・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.
Sebenarnya, Luke yang mengusulkan untuk mengobati luka bakarku dari pertempuran terakhir. Padahal luka ini bisa dirawat kapan saja sih…
Yah… apa boleh buat, karena aku memang punya urusan lain di sini, kuterima saja usulannya.
Ironhearth Sanctuary.
Bagi siapa pun yang pernah bermain gim ini, pasti mengenal tempat itu. Sebuah kuil sekaligus berfungsi sebagai rumah sakit.
Cukup aneh, yah… terserah developernya sih…
Kekaisaran Blacktorn hanya memiliki satu Agama, jadi tidak ada yang perlu repot memilih ke mana harus berdoa. Sekaligus, mereka memonopoli fasilitas kesehatan.
Bau obat bercampur dupa memenuhi lorongnya. Lambang kuil ada di mana-mana: di atas pintu, di jubah putih para dokter, di selimut pasien, bahkan di tutup kaleng salep.
Para pendeta berlalu-lalang dengan kartu pegawai rumah sakit berayun di leher mereka. Setengah rohaniwan, setengah tenaga medis, dan entah dari kas mana mereka digaji.
Kadang aku penasaran, kalau ada lembur, mereka dibayar dengan pahala atau dengan uang?
Di samping loket pendaftaran berdiri kotak amal besi. Seorang pria berlengan berdarah menjatuhkan beberapa koin ke dalamnya, dan petugas loket langsung memanggilnya maju.
Pasien yang sudah menunggu lebih lama hanya menunduk, menatap dompet masing-masing.
Sumbangannya tentu saja sukarela, seperti tarif parkir “seikhlasnya” di duniaku dulu, yang ikhlasnya mendadak wajib begitu tukang parkir berdiri di samping motor.
Hmm, Pay-to-heal…
Yah… Di dunia mana pun sama saja…
Meskipun begitu, sistem administrasinya pun jauh lebih tertib daripada kantor kelurahan mana pun yang pernah kuurus.
“Selamat datang, Pangeran. Saya sudah menunggu Anda.”
Pintu ruang praktik terbuka. Seorang wanita muda berjubah putih bersulam lambang kuil, dengan celemek bedah di atasnya, menyambutku.
Kalau ingatanku benar, wanita ini merupakan salah satu hero field surgeon terbaik, Saintess Emiliana.
Dia juga salah satu karakter favorit para pemain Ironbound. Skill-nya berfokus penuh pada penyembuhan dan pertolongan darurat, dan… healer seperti itu bisa mengubah jalannya permainan.
Sayangnya, merekrutnya pasti butuh usaha yang tidak sedikit.
Huh!
Aku akan memikirkannya lagi lain waktu.
…
Di dalam ruang praktik.
Emiliana melepas perban lamaku, membersihkan luka itu dengan larutan berbau tajam, lalu mengoleskan salep dingin yang seketika membuat telapak tanganku mati rasa.
Sebuah ketel kecil bertabung kuningan mendesis di sisi meja, mengalirkan uap hangat berbau obat lewat selang tipis ke atas lukaku. Kurang dari lima menit kemudian, perban baru sudah membalutnya, rapi dan ketat.
“Sudah selesai. Bekas lukanya masih akan ada. Sementara, jangan dibasahi dulu, Pangeran.”
“Aku tahu, Terima kasih, Saintess.”
Luke menyodorkan sekantung koin emas yang dibawanya, lalu kumasukkan semuanya ke kotak amal.
“Sekarang, Saintess, mengenai apa yang kusampaikan melalui Lucien semalam...”
“Saya sudah memanggil semua pendeta yang tidak berjaga.”
Sekitar sepuluh pendeta yang telah menunggu membungkuk hormat padaku. Dua di antaranya masih mengenakan celemek rumah sakit yang bernoda.
Sementara itu, Aku melihat Lucien berdiri di barisan paling belakang, kacamata retaknya dibetulkan seadanya dengan seutas kawat tipis.
“Pastikan tiap peti punya nama,” kataku. “Tiap nama dibacakan. Selama pelat pengenalnya masih ada, jangan ada satu pun yang ditulis ‘tak dikenal’.”
Emiliana tertegun.
“Selama ini jasad dari garis depan dibiarkan begitu saja di alam liar, Pangeran. Tak pernah ada yang membawa mereka pulang ke kota, apalagi membacakan nama mereka satu per satu”
“Aku tahu. Karena itu, mulai sekarang kita yang melakukannya.”
“Itu akan memakan tenaga kami semalaman.”
“Dan… mengenai uang. Jangan khawatir soal itu.”
Emiliana menatapku sejenak, lalu menautkan kedua tangan di depan dada, tanda ia menerima.
Aku menghampiri Lucien yang menunduk di belakang barisan.
“Vlad sudah ada di daftar?”
Lucien tidak menjawab. Ia membungkuk, lama sekali, lalu saat menegakkan badan, lensa kacamatanya berembun.
“Jangan lupa,” tambahku pelan, “kau masih berhak membunuhku.”
“Saya masih menyimpan haknya, Yang Mulia,” balas Lucien dengan senyum paling tipis yang pernah kulihat.
Ugh! Tubuhku merinding, bung!
“Kalau begitu, mari kita mulai.”
…
Menjelang malam, di sebelah barat Frontiercross.
Matahari yang terbenam menyapukan merah tua ke seluruh langit, dan iring-iringan peti mati dari pangkalan terdepan mulai berdatangan.
Stok peti di kota ini habis tak bersisa. Aku sampai harus mengerahkan prajurit ke hutan untuk merakit peti tambahan.
Sebidang tanah kosong yang tandus sudah digali. Peti-peti diturunkan perlahan, lalu satu per satu nama pada pelat pengenalnya dibacakan para pendeta. Suara mereka bergema di lapangan seperti hitungan mundur yang tak kunjung selesai.
Hari ini jasad terakhir dari pertempuran itu akhirnya tiba di Frontiercross. Tanggalnya sudah dicatat. Tahun depan, dan tahun-tahun setelahnya, kota ini akan berhenti pada hari yang sama untuk mengingat.
Siapa pun yang bisa bernyanyi, dari kota maupun desa-desa sekitar, dikumpulkan menjadi paduan suara dadakan. Mereka tidak pernah berlatih bersama, tapi suara yang bergetar itu justru terdengar lebih jujur daripada nyanyian yang dilatih bertahun-tahun.
~La la la... la la la la...
Melodi sendu itu terbawa angin senja. kerumunan penduduk kota terus bertambah hingga mencapai ribuan.
Mereka semua bukan sekadar penonton, sebagian besar prajurit yang kubawa ke pangkalan terdepan berasal dari kota ini, dan yang hadir di sini adalah istri, orang tua, serta anak-anak mereka.
Di tepi lapangan, Alberto berdiri dengan kantong mata sebesar kantong koin, memegang buku besar. Setiap keluarga yang namanya dipanggil maju menerima uang duka dari tangannya.
Desas-desus soal nominalnya menyebar secepat api merambat di atas minyak.
Di antara kerumunan, seorang wanita tua menerima kantong koin itu. Ia menatapnya sebentar, lalu beralih memandang peti di depannya. Tak ada tangis di wajahnya. Ia menggenggam kantong itu erat-erat, seolah sedang memegang tangan seseorang.
Aku tidak berniat sekadar menjual mimpi atau memoles kenyataan. Kesetiaan tidak datang gratis.
Kompensasi atas dedikasi. Penghormatan dalam kematian.
Hanya dua hal itu yang bisa menumbuhkannya.
Garis depan ini tak boleh lagi dipandang sebagai tempat pembuangan, melainkan medan suci demi kelangsungan umat manusia. Mereka harus maju atas kehendak sendiri dan menantang maut dengan kepala tegak, bukan karena dipecut dari belakang.
Pada titik itulah, mereka akan berhenti menjadi tameng daging dan terlahir kembali menjadi kesatria sejati.
Yah… semua ini memang sandiwara yang kususun sendiri. Tapi, bukankah sandiwaranya terlalu meyakinkan?
Peti Sam diturunkan di barisan paling depan, tempat yang paling terhormat.
Isinya nyaris kosong. Hanya ada pelat pengenal dan sebuah sabuk kulit, dengan bungkus energy bar kosong terselip di sela-selanya.
Dia mati karena taktik yang kubuat.
Tunjangan Kekaisaran untuk keluarganya sudah terjamin, serta uang dukaku menyusul di atasnya. Hanya itu yang bisa kuberikan padanya.
Tapi dadaku tetap sesak melihat peti itu…
Begitu upacara pemakaman usai, aku menarik napas panjang, lalu melangkah ke depan.
“Pangeran ketiga Kekaisaran, yang baru saja ditunjuk sebagai Penguasa Kota, Arthur Blacktorn.”
Seorang pendeta mengumumkan namaku di atas mimbar sederhana.
Rasanya cukup ironis, menyadari bahwa perjumpaan perdana antara sang Penguasa Kota dan rakyatnya justru harus terjadi di tengah pemakaman.
“Apakah itu Penguasa yang baru?”
“Pangeran yang terkenal punya reputasi buruk itu?”
“Kelihatannya dia orang yang merepotkan...”
Di sela riuh rendah bisikan mereka, mataku menangkap sosok Gilbert beserta para tentara bayaran lainnya di ujung kerumunan.
“Biar kuperjelas satu hal pada kalian semua.”
Ribuan pasang mata tertuju kepadaku. Mungkin karena pengalamanku sebagai streamer, atau mungkin rasa takutku sudah menguap habis saat bergulat dengan para monster, aku tidak merasa terlalu cemas. Kata-kata yang telah kupersiapkan mengalir dengan lancar.
“Kalian semua akan terus mati di garis depan ini!”
Sekeras apa pun aku berusaha menekan angka kematian, nyawa akan terus berguguran. Mustahil ada peperangan yang bersih dari pertumpahan darah.
Dari minggu ke minggu, lubang-lubang kuburan baru akan terus digali di tempat ini, selalu diiringi senandung duka dari paduan suara.
Namun...
“Dengar dan camkan ini baik-baik! Nilai kematian kalian akan menguras kas kota ini jauh lebih besar ketimbang biaya untuk membiarkan kalian tetap hidup!”
Dana yang digelontorkan untuk pemakaman sakral ini beserta kompensasi bagi mereka yang gugur benar-benar tak masuk akal.
Hampir setengah dari kekayaan hasil lelang tabung bahan bakar dan pelat besi harus kubakar habis semata-mata demi mendanai anggaran ini.
Rencanaku untuk melipatgandakan upah seluruh pasukan memang memakan biaya, tetapi nominal itu tak ada apa-apanya dibanding lonjakan tak masuk akal dari pengeluaran pemakaman.
Lagian... nyawa tidak seharusnya diobral murah, kan?
Kematian harus diubah menjadi kemewahan yang sangat berharga, bukan sekadar takdir memilukan yang bebas menyapa siapa saja.
“Sebab itu, aku akan berjuang mati-matian untuk memastikan kalian tetap hidup! Aku akan mengerahkan segala daya untuk menarik kalian dari cengkeraman maut, hanya untuk melemparkan kalian kembali ke garis depan!”
Semua ini murni demi menjaga brankasku sebagai Penguasa tetap terisi, sekaligus demi napas para prajuritku sendiri.
Mereka dilarang mati. Mereka diwajibkan hidup.
“Maka dari itu, jangan berani-berani tunduk pada kematian semudah itu!”
Di ujung kerumunan, kulihat Gilbert beserta para anjing perang di belakangnya. Veteran itu menatapku lurus dengan mata tunggalnya.
“Bernapaslah terus dan peras habis kekayaanku! Dilarang keras mati hanya untuk menyusahkanku dengan biaya penguburan kalian!”
Dengan itu, pidato ku pun usai.
Saat aku turun dari mimbar, Luke memberi isyarat kepada pasukan artileri.
Bum!
Di bawah langit senja yang mulai gelap, tembakan penghormatan bagi jiwa-jiwa pemberani berkumandang.
Bagaimana para penduduk akan menafsirkan pidatoku? Permintaan maaf dari komandan payah? Atau Penguasa Kota yang gila?
Yah... persetan dengan itu.
Aku akan membuktikannya melalui hasil. Di neraka garis depan ini, aku akan berdiri sebagai eksistensi yang tak tertandingi.
“Jadi, apakah kita sudah siap...”
Sambil menyeringai, aku memutar pergelangan tanganku.
“... untuk meratakan gelombang monster selanjutnya?”
・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!