Penerbangan belasan jam dari Jakarta menuju Praha dengan transit Frankfurt terasa sangat melelahkan bagi Elena. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam menatap luar jendela pesawat. Sarah sempat menyodorkan beberapa berkas profil Dr. Weber dan pamflet mengenai Praha, namun Elena terlalu malas untuk membacanya.
Saat pesawat akhirnya mendarat di Bandara Václav Havel, Praha sedang diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Udara dingin langsung menyentuh kulit Elena begitu ia keluar dari area kedatangan. Ia merapatkan mantel tebalnya dan menaikkan masker hitam hingga menutupi sebagian besar wajahnya.
“Mobil dari penjemput Dr. Weber sudah menunggu di luar,” ujar Sarah sambil mengecek ponselnya.
Seorang sopir berjas rapi menyambut mereka di pintu keluar membawa papan nama bertuliskan nama Sarah. Tak lama kemudian, mobil sedan hitam yang mereka tumpangi melaju membelah jalanan Praha.
Elena menatap keluar jendela mobil. Praha benar-benar berbeda dari Jakarta. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca silau atau kemacetan yang bising. Kota ini didominasi oleh bangunan-bangunan tua beratap batu bata merah, dinding-dinding batu bergaya Barok dan Gotik, serta jalanan berbatu yang meliuk-liuk di antara lorong-lorong sempit.
“Kota ini dijuluki Kota Para Alkemis,” suara Sarah memecah keheningan di dalam mobil. “Dulu di abad pertengahan, raja-raja di sini mengumpulkan para ahli sihir, ilmuwan, dan alkemis dari seluruh Eropa buat mencari rahasia mengubah logam jadi emas dan mencari resep keabadian.”
Sarah seolah menjadi tour guide bagi Elena dan Elena cuma tersenyum tipis. Sejak kapan managernya itu suka belajar sejarah?
“Dan sekarang kita ke sini cuma buat mencari tahu kenapa badanku membengkak tanpa sebab.”
“Dr. Weber ini beda, El,” bisik Sarah serius. “Dia nggak pakai metode kedokteran biasa. Kliniknya sengaja ditaruh di kawasan Malá Strana, daerah kota tua yang dekat sama kastil, karena dia memadukan ilmu medis modern sama terapi biologis kuno. Katanya sih gitu.”
Mobil perlahan melambat saat memasuki jalanan batu yang lebih sempit. Di kiri dan kanan jalan, toko-toko tua yang menjual barang antik, buku bekas, dan kristal berjejer rapi. Suasana kota terasa tenang, agak misterius, tapi misteri itu justru memberikan sedikit rasa damai yang sudah lama tak dirasakan Elena di Jakarta. Di sini, tak ada orang yang mengenali wajahnya. Tak ada kamera wartawan atau lirikan sinis netizen.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan batu tiga lantai bermaterial cokelat tua. Di samping pintu kayunya yang tinggi, terdapat plat tembaga kecil bertuliskan Weber Research & Holistic Clinic.
“Kita sudah sampai,” kata sopir sembari membukakan pintu.
Elena dan Sarah melangkah masuk ke dalam bangunan. Bagian dalam klinik tersebut sama sekali tidak mirip dengan rumah sakit. Interiornya didominasi kayu jati gelap, pencahayaan yang hangat, serta aroma kayu manis dan herba yang menenangkan.
Seorang wanita paruh baya berpenampilan ramah menyambut mereka dan langsung mengantar Elena serta Sarah menuju ruangan utama di lantai dua.
Di dalam ruangan kerja beratap tinggi yang dipenuhi lemari kaca berisi botol-botol eksperimen dan dokumen tua, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata tebal. Dialah Dr. Weber.
“Selamat datang di Praha, Miss Elena, Miss Sarah,” sapa Dr. Weber dengan bahasa Inggris berlogat Jerman yang kental. Ia menjabat tangan mereka dengan hangat.
“Terima kasih sudah mau menerima kami di sini, Dokter,” balas Sarah.
Dr. Weber mempersilakan Elena duduk di kursi periksa. Tanpa banyak basa-basi, dokter senior itu mulai melakukan pemeriksaan awal. Ia tidak langsung mengambil darah atau menyuruh Elena masuk ke mesin scan canggih seperti dokter-dokter di Jakarta. Malah, Dr. Weber menggunakan stetoskop tua, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Elena, dan menatap pupil matanya dengan senter kecil.
Raut wajah Dr. Weber yang semula tenang perlahan berubah menjadi serius. Ia memegang pergelangan tangan Elena agak lebih lama dari biasanya.
“Ada yang aneh, Dokter?” tanya Elena agak cemas.
Dr. Weber melepaskan stetoskopnya dan menarik napas pendek. “Secara biologis, detak jantungmu normal. Tapi frekuensi di sekitar nadimu bergetar dengan cara yang sangat tidak biasa. Seperti ada gelombang energi luar yang terus menumpuk di dalam tubuhmu dan membebani jaringan fisikmu.”
Sarah langsung memajukan posisinya. “Maksudnya bagaimana, Dok? Apakah itu sejenis radiasi atau penyakit langka?”
“Bukan radiasi medis konvensional,” jawab Dr. Weber gelisah. Ia berjalan ke meja kerjanya dan mengambil sebuah berkas. “Tiga hari lalu, saya sempat membagikan data awal anonim milik Miss Elena kepada seorang rekan senior di Praha. Dia adalah kolektor artefak sejarah dan ketua yayasan budaya di kota ini yang paham betul tentang resonansi materi kuno.”
Elena mengerutkan kening. “Rekan? Dokter menunjukkan data medis saya ke orang luar?”
“Saya meminta maaf atas ketidaknyamanannya, Miss Elena. Tapi kasusmu bukan kasus medis biasa,” kata Dr. Weber jujur. “Rekan saya itu mengenali pola anomali ini. Dia bilang, tubuhmu tidak sakit. Tubuhmu hanya bereaksi karena menyerap energi yang mengendap di tempat-tempat tertentu.”
Elena dan Sarah saling pandang, bingung sekaligus makin tak paham dengan arah pembicaraan ini.
“Siapa rekan Dokter itu?” tanya Sarah tegas.
“Nama beliau Konstantin Koschei,” jawab Dr. Weber. “Beliau pemilik Yayasan Seni dan Artefak Koschei di Malá Strana. Beliau menyarankan agar Miss Elena berkunjung ke galerinya sore ini. Beliau memiliki alat tes khusus dan literatur tua yang mungkin bisa memberikan jawaban yang tidak bisa diberikan oleh ilmu kedokteran modern.”
Elena menyebut nama itu pelan di dalam hatinya. Konstantin Koschei. Nama yang terdengar asing, formal, dan terkesan berasal dari era yang sangat tua.
Meski diliputi ragu dan rasa aneh karena disuruh menemui seorang kolektor artefak alih-alih berobat di laboratorium, Elena sadar ia sudah tidak punya pilihan lain. Ia sudah jauh-jauh terbang ke Praha dan sudah lelah dengan ketidakpastian kondisi tubuhnya.
“Baik,” kata Elena akhirnya sambil berdiri dari kursi. “Sore ini saya akan menemui Mr. Konstantin.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!