Bab 17 : Bayangan

2 dibaca

A

Maryam tersentak dari tidurnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan keras. Ia mengatur napas, mencoba menenangkan diri di tengah kegelapan yang tiba-tiba. Di sampingnya, Joko mendengkur halus, sama sekali tidak terganggu oleh matinya lampu atau perubahan suasana di dalam ruangan itu.


Maryam bangkit dari kasur tipis mereka. Sendi-sendinya terasa kaku. Ia menoleh ke arah boks bayi kayu yang terletak hanya satu meter dari ujung kakinya. Di sanalah Ningsih tidur. Cahaya dari lampu jalan di luar rumah masuk melalui celah ventilasi, membentuk garis-garis putih pucat di atas lantai semen. Maryam menyipitkan mata, berusaha melihat wajah putrinya dengan jelas.


Awalnya, ia hanya melihat tumpukan selimut bayi yang tidak bergerak. Namun, saat matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, ia melihat ada sesuatu yang salah. Di samping tempat tidur Ningsih, berdiri sebuah sosok. Sosok itu sangat tinggi, kepalanya hampir menyentuh plafon rumah yang rendah. Bentuknya menyerupai manusia, tetapi tubuhnya terlalu kurus dan jari-jarinya sangat panjang.


Sosok itu tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, membungkuk sedikit seolah sedang memperhatikan bayi yang sedang terlelap. Maryam ingin berteriak, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan. Lidahnya terasa kelu dan kering. Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk membangunkan Joko, tetapi tubuhnya seolah terkunci oleh rasa takut yang luar biasa.


Sosok hitam itu perlahan-lahan mengulurkan tangan panjangnya. Jari-jarinya yang pucat dan tampak tajam bergerak mendekati pipi Ningsih. Maryam bisa melihat kuku-kuku hitam yang panjang dari makhluk itu. Ia memaksakan dirinya untuk bersuara, meskipun hanya bisikan yang pecah.


“Pergi,” kata Maryam dengan suara gemetar.


Sosok itu berhenti bergerak. Kepalanya yang sedari tadi menunduk perlahan-lahan terangkat. Maryam tidak melihat adanya mata, hidung, atau mulut di wajah makhluk itu. Wajahnya rata, hanya ditutupi oleh kulit yang terlihat seperti kain busuk yang lembap. Makhluk itu memutar tubuhnya menghadap Maryam.


Meskipun tidak ada mata, Maryam merasa makhluk itu sedang menatapnya dengan penuh kebencian. Hawa dingin merambat dari lantai, naik ke kaki Maryam, dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Bau bunga kantil yang busuk mulai memenuhi ruangan, mengalahkan bau bedak bayi yang biasanya menenangkan.


“Mas... Mas Joko, bangun,” rintih Maryam sambil menyikut lengan suaminya.


Joko hanya bergumam tidak jelas dan membalikkan badannya membelakangi Maryam. Putus asa, Maryam meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal dan menyalakan lampu senter di perangkat itu. Cahaya putih tajam membelah kegelapan kamar.


Seketika, sosok tinggi itu hilang. Di samping tempat tidur Ningsih tidak ada siapa-siapa. Kamar itu kembali kosong, hanya ada lemari baju plastik dan jemuran handuk di sudut ruangan. Ningsih bergerak sedikit dalam tidurnya, mengeluarkan suara rengekan kecil sebelum kembali diam.


Maryam menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Ia bangkit berdiri dengan kaki yang masih lemas, lalu berjalan mendekati boks bayi. Ia ingin memastikan Ningsih baik-baik saja. Saat ia mengarahkan cahaya ponsel ke dalam boks, Maryam hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai.


Di atas selimut putih milik Ningsih, terdapat bekas telapak tangan berukuran besar. Warnanya hitam seperti bekas jelaga atau arang yang basah. Bekas tangan itu berada tepat di samping kepala bayinya. Maryam menyentuh bekas itu dengan ujung jarinya. Terasa dingin sekali, lebih dingin daripada air es.


“Siapa kamu sebenarnya?” bisik Maryam.


Tiba-tiba, terdengar suara tawa kecil dari arah bawah tempat tidur. Suaranya melengking dan terdengar sangat dekat. Maryam mundur selangkah, menyorotkan lampu ponselnya ke kolong tempat tidur, tetapi ia tidak menemukan apa pun selain debu dan beberapa kardus bekas.


“Maryam?”


Suara Joko membuat Maryam meloncat karena kaget. Joko sudah duduk di tempat tidur sambil mengucek matanya. Ia menyipitkan mata karena silau terkena cahaya senter ponsel Maryam.


“Kamu sedang apa? Kenapa berdiri di situ?” tanya Joko dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


“Ada sesuatu di sini, Mas. Di dekat Ningsih,” jawab Maryam dengan napas yang masih memburu.


Joko mengerutkan kening. Ia bangkit dan menyalakan sakelar lampu utama di dinding. Lampu neon itu berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala terang, menerangi seluruh sudut kamar. Joko berjalan mendekati Maryam dan melihat ke dalam boks bayi.


“Apa maksudmu? Ningsih tidur nyenyak begini,” kata Joko sambil mengusap kepala Ningsih.


“Lihat ini, Mas. Ada bekas tangan hitam di selimutnya!” Maryam menunjuk ke arah selimut itu.


Joko menatap selimut putih itu dengan teliti, lalu menatap Maryam dengan bingung.


“Bekas apa? Selimutnya bersih, Mar. Tidak ada apa-apa di sini.”


Maryam tertegun. Ia melihat kembali ke arah selimut itu. Bekas telapak tangan hitam yang tadi ia lihat dengan sangat jelas kini benar-benar hilang. Selimut itu putih bersih tanpa noda sedikit pun. Maryam mengucek matanya berkali-kali, tetapi hasilnya tetap sama. Noda itu sudah lenyap.


“Tadi ada di sini, Mas. Benar-benar ada. Sosok tinggi besar juga berdiri di sini tadi,” ujar Maryam dengan nada mendesak. Ia mulai merasa sedikit gila karena apa yang ia lihat tidak bisa dilihat oleh suaminya.


Joko memegang bahu Maryam dan menatap matanya dalam-dalam.


“Kamu cuma kecapekan, Mar. Sejak Ningsih lahir, kamu kurang tidur. Kamu pasti cuma berhalusinasi karena stres. Tidurlah lagi, besok kita bicara lagi.”


“Aku tidak berhalusinasi, Mas Joko. Aku tahu apa yang aku lihat,” protes Maryam.


Joko menghela napas panjang dan menuntun Maryam kembali ke kasur.


“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Aku ada di sini. Tidak akan ada yang berani macam-macam di rumah kita. Ayo, tidur.”


Maryam terpaksa berbaring kembali. Joko mematikan lampu dan kembali tidur, dalam beberapa menit suaranya sudah kembali terdengar teratur. Namun, Maryam tidak bisa menutup matanya. Ia berbaring miring menghadap boks Ningsih.


Di tengah kesunyian malam itu, Maryam melihat bayangan dirinya sendiri di dinding yang terkena cahaya lampu jalan. Bayangan itu seharusnya mengikuti gerakannya. Namun, saat Maryam tetap diam tidak bergerak, bayangan di dinding itu perlahan-lahan mengangkat tangannya dan melambai ke arah Maryam. Maryam menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak menjerit. Ia menyadari bahwa di rumah ini, ia tidak akan pernah benar-benar aman. Bayangan itu terus melambai, seolah-olah sedang menyapa seorang kawan lama yang akhirnya pulang.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk