Sore itu datang tanpa suara.
Rosalie menghabiskannya di kamar, duduk dekat jendela dengan rancangan pembelajaran di pangkuannya. Sejak pulang sekolah, ia baru menulis beberapa kalimat. Perhatiannya lebih sering terangkat dari kertas menuju taman bunga Mansion Vale di seberang halaman.
Dari lantai dua, taman itu tampak seperti sesuatu yang dibiarkan terlalu lama di bawah hujan dan tumbuh liar karena tidak ada yang berani menghentikannya.
Mawar putih memenuhi pagar besi, sebagian merambat pada tiang batu, sebagian lain jatuh melewati batasnya dan bergoyang setiap kali angin lewat. Di antaranya tumbuh bunga-bunga kecil berwarna biru pucat yang tidak ia kenali namanya. Rumput tinggi di beberapa sudut, tetapi jalan setapak di tengah taman tetap bersih---seolah seseorang masih menggunakannya setiap hari, hanya saja tidak pernah pada jam-jam ketika orang lain bisa melihat.
Rosalie menyukai pemandangan itu. Ada ketenangan dalam taman yang tidak berusaha terlihat sempurna, yang bunga-bunganya tumbuh sesuka hati, saling menutupi, saling berebut cahaya, dan tetap tampak serasi dari kejauhan.
Ia menyandarkan pelipis pada telapak tangan dan meletakkan pena di atas meja.
Hari pertamanya mengajar berjalan lebih baik daripada bayangannya. Ia masih ingat wajah Edith Bell menawarkan kakaknya sendiri dengan kesungguhan yang membuat seluruh kelas tertawa. Ia juga masih ingat peringatan Bu Fletcher, meski ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.
Jangan keluar setelah senja.
Kalimat itu seharusnya terdengar seperti nasihat biasa. Ravellune dekat dengan hutan, dan hutan selalu punya cukup alasan untuk membuat orang berhati-hati. Tetapi cara Annie mengucapkannya menempel di benak Rosalie lebih lama daripada yang pantas untuk sebuah nasihat biasa.
Ketika hendak mengambil pena lagi, ujung kertas buku agenda menggores sisi jarinya. Rosalie menarik tangannya dan melihat setitik merah mengintip di kulitnya. Ia mengusapnya sekilas, lalu menutup buku agenda dan meletakkannya di sebelah pena.
Cahaya di taman mulai berubah. Hijau yang tadi memenuhi pandangan surut perlahan, digantikan kelabu kebiruan. Bayangan pagar memanjang di atas jalan setapak. Satu per satu bentuk bunga kehilangan warna, menjadi bayang-bayang pucat di antara dedaunan.
Rosalie baru sadar senja telah tiba ketika burung-burung di sekitar rumah berhenti bersuara, digantikan serangga yang bersahut-sahutan.
Ia berdiri, berjalan mendekati jendela. Udara yang masuk terasa lebih dingin dari sebelumnya. Dengan kedua tangan ia merapikan tirai yang bergeser, lalu hendak menutup jendela itu seluruhnya.
Sesuatu bergerak di taman.
Rosalie berhenti.
Seorang pria keluar dari pintu samping Mansion Vale, mengenakan pakaian hitam yang membuat tubuhnya nyaris menyatu dengan bayangan bangunan di belakangnya. Langkahnya tenang, hampir tanpa suara, saat ia menuruni tangga batu dan memasuki jalan setapak di antara mawar.
Lucien Vale.
Rosalie belum pernah melihatnya berjalan sejauh itu dari rumah. Pada pertemuan pertama mereka, ia hanya berdiri di ambang pintu, pucat dan diam, dengan suara serak yang terdengar seolah lama tidak digunakan. Sekarang, di bawah sisa cahaya senja, ia tampak lebih asing lagi.
Lucien berjalan melewati mawar putih tanpa menyentuh satu kelopak pun. Kepalanya sedikit menunduk. Ia tidak tampak seperti orang yang sedang menikmati taman miliknya sendiri. Pandangannya terus menyusuri tanah, seolah sedang mencari sesuatu.
Rosalie lupa menutup jendela.
Mungkin karena suara lantai kayu yang berderit di bawah kaki Rosalie, mungkin karena sesuatu yang lain, Lucien berhenti. Ia mengangkat wajah.
Pandangan mereka bertemu dari dua rumah yang dipisahkan pagar besi.
Rosalie merasakan napasnya tertahan.
Mata Lucien sulit dibaca dalam remang-remang, warnanya gelap dan nyaris hitam, dengan kilatan pucat di dalamnya ketika cahaya terakhir menyentuh wajahnya. Ia tidak terlihat terkejut melihat Rosalie. Hanya diam, seolah sudah tahu perempuan itu ada di sana sejak awal.
Rosalie seharusnya menutup jendela. Ia juga seharusnya mengalihkan pandangan lebih dulu, sebab menatap seseorang dari balik jendela bukan kebiasaan yang pantas. Terlebih pada orang yang seluruh penduduk Ravellune bicarakan dengan suara rendah.
Ia tidak melakukan keduanya. Lucien juga tidak.
Angin bergerak di antara mereka, membawa aroma mawar yang lebih pekat dari sebelumnya. Rosalie menggigil, bukan karena udara dingin. Ia mengangkat satu tangan, ragu-ragu, memberi salam kecil.
Lucien tidak membalas.
Sebaliknya, wajahnya berubah sangat sedikit, cukup untuk membuat Rosalie bertanya-tanya apakah ia benar-benar melihatnya. Kepalanya menoleh sekilas ke arah rumah Arden, seolah mendengar sesuatu dari dalam sana yang tidak bisa didengar Rosalie.
Lalu ia berbalik.
“Tuan Vale?” Rosalie memanggil sebelum sempat memikirkan apakah ia seharusnya melakukan itu.
Langkah Lucien berhenti.
Ia menoleh setengah badan. Jarak mereka terlalu jauh untuk percakapan yang wajar, tetapi suaranya tetap sampai ke jendela Rosalie, rendah dan jelas.
“Tutup jendelamu, Nona Arden.”
Rosalie memegang tepi jendela. “Mengapa?”
Untuk pertama kalinya, sesuatu berubah pada ekspresi Lucien, begitu kecil hingga Rosalie hampir mengira ia salah melihatnya. Rahangnya mengeras.
“Karena senja sudah lewat.”
Sebelum Rosalie sempat bertanya lebih jauh, Lucien melanjutkan langkah, lebih cepat sekarang, melewati jalan setapak dan menghilang di balik sisi mansion.
Rosalie masih berdiri di jendela ketika suara ayahnya memanggil dari lantai bawah untuk makan malam. Ia menoleh ke arah pintu, lalu kembali memandang taman yang kini hampir sepenuhnya gelap.
Di antara mawar-mawar putih, tidak ada siapa pun.
Karena senja sudah lewat.
Kalimat Lucien kembali terngiang di benaknya.
Rosalie menutup jendela.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!