UNSPOKEN BERTRAYAL (?)

2 dibaca

A

Kota Joeduge, 08:00 PM

Kafe Warmuge

Musik itu berhenti tepat pada menit ketiga empat puluh lima detik. Ibu jari Blossom langsung menekan tombol pause yang berada di tengah layar ponselnya, membekukan gambar tepat pada saat wajah Ranvier sedang melakukan ending fairy—berpose mengangkat dua jarinya membentuk huruf V di samping wajahnya ke arah kamera.

Kedua tangannya bertepuk tangan dengan cepat. Tubuhnya ikut bergerak, condong ke depan lalu ke belakang mengikuti euforia yang meledak-ledak dalam dirinya setelah menyaksikan penampilan Helios yang begitu memukau di layar ponselnya.

“Eonnie…” Manesa akhirnya membuka suara untuk pertama kalinya sejak mereka bertiga masuk ke dalam kafe.

Tatapannya sempat jatuh pada layar ponsel sebelum beralih kepada Blossom yang duduk di seberangnya.

“Kau yakin ini benar-benar yang ingin kau lakukan? Kau memang tidak bisa menahan diri, ya?”

Di sampingnya, Hebbiena sibuk mengelap kacamata yang mengembun akibat uap dari secangkir cokelat panas di hadapannya. Ia menyekanya dengan tisu, lalu mengenakannya kembali setelah memastikan tidak ada lagi embun yang menghalangi pandangannya.

“Kau pasti merindukan mereka, Eonnie.”

Kalimatnya itu membuat Blossom terhenti sesaat.

“Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar tentang mereka. Itu lagu debut kedua mereka, bukan?”

Manesa membuang napas kasar melalui hidungnya. Tanda itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kalimat yang akan keluar dari mulutnya kemungkinan besar tidak akan terdengar menyenangkan.

“Apa yang kau harapkan dari debut mereka, jika menaikkan nama grupnya sendiri saja mereka tidak sanggup?”

Ia mengangkat kedua tangannya, telapak menghadap ke atas, lalu menggerakkannya seakan sedang mengumpulkan seluruh alasan yang menurutnya sudah terlalu jelas untuk diperdebatkan.

“Grup rookie dari Hellburge Entertainment yang terpuruk karena gagal menyeimbangkan konsep dan lagu. Lagu-lagu yang tidak sesuai dengan warna vokal para member, pesona mereka diabaikan begitu saja dan lagunya sendiri bahkan tidak pernah masuk tangga lagu?” Alisnya terangkat tinggi, ketidakpercayaan selintas melintas di wajahnya.

“Bukankah itu headline yang terus bermunculan setiap kali kau membuka media sosial atau membaca berita dari situs-situs forum nasional?”

Ia menggeleng kecil. “Benar-benar kejadian yang tidak pernah terduga untuk agensi sebesar Hellburge.”

“Dan apa yang mereka lakukan sekarang?”

Ia berhenti sejenak. Pertanyaan itu dibiarkannya menggantung di antara mereka sebelum ia memberikan jawabannya sendiri dengan nada datar.

“Diam, bukan?”

Tidak ada yang menjawab, dan ia tidak menunggunya.

Punggungnya dilemparkannya ke sandaran kursi. Kedua lengannya terlipat di depan, sedangkan tatapannya beralih pada segelas jus alpukat yang berada di hadapannya. Namun, jelas pikirannya sama sekali tidak tertuju pada minuman itu.

“Aku bisa menebaknya.”

“Mereka pasti sedang berada dalam dilema. Antara mempertahankan grup itu atau membubarkannya.”

Seruputan Hebbiena yang tidak putus-putus akhirnya berhenti pada percobaan kelima. Cairan cokelat dari cangkir rendah itu hanya menyentuh bibirnya karena masih terlalu panas.

“Kau juga mengetahuinya, Manesa?”

Ia bertanya tanpa menatap Manesa, masih berusaha mendekatkan bibirnya ke tepi cangkir untuk menyeruput lagi. Ia buru-buru menariknya kembali ketika rasa panas itu kembali menyengat, membuatnya merintih lirih.

“Biasanya, kau tidak begitu peduli pada hal-hal yang tidak mengusikmu.”

“Tidak mengusikku, kau bilang?” Manesa langsung menoleh ke arah Hebbiena. Suaranya sedikit meninggi mendengar salah satu kata yang terasa seperti sengaja menyulut emosinya.

“Jika aku bilang aku terpaksa terusik, apa kau akan percaya?”

Tubuhnya bergeser, memutar posisi duduk hingga menghadap wanita itu sepenuhnya, salah satu sikunya bertumpu di atas meja. Matanya tertancap lurus ke wajah Hebbiena, tidak peduli pada rintihan kecil yang masih sesekali keluar dari bibirnya yang memerah karena memaksakan diri meneguk cokelat yang masih panas.

“Lagi pula, akhir-akhir ini semua orang terus membicarakannya.” Jemarinya mulai mengetuk permukaan meja. “Rasanya seperti dongeng yang mengikuti ke mana pun kau pergi dan memaksamu ikut tenggelam di dalamnya. Jadi, kau tidak punya pilihan selain terus mendengar kabar tentang mereka, bukan? Dan itu menyebalkan.”

Ketukannya mula-mula teratur dan patah-patah, tetapi semakin lama terdengar semakin cepat.

“Bagaimana mungkin berita itu masih bertahan selama lebih dari empat bulan sejak mereka menghentikan aktivitas grup? Bukankah itu gila?”

Tatapannya kembali mencari mata Hebbiena di sampingnya, melihat apakah ia juga melihat keganjilan yang sama. Setidaknya, jika tidak sepenuhnya setuju dengan pendapatnya, Manesa berharap Hebbiena masih bisa memahami mengapa keadaan tersebut terasa begitu mengganggu.

“Selama itu pula, pemberitaannya hanya berputar pada hal yang sama. Diulang, dibahas lagi, lalu muncul kembali seolah-olah tidak ada hal lain yang jauh lebih penting untuk dibicarakan.”

“Tentu saja kau bisa berkata begitu...” Hebbiena menghentikan kalimatnya sebentar untuk mengibas-ngibaskan lidahnya yang kini menjadi korban kedua dari cokelat panasnya.

Lidah itu sampai berkedut-kedut, seolah-olah papilanya mendadak memiliki kehendak sendiri dan sedang berusaha melarikan diri dari sumber bencana yang baru saja menyerangnya.

“... karena kau memang... tidak pernah... menyukai gosip selebriti, bukan? Sejak dulu... kau selalu berusaha... menghindarinya.” Suaranya terdengar putus-putus dan sedikit tidak jelas lantaran lidahnya masih menjulur, tangan yang mengipasinya bergerak cepat di depan mulut.

“Coba katakan padaku...” Telapak tangan Manesa bergerak menyusuri permukaan meja, meraba-raba benda apa pun yang mungkin bisa ditemukannya untuk membantu Hebbiena menghentikan keluhannya.

“Apa keuntungan mengikuti berita semacam itu jika yang menjadi sorotan hanyalah orang-orang yang dipaksa berbohong demi menjaga citra mereka?”

Ujung jarinya akhirnya menyentuh sesuatu yang lembut. Selembar tisu yang terletak di sisi meja. Ia segera menariknya lalu melemparkannya tepat ke wajah Hebbiena. Tidak ada kelembutan dalam caranya melempar, bahkan terlalu acuh untuk bisa disebut sebagai bentuk perhatian.

“Kau sungguh berpikir para selebriti itu sama seperti apa yang tampak di layar ponselmu?”

Akibat lemparan itu, Hebbiena tersentak cukup keras sampai tubuhnya sedikit mundur dari meja.

Lembaran tisu yang baru saja dilemparkan Manesa ternyata tidak benar-benar bersih. Debu-debu halus yang menempel di permukaannya ikut beterbangan saat benda itu melayang ke arahnya. Ditambah napasnya yang masih memburu, bintik-bintik putih kecil segera memenuhi kedua lensa kacamatanya, mengambang di seluruh bidang pandang hingga membuatnya kesulitan melihat dengan jelas.

“Itu sama saja kau membenci mereka yang memiliki impian menjadi selebriti.”

Di akhir kalimatnya, ia melemparkan lirikan tajam kepada Manesa. Kalau memang tidak ingin membantu, untuk apa repot-repot melakukannya jika pada akhirnya ia diperlakukan seperti musuh?

Manesa sama sekali tidak menyadari lirikan tajam itu. Bahkan setelah melemparkan tisu dan melihat Hebbiena sibuk membersihkan kacamatanya, ia tidak melihat bagaimana wajah wanita itu semakin mengerut, bagaimana bibirnya bergerak-gerak di balik tisu yang sedang digunakan untuk mengusap lensanya—mungkin sedang menahan berbagai umpatan di sana.

Sebaliknya, ia membuka mulutnya lagi.

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku membenci selebriti.”

“Hanya saja, kenapa dampaknya bisa sebesar itu?”

Ia berhenti setelah mengucapkan pertanyaan itu. Pandangannya beralih ke tempat lain, mencari-cari sesuatu yang bisa memperkuat argumennya agar ia tidak terlihat seperti orang yang kehabisan sanggahan hanya karena satu bantahan sederhana.

Kemudian, sesuatu berkelebat cepat dan paling terang di kepalanya.

“Kau pasti pernah membaca salah satu akun penggemar Helios, SOLARIS, yang cukup populer saat itu.” Nadanya berubah lebih yakin sekarang. “Kau tahu apa yang mereka katakan?”

Tubuhnya condong ke depan, matanya kembali mencari mata Hebbiena.

“Mereka seolah-olah menganggap selebriti itu sebagai dewa yang harus mereka sembah setiap hari. Lalu, ketika dewa itu akhirnya jatuh...” Salah satu tangannya terkepal dan menghantam permukaan meja.

“...mereka ikut menjatuhkan diri sendiri hanya agar suara mereka didengar oleh agensi. Bukankah itu sudah tidak bisa disebut gila lagi? Itu benar-benar buruk, Hebbiena.”

Hebbiena tidak langsung menjawab. Beberapa saat lamanya, ia hanya memusatkan perhatian pada lensa kacamata, mengusapnya hingga bintik-bintik putih yang ternyata susah sekali dibersihkan akhirnya hilang.

Sesekali ia juga mengecap-ecap lidah, menggerakkannya ke kanan dan kiri, berpikir bahwa dengan begitu ia bisa memastikan kebas di beberapa titik yang dirasakannya hanya sementara.

“Kau hanya melihat sisi buruknya saja.” Ia akhirnya bersuara, namun detik berikutnya kembali diam. Kacamatanya dibawa mendekat ke arah mata. Diperiksanya dengan saksama, mencari apakah masih ada bayangan samar atau bintik kecil yang tertinggal di permukaannya.

“Coba lihat dari sisi baiknya juga.”

Kali ini kacamatanya diangkat ke udara. Ia memegang bagian gagangnya dan membolak-balikkan benda itu di antara jari-jarinya, memastikan lensanya benar-benar bersih ketika terkena cahaya, sembari melanjutkan,

“Bisa saja mereka menyukai seorang selebriti karena orang itu memiliki pengaruh dalam kehidupan mereka sebagai penggemar. Entah karena kisah mereka sebelum berhasil menjadi selebriti, atau karena lika-liku yang mereka lalui selama menjadi selebriti.”

Manesa juga tidak langsung menjawab. Tanpa sadar, perhatiannya mengikuti gerakan jari-jari Hebbiena.

Ia juga tidak menyadari ketika pundaknya ikut bersentuhan dengan pundak Hebbiena, bahkan kepalanya perlahan mendongak dan matanya ikut menyipit saat memeriksa lensa itu, seolah-olah ia juga sedang berusaha melihat apa yang sedang diperiksa Hebbiena.

Barulah ketika Hebbiena selesai memeriksa kacamatanya dan mengenakannya kembali, Manesa tersadar.

“Dari semua ucapanmu...” Ia berhenti sebentar lalu menarik diri, sadar ia duduk terlalu dekat dengan Hebbiena. Ia juga sempat merutuki diri sendiri dalam hati karena bisa-bisanya ikut mengamati lensa itu sampai lupa jarak.

“...sudah jelas kau terang-terangan berada di pihak Blossom Eonnie karena menurutmu, ia tidak berubah menjadi sinting seperti yang lainnya, ya, kan?”

Dari nadanya saja sudah sangat jelas. Ia mulai jengah dengan jawaban Hebbiena yang pada akhirnya terkesan tidak berpihak padanya—sekaligus menutupi kecolongannya tadi yang kepergok melakukan tindakan konyol.

“Itu berarti kau juga memakluminya karena ia memilih menjadi SOLARIS? Kau juga memaklumi keputusannya untuk bercerita tentang Helios, alih-alih menjelaskan tentang dirinya sendiri? Tentang kenapa selama enam tahun ini ia tidak pernah sekalipun menghubungi kita, kenapa ia sengaja mengganti nomornya agar kita tidak bisa mengetahui di mana keberadaannya, dan sekarang?”

“Ia justru tiba-tiba muncul di Kota Joeduge—”

“Jadi...” Suara Blossom tiba-tiba memotong kalimat Manesa.

“Kau sebenarnya tidak terusik dengan semua berita itu dan juga aku yang jadi SOLARIS, bukan? Kau hanya merasa dikhianati olehku. Karena itulah kau tidak menyerangku secara langsung. Kau memilih menyerang apa yang kusukai, apa yang kulakukan, dan segala sesuatu yang selama ini kujalani.”

“Begitu maksudmu?”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk