Senin pagi pertama sejak tiba di Ravellune. Rosalie bersiap untuk pergi ke tempat kerjanya.
Ia berdiri di depan cermin dengan rambut yang sudah tergelung rendah. Beberapa helai lepas di dekat pelipis, dan ia merapikannya dengan ujung jari sebelum menyelipkan jepit terakhir.
Pantulan di hadapannya memperlihatkan seorang perempuan muda yang tampak lebih dewasa daripada biasanya, seolah pagi ini telah meminjamkannya beberapa tahun yang belum sepenuhnya ia miliki.
Blus berwarna gading menutupi lehernya dengan kerah tinggi yang sederhana. Lengan panjangnya berakhir rapat di pergelangan tangan, sementara rok biru tua jatuh hingga hampir menyentuh mata kaki. Tidak ada hiasan berlebihan. Semuanya sederhana, pantas, cukup nyaman untuk dikenakan sepanjang hari di sekolah.
Rosalie menundukkan kepala sedikit, memeriksa kerahnya, lalu mengangkat wajah kembali.
Pipinya masih menyimpan sedikit warna alami setelah kesibukan pagi. Bibirnya tidak diberi apa-apa selain warna lembut yang sudah dimilikinya sendiri. Ia tidak pernah merasa perlu melakukan lebih dari itu.
Ia mengambil tas kulit di atas meja, memasukkan buku-buku terakhir ke dalamnya, lalu memandang cermin sekali lagi.
Guru.
Kata itu masih terasa asing ketika ditujukan kepadanya, seperti nama yang belum sepenuhnya pas dipakai.
Rosalie tersenyum kecil pada bayangannya sendiri, lalu meraih gagang pintu. Ia menoleh sebentar ke jendela kamarnya yang terbuka, menghadap langsung ke Mansion Vale. Wangi bunga di tamannya sampai ke sini---manis, agak berat, jenis wangi yang biasanya hanya betah di udara pagi. Rosalie tertegun sebentar sebelum menyadari dirinya tertegun.
Jendela-jendela di sana masih sama seperti beberapa hari sebelumnya. Gelap.
Rosalie bertanya-tanya apakah rumah itu belum dialiri listrik. Di Ravellune, hal semacam itu masih mungkin terjadi, terutama di rumah-rumah tua. Bahkan Kediaman Arden pun baru memasangnya karena mereka pindah kemari.
Ia mengangkat bahu sekilas, kembali ke kamar untuk menutup jendela, dan membiarkan hanya tirainya yang terbuka.
Lantas, Rosalie turun ke bawah, tempat di mana ibu dan ayahnya menunggu di ruang makan.
“Ayah akan mengantarmu,” ujar Jade setelah meminum seteguk kopi. “Kau harus bertemu kepala sekolah, kan?”
Rosalie mengiakan. Mereka bertiga sarapan bersama, menceritakan hal-hal acak yang terpikir begitu saja di kepala.
Beberapa saat kemudian, Rosalie sudah berada di depan rumah, dan memeluk ibunya.
Lilian berkata, “Nikmatikah hari pertamamu, Rosalie.”
“Terima kasih, Bu,” balasnya, lalu melepas pelukan.
perempuan itu masih melambaikan tangan pada ibunya ketika mobil berbelok keluar dari halaman. Matanya sempat berhenti di taman bunga Mansion Vale, hanya sepersekian detik, sebelum ia alihkan kembali ke jalan di depan.
⋆♱✮♱⋆
Rosalie tak pernah membayangkan salah satu mimpinya akan terwujud secepat ini. Ia benar-benar berdiri di depan para murid.
Mereka duduk rapi dari depan hingga belakang, tenang, hanya suara napas dan angin di luar kelas.
Rosalie sempat meneguk liur sebelum menulis namanya di papan. Setelah ia memperkenalkan diri, seorang murid bertanya, “Bu Arden! Apa Ibu sudah menikah?”
Senyum terulum di bibirnya. “Sayangnya, belum---“ Rosalie melirik buku absen, “Nona Edith Bell.”
“Anda cantik. Saya ingin memperkenalkan Anda pada kakak saya,” lanjut anak perempuan itu.
Rosalie menggeleng, menahan tawa. “Kita akan bicarakan itu lagi nanti, oke? Sekarang waktunya belajar.”
Edith memajukan bibirnya. Teman-temannya tertawa.
Selain pertanyaan dari Edith, kelas hari itu berjalan normal, dan Rosalie menikmati setiap menitnya.
⋆♱✮♱⋆
Setelah sekolah selesai, tawa anak-anak yang hendak pulang menggema di udara, mengiringi langkah Rosalie menuju ruang kepala sekolah.
Seorang wanita paruh baya berdiri di dekat jendela, mengamati bayangan Rosalie yang terpantul di kaca.
“Bagaimana hari pertamamu, Nona Arden?” tanya wanita itu tanpa berbalik.
Rosalie maju beberapa langkah, mendekat ke meja yang di atasnya ada papan nama bertuliskan Annie Fletcher, Kepala Sekolah. Kedua tangannya mencengkeram tas kerja.
“Sangat menyenangkan, Bu Fletcher.”
Annie berputar, menghadap Rosalie. “Saya sangat berterima kasih karena Anda mau mengajar di sekolah kami.”
“Saya juga berterima kasih karena mau menerima saya.”
“Omong-omong, Anda tinggal di mana?”
“Di sebelah Mansion Vale. Apa Anda tahu?”
“Ah---“ Jeda. Pandangan Annie beralih dari Rosalie ke suatu titik di luar jendela, seolah jawabannya ada di sana. “Rumah yang banyak mawar putihnya itu ya.”
Rosalie mengangguk. “Ada apa dengan itu, Bu?”
Annie menggeleng. “Tidak apa-apa. Sampai jumpa besok, Nona Arden. Sekali lagi terima kasih.”
Rosalie menunduk, lalu memutar tubuhnya menuju pintu.
“Nona Arden.”
Langkah Rosalie terhenti. Ia menoleh.
“Saya tidak tahu apa Anda sudah mendengar ini, tetapi ingatlah untuk tidak keluar setelah senja.”
Dahi Rosalie mengernyit. “Kenapa begitu, Bu Kepala Sekolah?”
“Di dekat rumahmu ada sarang binatang buas.”
Rosalie mengangguk lagi, mengucap terima kasih, lantas meninggalkan ruang kepala sekolah.
Di koridor, kata-kata itu kembali terngiang di kepalanya.
Binatang buas.
Sudah dua orang yang mengatakan hal serupa kepadanya sejak ia tiba di Ravellune. Entah mengapa, kekhawatiran kecil mulai menetap di dadanya, dan tidak juga pergi sepanjang jalan pulang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!