Bab 1 : Tujuh Belas Tahun

0 dibaca

A

Bau kembang kenanga yang mulai layu menguar dari mangkuk tanah liat di sudut dipan, bercampur dengan aroma minyak tanah dari lampu senthir yang apinya menari ditiup angin malam. Di dapur yang dinding gedeknya sudah mulai lapuk, Sumini duduk bersimpuh. Tangannya yang kasar dan gemetar sedang mengaduk bubur merah putih di atas tungku yang apinya tinggal bar bara merah.

Langkah kaki ringan terdengar mendekat. Sumini tersentak, sendok kayunya hampir saja terlepas dari genggaman. Ia menoleh dan mendapati Maryam berdiri di ambang pintu dapur. Rambut gadis itu panjang terurai, hitam pekat seolah menyerap seluruh cahaya temaram di ruangan itu.

“Mbok, kok dereng tilem? (Bu,kok belum tidur?) Ini sudah lewat tengah malam,” kata Maryam dengan suara halus, namun entah mengapa terdengar lebih berat di telinga Sumini.

Sumini menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Ia memaksakan sebuah senyum yang tampak seperti guratan luka di wajahnya yang kuyu.

“Ngenteni kowe, Nduk. Reneo, lungguh kene cedhak Simbok,” (menunggu kamu,nak.kemari,duduk sini dekat ibu)  sahut Sumini sambil menepuk lantai bambu di sampingnya.

Maryam mendekat, gerakannya luwes, hampir tidak menimbulkan suara. Ketika ia duduk, semilir angin dingin yang tidak wajar ikut berembus masuk, membuat api senthir hampir padam. Sumini memperhatikan wajah putrinya. Maryam genap berusia tujuh belas tahun tepat saat lonceng jam di balai desa berdentang tadi. Ada yang berbeda pada sorot mata itu. Tidak lagi jernih seperti embun, melainkan tampak seperti telaga yang dalam dan gelap.

“Kenapa Mbok lihat Maryam seperti itu? Ada yang salah dengan muka saya?” tanya Maryam sambil merapikan helai rambutnya ke belakang telinga.

“Mboten, Nduk. Ora ana sing kleru. Simbok mung kaget, kowe wis dadi perawan kencur sing ayu banget. Kaya...” (tidak,nak.tidak ada yang salah. Ibu hanya terkejut, kamu sudah jadi gadis cantik. Mirip...) Sumini menggantung kalimatnya. Ia ingin mengatakan ‘kaya eyangmu’, tapi lidahnya kelu.

“Kaya siapa, Mbok?” kejar Maryam.

Sumini menggeleng cepat. Ia mengambil piring kayu, menyendokkan bubur merah putih ke dalamnya dengan tangan yang masih gemetar.

“Wis, ora usah dipikir. Iki dipangan dhisik. Syukuran kanggo umurmu sing wis tuju welas. Ben slamet, ben adoh saka sambikala,” (sudah,tidak usah dipikir. Ini dimakan dulu. Syukuran untuk umurmu yang sudah tujuh belas tahun. Biar selamat dan jauh dari marabahaya) ucap Sumini dengan nada suara yang penuh permohonan, seolah ia sedang merayu takdir agar tidak menjemput putrinya.

Maryam menerima piring itu, tapi ia tidak segera makan. Ia menatap bubur itu dengan tatapan kosong.

“Tadi sore, waktu Maryam di sumur, ada suara yang manggil, Mbok. Suaranya kayak dari dalam tanah, tapi juga kayak dari balik kuping sendiri. Maryam cari-cari orangnya, tapi nggak ada siapa-siapa,” cerita Maryam pelan.

Sumini merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia meremas pinggiran kain sinjangnya kuat-kuat.

“Paling mung angin, Nduk. Aja dipikir nemen-nemen. Kowe mung kesel,”(hanya angin,nak jangan terlalu dipikir.kamu hanya kecapekan) sahut Sumini cepat, berusaha menutupi kegelisahannya.

“Tapi baunya wangi, Mbok. Wangi bunga yang busuk. Dan sejak tadi, punggung Maryam rasanya berat sekali. Kayak ada yang nggendong,” Maryam menoleh ke arah bahunya sendiri, seolah berharap bisa melihat sesuatu yang tidak kasatmata di sana.

Sumini bangkit berdiri dengan tergesa, hampir menabrak kuali di sampingnya. Ia mendekati Maryam dan memegang kedua bahu putrinya. Kulit Maryam terasa sedingin es, meski mereka berada di depan tungku api yang masih hangat.

“Rungokno Simbok, Maryam. Apa wae sing mbok rungu, apa wae sing mbok rasa, aja mbok tanggapi. Aja pisan-pisan mbok celuk balik. Ngerti?”(Dengar ibu,Maryam.apa yang kamu dengar, yang kamu rasa, jangan ditanggapi. Jangan menoleh ketika dipanggil. Mengerti?) suara Sumini gemetar, hampir seperti bisikan penuh ketakutan.

Maryam menatap ibunya dengan bingung. “Kenapa, Mbok? Memangnya ada apa dengan usia tujuh belas? Kenapa Simbok ketakutan sekali sejak tadi sore?”

Sumini tidak menjawab. Ia justru memeluk Maryam dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, putrinya akan lenyap ditelan kegelapan malam. Di luar rumah, suara burung uncuing mulai terdengar, menyanyi panjang di antara dahan pohon kamboja di belakang rumah.

“Simbok cuma nggak mau kehilangan kowe, Nduk. Wis, saiki ayo mlebu kamar. Bubure dimaem ning njero wae,”(Ibu hanya tidak mau kehilanganmu, nak. Sudah sekarang  masuk kamar. Buburnya dimakan didalam saja)  kata Sumini sambil menuntun Maryam keluar dari dapur.

Saat mereka berjalan menyusuri selasar rumah yang gelap, Maryam mendadak berhenti tepat di depan cermin tua yang bingkainya terbuat dari kayu jati berukir. Cahaya bulan yang masuk dari celah genting jatuh tepat di atas permukaan kaca yang mulai buram itu.

“Mbok, lihat,” bisik Maryam.

Sumini terpaksa menoleh ke arah cermin. Di dalam pantulan kaca, ia melihat Maryam berdiri tegak. Namun, di belakang bayangan Maryam, ada sepasang mata merah yang mengintip dari kegelapan, dan sebuah tangan pucat dengan kuku-kuku hitam yang panjang tampak bersandar di pundak Maryam.

Sumini menjerit tertahan, ia segera menarik Maryam menjauh dari cermin itu dan menutup mata putrinya dengan telapak tangannya yang kasar.

“Aja ndelok! Ayo cepet mlebu!”(jangan di lihat! Ayo masuk)  seru Sumini dengan suara pecah.

“Lho, Mbok, kenapa ditarik? Maryam cuma mau lihat bedak Maryam sudah rata atau belum,” kata Maryam dengan nada polos yang justru membuat kuduk Sumini merinding.

Sumini tidak menjawab. Ia terus menyeret Maryam masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, napasnya memburu. Di dalam kegelapan kamar itu, Maryam hanya diam, berdiri mematung di tengah ruangan.

“Mbok,” panggil Maryam pelan.

“Dalem, Nduk?”(iya, nak?) 

“Kenapa bayangan di cermin tadi nggak punya wajah? Tapi dia manggil Maryam dengan nama asli yang Simbok rahasiakan,” bisik Maryam.

Sumini merosot jatuh ke lantai. Air matanya luruh. Rahasia yang ia pendam selama tujuh belas tahun, rahasia tentang perjanjian darah dan tumbal keluarga, seolah mulai retak dan siap pecah berkeping-keping tepat di hari kedewasaan putrinya.

“Simbok, dia bilang dia sudah nunggu Maryam di bawah pohon randu alas,” lanjut Maryam. Suaranya kini terdengar ganjil, ada nada tawa kecil yang menyelinap di sela-sela kata-katanya.

Sumini memejamkan mata rapat-rapat, merapal doa-doa yang ia ingat, meski ia tahu bahwa di rumah ini, doa-doa itu mungkin tak akan pernah sampai ke langit. Di depannya, Maryam mulai bersenandung sebuah tembang macapat yang belum pernah diajarkan oleh siapa pun, namun ia menyanyikannya dengan sangat fasih, seolah-olah lidahnya sudah terbiasa dengan bahasa orang-orang yang sudah lama mati.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk