Matahari pagi menembus celah ventilasi dapur yang sempit, menyinari butiran debu yang beterbangan di udara. Maryam berdiri di depan kompor, tangannya bergerak mekanis mengaduk sayur lodeh di dalam panci. Matanya merah dan bengkak karena ia sama sekali tidak memejamkan mata setelah kejadian bayangan di dinding tadi malam. Ia terus memperhatikan punggung Joko yang sedang duduk di meja makan kecil, sibuk memakai kaus kaki dan bersiap berangkat kerja.
“Mas,” panggil Maryam. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh suara bising motor yang lewat di depan kontrakan mereka.
Joko menoleh, wajahnya tampak segar setelah mandi, sangat kontras dengan wajah Maryam yang pucat. “Iya, Maryam? Ada apa? Kamu kelihatan kurang tidur lagi.”
Maryam meletakkan sendok sayur, lalu mendekat ke arah suaminya. Ia meremas ujung daster batiknya dengan gelisah. “Tadi malam, aku melihat sesuatu lagi. Bayanganku di dinding bergerak sendiri. Dia melambai padaku, Mas. Aku sungguh-sungguh melihatnya.”
Joko menghela napas panjang, lalu berdiri dan memegang kedua bahu istrinya. “Maryam, kita sudah bahas ini berkali-kali. Kamu baru saja melahirkan Ningsih satu bulan yang lalu. Tubuhmu masih lelah, pikiranmu sedang tegang. Apa yang kamu lihat itu hanya halusinasi karena kurang istirahat. Aku tidak melihat apa-apa di sana semalam.”
“Tapi ini berbeda, Mas. Rasanya nyata. Ada bau bunga kantil juga di kamar kita,” sanggah Maryam, suaranya naik satu nada.
“Bau bunga itu mungkin dari pewangi cucian atau dari tetangga sebelah yang sedang menanam bunga. Tolong, jangan buat dirimu sendiri ketakutan. Aku harus berangkat sekarang agar tidak terlambat sampai di bengkel,” kata Joko sambil mengecup kening Maryam. Ia mengambil tas punggungnya dan berjalan menuju pintu. “Kalau ada apa-apa, kunci pintu dan segera telepon ke warung sebelah, nanti mereka akan panggil aku.”
Setelah suara motor Joko menjauh dan menghilang di belokan gang, keheningan yang janggal mendadak menyergap rumah itu. Maryam kembali ke dapur untuk mematikan kompor. Saat ia hendak memutar tombol gas, ia membeku. Sayur lodeh di dalam panci yang tadi berwarna santan putih kekuningan, kini berubah menjadi merah pekat dan mengeluarkan uap berbau karat yang menyengat hidung.
Maryam mundur selangkah, napasnya memburu. Ia melihat ke dalam panci itu sekali lagi. Di permukaan kuah yang mendidih, muncul potongan rambut hitam yang panjang dan kasar, bergulung-gulung seolah ada sesuatu yang sedang mengaduknya dari dasar panci. Ia segera mematikan kompor dan menutup panci itu dengan gemetar. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan keras.
Ia berlari menuju kamar untuk memeriksa Ningsih. Bayinya masih tertidur pulas di dalam boks kayu. Maryam duduk di pinggir tempat tidur, mencoba menenangkan diri. Ia meyakinkan dirinya bahwa apa yang terjadi di dapur tadi mungkin hanya kelelahan matanya. Namun, saat ia mulai tenang, ia mendengar suara air yang mengalir dari kamar mandi.
Suara itu terdengar jelas. Suara air yang tumpah dari bak mandi karena sudah terlalu penuh. Padahal, Maryam ingat betul ia sudah menutup keran setelah Joko selesai mandi tadi. Dengan langkah berat dan tangan yang dingin, ia berjalan menuju bagian belakang rumah. Pintu kamar mandi yang tadi tertutup rapat, kini sedikit terbuka.
Maryam mendorong pintu itu perlahan. Uap air yang dingin keluar dari dalam ruangan, meski udara di luar terasa panas. Lantai kamar mandi sudah digenangi air. Yang membuat Maryam hampir berteriak adalah warna air tersebut. Air yang meluap dari bak mandi bukan air jernih, melainkan air keruh berwarna cokelat tua yang dipenuhi lumpur dan daun-daun kering yang sudah busuk, persis seperti air sungai yang pernah menyeretnya di kaki gunung.
“Siapa di sana?” tanya Maryam dengan suara bergetar.
Tidak ada jawaban. Hanya suara tetesan air dari keran yang tiba-tiba berhenti mengalir sendiri. Maryam menatap bayangannya di cermin buram di atas wastafel. Wajahnya di cermin tampak lebih tua, dengan mata yang cekung dan kulit yang mulai menghitam di bagian leher. Saat ia memperhatikan lebih dekat, bayangan itu mulai tersenyum, tetapi bibir Maryam sendiri tetap terkatup rapat.
Tiba-tiba, terdengar suara tangisan Ningsih dari dalam kamar. Tangisannya tidak seperti biasanya. Itu bukan tangisan bayi yang lapar, melainkan jeritan ketakutan yang melengking tinggi. Maryam segera berbalik dan berlari sekuat tenaga kembali ke kamar.
Begitu sampai di ambang pintu kamar, Maryam jatuh terduduk. Boks bayi Ningsih sedang bergoyang-goyang dengan kencang seolah ada tangan tak kasat mata yang mengguncangnya dengan kasar. Di atas boks itu, puluhan lalat hitam besar terbang berputar-putar, menciptakan suara dengungan yang memekakkan telinga.
“Pergi! Tinggalkan anakku!” teriak Maryam.
Ia merangkak maju, mencoba meraih boks bayi itu. Begitu tangannya menyentuh kayu boks, guncangan itu berhenti seketika. Lalat-lalat itu jatuh bergelimpangan ke lantai dalam keadaan mati. Maryam segera mengangkat Ningsih dan memeluknya erat-erat. Tubuh bayi itu terasa sangat dingin, sedingin es yang baru keluar dari lemari pembeku.
Saat Maryam memeluk bayinya, ia merasakan ada sesuatu yang merayap di punggung dasternya. Sesuatu yang terasa seperti jemari panjang dan kurus. Ia menoleh perlahan ke arah cermin lemari di sudut kamar. Di belakangnya, berdiri sosok perempuan dengan rambut menutupi seluruh wajahnya, mengenakan kain jarik yang basah kuyup dan berlumuran tanah. Tangan sosok itu sedang menyentuh pundak Maryam.
“Wadah... sudah... siap...” bisik sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu.
Maryam memejamkan mata rapat-rapat dan mulai merapal doa apa pun yang ia ingat. Ia tidak berani membuka mata, meski ia merasakan embusan napas dingin tepat di tengkuknya. Bau bunga kantil kini memenuhi seluruh ruangan, begitu kuat hingga membuatnya merasa mual.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Saat Maryam akhirnya memberanikan diri membuka mata, sosok itu sudah hilang. Ruangan kembali normal, kecuali suhu udara yang masih terasa janggal dan puluhan bangkai lalat yang masih berserakan di lantai. Ningsih mulai berhenti menangis dan kembali tertidur, namun di pipi bayi itu terdapat bekas telapak tangan kecil berwarna kebiruan, seolah-olah seseorang baru saja mengusapnya dengan tekanan yang kuat.
Maryam merapat ke dinding, memeluk anaknya dengan kekuatan yang tersisa. Ia menyadari bahwa gangguan ini bukan lagi sekadar bayangan atau halusinasi. Warisan ayahnya telah menemukannya di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Pelariannya selama ini sia-sia, karena apa pun yang ia bawa dari rumah di bawah pohon randu alas itu, kini sudah mulai terbangun dan menuntut haknya atas kehidupan yang baru saja ia mulai. Maryam tahu, ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kata-kata masuk akal milik Joko. Malam nanti, ia harus menghadapi apa pun yang kini sedang bersembunyi di sudut-sudut gelap rumahnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!