Ravellune punya kebiasaan bangun pelan-pelan, seolah kota itu membutuhkan waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa pagi benar-benar telah tiba.
Jade sudah berdiri di halaman sejak subuh, mengecat ulang pagar kayu yang belum tersentuh sejak keluarga Arden pindah. Cat putihnya belum kering di beberapa bagian. Sesekali ia berhenti, mengusap keringat dengan lengan bajunya, meski udara pagi masih cukup dingin untuk mengubah napasnya menjadi uap tipis.
Di dalam rumah, dapur sudah dipenuhi tepung dan bubuk cokelat yang bertaburan di atas meja. Lilian mengukur bahan dengan gerakan yang terlalu berhati-hati untuk seseorang yang sudah membuat resep ini puluhan kali. Rosalie berdiri di sampingnya, menimbang sesuatu di atas neraca dapur yang jarumnya sedikit macet, matanya lebih sering melirik jendela daripada mangkuk di hadapannya.
Ketukan datang dari pintu belakang, disusul gonggongan kecil.
Cecile muncul di ambang pintu yang menghadap taman, menggendong seekor Pomeranian cokelat tua yang tampak lebih tertarik pada aroma dapur daripada siapa pun di ruangan itu.
“Wah, lucu sekali.” Rosalie meletakkan sendok takarnya dan mendekat.
“Aku ingin memperkenalkan Polly pada tetangga baruku.” Cecile tersenyum, dan cahaya pagi yang masuk lewat pintu membuat senyum itu tampak lebih cerah daripada yang sebenarnya.
Pandangannya berpindah ke island dapur, ke tepung dan bubuk cokelat yang berserakan. “Sedang membuat apa kalian?”
Polly menggonggong sekali, seolah ikut bertanya.
“Kudapan untuk dibagikan ke tetangga,” jawab Lilian, tanpa menoleh dari mangkuknya. “Apa yang biasanya disukai orang-orang di sini?”
“Biar kubantu.” Wajah Cecile mencerah. “Tapi aku harus mengajak Polly jalan-jalan dulu.”
Lilian menoleh pada putrinya. “Biar Rosalie saja yang mengantarnya. Cuacanya bagus untuk berkeliling.”
Rosalie mengangguk. “Ide bagus.”
“Jalan-jalan di kota ini saling terhubung,” kata Cecile, melepaskan tali kekang yang melilit tangannya. “Kau tak akan tersesat.”
Rosalie membersihkan tangan di wastafel, melepas apronnya, lalu mengambil alih Polly dari pelukan Cecile. Anjing kecil itu langsung mengendus pergelangan tangannya, mencari sisa adonan yang mungkin masih menempel di sana.
“Ada yang perlu kubeli, Bu?”
Lilian melirik isi dapurnya sekali lagi. “Apel,” katanya. “Ibu tiba-tiba ingin membuat pai.”
Rosalie mengangguk, meraih mantel dari gantungan dekat pintu, lalu keluar bersama Polly. Ia berhenti sebentar di halaman untuk meminta izin ayahnya, yang hanya melambaikan kuas cat sebagai jawaban tanpa benar-benar berhenti bekerja.
Baru ketika pagar rumahnya sudah tertinggal beberapa langkah di belakang, matanya berbelok ke kebun bunga di seberang jalan---mansion tua dengan pagar besi tinggi, tanaman yang tumbuh terlalu rapi untuk rumah yang katanya jarang dikunjungi siapa pun. Ia tidak berhenti kali ini. Polly sudah lebih dulu menariknya ke arah lain, hidungnya menempel ke tanah, mengikuti jejak yang hanya bisa dicium olehnya sendiri.
⋆♱✮♱⋆
Di lantai dua mansion, Lucien duduk membaca sebuah buku usang. Ia sudah membacanya berkali-kali, tetapi tetap membalik halaman demi halaman tanpa benar-benar mencari sesuatu di dalamnya.
Sudut matanya menangkap pergerakan dari rumah yang baru dihuni lagi kemarin.
Rosalie sedikit kesulitan mengendalikan seekor Pomeranian cokelat tua. Gaun sebetisnya terlilit tali kekang. Ia terjatuh di atas trotoar. Jade, yang sedari tadi sibuk dengan kuas dan cat, berlari mendekatinya, membantunya berdiri.
Lucien tidak menutup bukunya. Pandangannya beralih pada ayah dan anak itu untuk beberapa saat, hingga Rosalie berdiri kembali dan menepuk-nepuk gaunnya.
Dari kejauhan, pendengaran Lucien menangkap suara gadis itu. “Aku baik-baik saja, Ayah.”
Suara itu sampai ke telinga Lucien dengan jelas, dan entah mengapa membuatnya lupa akan halaman yang masih terbuka di tangannya.
Lucien tetap memperhatikan sampai suara langkah mereka semakin jauh.
Ia lantas membaca satu kalimat dua kali tapi tak dapat diingatnya. Lucien kembali mengangkat pandangannya pada jalan, di mana ia mendapati gadis itu hampir tak terlihat.
Gideon masuk tanpa mengetuk, seperti biasanya, membawa dua cangkir yang salah satunya tak akan pernah disentuh.
“Aku akan keluar.” Ia meletakkan cangkir di meja. “Ada yang perlu kubeli, baru setelah itu ke hutan.”
Lucien tidak menjawab.
Gideon duduk pada kursi di hadapan Lucien. “Kuanggap kau setuju,” tambahnya.
Lucien masih diam, dan Gideon tak repot-repot menunggu lebih lama. Ia sudah cukup lama tinggal di rumah ini untuk tahu bahwa diamnya Lucien punya banyak jenis, dan yang satu ini paling baik dibiarkan saja.
Ia mengikuti arah pandang Lucien, yang masih terpaku pada rumah keluarga Arden. Memperhatikan sesaat, tak berkomentar, lalu pergi tanpa terburu-buru.
Bahkan setelah pintu tertutup, Lucien belum kembali membaca.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!