Bab 12 : Sang Veteran Tua

0 dibaca

A

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

Saat ini aku dan Luke berdiri tepat di depan bangunan Guild Tentara Bayaran. Seandainya momen ini disiarkan langsung, kolom komentar pasti sudah dipenuhi celotehan ‘nyeleneh’.

“Bang, itu tempat NPC mabuk.”
“Savepoint terdekat di mana?”
“Nekat banget masuk cuma membawa satu pengawal.”

Sayangnya, satu-satunya penontonku sekarang hanyalah seekor kucing yang meringkuk di samping pintu. Dari caranya menatapku, aku curiga dia sedang berdoa dalam hati agar aku tidak melakukan hal aneh yang memicu kerusuhan.

Yah… mau bagaimana lagi?

Alberto terpaksa kami tinggalkan di kediaman penguasa kota. Sekarang dia mungkin sedang meratapi setumpuk berkas di mejanya, dengan wajah seperti orang yang baru membuka tagihan listrik.

Omong-ngomong, tempat itu lebih mirip penginapan murah ketimbang markas pasukan jika dilihat dari luar.

Plang kayunya bergambar tengkorak memeluk gelas bir, serta separuh hurufnya sudah mengelupas. Di sinilah anjing-anjing perang yang belum terikat kontrak berkumpul untuk menginap, makan hingga saling pamer bekas luka.

Kalau kupekerjakan, mereka akan terikat pada kota ini. Kalau tidak, mereka akan pergi mencari peruntungan di tempat lain.

Di dalam gim, guild ini berfungsi seperti sistem gacha untuk merekrut hero baru. Di dunia ini pun tidak banyak bedanya… Hmm , mungkin…

Meskipun aku mengetahui daftar dari arsip hero yang ku baca, tapi aku tidak tahu kapan masing-masing dari mereka akan muncul.

Walau hari masih pagi, suara orang minum dan berpesta sudah terdengar sampai ke jalan. Artinya, ada banyak wajah yang bisa kuperiksa sekaligus.

Bukankah itu pertanda bagus?!

“Biar saya yang masuk lebih dulu, Yang Mulia.”

“Tidak.”

Aku menggeleng sekali. Lalu aku mengangkat kaki ke arah daun pintu.

“Biar aku saja.”

BRAK!

“Selamat pagi, jiwa-jiwa gabut!”

Pesta berhenti seketika. Puluhan pasang mata menoleh serempak. Entah siapa yang menjatuhkan cangkirnya, tapi bunyi pecahnya terdengar terlalu nyaring.

“Siapa bajingan gila ini?!”

“Hei, Nak! Kau tersesat?!”

Tatapan mengintimidasi mereka mungkin akan membuat sebagian orang nyalinya ciut, tapi aku sama sekali tidak gentar.

Sayangnya, mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ratusan Golem. Dan yang paling penting...

“Aku calon majikan kalian!”

Aku memegang kendali kekuasaan dan mereka ada di bawah belas kasihku.

“Ada apa dengan kalian semua?! Apa kalian tidak bisa lihat?!”

Di belakangku, Luke menutupi wajahnya dengan tangan.

Kelancanganku mungkin sudah menjadi rumor menyedihkan. Jadi... apa lagi yang perlu ditakutkan?

“Itu Pangeran Arthur.”

“Orang gila yang mengancam akan bunuh semua orang cuma karena dia tersandung?”

Ugh! Sialan, kau membuatku hampir tersedak, bung!

“Bukankah dia yang membuat pasukannya habis dibantai di pangkalan terdepan...”

“Tapi dia juga yang membasmi semua monster batu keparat itu, kan?”

Kuabaikan celoteh mereka lalu mulai berkeliling. Sayang sekali tidak ada layar status melayang di atas kepala siapa pun. Dewa gadungan sialan!

Huff!

Kucocokkan wajah-wajah di ruangan ini dengan isi kepalaku.

Bukan hero.

Yang itu juga bukan.

Mantap. Rata-rata isinya memang tameng daging.

Lalu pandanganku terhenti.

Di ujung meja bar, seorang kakek duduk menyendiri. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang, dan seragam militer hitamnya usang tapi terawat. Penutup mata kulit menutupi mata kirinya, sementara sebatang cerutu besar terselip di bibirnya.

Dia?

Gilbert, sang “Siege” Gunner.

Bukankah dia hero SR spesialis AoE? Benar-benar rezeki nomplok! Seorang prajurit veteran seperti dia ternyata sudah ada di sini?

Tanpa ragu, aku menghampiri kakek itu lalu duduk santai di kursi sebelahnya.

“Selamat datang di markas para anjing perang Frontiercross, Yang Mulia.” ucap Kakek tua itu.

“Bisa sebutkan namamu, Tuan Tentara Bayaran?”

“Tentu. Saya Gilbert. Senang berkenalan dengan Anda.”

Aku hanya membalas dengan anggukan ringan saat ia sedikit menundukkan kepala sebagai formalitas.

“Seragammu itu terlihat asing. Bendera mana yang kau bela dulu?”

“Bendera Kekaisaran Blacktorn kita sendiri, Yang Mulia. Desain seragam era lama, tidak heran Anda tidak mengenalinya”

Gilbert menepuk-nepuk seragam hitamnya dengan bangga. Lebih dari sepuluh medali menghiasi dadanya.

Meski aku sudah tahu betul rekam jejaknya, aku sengaja menghembuskan napas penuh kekaguman yang dibuat-buat.

“Jadi, kamu pernah mengabdi untuk Kekaisaran?”

“Tiga puluh tahun saya mengabdi pada Kekaisaran. Aku bahkan pernah memimpin unit Resimen Komando kedua Kekaisaran. Sayangnya sejak pensiun, tubuh ini justru terasa terlalu ringan. Jadi, saya mencari nafkah sebagai serdadu sewaan.”

“Sudah pensiun pun masih membela Kekaisaran. Patriot sejati!”

Gilbert terkekeh. Suara seraknya diiringi seringai culas yang lebih pantas dimiliki bandit ketimbang veteran militer.

“Tidak juga. Uang pensiun prajurit itu sebenarnya menyedihkan. Jadi anjing bayaran hasilnya lebih jelas. Siapa yang punya kemampuan, dialah yang kenyang.”

“Tapi selera hidupmu sepertinya cukup mahal.”

“Yah, ini cuma kebiasaan lama orang yang terlalu sering menari dengan maut, Yang Mulia. Kakek tua ini hidup dari satu pertempuran ke pertempuran lain. Tidak pernah ada ruang untuk belajar menabung.”

Gilbert mencondongkan tubuhnya ke arahku.

“Jadi… angin apa yang membawa Anda turun ke tempat kotor ini?”

“Aku di sini untuk membeli kekuatan. Apa perlu alasan khusus?”

“Atau mungkin Anda hanya sedang mencari tameng daging murah untuk menggantikan posisi Anda di garis depan?”

Mendengar penghinaan terang-terangan itu, Luke menggeram. Tangannya langsung mencengkeram gagang pedang.

“Tutup mulutmu, Kakek tua!”

“Luke.” Untung masih sempat kutahan lengannya. “Tidak apa-apa.”

“...”

Dengan berat hati, Luke mundur selangkah, meski tatapannya masih menghunus tajam ke arah si kakek.

“Kabar soal pembantaian di pangkalan terdepan sudah menyebar, Yang Mulia,” lanjut Gilbert sambil memutar cerutu di antara jari-jarinya yang menua.

“Komando perdana Anda menelan korban tak sedikit. Kami memang anjing bayaran, tapi bukan orang bodoh yang mau menggali kuburan sendiri demi komandan yang tak tahu cara berperang.”

“Oh, benarkah?”

Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut, menunggu sampai semua orang berhenti pura-pura tidak menguping.

“Bukankah hakikat kalian berada di ruangan kotor ini memang untuk memperdagangkan nyawa?”

Beberapa orang tampak tersentak.

“Kalian terdampar di garis depan paling terkutuk ini karena sudah kehabisan cara untuk hidup selain menjadi tameng daging. Dan sekarang kalian berlagak takut mati?”

Kualihkan pandangan kembali ke Gilbert.

“Menggali kuburan sendiri? Menarik sekali mendengar bualan itu keluar dari mulutmu, ‘Tuan’ Gilbert.”

“Apa maksud—“

Aku mengambil cangkir kosong di dekat sikunya, lalu kuputar pelan di atas meja bar.

“Masa keemasanmu di militer hancur berantakan setelah kau tertangkap basah menelan dana pertahanan secara diam-diam. Bukankah tindakan itu sama persis dengan menggali kuburanmu sendiri?”

“?!”

Mata tunggal Gilbert terbelalak kaget. Dia jelas tidak menyangka bahwa aku tahu tentang masa lalunya.

Yah… Tentu saja aku tahu, kan semua itu tertulis di file…

Aku menyeringai sinis sebelum melanjutkan seranganku tanpa ampun.

“Ditambah berkhianat dengan menyelundupkan barang untuk musuh, kau borong semuanya. Setelah tertangkap lalu dipecat, kau masih punya nyali mengenakan seragam kebesaran itu ke sana kemari? Sungguh bajingan tak tau malu!”

Simbol korupsi dan kebobrokan. Prajurit busuk. Veteran yang dilucuti pangkat serta harga dirinya.

Kendati demikian, daya hancurnya di medan perang itu luar biasa. Dia lebih menyerupai algojo tanpa ampun ketimbang kesatria yang taat aturan.

Gilbert menggertakkan rahangnya. Ujung cerutu di bibirnya bergetar.

“Yang Mulia. Sekalipun saya dipecat dengan tidak hormat, saya masih punya sisa harga diri sebagai prajurit Kekaisaran. Jaga mulut Anda—”

“Berapa?”

“...”

“Berapa harga yang kau patok untuk menebus ‘harga diri’ omong kosong itu? Sebutkan angkanya.”

Mata Gilbert menyipit. Pandangan kami bertautan sejenak.

Anehnya, aku malah merasa orang-orang seperti ini jauh lebih bisa dipercaya. Sebab pada akhirnya, uang adalah satu-satunya hukum bagi mereka.

Sebuah dengusan hampa lolos dari bibir Gilbert sebelum ia kembali menyesap cerutunya.

“Tarifku tidak murah, Pangeran. aku bisa mendapatkan lebih dari 100.000 Gold per tahun—”

“200.000.”

Tuk!

Cerutu itu lolos dari bibirnya dan jatuh membentur meja kayu.

“Eh?”

“Dua kali lipat. 200.000 Gold.” Potongku sebelum ia berbicara lagi.

Itu nominal gila untuk menyewa seorang tentara bayaran. Namun, aku Pangeran Kekaisaran sekaligus Penguasa Kota ini.

Lagi pula, kantongku sedang tebal berkat lelang ratusan tabung bahan bakar dan pelat besi dari Legiun Golem.

Jika uang bisa menjamin seorang hero SR yang sudah terbukti tangguh, aku tak akan ragu membuangnya.

“Aku akan membeli rasa takutmu pada kematian! Gajimu kubayar dua kali lipat, tunai dan di muka!”

Normalnya, serdadu sewaan dipekerjakan dengan sistem mingguan. Lagipula, tidak ada yang tahu kapan nyawa mereka akan melayang di medan tempur. Namun, malam ini, aku berniat melunasi nilai nyawa mereka di depan.

Kukeluarkan wesel dari balik perban di tanganku, lalu memain-mainkannya sambil menyapu pandangan ke seluruh penjuru guild, mengukir seringai lebar.

“Jika kalian terlalu pengecut untuk mempertaruhkan nyawa, angkat kaki dari sini! Tapi, kalau kalian memang anjing perang sejati yang rakus akan kekayaan, temui aku di lapangan barat Frontiercross malam ini!”

Aku membiarkan kata-kata itu menggantung saat aku berbalik untuk pergi, sementara mata para tentara bayaran yang kebingungan terus mengawasiku.

Luke bergegas menyejajarkan langkahnya denganku. Ia sempat melirik ragu ke arah pintu guild yang tertutup di belakang kami.

“Menurut Anda... apa mereka benar-benar akan datang?”

“Pasti.”

Garis depan ini adalah muara bagi orang-orang putus asa. Tentara bayaran tiba di sini dengan mimpi menemukan harta karun dan melanjutkan hidup. Bagi mereka, bayaran dua kali lipat bukan sekadar godaan, melainkan tawaran mutlak yang mustahil ditepis.

“Kematian tidak lebih menakutkan daripada kemiskinan.”

Hukum besi itu tak pernah berubah, entah di duniaku yang lama maupun di tempat ini.

“Kita harus mendapatkan Gilbert, tak peduli apakah yang lain ikut atau tidak. Party kita saat ini benar-benar butuh seorang AoE attacker.”

“A-o... apa? Eh? Tapi Yang Mulia, dari tuduhan Anda sebelumnya, kakek itu sangat berpotensi menusuk kita dari belakang.”

“Di medan perang, Luke, moralitas itu nomor dua. Seorang bajingan yang piawai membunuh jauh lebih berharga daripada orang suci yang tak bisa memegang pedang.”

Kawanan monster tidak butuh alasan etis untuk mengoyak daging kita. Maka, kita pun tak punya waktu untuk menjadi pahlawan yang suci.

“Lagi pula, orang seperti dia idak akan menusuk majikan yang sudah melunasi bayarannya. Itulah gunanya uang di muka.”

“Yah... saya rasa realita di medan tempur memang seperti itu.”

Aku menyeringai miring seraya naik ke dalam kereta kuda.

“Sebagai Penguasa baru di kota ini, sepertinya sudah menjadi kewajibanku untuk menyelenggarakan sedikit ‘pendidikan moral’.”

Baiklah Perhentian kedua, Kuil Frontiercross.

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk