Suara tembang macapat itu perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang lebih pekat daripada malam di luar sana. Maryam masih mematung, matanya yang biasa bening kini tampak kelabu, memantulkan cahaya pelita yang bergetar di atas meja kayu. Sumini merasakan bulu kuduknya meremang. Udara di dalam kamar itu mendadak menjadi dingin, seolah-olah pori-pori dinding papan rumah mereka mengisap seluruh kehangatan yang tersisa. Bau wangi kembang kenanga yang layu bercampur dengan aroma anyir yang entah dari mana asalnya, menusuk penciuman Sumini hingga ia merasa mual.
“Wis, nduk, wis cukup. Jangan diteruskan lagi,” bisik Sumini dengan suara serak. Ia merangkak mendekat, lalu meraih jemari putrinya yang terasa sedingin es.
Maryam menoleh pelan. Gerakan lehernya kaku, seperti engsel pintu tua yang berkarat. Ada senyum tipis yang tak sampai ke mata, sebuah senyum yang bukan milik Maryam yang selama ini Sumini kenal. Selama tujuh belas tahun, Sumini telah berusaha keras membasuh jejak-jejak kegelapan dari kening anaknya, namun malam ini, segala usahanya seakan sia-sia. Takdir yang ia takuti telah mengetuk pintu, dan ia tak lagi punya tempat untuk bersembunyi.
“Simbok takut?” tanya Maryam. Suaranya datar, tanpa nada, namun ada getaran aneh yang bergema di dada Sumini.
“Simbok hanya ingin kamu selamat, nduk. Kamu tidak tahu apa yang sedang bermain-main dengan pikiranmu,” sahut Sumini sambil berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia memeluk Maryam erat-erat, berharap degup jantungnya sendiri bisa mengusir irama ganjil yang merasuki raga putrinya.
Di luar, angin berhembus kencang, mengguncang dahan-dahan pohon randu alas yang berdiri angkuh di pinggir desa. Dari arah belakang rumah, tercium aroma kemenyan yang dibakar. Itu adalah aroma yang sangat akrab bagi mereka, aroma yang selalu menyertai keberadaan Wongso, ayah Maryam. Wongso adalah lelaki yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruang kecil di sudut belakang rumah, sebuah ruangan gelap yang selalu terkunci dan hanya boleh dimasuki olehnya. Di desa ini, orang-orang mengenalnya sebagai orang pintar, tempat mencari penyembuhan atau sekadar menanyakan hari baik. Namun, bagi Sumini, Wongso adalah sebuah teka-teki yang menjerat hidupnya dalam ketakutan abadi.
“Bapak sedang apa, mbok? Baunya menusuk sekali,” ucap Maryam sambil mengendus udara. Matanya mulai kembali jernih, namun raut wajahnya menyiratkan kebingungan yang mendalam.
Sumini melepaskan pelukannya dan menatap wajah Maryam lamat-lamat. Ia tahu bahwa malam ini, rahasia itu harus ia tumpahkan. Jika ia terus bungkam, Maryam akan terseret lebih jauh ke dalam lubang yang telah digali oleh leluhur mereka.
“Dengarkan simbok, nduk. Bapakmu bukan sekadar dukun biasa yang menolong orang sakit,” kata Sumini dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia memastikan pintu kamar tertutup rapat, khawatir jika bayangan Wongso tiba-tiba muncul di ambang pintu.
“Lalu apa? Mengapa orang-orang memanggilnya dengan hormat sekaligus takut?” tanya Maryam, rasa ingin tahu mulai mengikis ketakutannya.
Sumini menarik napas panjang, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menindihnya. “Bapakmu sedang merawat sesuatu yang sudah ada jauh sebelum kamu lahir. Di dalam darah keluarga bapakmu, ada sebuah perjanjian tua. Mereka menyebutnya Ilmu Penjaga, tapi simbok tahu itu bukan penjaga. Itu adalah jerat. Wongso mempelajari ilmu hitam yang diwariskan turun-temurun oleh kakek buyutmu. Sebuah ilmu yang membutuhkan pertukaran, sebuah janji yang harus dibayar dengan setiap tetes kesadaran dan kebebasan pemiliknya.”
Maryam terdiam, wajahnya pucat pasi. “Ilmu hitam? Tapi Bapak selalu bilang dia berdoa untuk orang-orang.”
Sumini tersenyum pahit, sebuah senyum penuh luka yang telah ia simpan selama hampir dua dekade. “Doa bapakmu tidak dipanjatkan ke langit, nduk. Doanya dikubur di bawah akar randu alas dan dihembuskan lewat asap kemenyan kepada mereka yang tak terlihat. Itulah alasan mengapa bapakmu begitu tertutup. Dia tidak bisa membagi dunianya dengan kita tanpa menarik kita ke dalamnya. Dan sekarang, saat usiamu genap tujuh belas tahun, pintu itu mulai terbuka untukmu. Darah bapakmu mengalir di nadimu, membawa serta beban yang selama ini dia pikul sendirian.”
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang berat mendekati kamar. Langkah itu stabil, berwibawa, namun membawa aura yang menyesakkan. Pintu kamar berderit perlahan, dan di sana berdirilah Wongso. Tubuhnya tinggi tegap, dibalut kain sarung gelap dan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka. Matanya tajam, sepasang mata yang seolah bisa melihat menembus kegelapan malam dan rahasia yang paling dalam.
“Mengapa kalian belum tidur?” tanya Wongso. Suaranya rendah dan dalam, bergema di ruangan yang sempit itu. Ia tidak menatap Sumini, melainkan memaku pandangannya pada Maryam.
Sumini gemetar, ia mencoba berdiri di depan Maryam, seolah ingin menjadi perisai bagi putrinya. “Kami baru saja akan tidur, Pak.”
Wongso melangkah masuk ke dalam kamar. Ruangan itu seketika dipenuhi bau asap kemenyan yang pekat, seakan asap itu keluar dari pori-pori kulitnya sendiri. Ia mendekati Maryam, lalu meletakkan tangannya yang kasar di atas kepala putrinya. Maryam tidak menghindar, namun Sumini bisa melihat jemari Maryam meremas pinggiran kain tempat tidurnya.
“Kamu sudah besar, nduk. Tujuh belas tahun adalah waktu di mana pohon harus mulai menunjukkan buahnya,” ucap Wongso dengan nada yang nyaris menyerupai bisikan lembut, namun terasa seperti ancaman bagi telinga Sumini.
“Bapak, apa yang Simbok katakan tadi benar?” tanya Maryam dengan suara bergetar.
Wongso tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan ke arah istrinya, memberikan tatapan dingin yang membuat Sumini nyaris kehilangan napas. Kemudian, ia kembali menatap Maryam dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara kebanggaan dan sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang menyerupai rasa lapar.
“Simbokmu hanya terlalu banyak khawatir, nduk. Apa yang ada di dalam rumah ini adalah warisan. Dan warisan tidak pernah salah, ia hanya menunggu pemilik yang sah untuk menerimanya. Jangan takut pada kegelapan, karena di sanalah kekuatan yang sebenarnya bersembunyi,” jawab Wongso.
Wongso kemudian berbalik dan meninggalkan kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Sumini jatuh terduduk di lantai, tangisnya yang tertahan akhirnya pecah tanpa suara. Ia tahu bahwa pengakuannya tadi hanya awal dari bencana yang lebih besar. Rahasia Wongso bukan lagi sekadar cerita tentang ilmu hitam, melainkan sebuah kontrak yang kini mulai menagih haknya melalui raga Maryam. Di bawah cahaya pelita yang makin meredup, Sumini menyadari bahwa di rumah ini, mereka tidak pernah benar-benar hanya bertiga. Ada sesuatu yang lain yang ikut tumbuh bersama Maryam, sesuatu yang kini sedang tersenyum di bawah bayang-bayang pohon randu alas.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!