Chapter 1

1 dibaca

A

Mata jernih berwarna biru itu memperhatikan sosok wanita bergaun hitam di cermin, berambut bergelombang, berkulit putih, dan berbibir merah.


Ya, wanita itu adalah dirinya sendiri—Jasmine Laurent, yang telah lama kehilangan dirinya.


Ekspresinya tampak datar saat menyentuh pipi kanannya, seperti seseorang yang telah kehilangan jiwa.


Suara pintu yang dibuka dengan tergesa-gesa sama sekali tidak membuatnya terkejut. Seolah-olah ia sudah tahu siapa pemilik langkah tersebut.


Seorang pria di balik pintu mulai berjalan menghampirinya. Tubuhnya yang tinggi, rahang tegas, serta mata cokelatnya nyaris membuat pria itu tampak sempurna.


Dari pantulan cermin, Jasmine dapat melihat tatapan pria itu yang tampak tidak suka melihatnya.


“Ganti,” kata Lucien Moretti, berdiri di belakang Jasmine.


“Tidak mau,” balas Jasmine dengan nada berani, meskipun jantungnya berdebar kencang. Ini pertama kalinya ia melawan Lucien.


“Kelinci putihku sudah mulai melawan rupanya.”


Lucien maju selangkah. Kini, tidak ada lagi jarak di antara mereka. Kedua tangannya bertumpu di atas bahu Jasmine.


Jasmine menelan ludah dalam-dalam. Hari ini, tidak ada yang bisa menghentikan Lucien.


Lucien mendekatkan wajahnya ke telinga Jasmine, lalu berkata, “Yang patuh, Jasmine. Aku sudah menyiapkan gaun untukmu.”


“Lagi-lagi dia sesuka hatinya,” gerutu Jasmine dalam hati.


Lucien Moretti selalu mengatur segala sesuatu tentang dirinya, dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Sudah dua tahun mereka menikah. Awalnya, pernikahan itu terjadi karena cinta. Bagaimanapun, mereka telah bersama selama tujuh tahun.


Jasmine selalu menuruti perkataan Lucien. Ia perlahan mengubah dirinya menjadi boneka Lucien hingga akhirnya kehilangan jati dirinya sendiri.


“Aku suka warna gelap, Lucien,” bantah Jasmine.


Tatapan Lucien tampak dingin.


“Kita bukan pergi ke pemakaman, Jasmine, tetapi ke pesta. Aku sudah menyiapkan gaun merah untukmu. Dan aku tidak suka kau memakai warna gelap.”


Ya, malam ini mereka harus menghadiri sebuah pesta, tempat para mafia berkumpul untuk merayakan pencapaian mereka sekaligus memamerkan kekuasaan.


Keluarga Moretti adalah salah satu keluarga mafia ternama di Castelviero.


Banyak wanita yang mengagumi Lucien, tetapi pria itu hanya tertarik pada kecantikan Jasmine Laurent. Atau mungkin, sikap penurut Jasmine-lah yang membuatnya betah bersamanya.


“Bukankah kau juga memakai warna gelap, Lucien? Apa kau juga pergi ke pemakaman?”


Kali ini, Jasmine benar-benar melawan Lucien.


Sorot mata Lucien tak lagi dingin, melainkan dipenuhi tanda tanya. Kemarin, tingkah Jasmine masih baik-baik saja. Lantas, mengapa wanita itu berani melawannya hari ini?


“Aku berbeda denganmu, Jasmine. Ada apa denganmu hari ini?”


“Aku merasa warna hitam lebih bagus untukku.”


“Tapi aku tidak suka, Jasmine. Kau lebih cocok mengenakan warna merah,” tegas Lucien.


“Warna merah?”


Jasmine menyeringai sebelum berkata, “Apa kau ingin aku terlihat terlalu berani dan menggoda? Bukankah kau tidak suka pria lain melihatku, Lucien?”


Lucien pun terdiam.


Benar kata Jasmine. Lucien tidak ingin pria lain melihat kecantikan istrinya, apalagi gaun berwarna merah akan terlihat begitu menggoda jika dikenakan Jasmine yang berkulit putih.


Namun, Lucien memang menyukai Jasmine mengenakan warna merah.


“Bagaimanapun juga, kau tetap harus memakai gaun yang aku pilihkan,” tegas Lucien. Kemudian, ia melanjutkan, “Aku akan mencongkel mata mereka jika ada yang berani bersikap tidak sopan kepadamu.”


Lucien mengambil gaun merah yang telah dibelinya.


Jasmine memasang wajah datar. Rupanya, kali ini keinginannya tidak berhasil. Haruskah ia terus melawan Lucien?


Namun, pria itu terlalu sulit untuk ditolak.


Menjadi boneka Lucien selama tujuh tahun membuat Jasmine muak. Cinta yang selama ini ia pertahankan rasanya sudah hampir sirna.


Dengan terpaksa, Jasmine mengambil gaun tersebut dari tangan Lucien. Ia kemudian pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Beberapa saat kemudian, Jasmine keluar dengan mengenakan gaun merah tersebut.


Ia terlihat begitu anggun hingga Lucien justru merasa enggan membiarkannya mengenakan warna itu di pesta.


Lucien melangkah mendekati Jasmine. Tanpa aba-aba, ia meraih pinggang wanita itu. Tangan kirinya menyentuh pipi Jasmine.


Mata cokelat pria itu mengamati wajah cantik Jasmine yang tampak terkejut.


Lucien menundukkan kepala. Wajah mereka begitu dekat.


“Andaikan kita punya lebih banyak waktu, Jasmine. Aku ingin menikmati kecantikanmu.”


Kemudian, Lucien mendaratkan sebuah ciuman yang tak dapat ditolak Jasmine. Ciuman itu berlangsung lama sebelum akhirnya Lucien menjauh.

“Jangan menatapku seperti itu,” bisik Lucien.


Jasmine mengerjapkan mata.


“Seperti apa?”


“Seolah-olah kau baru saja menemukan sesuatu yang seharusnya tidak kau sukai.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk