Seiring dengan langkah kakinya yang terus-menerus menggesek lantai, dengung suara yang sejak tadi hanya terdengar samar di telinganya perlahan berubah menjadi beraneka macam warna dan nada. Jika diartikan seluruhnya, semuanya akan membentuk satu kesimpulan yang nyata di benaknya.
Sesuatu sedang terjadi.
Entah apa pun itu.
Yang pasti, bukan sesuatu yang bisa ia selesaikan dalam satu kedipan mata, bukan pula sesuatu yang membuat tubuhnya tidak akan bereaksi apa pun saat melihatnya, dan bukan sesuatu yang bisa diduganya hanya dengan mengandalkan satu buah kecil petunjuk.
Sampai akhirnya tiba di persimpangan lorong yang panjang itu, ia membelok tajam ke kanan. Sol sepatu bagian depannya langsung berdecit nyaring ketika ia mendadak menghentikan laju larinya.
Sembari menahan napas, tubuhnya membeku.
“Eh? Itu Blossom, bukan?”
“Huh? Blossom ada di sini?”
“Di mana? Di mana orangnya?!”
“Ia harus melakukan sesuatu! Lihatlah itu! Bagaimana bisa dua pria yang kelihatannya seperti ayah dan anak malah saling menjambak seperti itu?! Yang lebih parah lagi, mereka berguling-guling di lantai seperti cacing kepanasan!”
“Bukankah ia itu center grup yang populer itu, ya? Apa nama grupnya, ya? Helios?”
“Sepertinya sang center juga bisa menjadi manusia biasa, ya? Bagaimana menurutmu? Mereka sama-sama tampan, tetapi mereka juga manusia, bukan?”
“Sayangnya aku tidak membawa ponselku, jadi aku tidak bisa merekam ini. Bayangkan jika adegan ini viral. Pasti semuanya akan heboh, bukan? Atau bahkan menjadi topik hangat dan trending di mana-mana.”
“Tidak adakah yang mau melerai mereka, hah?! Aku tidak bisa beristirahat dengan tenang seperti ini!”
“Ada yang punya nomor telepon Blossom, tidak?! Cepat telepon ia sekarang! Haduh, mereka berdua ini kenapa tidak berkelahi di tengah lapangan saja, sih? Jadi berisik sekali!”
“Ah, ini! Blossom ada di sini!”
“Ia berdiri di sebelahku! Ia sudah datang!”
Semua mata langsung menoleh ke arahnya. Namun, ia sama sekali tidak membalas satu pun tatapan-tatapan itu atau berniat memeriksa jenis tatapan apa saja yang kini mengarah kepadanya.
Matanya sudah lebih dulu terkunci ke depan, menembus satu dua tubuh yang menghalangi pandangannya hingga akhirnya ia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di tengah kerumunan itu.
Dua pria yang kini juga sedang menatapnya.
Kondisi mereka buruk.
Jas dan kemeja yang dipakai oleh salah satu dari mereka kusut dan tidak beraturan. Beberapa bagian kainnya robek di sana-sini. Benang-benang panjang yang tersisa dari robekan itu menggantung, melambai-lambai horor. Dasi yang seharusnya terikat rapi di sekitar lehernya kini sudah melonggar, simpulnya miring ke satu sisi dan bentuknya sama sekali tidak lagi menyerupai yang semestinya.
Sementara pria satunya, masker yang ia pakai bergeser cukup jauh hingga bentuk hidung dan bibir atasnya terlihat. Rambutnya yang semula tertata rapi berantakan ke segala arah. Pakaian panggung yang belum sempat ia ganti kehilangan berbagai aksesorisnya yang kini bertebaran di sekitarnya.
“WHAT THE FUCK?!”
“APA-APAAN INI?!”
“KENAPA MEREKA BERDUA ADA DI SINI?”
Yang membuatnya menjadi jauh lebih buruk dari yang paling buruk adalah luka-luka kecil di wajah keduanya. Goresan-goresan tipis menyerupai bekas cakar membentang di pipi dan dahi, garis merah yang merekah di sudut bibir, serta warna keunguan samar bercampur dengan kemerahan di sekitar pelipis dan bagian bawah sudut mata mereka.
Posisi mereka saling bertindihan.
Drake berada di bawah, tubuhnya setengah terbaring sementara kedua tangannya sibuk menahan satu kepalan tangan Ranvier yang nyaris menghantam wajahnya. Ranvier berada tepat di atasnya, duduk dengan kedua lutut mengapit tubuh Drake. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ia berniat berhenti.
“FUCK!”
“FUCK!”
“FUCK!”
Dua plastik besar yang berada dalam genggamannya terlepas begitu saja, disusul suara barang-barang di dalamnya yang ikut terhempas keluar.
Sebagian menggelinding melewati ujung sepatunya, sebagian meluncur hingga berhenti di dekat ujung jari kaki satu dua orang yang berdiri, sementara yang lain menyelip di sela-sela kedua kaki mereka atau menghilang begitu saja ditelan bayangan di sudut-sudut yang tidak tersentuh cahaya.
Ia tidak menghiraukannya.
Setelah menarik napas, salah satu kakinya melompati kemasan makanan ringan di depannya. Hentakan langkahnya membuat tubuh orang-orang yang belum sepenuhnya menepikan diri mereka segera tersibak, memberikannya jalan untuk melakukan sesuatu pada dua pria yang masih diam itu.
“Katakan padaku...” Suaranya selirih bisikan, tetapi tekanan di dalam katanya justru membuat telinga semua orang menegang.
“Siapa yang pertama kali...” Ia berhenti di tengah kalimat, menarik napas dalam-dalam lalu membuka mulutnya lebar-lebar. “...MEMULAINYA, HAH?!”
Suaranya meledak begitu saja, menggetarkan dinding-dinding lorong dan membuat bahu orang-orang serentak terangkat terkejut. Satu dua orang sampai melompat kecil di tempat karena sama sekali tidak menyangka volume suara yang keluar darinya akan sebesar itu.
“APA YANG SEBENARNYA ADA DI DALAM PIKIRAN KALIAN SAMPAI HARGA DIRI KALIAN BISA SERENDAH KAKI SEMUT?!”
“KALIAN KEKURANGAN JAM KERJA, ATAU JUSTRU KELEBIHAN JAM KERJA YANG TIDAK TAHU HARUS DIGUNAKAN UNTUK APA?! ATAU MEMANG KALIAN TIDAK BISA SEHARI SAJA TANPA MENGGANGGUKU, HUH?!”
“ATAU JANGAN-JANGAN KALIAN TIDAK PUAS DENGAN PERFORMA KERJAKU HARI INI? KALIAN INGIN MELAMPIASKAN KEKECEWAAN ITU KEPADAKU, TETAPI KARENA AKU TIDAK KUNJUNG MUNCUL, JADI KALIAN MEMUTUSKAN UNTUK SALING MELAMPIASKANNYA SATU SAMA LAIN?! BEGITU MAKSUDNYA?!”
Mari kita melihat mundur bagaimana mereka bisa berakhir seperti itu.
Dimulai dari beberapa bulan yang lalu...














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!