Langkah kaki Maryam terasa semakin berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak berusaha mengisap sisa-sisa kekuatannya ke dalam perut bumi. Embun pagi yang dingin mulai menembus kain jarik yang ia kenakan, menyisakan rasa perih di kulit kakinya yang telanjang dan dipenuhi luka goresan ranting. Di sekelilingnya, deretan pohon pinus masih berdiri tegak layaknya prajurit bisu yang mengawasi setiap geraknya dengan tatapan tajam yang tak terlihat. Udara di sini berbau tanah basah, lumut, dan aroma anyir yang samar, menciptakan suasana pengap yang menghimpit paru-parunya meski ia berada di ruang terbuka.
Setiap embusan napas Maryam membentuk uap putih di udara yang remang. Kepalanya berdenyut, seirama dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia teringat pesan ibunya dengan sangat jelas, sebuah peringatan yang kini menjadi satu-satunya pegangan hidupnya di tengah kegelapan hutan ini. Jangan menoleh. Apapun yang terjadi, jangan pernah menoleh. Kata-kata itu berulang seperti mantra di dalam benaknya, bertarung dengan rasa lelah dan ketakutan yang mulai menggerogoti kewarasannya.
Tiba-tiba, keheningan hutan itu pecah oleh sebuah suara yang sangat ia kenali.
“Nduk, Maryam... Tunggu Simbok, Nduk. Simbok lelah sekali mengejarmu.”
Langkah Maryam terhenti seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Itu adalah suara Sumini. Suara itu terdengar sangat dekat, hanya beberapa langkah di belakang punggungnya. Nada suaranya terdengar gemetar, penuh dengan kelelahan dan keputusasaan yang nyata. Maryam bisa merasakan kehangatan yang biasanya terpancar dari sosok ibunya seolah-olah hadir di sana, tepat di balik bahunya.
“Maryam, kenapa kamu tega meninggalkan Simbok sendirian di rumah itu? Bapakmu... bapakmu mengamuk, Nduk. Simbok ketakutan,” rintih suara itu lagi.
Air mata Maryam mulai menggenang. Ia bisa membayangkan wajah ibunya yang pucat, mata yang sembap karena tangis, dan tangan gemetar yang mungkin sekarang sedang terulur ke arahnya. Rasa bersalah menghujam dadanya dengan kejam. Bagaimana mungkin ia meninggalkan ibunya sendirian menghadapi kegilaan Wongso? Bagaimana mungkin ia lari menyelamatkan diri sementara wanita yang melahirkannya berada dalam bahaya?
Otot leher Maryam menegang. Secara naluriah, kepalanya mulai bergeser sedikit ke samping. Ia ingin melihat wajah itu. Ia ingin memastikan bahwa ibunya baik-baik saja. Ia ingin memeluk Simbok dan meminta maaf karena telah menjadi pengecut.
“Sedikit lagi, Maryam. Tengoklah sedikit saja. Bukankah kamu anak yang berbakti?” bisik sebuah suara lain di dalam kepalanya, suara parau dan dingin yang sebelumnya mengaku sebagai penghuni baru di raganya. Suara itu kini terdengar mengejek, seolah sedang menikmati pergolakan batin yang dialami Maryam.
Maryam memejamkan matanya rapat-rapat hingga keningnya berkerut. Ia mencengkeram kain jariknya dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
“Tidak, itu bukan Simbok,” bisik Maryam dengan bibir yang gemetar.
“Nduk, ini Simbok. Lihatlah ke belakang sebentar saja. Simbok membawakanmu bekal, kamu belum makan sejak sore tadi, kan?” suara di belakangnya kembali terdengar, kali ini lebih lembut, lebih membujuk.
Bau minyak kayu putih dan aroma samar sirih yang selalu lekat pada tubuh Sumini tiba-tiba tercium oleh hidung Maryam. Indra penciumannya seolah dikhianati oleh ingatannya sendiri. Aroma itu begitu nyata, begitu meyakinkan, hingga Maryam hampir saja memutar tubuhnya sepenuhnya.
Namun, tepat saat ia akan menoleh, ia teringat satu hal yang ganjil. Suara itu, meski terdengar sangat mirip dengan ibunya, tidak memiliki irama napas yang manusiawi. Tidak ada jeda untuk mengambil oksigen, tidak ada getaran alami dari pita suara yang kelelahan. Suara itu datar di balik emosinya, seperti rekaman yang diputar berulang kali dengan presisi yang mengerikan.
“Kamu bukan Simbok,” kata Maryam dengan suara yang lebih tegas, meski air mata kini telah membasahi pipinya.
Seketika itu juga, suasana di sekitarnya berubah. Suara lembut dan penuh kasih itu mendadak berubah menjadi tawa melengking yang memekakkan telinga. Tawa itu bukan berasal dari satu tenggorokan, melainkan seperti ribuan suara yang tertawa serempak dari segala arah. Angin kencang tiba-tiba bertiup, menggoyang dahan-dahan pohon pinus hingga suara gesekannya terdengar seperti jeritan manusia yang disiksa.
“Anak tidak tahu untung!” teriak suara di belakangnya, yang kini bukan lagi suara Sumini, melainkan geraman rendah yang terdengar seperti binatang buas. “Kembalilah ke sini! Kamu adalah milik kami! Wadah itu tidak boleh pergi jauh!”
Maryam tidak menunggu lebih lama lagi. Ia memaksakan kakinya untuk kembali berlari, lebih kencang dari sebelumnya. Ia tidak peduli jika kakinya tertusuk duri atau tubuhnya menabrak batang pohon. Ia hanya ingin menjauh dari suara-suara yang kini mulai memanggil namanya dengan berbagai nada: ada yang menangis, ada yang memaki, dan ada yang memohon dengan sangat memilukan.
“Jangan menoleh, jangan menoleh, jangan menoleh,” Maryam terus merapalnya di dalam hati.
Di tengah pelariannya yang membabi buta, ia melihat cahaya redup yang sebelumnya ia anggap sebagai tipuan mata kini mulai membesar. Cahaya itu bukan berasal dari rumah penduduk, melainkan sebuah lentera tua yang tergantung di depan sebuah gubuk kecil di tengah hutan. Maryam mempercepat larinya, berharap gubuk itu bisa memberinya perlindungan, meski ia tahu bahwa di tempat seperti ini, perlindungan adalah sesuatu yang sangat mahal harganya.
Suara-suara di belakangnya perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang kembali mencekam. Namun, Maryam tahu mereka tidak benar-benar pergi. Mereka hanya sedang menunggu di perbatasan cahaya dan kegelapan, memperhatikan setiap langkahnya dengan sabar.
“Kamu berhasil kali ini,” bisik entitas di dalam kepalanya dengan nada yang sulit diartikan. “Tapi malam masih panjang, Maryam. Dan ibumu... apakah kamu yakin dia benar-benar aman di sana?”
Maryam terus berlari tanpa menjawab, menahan jeritan yang tertahan di kerongkongannya. Ia tahu, ujian yang sesungguhnya bukanlah tentang menoleh atau tidak, melainkan tentang seberapa lama ia bisa mempertahankan kewarasannya sebelum kegelapan yang ia bawa di dalam dirinya sendiri benar-benar mengambil alih segalanya. Di bawah langit subuh yang masih kelabu, Maryam terus melangkah, membawa luka di kaki dan lubang besar di hatinya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!