The Man at the Window

2 dibaca

A

Ravellune tidak memperkenalkan diri lewat gerbang atau papan nama yang mencolok. Kota itu muncul perlahan, satu jalan lalu satu atap lalu satu menara gereja, seolah sengaja menahan diri sebelum menunjukkan wajahnya sepenuhnya. Kabut turun dari kaki bukit setiap pagi dan enggan pergi sebelum tengah hari, dan penduduknya telah lama berhenti menganggap itu aneh. Mereka menyebutnya cuaca. Orang luar, kalau ada yang sempat tinggal cukup lama untuk memperhatikan, menyebutnya sesuatu yang lain.

Keluarga Arden tiba pada sore yang basah oleh sisa hujan seharian. Mobil mereka melintasi rumah pertama tepat setelah papan Selamat Datang di Ravellune, dan sekelompok anak berlarian ke pinggir jalan, melambai-lambai seolah kedatangan orang baru adalah peristiwa yang layak dirayakan di kota sekecil ini.

“Lihat! Apa dia guru baru kita?”

Rosalie hanya terkikik, wajahnya menempel sekilas ke kaca jendela yang berembun.

Ayahnya, Jade, membawa mobil semakin jauh ke dalam kota, melewati toko roti yang lampunya baru dinyalakan dan seorang tukang pos yang mengangguk sopan tanpa berhenti mengayuh sepedanya. Mobil itu akhirnya berhenti di kaki bukit, di depan rumah dua lantai berwarna hijau tua dengan halaman rumput yang baru saja dipangkas. Rapi dan tak berbunga.

Seorang wanita sudah berdiri di depan rumah sebelah, seakan sejak pagi ia tahu persis jam berapa keluarga ini akan datang.

“Halo!” serunya. Ujung gaunnya berkibar sewaktu ia melangkah. “Selamat datang di Ravellune.”

Lilian membalikkan badan lebih dulu dari suaminya. “Hai. Aku Lilian.” Mereka berjabat tangan, dan Lilian mengedik ke belakang. “Itu suamiku, Jade, dan Rosalie, putriku. Dia akan mengajar di sekolah dasar Ravellune mulai Senin.”

“Aku Cecile Rowan.” Wanita itu mengedik ke rumahnya sendiri, tempat gonggongan sudah mulai terdengar dari balik pintu. “Aku tinggal sendiri, bersama dua anjingku.”

Kedua alis Lilian naik. “Rosalie sangat suka anjing,” katanya, menarik tangannya dari Cecile.

Cecile tersenyum pada Rosalie. “Kamu boleh bermain ke rumahku kapan saja, sayang.”

“Terima kasih, Nyonya Rowan,” ujar Rosalie, dan Cecile mengangguk sekali sebelum kembali mengobrol dengan Lilian tentang jadwal pengiriman susu dan jam berapa toko tutup di hari Minggu.

Rosalie menurunkan tasnya di tanah. Matanya menangkap sesuatu yang jauh lebih besar daripada rumah-rumah di sekitarnya.

Sebuah mansion berdiri tak jauh dari rumah baru mereka, dikelilingi taman yang penuh sesak oleh bunga. Aromanya terbawa angin sampai ke halaman keluarga Arden yang hijau tua dan polos. Warna-warninya membuat Rosalie tertegun, mengagumi pemandangan itu dari jauh. Ia melangkah mendekat ke ujung pagar rumahnya sendiri tanpa benar-benar memutuskan untuk melakukannya, dan memperhatikan mansion itu lebih lama daripada yang ia rencanakan.

Cecile muncul di sampingnya tanpa suara. Rosalie tersentak.

“Jangan memandang terlalu lama ke rumah itu,” kata Cecile, suaranya datar, seperti mengulang sesuatu yang sudah lama kehilangan kengeriannya baginya sendiri. “Katanya di sana hanya ada hantu.”

“Hantu?” Dahi Rosalie mengernyit. Sulit baginya membayangkan rumah dengan taman seindah itu sebagai rumah angker.

Cecile mengangguk. “Kami tak pernah melihat pemiliknya.” jawabnya, lantas mengangkat bahu, matanya sendiri tak sepenuhnya lepas dari jendela lantai dua. “Hanya pelayannya yang keluar sesekali. Membeli benang, mengambil pos, hal-hal semacam itu. Sisanya---“ ia tak menyelesaikan kalimatnya, hanya bahu yang terangkat sekilas.

Rosalie mengangguk, tetapi perhatiannya kembali pada mansion itu. Di atas, langit perlahan berubah kemerahan, dan matanya masih memandangi mansion beberapa detik lamanya sebelum Cecile pergi meninggalkan mereka untuk merapikan barang-barang.

Yang tak disadari Rosalie---di balik salah satu jendela besar mansion itu, seseorang sudah memperhatikan tetangga baru mereka sejak mobil itu pertama kali berhenti.

⋆♱✮♱⋆

Lucien berjalan sangat pelan. Tubuhnya terasa semakin berat, meskipun beberapa menit lalu ia baru saja minum. Dalam keremangan, pendengarannya menangkap suara-suara asing yang baru muncul di sekitar lingkungan itu. Ia menyeka tetesan merah di ujung bibirnya, lalu mendekati jendela dan bersembunyi di balik vitrase yang sedikit bergoyang.

Lucien tidak ingat kapan tepatnya ia mulai berdiri di dekat jendela. Waktu bekerja berbeda baginya, mengalir tanpa penanda yang berarti selain matahari yang naik dan turun, dan sore ini tak ada alasan untuk membedakannya dari sore-sore lain kecuali gadis di halaman rumah hijau tua itu.

Ia mengamati caranya berdiri terlalu lama di ujung pagar, caranya melihat taman seolah taman itu memanggilnya dengan nama yang belum ia ketahui. Ada sesuatu yang tidak biasa dalam cara manusia muda memandang sesuatu yang seharusnya menakutkan mereka. Orang-orang Ravellune sudah lama berhenti memandang mansion ini. Mereka melewatinya dengan mata tertunduk, seperti melewati kuburan yang belum ditutup rumput.

Gadis ini tidak menunduk.

Napas Lucien tertahan---sebuah kebiasaan lama yang bahkan tidak lagi ia sadari. Aroma dari halaman rumah itu terbawa angin, membuatnya menjauh setengah langkah dari jendela.

Ia mendengar langkah di belakangnya, ringan dan sengaja dibuat terdengar, dan tahu itu Gideon tanpa perlu menoleh.

“Tetangga baru?” tanya Gideon.

Lucien tidak menjawab.

Gideon berdiri di sampingnya, tangannya memegang wadah yang masih basah. Ia memandang ke arah yang sama, ke gadis berambut cokelat yang kini sedang menurunkan koper terakhir dari mobil sambil tertawa pada sesuatu yang dikatakan ibunya. Ada kehangatan dalam gerakannya yang terasa asing di rumah ini.

“Kepala keluarganya seorang dokter,” kata Gideon lagi, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Lucien. “Rumah hijau itu sudah kosong dua tahun. Aneh juga akhirnya ada yang mau.”

Lucien masih tidak menjawab. Matanya mengikuti gadis itu berjalan ke pintu depan rumahnya, berhenti sebentar di anak tangga, menoleh sekali lagi ke arah mansion sebelum masuk.

Untuk sepersekian detik, tepat sebelum pintu tertutup di belakangnya, gadis itu tampak seperti sedang mencari sesuatu di jendela-jendela gelap mansion. Sekadar penasaran, sebelum ia tahu apa yang harus ditakuti.

Gideon menghela napas. Dia menutupi pandangan Lucien dengan wadah di tangannya. “Jangan,” katanya, meski Lucien belum melakukan apa pun untuk dilarang.

“Aku hanya melihat, Gideon,” balas Lucien sambil menyingkirkan tangan itu.

“Kau selalu ‘hanya melihat’.” Gideon melangkah mundur menuju pintu, tapi berhenti sejenak di ambangnya. “Aku ingat kali terakhir kau ‘hanya melihat’ seseorang selama tiga minggu berturut-turut.”

Lucien tidak membalas itu.

Di luar, cahaya terakhir hari tenggelam di balik atap-atap Ravellune. Lampu-lampu gas mulai menyala satu per satu di sepanjang jalan. Rumah hijau tua di seberang tetap gelap sedikit lebih lama daripada rumah-rumah lain di jalan itu.

Lucien memperhatikan jendela kamar di lantai dua rumah itu menyala terakhir kali, sebuah siluet kecil melintas sekali di baliknya sebelum tirai ditarik menutup.

Ia tetap berdiri di sana lama setelah tirai itu tertutup, lama setelah Gideon pergi menutup pintu kamarnya sendiri di ujung lorong, lama setelah rumah mansion itu kembali sunyi seperti seharusnya setiap malam sejak entah kapan.

Di bawah, dalam gelap taman yang tak lagi terlihat dari jendela lantai dua, kelopak-kelopak yang gugur sejak sore masih belum menyentuh tanah.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk