Chapter 2

0 dibaca

A

“Lucien jika kau terus seperti ini kita akan terlambat,” kata Jasmine menaruh kedua tangannya di dada Lucien.


Sudut bibir Lucien terangkat. Ia kembali mendaratkan ciuman singkat di bibir merah Jasmine.


“Sepertinya lipstikku pudar. Aku harus mengulanginya.”


Lucien mengusap bibir Jasmine yang baru saja ia cium. Membiarkan warna lipstik merah Jasmine menempel di jarinya.


“Aku akan menunggumu di bawah,” katanya.


Jasmine mengangguk lalu berjalan ke arah meja rias. Melihat penampilannya saat ini ia merasa kurang nyaman. Warna merah ini begitu cerah dan pasti akan menarik perhatian orang-orang.


Setelah selesai membenarkan lipstiknya, Jasmine menuju ke lantai bawah. Lucien sudah menunggunya di depan dan mobil pun sudah siap.


Mereka akan menghadiri pesta yang di gelar di hotel paling mewah Castelviero.


Lucien mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh jemari tangan Jasmine.


Jasmine terlebih dahulu masuk ke dalam mobil, disusul oleh Lucien. Keduanya duduk tenang di dalam mobil. Lucien tak henti-hentinya memandangi Jasmine.


“Kau begitu menarik perhatian Jasmine. Para bajingan itu pasti akan menargetkanmu.”


“Itu semua karnamu,” balas Jasmine santai.


“Ya, salahku.”


Jasmine terkekeh, seperti sudah melupakan rasa muaknya terhadap sikap Lucien. “Setidaknya kau mengakuinya.”


“Kesalahan apa yang tidak pernah aku akui padamu, Jasmine?”


“Kau tidak tahu?” Jasmine memalingkan wajahnya ke arah Lucien. “Caramu memperlakukanku, Lucien.”


Mata Lucien menyipit. “Oh, caraku memperlakukanmu. Tidak ada yang salah dengan caraku, Jasmine. Jangan bersikap berlebihan.”


Jangan bersikap berlebihan katanya. Menyuruh Jasmine mengikuti semua kemauan Lucien sudah sangat berlebihan. Tetapi, Lucien tak mau mengakui kesalahannya.


Sangat lucu, tapi menyedihkan.


Jasmine menundukkan kepalanya. Ekspresinya kini menjadi kelam. Ia bertanya-tanya dalam pikirannya apakah Lucien masih mencintainya ataukah yang tertinggal hanyalah obsesi.


Ia tak mau menanyakan hal itu. Hatinya terlalu takut untuk mendengarkan jawaban Lucien.


Di dalam mobil menjadi sunyi, yang terdengar hanya deru mesin mobil yang tipis.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di hotel. Lucien keluar dari mobil lebih dahulu lalu membantu Jasmine keluar dari mobil. Seperti yang selama ini Lucien lakukan.


Keduanya memasuki hotel dan disambut ramah oleh staf hotel. Siapa yang berani tidak hormat pada keluarga Moretti. Tentu saja mereka akan menunduk hormat.


Sesampainya di aula pesta, semua mata tertuju pada mereka. Sepasang suami istri yang tak terpisahkan dan nampak harmonis.


Mata Jasmine menyapu seluruh ruang pesta. Mata para pria itu tertuju padanya, sedangkan para wanita masih menundukkan kepala mereka. Tentu saja karena mereka segan pada keluarga Moretti.


“Jasmine, aku ingin sekali mencongkel mata para bajingan itu,” bisik Lucien.


“Lucien jangan menakuti para tamu.”


“Aku sedang mencoba, Jasmine.”


Dada Lucien seperti terbakar. Ia cukup bersabar untuk tidak memberikan mata para bajingan itu sebagai santapan anjing.


“Selamat datang Tuan dan Nyonya Moretti.” Salah seorang tamu menghampiri mereka. Dia adalah Sebastian Blackwell salah satu mafia yang cukup kuat, tapi tak sekuat keluarga Moretti.


“Hm.” Angguk Lucien


“Bagaimana kabar Nyonya Blackwell? Apakah dia ikut?” tanya Jasmine sembari tersenyum hangat.


Sebastian mengangguk membuat bergerak naik turun. “Ya, Monica ada di sini. Dia sedang mengobrol dengan teman-temannya.” Tatapan Sebastian masih terbingkai pada wajah Jasmine. Nampak terpesona oleh sosok cantik Nyonya Moretti.


Lucien yang sejak tadi mengawasi mulai merasa tak senang. Ia melontarkan kata-kata bernada dingin, “Blackwell jaga pandanganmu.”


Sebastian terkejut karena ia dipanggil dengan nama belakangnya. Ia menelan ludah dan menundukkan kepala. “Maafkan aku Tuan Moretti. Silakan nikmati pestanya.”


Pria itu kemudian melangkah pergi mencari istrinya.


“Lucien, kau menakutinya.” Jasmine menghela napas.


“Aku risi padanya. Apa kau tidak risi?” Suara Lucien masih terdengar dingin.


“Sedikit,” jawab Jasmine dengan nada pelan.


Keduanya melangkah memasuki kerumunan para aristocrat Castelviero. Bukan hanya kelompok mafia yang menghadiri pesta ini, tapi juga orang-orang berpengaruh di dunia bisnis yang menjalin hubungan dengan para mafia tersebut.


Jangan kira mereka hidup berdampingan hanya karena hadir di sebuah pesta. Mereka adalah pesaing, juga ada yang bermusuhan. Hanya saja ini adalah pesta yang penting untuk membangun relasi, jadi mereka mengesampingkan permusuhan.


“Tetap di dekatku, Jasmine.” Perintah Lucien bernada tegas.


“Aku tahu, Lucien. Setiap kali ada pesta kau pasti tidak mengizinkan menjauh darimu.”


“Karena aku benci melihat tatapan para bajingan itu.”


Istrinya begitu cantik, anggun dan elegan. Bagaimana mungkin lolos dari pengamatan para pria yang memuja kecantikan itu.


“Tuan Moretti.”


Suara wanita yang cukup manis terdengar di belakang punggung Lucien.


Lucien berbalik diikuti oleh Jasmine. Keduanya mendapati seorang wanita berambut merah, tubuh tinggi dan langsing. Perempuan itu juga mengenakan gaun merah tapi dengan model yang berbeda.


Mata Lucien langsung terpaku pada pesona wanita yang tak dikenalnya itu.


Jasmine merasa sedikit risi. Ia mengerutkan kedua alisnya sembari melirik Lucien.


Ada apa dengan pria ini. Apakah dia terpesona?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk