Udara dingin meresap menembus kain jarik yang melilit tubuh Maryam. Ia terus berjalan, mencoba mengabaikan rasa perih di telapak kakinya yang tidak beralas. Di sekelilingnya, pohon-pohon pinus berdiri tegak seperti barisan raksasa yang mengawasinya dalam diam. Bau getah pinus yang tajam bercampur dengan aroma tanah basah menusuk indra penciumannya. Maryam tahu sekarang pasti sudah jam tiga pagi, saat di mana batas antara dunia nyata dan dunia yang sering diceritakan Simbok menjadi sangat tipis.
“Berhenti sebentar, Maryam. Kakimu sudah berdarah,” sebuah suara terdengar begitu dekat, seolah-olah ada seseorang yang membisikkannya tepat di samping telinganya.
Maryam tersentak, namun ia tetap menatap lurus ke depan. Tangannya mencengkeram erat bungkusan kecil berisi bekal yang diberikan ibunya. Ia teringat pesan Simbok dengan sangat jelas: jangan menoleh, apa pun yang terjadi.
“Aku tahu kamu lapar. Ada sisa nasi jagung di dalam tasmu itu, kan? Makanlah dulu,” suara itu kembali terdengar. Kali ini nadanya lebih lembut, menyerupai suara Simbok saat membujuknya makan waktu kecil.
“Kamu bukan Simbok,” bisik Maryam pelan. Suaranya bergetar, memecah kesunyian hutan yang hanya diisi oleh suara jangkrik dan gesekan dahan pohon yang ditiup angin.
Suara itu tertawa kecil. Bunyinya seperti gesekan amplas pada kayu tua. “Tentu saja bukan. Tapi aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku ada di sini, di bawah kulitmu, mengalir bersama darahmu. Kenapa kamu harus lari dari aku?”
Maryam mempercepat langkahnya. Ia hampir tersandung akar pohon yang menonjol di jalur setapak. Napasnya mulai memburu, uap tipis keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas. Kegelapan di hutan ini terasa berbeda. Bukan sekadar tidak ada cahaya, tapi seolah-olah kegelapan itu memiliki berat yang menekan pundaknya.
“Mau lari sampai ke mana pun, aku akan tetap ikut,” lanjut suara di dalam kepalanya. “Hutan ini luas, Maryam. Kamu tidak akan sampai ke jalan besar sebelum matahari terbit. Dan di jam-jam seperti ini, penghuni hutan ini sedang senang-senangnya mencari teman bermain.”
Tiba-tiba, dari balik semak-semak di sebelah kanannya, terdengar suara dahan patah yang cukup keras. Maryam mematung. Matanya menangkap bayangan hitam yang bergerak cepat di antara batang-batang pohon pinus. Sesuatu yang berukuran besar sedang mengikutinya dari samping.
“Siapa di situ?” tanya Maryam dengan suara keras, berusaha menutupi rasa takutnya.
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang mendesing melewati celah-celah daun pinus yang runcing. Maryam kembali melangkah, kali ini hampir berlari. Namun, suara langkah kaki di sampingnya juga ikut berderap lebih cepat. Setiap kali Maryam berhenti, suara itu juga berhenti.
“Jangan menoleh, Maryam,” ia memperingatkan dirinya sendiri dalam hati. “Hanya lurus ke depan. Hanya lurus ke depan.”
“Maryam... tolong, Nduk...”
Kali ini suara itu benar-benar terdengar nyata. Itu suara Simbok, tapi terdengar sangat lemah dan penuh penderitaan. Suara itu berasal dari arah belakangnya, hanya beberapa meter jauhnya.
“Simbok?” Maryam nyaris memutar lehernya, namun ia segera mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Tolong Simbok, Maryam... Bapakmu marah besar. Dia... dia mau membunuh Simbok karena kamu pergi,” rintih suara itu. Suara tangisan yang pecah dan memilukan itu sangat mirip dengan tangisan ibunya saat mereka berada di dapur tadi malam.
Maryam berhenti melangkah. Dadanya sesak. Logikanya mengatakan bahwa itu hanya tipuan, tapi hatinya hancur mendengar rintihan itu. “Simbok? Benarkah itu Simbok?”
“Iya, Nduk. Simbok mengejarmu. Kakiku sakit, aku terjatuh di dekat pohon pinus yang besar ini. Tolong bantu Simbok berdiri,” pinta suara itu lagi.
Maryam menutup telinganya dengan kedua tangan. “Tidak, Simbok menyuruhku pergi. Simbok tidak mungkin mengejarku ke sini. Kamu bohong!”
“Kamu anak durhaka kalau membiarkan ibumu mati kedinginan di sini sendirian,” suara itu kini berubah menjadi dingin dan penuh kebencian. “Lihatlah ke belakang, Maryam. Hanya satu detik. Pastikan apakah itu benar ibumu atau bukan. Apa kamu setega itu?”
Lidah Maryam terasa kelu. Keringat dingin mengucur di punggungnya meski udara malam itu membekukan. Ia merasakan tarikan yang sangat kuat untuk memutar tubuhnya. Rasanya seperti ada magnet yang menarik wajahnya untuk melihat ke arah kegelapan di belakangnya.
“Aku tidak akan menoleh,” kata Maryam dengan nada tegas, meskipun tubuhnya gemetar hebat. “Kalau kamu memang ibuku, kamu pasti ingin aku selamat. Kamu tidak akan memintaku berhenti.”
Hening sejenak. Suara tangisan itu tiba-tiba berhenti. Sebagai gantinya, terdengar tawa melengking yang menggema di seluruh penjuru hutan pinus. Pohon-pohon di sekitarnya seolah ikut bergoyang karena tawa itu. Bayangan hitam yang tadi mengikutinya kini melompat ke atas dahan pohon, membuat ranting-ranting patah dan berjatuhan.
“Pintar,” bisik suara di dalam kepalanya, kali ini terdengar bangga. “Wadahku memang pintar. Kamu belajar dengan cepat, Maryam. Tapi ingat, hutan ini masih sangat panjang, dan aku tidak punya pekerjaan lain selain menemanimu sampai pagi tiba.”
Maryam tidak menjawab. Ia kembali berjalan, mengabaikan segala suara dan bayangan yang menari di sudut matanya. Ia memusatkan pandangannya pada setitik cahaya redup di kejauhan, entah itu lampu rumah penduduk atau hanya tipuan matanya. Di bawah langit yang masih gelap, di antara ribuan pohon pinus yang membisu, Maryam terus melangkah maju sambil membawa beban yang tidak terlihat di dalam jiwanya. Ia tahu, perjalanan ini baru saja dimulai, dan jam tiga pagi hanyalah awal dari malam yang tidak akan pernah benar-benar berakhir baginya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!