Pagi-pagi sekali, Lucien sudah menyiapkan pakaian yang harus dikenakan Jasmine. Kali ini, pria itu memilih sebuah gaun putih dengan hiasan emerald yang tampak elegan, lengkap dengan sepasang anting yang senada dengan gaun tersebut.
Gaun itu diletakkan di atas tempat tidur, seolah tidak memberi Jasmine pilihan lain.
“Pakailah, Jasmine. Jangan membuatku mengulanginya lagi.”
Lucien tidak sedang memohon. Nada suaranya jelas sebuah perintah.
Setiap hari selalu seperti ini. Lucien terus mengatur Jasmine sesuai dengan keinginannya. Bahkan untuk urusan pakaian, Jasmine tak lagi memiliki kebebasan untuk memilih apa yang ingin dikenakannya.
Seluruh isi lemari pakaiannya dipilih oleh Lucien sendiri. Mulai dari gaun, sepatu, aksesori, hingga pakaian yang dikenakannya di rumah. Semuanya harus sesuai dengan selera pria itu.
Awalnya Jasmine mencoba menganggapnya sebagai bentuk perhatian.
Namun, semakin lama, perhatian itu justru terasa seperti belenggu.
“Lucien, bisakah kau memberiku kesempatan untuk mengenakan apa yang ingin kukenakan?” Jasmine akhirnya membantah.
Sorot mata pria itu seketika berubah gelap.
Untuk kedua kalinya, Jasmine berani menentang keinginannya.
“Sudah dua kali kau melawanku, Jasmine.” Lucien menatapnya lekat-lekat, seolah sedang mencoba memahami perubahan sikap istrinya. “Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya.”
Jasmine mengatupkan bibir.
Dulu, dia memang selalu menurut.
Apa pun yang Lucien pilih, Jasmine menerimanya. Apa pun yang pria itu katakan, dia hanya mengangguk. Bahkan ketika Lucien menentukan ke mana dia harus pergi dan dengan siapa dia boleh bertemu, Jasmine memilih diam.
Namun, semuanya berubah sekarang.
“Aku hanya ingin memilih pakaianku sendiri,” ujar Jasmine pelan.
“Ini perintah, Jasmine.”
Jasmine menggeleng tegas.
Ekspresinya jelas menunjukkan penolakan.
“Tidak, Lucien. Aku ingin kau berhenti mengatur hidupku.”
Suaranya bergetar, tetapi dia berusaha tetap teguh.
“Dadaku sudah terasa sesak karena semua tingkahmu. Kau memperlakukanku seperti hewan peliharaan.”
Jasmine menatap gaun di atas tempat tidur.
Dirinya merasa tak lebih dari seekor kucing yang didandani sesuka hati oleh pemiliknya. Cantik, terawat, diberi segala sesuatu yang dibutuhkan, tetapi tidak pernah benar-benar bebas.
Pagi ini, untuk kedua kalinya, dia memberanikan diri melawan Lucien.
Dia tidak ingin selamanya menjadi mainan pria itu.
Sesekali, Lucien harus merasakan penolakan agar dia mengerti bahwa Jasmine juga memiliki keinginan dan batasannya sendiri.
Lucien merengut.
“Kau berubah, Jasmine.”
Tatapan pria itu semakin tajam.
Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat keberanian Jasmine hampir runtuh.
“Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau menolak perintahku?”
Jasmine tidak tahu hukuman seperti apa yang akan diberikan Lucien.
Selama ini, dia selalu menuruti semua keinginan pria itu hingga tanpa sadar dirinya berubah menjadi boneka yang hanya bergerak sesuai kehendaknya.
Tetapi kali ini, Jasmine tidak ingin kembali mengalah.
“Jangan mencoba mengancamku, Lucien.”
Jasmine mengepalkan kedua tangannya, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa.
“Apa susahnya membiarkanku hidup sesuai dengan keinginanku sendiri?” lanjutnya. “Ini hanya masalah pakaian, Lucien. Apa kau benar-benar tidak bisa membiarkanku memilihnya sendiri?”
Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi.
Lucien tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatap Jasmine dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Kemudian, tanpa peringatan, Lucien melangkah mendekat.
Jasmine secara refleks mundur satu langkah.
Namun, punggungnya segera menyentuh sisi meja rias.
Lucien meraih dagu Jasmine dan mencubitnya kuat-kuat hingga wajah wanita itu terpaksa mendongak.
“Kau akan segera tahu akibat dari melawanku.”
Jasmine menahan napas.
Rasa nyeri menjalar dari dagunya.
Pria ini benar-benar Lucien yang sama?
Semalam, pria itu masih begitu hangat. Dia mencurahkan seluruh perhatian dan kasih sayangnya kepada Jasmine. Tatapan lembutnya bahkan sempat membuat Jasmine berpikir bahwa mungkin Lucien benar-benar mencintainya.
Namun, pagi ini, sisi lain Lucien justru muncul.
Sosok pria dominan yang tidak segan mengancam ketika keinginannya ditentang.
Sorot mata Lucien semakin gelap hingga membuat tubuh Jasmine bergidik.
Beginikah cara Lucien mencintainya?
Cinta ini terasa lebih seperti sebuah obsesi.
“Kumohon, berhentilah, Lucien.”
Bukannya melepaskan, Lucien justru mempererat cengkeramannya pada dagu Jasmine. Pria itu seolah tidak peduli dengan rasa sakit yang ditimbulkannya.
“Tidak, Jasmine.” Suaranya terdengar dingin. “Jangan berharap mendapatkan kebebasan yang kau inginkan.”
Jasmine menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lucien akhirnya melepaskan cengkeramannya.
Namun, bukannya menunjukkan tanda-tanda mengalah, pria itu justru terlihat semakin muram.
“Renungkan kesalahanmu di kamar, Jasmine.” Lucien mundur satu langkah. “Kau tidak boleh keluar sebelum menyadari kesalahanmu.”
Ucapan Lucien terdengar dingin dan penuh ancaman.
Dengan wajah yang masih menyiratkan kemarahan, pria itu berbalik dan meninggalkan kamar.
Jasmine hanya bisa menatap punggungnya.
Pintu kamar terbuka, kemudian tertutup dengan suara cukup keras.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara kunci diputar dari luar.
Klik.
Jasmine terdiam.
Matanya menatap pintu yang kini tertutup rapat.
Jadi, seperti inikah hukuman yang diberikan Lucien kepadanya?
Mengurungnya di kamar.
Jasmine segera bergegas menuju pintu.
Tangannya meraih knop, lalu memutarnya.
Tidak bergerak.
Dia mencoba sekali lagi.
Tetap tidak bergerak.
“Sialan.”
Jasmine memutar knop dengan lebih kuat, tetapi pintu itu sama sekali tidak bergeming.
Dia benar-benar menguncinya dari luar.
Jasmine menyandarkan tubuhnya pada pintu.
Napasnya terdengar berat.
Untuk pertama kalinya, dia benar-benar menyadari bahwa selama ini kebebasan yang dimilikinya hanyalah sesuatu yang diberikan Lucien kepadanya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!