Ngantuk Plus Pusing

0 dibaca

A

Sempit, panas dan dua laki-laki di dalam satu ruangan. Itu yang seharusnya terjadi ... “Tolong buka pintunya, biarkan aku ikutan masuk juga.” Linda menggedor-gedor pintunya, Budi dah bodo amat ia kembali masuk ke kamar dan melanjutkan maraton nya.

Terdengar berisik sekali di telinga, Yuda gak tahan sama suara berisiknya langsung membukaan pintunya seperempat saja, “Apa mau mu dasar babi?!” bentaknya cukup keras.

“Kamu boleh mengejekku sepuas nya, izinkan aku mencontek juga,” melasnya yang masih bisa tersenyum dibalik sela pintu yang belum terbuka secara penuh, aku melihat tingkah laku mereka berdua terlebih dahulu.

Dari belakang aku melihat gelagat nya yang cengengesan menertawakan Linda, “Mana sikap sopan santun mu? Kamu sedang berhadapan dengan siapa di sini,” ujar Yuda dengan kepala yang mendongak, ia mulai mengerjai gadis kecil itu lagi.

“Kumohon, izinkan aku mencontek tugasmu, ulangi perkataan ku barusan,” Yuda menyuruhnya dengan suara lembut.

“Kumohon, izinkan aku mencontek tugasmu,” Linda mengulangi lagi perkataannya sesuai perintah.

“Katakan itu dari lubuk hatimu paling dalam,” ucapnya sekali lagi.

“KUMOHON! IZINKAN AKU MENCONTEK TUGASMU!” tegas Linda dengan rendah hati.

“Katakan sekali lagi.”

“Kumohon! Uhuk ... Uhuk ...” Ia tersedak sama air liur nya sendiri. “Izinkan aku mencontek tugas mu! Uhuk ... Uhuk ...”

“Ini baru Linda yang kukenal, silahkan masuk kedalam. Jangan mengeluh soal kamarku yang panas dan pengap ini,” ajak Yuda, membiarkan pintunya tetap terbuka.

“Tidak akan!” ketusnya.

Yuda suka sekali mempermainkan kita, selama satu tahun kita hidup bersama di rumah kontrakan ini. Ia selalu mengacak-acak emosi dan suasana hati kami. Ada-ada aja dan kenapa bisa bertemu orang yang seperti ini.

Awalnya kami mengira, ia seorang yang sangat pendiam, cuek bebek, gak peduli, suka berada di dalam dunianya sendiri. Tahunya, ia lebih peduli dari seorang teman. Melainkan secara tidak sadar kami bersikap tak seperti sahabatnya. Emosi yang kita curahkan padanya, perlahan-lahan membuat hubungan kita semakin dekat satu sama lain.

“Di sini gelap Yud, gak ada penerangannya?” ujar Linda melihat sekeliling kamarnya.

“Gunakan mata batin mu kalau mau menyontek. Lihat,” Ia menunjuk ke arah ku. “Rido aja bisa menulis di tempat yang gelap ini.”

“Hmnnn ... Aku tidak mau mata ku rusak gegara ini.”

“Kamu banyak mau nya. Ya udah,” Yuda sedikit membuka pintunya. Akhirnya aku bisa melihat tulisan ku sendiri. Linda sudah terduduk di lantai, lalu didorong keluar lagi.

“Apa maksud mu ini?”

“Katanya butuh pencahayaan, ya diluar.”

“Terus ... Gimana cara ku menyonteknya?”

Yuda jongkok dihadapannya, aku menarik celananya untuk meminjamkan senter di gawainya. Ia langsung memberikan begitu saja dan semua jawabannya memang sudah disiapkan untuk kita berdua, kecuali Budi.

“Itu Rido sedang mengerjakan dengan bantuan penerangan sama HP mu, kenapa aku gak boleh?”

“Perangkat yang ku miliki cuma satu, kau harus sabar bergantian dengannya,” suruhnya.

“Ohh~ Jadi gitu.” Linda ikut nurut saja.

Selagi aku sedang membatin dan mengingat jawabannya, catatan perkataannya begitu rapi, bagus, terstruktur. Tak ada gangguan sama sekali, kebanyakan soal yang sudah aku isi sendiri sudah sesuai dengan jawabannya. Tinggal aku periksa dan bandingkan saja.

“Aku sudah selesai Yud. Terima kasih atas jawabannya.”

“Rido sudah selesai tuh, sekarang giliran ku,” ujar Linda.

Yuda hanya melihat saja dengan muka yang tersenyum padanya. “Kamu kenapa sih? Jangan buat aku salah tingkah begini.”

“Lin, ini sudah malam. Aku ingin beristirahat dan tidur, kau bisa mengerjakannya besok pagi saja.”

“Hah?” Linda sontak terkejut, aku jadi menoleh ke arahnya saat mau masuk ke kamar. “Be-Besok? Aku tadi sudah menuruti permintaan mu.”

“Apakah kalian pikir aku memberikan jawaban secara cuma-cuma? Mencontek bukanlah hal yang bagus, itu merupakan bibit korup mulai tumbuh.” Yuda menatap ku begitu tajam dengan mata yang sudah begitu lelah. “Aku tau isi pikiran mu yang cocoklogi dengan jawaban ku. Kau pikir itu sudah benar seratus persen?”

Aku membuka kembali buku nya dan menunjukkan ke dia. “Jadi, semua jawaban ini yang berasal dari catatan mu salah?”

“Aku gak menyebut begitu.” Yuda mulai main tebak-tebak kata dengan kita.

“Yud, kumohon. Ini sudah malam, masa aku harus lembur mengerjakan tugas sekolah lagi. Ngantuk tau di kelas,” ucap Linda yang sama-sama sudah lelah.

“Ya tidur,” ujarnya dengan sepele.

“Tapi, aku gak mau mendapatkan tugas tambahan. Plis lah, kali ini saja. Berbuat hati pada ku,” pinta nya.

“Aku juga Yud, gak mau mendapatkan tugas tambahan seperti di kelas satu.” Jika ia tidak bisa diluluhkan, Neraka remidi tanpa selesai akan terulang lagi.

“Gimana yah? Kalian gak membawa keuntungan bagi ku,” Yuda mempertimbangkan kita berdua.

“Besok aku mogok masak bikin sarapan,” Linda mencoba mengancam nya. Aku rasa hal itu tidak bekerja padanya.

“Itu bagus, kalian bisa masak sendiri dan aku makan di luar sendirian,” malah diserang balik. Linda semakin memohon kepadanya.

“Aku cuma bercanda, besok kau ingin dimasakin apa?” rayu Linda dengan cara lain untuk meluluhkan hatinya.

“Hmm ... Bandeng presto. Di sebelah rumah kontrakan ada rawa, tinggal pancing sama beli cabai di pasar, mudah kan? Tinggal bagi tugas dengan Rido.”

“Pagi - pagi memancing, kau sedang mikir apa sih? Gak keburu waktunya,” tegur ku.

“Kalau gak mau, gak apa. Berusahalah mengerjakan tugasnya,” Yuda langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya. “Dan satu lagi, semua jawaban mu salah Do. Itu hanyalah refrensi doang dari ku.”

Linda sama aku kompak menggedor pintunya, Budi yang terusik dari samping kamar ku yang berlawan dengan kamar nya Yuda, ia berteriak menegur kita. “Berisik!” Lalu melempar buku jawaban ke lantai untuk mengakhiri penderitaan kami.

“Terima kasih Bud,” Linda kegirangan kesenangan bisa mendapatkan jawaban yang bagus, apalagi tulisannya juga rapi dan bisa dibaca dengan mudah.

Kami lupa Budi sama pintarnya dengan Yuda. Ia hanya malas saja dan terkadang lebih keras kepala dibandingkan laki-laki yang sudah mengerjai kita.

“Ini kalau jawabannya sama, gak masalah kan?” ucap ku yang mencoret semua tulisan sendiri di atas meja makan.

“Bukan masalah, masa bodoh soal itu. Yang penting tugas sudah selesai, kan gak ada larangan untuk menyontek,” dengan cepat ia menulis di buku tulis nya sendiri.

Itu memang benar, pikir aja belakangan kalau guru-guru mempermasalahkannya. Kami menyalin dari awal sampai akhir membutuhkan setengah jam. Linda benar-benar belum mengisi semua jawabannya, seperti gak mau berusaha sama sekali.

...

“Ehmm nnn ...” Linda melakukan peregangan, ia sudah menyelesaikannya. “Selamat malam Do dan Selamat tidur.” Melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul dua belas malam kurang lima menit. Aku akhiri kegiatannya hari ini.

Budi keluar dari kamar dan masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil lalu mengambil buku jawabannya. Aku bertanya terlebih dahulu, apakah semua jawaban tersebut sudah benar. “Gak tau dan aku bukan guru kalian,” jawabnya langsung.

“Yes ... Dapat, Woohoo!” Yuda berteriak dari dalam kamar, sepertinya ia belum tidur sama sekali. Dia pergi keluar entah dengan tujuan apa dan langsung mengambil buku jawaban milik Budi. “Aah~” Mencurigakan sekali ucapannya, lalu mengembalikannya pergi ke kamar mandi ikutan setoran juga.

Aku ingin tau, apa maksud dari ucapan Yuda barusan. “Jangan dipikirkan,” Budi mencoba menenangkan ku, masa mereka bekerja sama sih?

Setelah selesai dengan urusannya, Yuda merasa lega dan tersenyum balik ke dalam kamar tanpa sepatah kata pun. Budi sudah pergi dari tadi, aku memeriksa pertanyaan dan jawabannya berkali-kali.

“Ini ...” Pertanyaan nomor 1 sampai 10, aku mengisi jawabannya tidak berurutan. Melihat catatan yang ku contek dari Yuda yang sudah dicoret, ternyata sebagai pelengkap dari detail dan alasannya. Keduanya bisa digabungkan dan diubah.

‘Kenapa aku gak menyadarinya?’ Betapa bodoh nya aku ini. Linda turun kembali ke bawah, ia terlihat sedang kelupaan sesuatu. Menyapa ku yang sedang merevisi jawabannya ketiga kalinya.

“Kamu belum selesai menyalinnya?”

“Aku sedang menulis ulang jawabannya. Sebelum terlambat, periksa kembali pekerjaan mu. Tulisan jawabannya dari Budi gak berurutan sesuai soalnya.”

“Benarkah?” Ia meminum air putih dari gelas mika dan membawa naik ke atas.

Ditengah aku sedang disibukkan menulis dan jemari ku mulai terasa pegal, Linda menjerit dari atas dan langsung turun ke bawah menyalakan kompor nya diatas panci yang berisikan nasi di dalam sana, untuk mengeringkan kertas di buku yang telah basah.

Ia meringkuk menyalahkan dirinya sendiri dan meminta bantuan ke orang lain. Pada akhirnya semua yang ada di dalam kamar gak ada yang mau menjawab, kecuali Linda mendobraknya dengan keras sampai mereka tertimbun daun kayu tersebut.

“Tengah malam begini, sedang ngapain sih?” teriak Yuda yang memarahinya.

“Apa-apaan sih Lin, bisakah kau gak banyak tingkah untuk satu hari sa--Ini sudah ganti hari ternyata,” mendengar keluhan Budi aku jadi tertawa mendengarkannya.

“Kumohon kalian, buku jawaban ku basah. Semua tulisannya gak bisa dibaca,” Linda memelas ke mereka.

“Salah sendiri!” Teriak mereka berdua dan terdengar suara pintu kayu yang mau dibenerin lagi.

“Aw!” Suara cukup keras, aku penasaran mereka sedang ngapain. Melihat sejenak menarik kursinya, Linda memukul mereka berdua dan membanting pintunya lagi ke lantai.

“このくぞガキ,” Budi terlihat marah dengan suara khas yang ditirukan di Anime yang ia tonton. Yuda mau ikutan juga namun, “Jangan membentak ku,” Linda memelas hanya ingin meminta bantuan saja kali ini bukan untuk menyontek.

“Kenapa gak dari tadi kau meminta nya, aku atau Budi bisa mengajari mu,” ujar Yuda begitu santai.

“Yaah~ Aku ingin dengan cara yang instan,” ucap Linda yang ingin terlihat lucu.

“Balik tidur aja Bud,” suruh Yuda.

“Setuju.”

“Tunggu-Tunggu, aku cuma bercanda. Tolong ajari aku dari awal, jika menyontek saja. Aku gak tau kapan pintarnya.”

“Nah~ itu sadar diri,” ucap Yuda dan balik melihat ke arahku. “Do, yang sedang kau kerjakan itu semua sia-sia, jawaban Budi zonk semua.”

Haaaaa~ A-A-Aku sudah mencatat sampai soal nomor lima, ke-kenapa baru sekarang ia mengatakanya? Aku kesal pada diriku sendiri, mau menyalahkan mereka tetapi sudah dipermainkan sejak awal. Yuda meninggalkan kamarnya dan membawa papan tulis putih ke dinding dapur. Budi menyiapkan buku paket yang setebal itu dan spidolnya.

“Kita mulai saja, les singkat ini.”

Yuda langsung menulis nama buku paket memberikan halaman dan poin penting paragraf ke berapa satu-persatu. “Ini adalah petunjuknya.”

Budi juga ikutan menulis dengan cara melingkari nya, berbeda metodenya milik Yuda tetapi bukan per-halaman ataupun paragraf. Ia menulis poin penting pertanyaanya dan dihubungkan ke tulisannya Yuda.

“Itu di dalam sana ada jawabannya?” tanya ku yang sudah agak sedikit ngantuk.

“Ba-ca! Jika kalian mau pintar harus berusaha dari nol tapi kita berbaik hati di sini. Jadi aku berikan kode cheat nya mengerti?”

“Baca? Keburu ketiduran aku,” ucap Linda.

“Jangan banyak ngeluh, masih ada waktu enam jam sebelum berangkat ke sekolah.”

“Ma-Maksud mu, kita gak tidur?”

“Ya Tidur,” jawab Yuda.

“Aku juga mau tidur. Kalian baca semua ini yang telah ditandai di papan tulis. Kalau sudah paham, tinggal bangunin si Yuda. Palingan ia di kamar masih ngejar event game nya.” Budi balik lagi ke kamar dan terdengar sedang memindahkan daun pintunya untuk dipasang kembali.

“Jika kalian tertidur tanggung sendiri,” Yuda mau balik ke kamar tapi ditahan oleh Linda. “Bukan begini, aku dimintai diajari nya. Kau harus seperti guru beneran.”

“Hmm ... Menarik, kalian berani pasang berapa?”

“Maksud mu dibayar?” ujar ku.

“Kini sudah pergantian hari, termasuk uang lembur atau tukar jasa. Kalau gak mampu ...,” usulnya yang memberikan dua opsi.

Saat ini pikiran ku begitu acak adut gak karuan, mata ku juga mulai berkunang-kunang dan gak bisa berpikir jernih.

“Yuda ... Kumohon tetap di sini, awasi aku dan jagain aku biar gak tertidur. Sudah muak remidi beberapa kali gak ada selesai nya.”

“Baiklah. Aku akan mengari mu semampu ku,” mulutnya sudah menguap tetapi masih bisa menahan rasa kantuknya.

“Aku juga sama, tapi bayaran nya bisa nanti?”

“Fleksibel. Jika aku minta sekarang, kalian gak boleh ngeluh.”

“Untuk seharian penuh, kamu bisa memanjakan ku dalam batasan tertentu sebagai pasangan mu. Apakah itu bisa sebagai gantinya?”

Yuda langsung mengangkat tubuh kecil dan membantu membacakan pertanyaan nya, di pangkuan paha nya.

“Soal nomor satu mengenai, apa sosial budaya di kerajaan titik-titik di tahun titik-titik. Berikan ulasan kalian dan detailnya. Berarti kau harus tau dasar budaya mereka di kerajaan tersebut pada tahun segini, untuk detail nya sesuai kepahaman mu karena gak mesti mengikuti apa perintah dari pertanyaan. Ini merupakan soal jebakan supaya kalian bisa berpikir kritis, itulah mengapa jawaban yang diberikan kami berdua hanyalah referensi semata yaitu cuma gambaran terlebih dahulu sebagai layout,” jelas Yuda dengan suara yang begitu tenang.

“Jadi, aku jawab nya harus gimana?”

“Tulis aja dulu nama kerajaannya dan tahun di soal tersebut.”

Aku mengikuti instruksi nya, Linda baru satu kata belum selesai sudah tertidur di atas pangkuan nya Yuda yang sedang ditahan.

“Kau bisa tidur Do. Besok bu Latifa pasti akan mengerti.”

Aku mengikuti saja rasa ego ini. Sudah masa bodoh dan ngantuk sekali, buku nya kubiarkan di atas meja makan. Terdengar suara kompor yang dimatikan, Yuda secara perlahan naik ke atas dari langkah kakinya menggendong Linda.

Ia turun ke bawah ketika aku sudah menutup mata dan terlelap seperti gak ada beban.

Bersambung

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk