. Di balik aroma hujan dan tanah basah dan tembakau, pria itu membawa aroma tembakau yang kuat, seperti ia hidup di dalam toko cerutu, ada bau lain. Bau yang tidak dimiliki oleh makhluk fana. Bau darah abadi. Bau yang hanya dimiliki oleh satu jenis makhluk di muka bumi ini.

Vampir.

Tapi matanya...

Kavka mempelajari mata pria itu dengan intensitas yang biasanya ia cadangkan untuk musuh-musuhnya. Mata itu berwarna... abu-abu. Bukan merah seperti milik Kavka (klan Enchant). Bukan kuning seperti klan Kregor. Bukan biru, hijau, atau ungu. Abu-abu. Warna netral. Warna yang tidak terkait dengan klan mana pun yang Kavka ketahui.

Sisa penampilannya tidak kalah aneh. Di balik topi koboinya, rambut pria itu berwarna hitam, panjang sebahu, sedikit bergelombang, dan basah oleh hujan. Wajahnya kasar dan penuh karakter rahang persegi yang kokoh, hidung yang sedikit bengkok (pernah patah dan tidak diperbaiki dengan benar), dan bekas luka tipis yang melintang dari sudut bibir kiri hingga ke tulang pipi, memberikan kesan bahwa pria ini pernah tersenyum terlalu lebar kepada orang yang salah. Kulitnya kecokelatan tidak pucat seperti kebanyakan vampir, seolah ia menghabiskan banyak waktu di bawah sinar matahari, sesuatu yang seharusnya sangat tidak nyaman bagi jenisnya.

Ia mengenakan mantel kulit cokelat panjang yang basah kuyup, dengan kerah yang ditegakkan menutupi lehernya. Di balik mantel, Kavka bisa melihat rompi kulit yang dipenuhi kantong-kantong kecil, masing-masing tampak berisi sesuatu, botol-botol kecil, gulungan kertas, benda-benda logam yang terlalu kecil untuk diidentifikasi. Celananya dari bahan denim yang sudah pudar warnanya, dan sepatu botnya, sepatu bot koboi yang tinggi, dengan ujung lancip dan hak yang tebal, dipenuhi lumpur Sentana hingga setengah betis.

“Kavka Helios,” kata pria itu, dan suaranya... suaranya adalah sesuatu yang lain.

Dalam dan serak, seperti gemuruh guntur yang datang dari jauh, dari sangat jauh, dari balik pegunungan dan lautan dan padang rumput yang tak berujung. Suara yang membawa aroma padang rumput itu bersamanya, suara yang terbiasa berbicara di ruang terbuka, melawan angin, memanggil kuda, bernyanyi di bawah bintang-bintang. Suara yang, meskipun jelas milik vampir, terasa lebih hidup dari suara vampir mana pun yang pernah Kavka dengar.

“Ya,” jawab Kavka. Singkat. Waspada.

Pria bertopi koboi itu tersenyum. Senyum yang lebar, tulus, dan penuh dengan gigi-gigi putih yang normal, bukan taring tajam yang biasanya terlihat saat vampir tersenyum. Tapi Kavka tidak tertipu. Ia tahu bahwa taring vampir bisa ditarik masuk, disembunyikan di balik gusi, hanya dikeluarkan saat diperlukan. Senyum normal ini adalah topeng. Pertanyaannya, topeng untuk apa?

“Boleh aku masuk?” tanya pria itu, menunjuk ke dalam gubuk dengan gerakan kepala yang santai. “Di luar dingin. Dan basah. Aku benci basah.”

Kavka tidak menjawab selama beberapa detik. Matanya yang merah menilai pria di depannya dengan intensitas pemindai keamanan bandara. Setiap detail dicatat, dianalisis, disimpan. Postur tubuh, rileks, tapi berat badan seimbang di kedua kaki, tangan di samping tubuh dalam posisi yang bisa dengan cepat beralih ke defensif atau ofensif. Senjata tidak terlihat, tapi kantong-kantong di rompinya bisa menyimpan apa saja. Tingkat ancaman, tidak bisa ditentukan. Yang justru membuat pria ini lebih berbahaya dari siapa pun yang pernah mengetuk pintu gubuk Kavka.

“Siapa kau?” tanya Kavka, dan pertanyaan itu bukan sekadar permintaan nama. Itu adalah permintaan identifikasi menyeluruh, klan, tujuan, afiliasi, niat.

Pria itu mengangkat topinya sedikit, memperlihatkan dahinya yang lebar dan basah oleh keringat dan hujan. Gerakan sopan kuno yang entah bagaimana terasa alami padanya.

“Namaku Raguel,” katanya. “Dan aku datang dari sangat jauh untuk menemukanmu.”

Kavka membiarkan Raguel masuk, bukan karena ia mempercayai pria itu, melainkan karena ia ingin informasi, dan informasi lebih mudah didapat dari seseorang yang merasa cukup nyaman untuk berbicara. Membiarkan musuh potensial masuk ke wilayahmu adalah taktik yang berisiko, namun juga memberikan keuntungan, jika pertarungan pecah, Kavka mengenal setiap inci gubuknya, setiap papan lantai yang berderit, setiap sudut yang bisa digunakan untuk bermanuver.

Raguel melangkah masuk, kepalanya nyaris menyentuh langit-langit rendah gubuk. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lantai kayu yang bersih, dinding-dinding yang kosong, koleksi botol-botol sabun cair yang berjejer rapi di satu sudut dan tersenyum kecil, seolah menemukan sesuatu yang menghibur.

“Tempat yang bagus,” katanya, dan komentar itu terdengar tulus, bukan sarkastis. “Sederhana. Bersih. Tenang. Aku suka.”

Ia duduk di lantai kayu tanpa diundang, menyilangkan kakinya panjangnya yang dibalut denim basah, dan melepas topinya. Topi koboi itu diletakkan di pangkuannya dengan kehati-hatian yang menunjukkan betapa berharganya benda itu baginya. Tanpa topinya, Raguel terlihat sedikit berbeda, lebih muda, mungkin, meskipun dengan vampir, usia fisik tidak pernah menjadi indikator yang dapat diandalkan. Rambutnya yang hitam jatuh bebas di sekitar wajahnya, memberikan kesan liar yang kontras dengan matanya yang abu-abu tenang.

Kavka tetap berdiri, bersandar pada dinding di dekat pintu. Posisi strategis, ia bisa keluar dalam sepersekian detik jika diperlukan, dan ia menghalangi satu-satunya jalan keluar bagi Raguel. Bukan bahwa Raguel tampak berniat menyerang, tapi Kavka tidak bertahan hidup selama dua ratus tahun dengan mengandalkan penampilan.

“Klan apa?” tanya Kavka langsung. Tidak ada basa-basi, tidak ada tawaran minum, vampir tidak minum teh.

Raguel mengangkat alisnya, tampak terkesan oleh kelangsungan Kavka. “Langsung ke intinya. Aku suka itu juga.” Ia merogoh salah satu kantong di rompinya dan mengeluarkan sebuah benda kecil, sebatang cerutu pendek dan tebal, berwarna cokelat tua. Ia mengapitnya di antara bibirnya tanpa menyalakannya, mengunyah ujungnya pelan-pelan. Kebiasaan oral yang mengingatkan Kavka pada permen karetnya sendiri.

“Aku tidak punya klan,” jawab Raguel. “Bukan lagi. Dulunya, ya. Klan Revenant. Kau pernah dengar?”

Kavka pernah dengar. Klan Revenant adalah salah satu klan vampir tertua di dunia, berpusat di dataran tinggi Amerika Selatan. Mereka dikenal sebagai klan pengembara, vampir-vampir yang tidak memiliki kastil atau wilayah tetap, melainkan berkelana dari satu tempat ke tempat lain, hidup dari tanah dan langit, mengikuti naluri dan bintang-bintang. Filosofi mereka berbeda dari klan-klan lain yang cenderung teritorial dan hierarkis. Klan Revenant percaya bahwa kebebasan adalah hak tertinggi setiap vampir, dan bahwa mengikat diri pada satu tempat atau satu pemimpin adalah bentuk kematian yang lebih mengerikan dari kematian fisik.

“Klan pengembara,” kata Kavka. “Mata abu-abu. Tidak terikat pada wilayah.”

“Tepat,” Raguel menunjuk Kavka dengan cerutunya yang belum menyala, seolah memberi nilai A pada jawaban ujian. “Kau tahu sejarahmu. Bagus. Itu akan membuat percakapan ini lebih mudah.”

“Kau bilang bukan lagi,” kata Kavka, matanya menyipit. “Apa yang terjadi pada klanmu?”

Senyum Raguel padam. Untuk pertama kalinya sejak ia datang, sesuatu di wajahnya berubah. Garis-garis di sekitar matanya menegas, rahangnya mengeras, dan mata abu-abunya yang tadinya hangat dan penuh humor menjadi dingin seperti batu kali di musim kemarau.

“Hal yang sama yang terjadi pada klanmu, Kavka,” jawabnya, suaranya rendah dan datar. “Zuriatador.”

Nama itu jatuh di ruangan kecil itu seperti batu besar yang dijatuhkan ke dalam kolam yang tenang. Gelombangnya menyebar ke segala arah, mengguncang ketenangan yang sudah rapuh.

Kavka tidak bergerak. Tidak berkedip. Tapi di balik sarung tangan kulitnya, kuku-kukunya memanjang satu sentimeter reaksi involunter yang terjadi setiap kali nama itu diucapkan di dekatnya.

“Ceritakan !” kata Kavka, dan kata tunggal itu membawa berat seluruh sejarah kehilangan yang mereka berdua miliki.

Raguel menyandarkan punggungnya pada dinding gubuk, menatap langit-langit seng yang rendah seolah melihat langit terbuka di baliknya. Cerutu yang tak menyala berputar pelan di antara bibirnya saat ia memulai ceritanya.

“Klan Revenant tidak pernah menjadi ancaman bagi siapa pun,” mulainya, suaranya kini lebih pelan, lebih reflektif, seperti orang yang membaca dari buku harian yang sudah lama tidak dibuka. “Kami mengembara. Kami berburu secukupnya. Kami tidak mengklaim wilayah, tidak membangun kastil, tidak membentuk pasukan. Kami hanya... ada. Seperti angin. Datang dan pergi.”

Ia berhenti sejenak, mengunyah cerutunya.

“Tapi Zuriatador... dia tidak melihat dunia seperti itu. Baginya, setiap klan yang tidak tunduk padanya adalah ancaman. Setiap vampir yang hidup di luar kendalinya adalah virus yang harus dimusnahkan. Klan Enchant musnah karena kalian terlalu baik, kebijaksanaan dan empati kalian adalah penghinaan bagi filosofi kekerasan Zuriatador. Klan Revenant musnah karena kami terlalu bebas. Kebebasan kami adalah ancaman bagi kontrol absolutnya.”

“Bagaimana ?” tanya Kavka.

“Racun,” jawab Raguel, dan kata itu keluar dari mulutnya dengan kepahitan yang terasa fisik. “Bukan serangan frontal seperti yang ia lakukan pada klanmu. Zuriatador belajar dari kesalahan itu, menyerang kastil Enchant secara langsung memang efektif, tapi juga menimbulkan perhatian dari klan-klan lain. Untuk klan Revenant, ia menggunakan cara yang lebih... licik.”

Raguel merogoh kantong rompinya lagi dan mengeluarkan sebuah botol kaca kecil sebesar ibu jari, berisi cairan kehijauan yang berdenyar samar di bawah cahaya redup gubuk. Kavka menatap botol itu, dan Aurasensenya langsung berteriak, aura botol itu gelap, pekat, beracun. Seperti menatap ke dalam jurang yang tak berdasar.

“Venomortis,” kata Raguel, mengangkat botol itu setinggi mata. “Racun yang dirancang khusus untuk vampir. Dicampur ke dalam darah hewan yang menjadi sumber makan kami selama perjalanan. Klan Revenant tidak minum darah manusia, kami hidup dari darah binatang liar, rusa, bison, apa pun yang kami temukan di alam. Zuriatador tahu itu. Ia meracuni sumber makanan kami.”

“Satu per satu, anggota klanku jatuh sakit,” lanjut Raguel, suaranya kini bergetar di tepi-tepinya, seperti senar gitar yang dipetik terlalu keras. “Awalnya hanya kelemahan. Kelelahan yang tidak biasa. Lalu rasa sakit di seluruh tubuh, seolah darah di nadi kami berubah menjadi asam. Dan akhirnya... mati. Kematian yang lambat. Menyakitkan. Tanpa kehormatan. Tanpa kesempatan untuk melawan.”

Ia memasukkan botol itu kembali ke kantongnya. Tangannya gemetar sedikit, getaran halus yang mungkin tidak akan tertangkap oleh mata manusia, tapi bagi Kavka, getaran itu senyaring teriakan.

“Dari seluruh klan Revenant, tiga puluh tujuh anggota, termasuk tetua kami yang berusia lebih dari dua ribu tahun, hanya aku yang selamat.” Raguel menatap Kavka, mata abu-abunya bertemu dengan mata merah Kavka. “Sama sepertimu.”

Keheningan yang menyelimuti gubuk itu terasa seperti makhluk hidup, berat, padat, dan bernapas. Di luar, hujan terus turun dengan ketekunan yang tak tergoyahkan, meneteskan iramanya di atas atap seng, menciptakan latar belakang sonik yang kontras dengan kesunyian di dalam.

“Bagaimana kau bisa selamat?” tanya Kavka akhirnya.

Raguel tersenyum pahit. “Aku adalah pemberontak klan. Ironisnya, sifat keras kepalaku yang selalu membuat tetua kami pusing justru menyelamatkan nyawaku. Saat klan berkemah di dataran tinggi Bolivia, aku memutuskan untuk pergi sendiri, melanggar aturan klan yang mengharuskan anggota tetap bersama kelompok. Aku ingin menjelajahi lembah di selatan, mengikuti firasat yang tidak bisa ku jelaskan. Saat aku kembali tiga minggu kemudian...” Ia berhenti. Otot rahangnya berkedut. “...aku menemukan mereka. Semua. Tergeletak di perkemahan. Tubuh mereka sudah membusuk. Racun itu... racun itu tidak membiarkan tubuh vampir beregenerasi setelah mati. Mereka membusuk seperti manusia biasa. Seperti... seperti mereka tidak pernah menjadi vampir.”

Kavka merasakan sesuatu yang dalam di dadanya. Bukan empati, kata itu terlalu lemah untuk menggambarkan apa yang ia rasakan. Ini lebih seperti pengakuan. Pengakuan bahwa di hadapannya duduk seseorang yang memikul luka yang sama besarnya, sama dalamnya, sama tak tersembuhkannya dengan lukanya sendiri. Dua jiwa yang telah dipecahkan oleh tangan yang sama.

“Kau tidak datang ke sini hanya untuk bercerita,” kata Kavka. Bukan pertanyaan.

“Tidak,” Raguel menggeleng, dan ekspresinya berubah lagi, dari kesedihan ke sesuatu yang lebih tajam, lebih terfokus. Sesuatu yang menyerupai tekad. “Aku datang karena aku menemukan sesuatu. Sesuatu yang bisa mengubah segalanya.”

Raguel merogoh bagian dalam mantelnya, gerakan yang membuat Kavka langsung menaikkan kewaspadaannya satu tingkat, kuku-kukunya memanjang sedikit lagi di balik sarung tangan dan mengeluarkan sebuah gulungan kulit. Bukan kulit binatang modern yang diproses di pabrik. Ini adalah kulit yang disamak secara tradisional, tebal dan kasar, dengan tepi-tepi yang tidak rata dan warna cokelat tua yang menunjukkan usia yang sangat tua. Gulungan itu diikat dengan tali yang terbuat dari tendon hewan, simpulnya rumit dan kuno, simpul yang tidak digunakan lagi oleh siapa pun di dunia modern.

Raguel membuka gulungan itu dengan hati-hati, meletakkannya di lantai kayu di antara mereka. Gulungan itu ternyata adalah peta. Peta yang dilukis dengan tangan menggunakan tinta yang sudah memudar merah gelap, hitam, dan emas di atas permukaan kulit yang penuh dengan noda usia dan bekas lipatan.

Kavka menunduk untuk mempelajarinya. Ia mengenali beberapa elemen peta itu, garis pantai yang familiar, rangkaian pegunungan, aliran sungai. Ini adalah peta Eropa Timur, dengan fokus pada wilayah yang kini menjadi Rumania, Hungaria, dan sebagian Ukraina. Tapi bukan peta modern. Batas-batas negara yang tertera tidak sesuai dengan peta politik kontemporer. Ini adalah peta dari era yang jauh lebih tua, mungkin abad ke-15 atau ke-16, berdasarkan gaya kartografinya.

Di tengah peta, ditandai dengan simbol yang dilukis dengan tinta emas yang masih berkilau setelah berabad-abad, ada sebuah lokasi. Simbol itu berbentuk lingkaran dengan empat titik di sekelilingnya, atas, bawah, kiri, kanan, dan sebuah garis vertikal yang membelah lingkaran itu menjadi dua bagian yang sama. Kavka mengenali simbol itu.

Jantungnya yang berdenyut sangat lambat, sekali setiap beberapa menit, tiba-tiba berdenyut lebih cepat.

“Ini...” mulai Kavka, suaranya untuk pertama kalinya kehilangan kerataan yang biasa.

“Sanggraham,” selesai Raguel, dan nama itu diucapkan dengan penekanan yang khidmat, seperti seorang pendeta yang menyebut nama tempat suci. “Kuil tersembunyi klan Enchant. Tempat di mana para tetua Enchant menyimpan artefak-artefak paling kuat mereka. Dan jika legenda yang ku dengar benar...” Raguel menunjuk simbol emas itu dengan jarinya yang panjang dan kasar. “...di situlah mereka menyimpan Liber Sanguinis.”

Liber Sanguinis.

Buku Darah.

Kavka tahu tentang Liber Sanguinis. Setiap anggota klan Enchant diajarkan tentangnya sejak muda bukan sebagai sejarah, melainkan sebagai mitos. Legenda suci yang diceritakan di malam-malam purnama, saat seluruh klan berkumpul di halaman kastil dan para tetua berbicara dengan suara rendah yang membawa kekuatan ratusan tahun kebijaksanaan.

Liber Sanguinis konon adalah naskah pertama yang pernah ditulis oleh vampir, sebuah buku yang berisi seluruh pengetahuan tentang asal-usul ras vampir, kekuatan-kekuatan yang telah hilang, dan yang paling penting formula untuk Ritualem Ultimam, ritual tertinggi yang konon mampu menghancurkan bahkan vampir paling kuat sekalipun. Termasuk Zuriatador.

“Itu hanya mitos,” kata Kavka, meskipun suaranya kurang meyakinkan dari yang ia inginkan.

“Itulah yang diinginkan Zuriatador agar kau percaya,” jawab Raguel, matanya menyala dengan intensitas yang baru. “Pikirkan, Kavka. Mengapa Zuriatador membantai klan Enchant? Mengapa ia memusnahkan klan yang tidak pernah mengancamnya secara militer? Bukan karena empati kalian. Bukan karena kebijaksanaan kalian. Tapi karena klan Enchant adalah penjaga Liber Sanguinis. Satu-satunya klan yang tahu di mana buku itu disembunyikan. Satu-satunya klan yang bisa menggunakan kekuatannya.”

Raguel mengetuk peta itu dengan jarinya. “Zuriatador tidak pernah menemukan Sanggraham. Ia membantai seluruh klan Enchant, tapi rahasia lokasi kuil itu mati bersama para tetua. Ia mencari selama berabad-abad. Mengirim pengintai ke seluruh penjuru dunia. Dan sekarang...”

“Pengintai bermata kuning di perbatasan Sentana,” sambung Kavka, dan potongan-potongan puzzle itu mulai jatuh ke tempatnya dengan suara KLIK! yang menyeramkan di dalam kepalanya.

“Tepat,” Raguel mengangguk, wajahnya serius. “Zuriatador tahu bahwa kau masih hidup, Kavka. Ia selalu tahu. Dan ia percaya bahwa sebagai anggota terakhir klan Enchant, kau mungkin menyimpan pengetahuan tentang lokasi Sanggraham mungkin tanpa kau sadari sendiri. Pengintai itu bukan datang untuk membunuhmu. Mereka datang untuk memata-mataimu. Untuk melihat apakah kau menunjukkan tanda-tanda menuju kuil.”

Kavka berdiri dan berjalan ke jendela kecil gubuknya. Di luar, hujan masih turun, dan Sentana tidur dalam kedamaian yang ia kini sadari jauh lebih rapuh dari yang ia kira. Ia menatap rumah-rumah kecil itu, lampu-lampu minyak yang mulai padam satu per satu, dan bayangan-bayangan pohon yang bergoyang ditiup angin.

“Aku tidak tahu di mana Sanggraham,” katanya, suaranya kembali datar. “Ibuku tidak pernah memberitahuku. Aku terlalu muda saat pembantaian terjadi. Para tetua belum sempat menurunkan rahasia itu padaku.”

“Aku tahu,” jawab Raguel dari belakangnya. “Tapi ada cara lain.”

Kavka menoleh.

Raguel mengangkat gulungan peta itu. “Peta ini ku dapatkan dari seorang vampir tua di Budapest, vampir yang dulunya menjadi kurir antara klan Enchant dan klan-klan lain. Sebelum ia mati, mati karena usia, bukan kekerasan, sebuah kemewahan yang langka bagi vampir di zaman ini, ia memberikan peta ini padaku. Ia bilang, temukan anak terakhir Enchant. Peta ini akan membimbingnya pulang.’”

“’Membimbingnya pulang’?” ulang Kavka.

“Ya,” Raguel berdiri, membawa peta itu mendekati Kavka. Ia menunjuk simbol emas Sanggraham. “Lihat lebih dekat.”

Kavka menatap simbol itu. Dan saat ia memfokuskan Aurasensenya pada tinta emas itu, sesuatu yang tidak ia lakukan sebelumnya karena terlalu sibuk membaca peta secara visual, ia melihatnya.

Tinta emas itu bukan tinta biasa. Ia berdenyut. Sangat pelan, sangat samar, tapi jelas bagi indra vampir yang diperkuat oleh Aurasense klan Enchant. Tinta itu hidup. Tinta itu mengandung energi, energi klan Enchant, energi yang sama yang mengalir di nadi Kavka, energi yang ia warisi dari ibunya, dari ayahnya, dari seluruh garis keturunan Helios yang telah musnah.

“Tinta darah,” bisik Kavka, dan pemahaman menyapu dirinya seperti gelombang pasang. “Tinta yang dibuat dari darah tetua Enchant.”

“Tepat,” Raguel tersenyum, bukan senyum yang lebar dan ceria seperti sebelumnya, melainkan senyum yang penuh arti, senyum seseorang yang tahu bahwa ia baru saja mengubah permainan. “Tinta itu merespons darah Enchant. Hanya darah Enchant. Jika kau meneteskan darahmu di atas simbol itu... peta akan menunjukkan jalan.”

Kavka menatap peta di tangannya. Kulit yang tua dan rapuh, tinta yang memudar, dan simbol emas yang berdenyut pelan di telapak tangannya seolah jantung kecil yang menunggu untuk dibangunkan.

Di kepalanya, dua suara berperang.

Suara pertama adalah suara ibunya, “Larilah, Kavka! Jangan pernah menoleh ke belakang!” Suara yang memerintahkannya untuk bertahan hidup, untuk bersembunyi, untuk tidak pernah mengambil risiko yang tidak perlu. Suara yang telah membimbingnya selama dua ratus tahun, menjaganya tetap hidup di dunia yang ingin membunuhnya.

Suara kedua adalah suara ayahnya, “Bertarung untuk melindungi.” Suara yang lebih dalam, lebih kuno, dan lebih keras. Suara yang mengingatkannya bahwa bertahan hidup saja tidak cukup bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar hidup, hal-hal yang layak diperjuangkan, hal-hal yang layak dipertaruhkan segalanya.

Sentana. Nenek Yuko. Budunsair. Klobas. Karina. Rina.

Mereka semua dalam bahaya. Selama Zuriatador masih ada, selama klan Kregor masih mencarinya, Sentana akan selalu menjadi target. Bukan karena Sentana memiliki sesuatu yang berharga bagi klan Kregor, tapi karena Sentana memiliki Kavka. Dan siapa pun yang dekat dengan Kavka menjadi target.

Pergi mencari Sanggraham berarti meninggalkan Sentana. Berarti meninggalkan orang-orang yang ia cintai tanpa pelindung. Tapi tinggal di Sentana tanpa melakukan apa-apa berarti menunggu Zuriatador datang dan saat itu terjadi, tidak ada kekuatan yang dimiliki Kavka saat ini yang cukup untuk menghentikannya.

“Apa yang kau inginkan dari ini?” tanya Kavka pada Raguel, suaranya tajam. “Mengapa kau membawa peta ini padaku? Apa untungnya bagimu?”

Raguel menatap Kavka lurus-lurus. Mata abu-abunya tidak berkedip, tidak menghindar, tidak menyembunyikan apa pun.

“Aku ingin Zuriatador mati,” jawabnya, dan setiap kata diucapkan dengan kejelasan dan kesungguhan yang meninggalkan nol ruang untuk keraguan. “Ia membunuh klanku. Ia membunuh klanmu. Ia membunuh dan terus membunuh siapa pun yang tidak mau tunduk padanya. Liber Sanguinis mungkin satu-satunya senjata yang bisa mengakhiri keberadaannya. Dan kau, Kavka Helios, adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa membuka jalan menuju senjata itu.”

Jeda panjang. Hujan di luar semakin deras, seolah langit sendiri sedang mempertimbangkan keputusan yang harus dibuat Kavka.

“Aku tidak bisa meninggalkan Sentana tanpa perlindungan,” kata Kavka akhirnya.

“Kau tidak harus,” jawab Raguel, dan senyumnya kembali, kali ini senyum yang penuh percaya diri, senyum seseorang yang sudah memikirkan segala kemungkinan jauh sebelum ia mengetuk pintu gubuk ini. “Aku sudah merencanakan itu. Aku punya... teman. Beberapa vampir independen yang tidak berafiliasi dengan klan mana pun. Mereka berutang budi padaku. Mereka bisa menjaga Sentana selama kita pergi.”

“Kita?”

“Tentu saja kita,” Raguel mengambil topinya dari lantai, memasangnya kembali di kepalanya dengan gerakan yang sudah dilakukannya ribuan kali, dan berdiri. Bayangan topi itu jatuh menutupi matanya, memberikan kesan misterius yang, Kavka akui secara diam-diam cukup dramatis. “Kau pikir aku datang jauh-jauh ke sini hanya untuk memberikan peta dan bilang ‘selamat jalan’? Tidak, Kavka. Aku ikut. Kau butuh seseorang yang menjaga punggungmu. Dan jujur saja...” Ia menyeringai. “...aku sudah bosan bepergian sendirian.”

Kavka menatap peta itu sekali lagi. Simbol emas Sanggraham berdenyut di telapak tangannya, pelan dan konstan, seperti detak jantung yang sabar menunggu.

“Ibuku mengorbankan hidupnya agar aku bisa hidup,” pikir Kavka. “Tapi apakah hidup bersembunyi, hidup dalam ketakutan bahwa masa lalu akan mengejar, benar-benar hidup? Atau hanya tidak mati?”

Ia memikirkan Rina. Matanya yang bulat dan polos, penuh kepercayaan, menatapnya dan bertanya, “Janji, Kak?” Kavka telah berjanji. Ia telah berjanji bahwa tidak ada yang akan menyakiti Sentana selama ia di sini. Tapi bagaimana jika cara terbaik untuk menepati janji itu bukan dengan tinggal dan menunggu, melainkan dengan pergi dan mengakhiri ancaman dari akarnya?

“Berapa lama?” tanya Kavka.

“Perjalanan ke Sanggraham, jika peta ini akurat, akan memakan waktu beberapa minggu,” jawab Raguel. “Kuil itu tersembunyi di pegunungan Carpathia, jauh dari peradaban manusia dan vampir. Medannya berbahaya, bahkan untuk jenis kita. Dan aku tidak tahu apa yang menunggu di dalam kuil itu. Bisa jadi jebakan. Bisa jadi penjaga. Bisa jadi... tidak ada apa-apa.”

“Atau bisa jadi senjata untuk mengakhiri Zuriatador,” tambah Kavka.

“Atau itu,” Raguel mengangguk.

Kavka memejamkan matanya. Di balik kelopak matanya, ia melihat wajah ibunya, bukan wajah yang ketakutan saat pembantaian, melainkan wajah yang lembut dan hangat saat menyanyikan lagu pengantar tidur di taman bunga malam kastil Enchant. Wajah yang mengatakan padanya bahwa kekuatan sejati ada di kemampuan untuk merasakan. Untuk berempati. Untuk mencintai.

“Dan untuk bertarung demi yang kau cintai,” tambah Kavka dalam hatinya, menyelesaikan kalimat ibunya dengan kata-kata ayahnya.

Ia membuka matanya.

“Tiga hari,” katanya pada Raguel. “Berikan aku tiga hari untuk mempersiapkan Sentana. Memastikan mereka aman. Setelah itu...”

“Setelah itu?”

Kavka menatap jendela kecilnya. Di luar, hujan mulai mereda, dan di ufuk timur, garis tipis emas mulai muncul di cakrawala, fajar pertama dari hari baru.

“Setelah itu, kita pergi.”

PLETOK!

Permen karet baru masuk ke mulutnya. Rasa yang familiar. Tekstur yang familiar. Ritme yang familiar. Jangkar terakhir sebelum ia melompat ke kekosongan.

Raguel menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tampak terlalu ceria untuk situasi segawat ini. Ia mengangkat topinya sedikit, salam kuno yang terasa anakronistik namun tulus.

“Tiga hari,” ulangnya. “Aku akan menunggu di pohon beringin besar di perbatasan timur. Yang dengan akar-akar besar itu. Tempat yang bagus untuk tidur siang.”

“Jangan tidur siang di sana,” kata Kavka datar. “Penduduk akan mengira kau hantu.”

Raguel tertawa, tawa yang keras, lepas, dan penuh kehidupan, mengisi gubuk kecil itu dengan suara yang sudah lama tidak terdengar di sana. Suara yang, meskipun Kavka tidak akan pernah mengakuinya, terasa... menyenangkan.

“Aku suka kau, Kavka Helios,” kata Raguel, masih tertawa, saat ia melangkah keluar dari gubuk ke dalam hujan yang tersisa. “Kau datar, menyeramkan, dan punya selera humor yang buruk. Tapi aku suka kau.”

Kavka tidak menjawab. Ia menutup pintu gubuknya, kembali ke kesunyiannya yang familiar, dan menatap peta di tangannya.

Di luar, samar-samar, ia mendengar Raguel kembali bersiul, melodi koboi yang sama, melankolis dan bebas, menjauh perlahan bersama langkah-langkah berat yang menghantam tanah becek Sentana.

Malam telah berakhir. Keputusan telah dibuat. Dan untuk pertama kalinya dalam dua ratus tahun, Kavka Helios tidak lari dari masa lalunya.

Ia berjalan menuju masa lalunya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk