Sesampainya di rumah, Lucien tak sabar membawa Jasmine ke kamar mereka. Dengan langkah panjang dan cepat, pria itu berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dua. Bahkan sepanjang perjalanan, ia tak berniat menurunkan Jasmine dari gendongannya.
Sesampainya di kamar, Lucien menurunkan Jasmine dan segera menutup pintu.
Tangannya meraih pinggang Jasmine, sementara tangan yang lain menyentuh lembut wajah pucat wanita itu. Ia tak memberinya kesempatan untuk bereaksi. Dalam sekejap, bibirnya telah mendarat di bibir Jasmine.
Ciuman itu begitu intens dan membara.
Untuk beberapa saat, keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing.
Setiap kali Lucien melangkah maju, Jasmine terpaksa mundur hingga akhirnya tubuhnya terjebak di tepi ranjang. Lucien melepaskannya ketika Jasmine terduduk di atas ranjang king-size yang mewah.
“Jasmine, apa kau tahu?” Suara Lucien terdengar rendah dan menggoda. “Kau terlihat begitu menggoda dan menggemaskan ketika cemburu.”
Wajah Jasmine seketika memerah.
“Aku hanya tidak suka priaku didekati wanita lain,” balasnya.
Sisi posesif Jasmine akhirnya muncul, dan Lucien justru sangat menyukainya.
Pria itu perlahan menanggalkan jasnya, kemudian membuka kancing kemejanya satu per satu.
“Aku tidak yakin Valentine itu akan berhenti mengejarku.” Lucien tersenyum tipis. “Kau harus mulai terbiasa dengan rasa cemburumu. Apa dadamu terasa terbakar, Jasmine?”
Tatapan Lucien melekat pada wajah istrinya, seolah sengaja menikmati setiap perubahan ekspresi di sana. Jemarinya mengelus lembut pipi Jasmine, kemudian menyingkirkan helaian rambut yang jatuh di wajahnya ke belakang telinga.
Jasmine juga merasakan hal yang sama. Wanita bernama Rebecca Valentine itu sudah jelas-jelas menantangnya secara tidak langsung.
“Apa kau begitu berharap diganggu wanita itu, Lucien?” Jasmine berdecih. “Tak tahu malu.”
Lelaki tampan itu tersenyum tipis.
“Tentu saja tidak. Terlalu merepotkan harus menghadapinya.” Lucien mendekatkan wajahnya, lalu berbisik, “Mari lupakan para pengganggu itu. Duniaku adalah milikmu, Jasmine.”
Selama dua tahun pernikahan mereka, Lucien memang tak pernah mengkhianati Jasmine. Seluruh perhatian dan kasih sayangnya hanya tercurah kepada wanita itu.
Namun, perhatian tersebut terkadang terasa seperti obsesi yang mengekang setiap gerak Jasmine.
Lucien kembali menciumnya. Untuk sesaat, dunia seolah hanya menyisakan mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, Jasmine memperhatikan suaminya yang telah tertidur pulas di sampingnya. Ia kemudian bangkit dari ranjang, mengambil sebotol sampanye, dan menuangkannya ke dalam gelas.
Jasmine melangkah menuju jendela yang tertutup rapat. Dari sana, ia dapat melihat seluruh halaman belakang kediaman mereka.
Ia menggoyangkan gelas di tangannya, membiarkan cairan keemasan itu berputar sebelum sesekali menyesapnya.
Jasmine berada dalam dilema.
Hatinya tentu masih mencintai Lucien. Namun, sikap pria itu yang terlalu suka mengatur membuatnya merasa sesak. Terkadang, ia bahkan ingin melarikan diri dari semua ini.
“Apa yang harus aku lakukan, Lucien?” bisiknya lirih.
Jasmine meneguk isi gelasnya hingga tak tersisa.
Namun, lamunannya teralihkan ketika terdengar nada pesan dari ponsel Lucien.
Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar, disertai sebuah pesan dan satu nama yang sudah dikenalnya.
Tuan Moretti, maaf karena aku mengirim pesan selarut ini. Apakah Anda ada waktu besok? Aku ingin mengajak Anda makan siang.
Pesan itu dikirim oleh Rebecca Valentine.
Benar saja perkataan Lucien. Rebecca tampaknya tidak berniat berhenti mengusik pria itu, bahkan setelah semua orang mengetahui bahwa Lucien telah menikah.
“Wanita ini rupanya sedang menyerukan perang.”
Jasmine mendengus jijik.
Ia bahkan tak segan menghubungi wanita itu. Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
“Kau tahu sekarang jam berapa?” Jasmine langsung melontarkan pertanyaan dengan nada ketus. “Wajahmu benar-benar setebal tembok sampai-sampai kau tidak tahu malu setelah dipermalukan di pesta tadi.”
Terdengar suara wanita terkekeh di seberang telepon.
Alih-alih merasa malu, Rebecca justru sama sekali tak menghiraukan ucapan Jasmine.
“Aku kira Tuan Moretti yang menghubungiku. Ternyata istrinya yang pencemburu.”
Rebecca kembali tertawa, seolah sengaja mempermainkan Jasmine.
Jasmine terdiam sejenak.
Rupanya, wanita di balik telepon itu memang benar-benar berniat merebut suaminya.
“Tertawalah selagi kau bisa, sebelum kau merasakan neraka, Valentine.”
Jasmine tak ingin memperpanjang percakapan itu. Ia segera mengakhiri panggilan dan bahkan berniat mengganti nomor telepon Lucien agar wanita tersebut tak bisa lagi menghubunginya.
“Siapa yang menelepon?”
Jasmine menoleh.
Lucien rupanya sudah bangun. Dengan bertelanjang dada, pria itu berjalan menghampirinya.
“Hanya seorang pengganggu,” jawab Jasmine datar.
“Oh.” Lucien mengangkat sebelah alis. “Apa itu si Valentine?”
Jasmine mengangguk dengan ekspresi kesal.
“Ya. Dia sengaja menghubungimu hanya untuk membuatku kesal.”
Lucien memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dagunya hampir menyentuh bahu Jasmine sebelum ia mengecup bahu wanita itu dengan lembut.
“Apa katanya?”
“Dia mengundangmu makan siang besok.”
“Apakah aku harus menerima undangannya?”
Jasmine memalingkan wajah, menatap Lucien yang kini memasang seringai tipis.
“Kau berani!”
“Aku tidak berani, sayang.” Lucien terkekeh pelan. “Lihatlah betapa tidak senangnya dirimu.”
Lengannya semakin erat melingkari pinggang Jasmine.
Dan melihat ekspresi cemburu sang istri, senyum di wajah Lucien justru semakin lebar.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!