Masuk ke Ruang BK

0 dibaca

A

Apakah kalian tahu saat ini kita sedang melakukan apa? Melihat pemandangan sekitar yang berjalan begitu cepat dan sedang begitu terburu-buru.

“Yuda, kamu sudah bangun dari tadi kenapa gak bangunkan kita?” gelisah Linda.

“Ha ... Ha ... Ha ...” suara Budi bernafas dari mulutnya.

“Rido, kau juga molor mulu. Padahal alarm di HP mu bunyi terus gak bangun-bangun.”

“Kita tidur tengah malam, jangan salahkan aku juga. Budi juga sudah bangun pagi-pagi, kau nya aja yang kesiangan,” balas ku.

“Jangan bertengkar di tengah jalan, jika kalian masih punya energi untuk lari pagi. Tambah kan saja kecepatannya.” Yuda ngacir gak terlihat meninggalkan kita.

Yap, Kami berangkat kesiangan gara-gara Dini hari ditambah lagi aku bangun kesiangan juga dan belum puas tidurnya, karena masih ngantuk di dalam mimpi, yang rencananya habis sholat Subuh bangun, lanjutin ngerjain sebentar tugas nya.

Ibu Negara rumah kontrakan kita terus memanggil tanpa henti dan buru-buru cepat berangkat. Yuda seperti biasa asik sendiri dengan gawai nya, masih sempet ia bermain game sebelum berangkat ke sekolah.

Kami tak menaiki angkutan umum, walaupun jaraknya kurang lebih 1 KM. Bila berjalan kaki bisa tembus sampai 10 menit, kami sering melewati jalan-jalan tikus agar mempersingkat perjalanannya. Belum lagi gara-gara Budi tidak bangun setelah diketuk pintunya, ditambah kami berempat belum sarapan sama sekali.

Ia begitu cepat, akhirnya terkejar dan memperlambat larinya. “Yuda, sekarang jam berapa? Ha ... Ha ... Ha ...” Dia hanya melihat dari gawainya saja tanpa memberitahu.

“Jam 6 lebih 40. Mungkin kita bisa terlambat,” jawabannya dari Linda dengan santai. Padahal tadi kita bersamaan sedang menyusul nya. Budi mencoba mengikuti kecepatan larinya yang sedikit kesusahan baginya.

Kami harus berjalan kaki lagi, supaya ia tidak tertinggal lebih jauh lagi. Sampai kehabisan nafas begitu, lalu berhenti sejenak.

Kenapa sekolah mengharuskan kita berangkat sebelum pukul tujuh di saat bel mau berbunyi, padahal kami berangkat dari rumah kontrakan jam setengah tujuh.

Satpam sekolah sering kali memperhatikan kita, terkadang beralih terlambat demi menghemat uang jajan agar tidak naik angkutan umum tadi.

Pintar-pintarlah mengatur keuangan nya, karena banyak keperluan yang lebih penting dibandingkan naik ojek, apalagi kuota internet. Tak ada Wi-Fi di rumah kontrakan, hiburan kita minim sekali kecuali Yuda sama Budi. Memilki kesibukan masing-masing sama urusan mereka.

Kami sering menghabiskan waktunya di sekolah dan kerap kali pulang terlambat demi menikmati Wi-Fi di sana dan mengunduh beberapa video hiburan, buat bekal pulang nantinya. Tak ada televisi ataupun radio, kipas angin pun tak disediakan di musim kemarau yang panjang ini.

‘Ya Tuhan ... Panas sekali sih di kota besar.’ Padahal masih pagi, suhu semalam cuma turun sebentar. Sudah banyak kendaraan dan macet. Melihat jalanan aspal saja, mungkin cepat matang bila kulempar telor ceplok di atasnya, itu hanya perumpamaan. Masih ada udara segar yang begitu tipis saat kita sedang berlari dipenuhi polusi karbondioksida polutan debu.

Kami berempat sudah berkeringat sangat, setelah sampai ke sekolah. Untungnya sudah mandi pagi, jadi badan gak bau dari air yang keluar dari kulit kita.

Namun ujung-ujungnya tetap terlambat, jam di dinding cukup besar depan gedung sekolah menunjukkan arah pukul 6 lebih 47 menit.

Terlambat dua menit dihentikan oleh satpam yang sudah paham dengan kita berempat.

“Sebelum masuk ke kelas, saya harus mencatat nama dan kelas kalian. Meskipun gak ada gunanya dan sudah diperingatkan berkali-kali, kenapa kalian masih tetap terlambat?” tegas Satpam yang menjalankan tugasnya tentang kedisiplinan.

“Jangan mempermalukan wali kelas kalian, yang sudah melindungi dua siswa berprestasi seperti mu,” imbuhnya.

Yang ia maksudkan adalah Yuda dan satunya Budi. Meskipun kurang meyakinkan, kepintaran nya setingkat atau setara sama siswa yang gak mendengarkan omongan satpam tersebut yaitu Yuda itu sendiri.

“Apakah bapak gak bosan ngomel terus kepada kita? Kenapa gak diberikan keringanan?” Yuda selalu berani berhadapan dengan orang dewasa, yang terlihat kurang ajar.

“Ini adalah tugas ku. Jika kalian diberikan keringanan, maka akan berdampak ke siswa/i yang lainnya,” jawabnya.

“Benarkah? Bukannya yang harus di disiplinkan adalah siswa yang membawa kendaraan tanpa surat izin mengemudi dan belum cukup umur. Setidaknya minimal berusia 18 Tahun yaitu kelas tiga. Tapi, Bapak membiarkan mereka masuk dan kebanyakan anak kelas dua jurusan IPA,” sanggahnya.

Itu memang benar, kami dalam perjalanan berangkat, memang ada banyak kendaraan yang di parkir kan sekitar rumah warga, belakang sekolah dan sampingnya tanpa izin yang jelas.

Meskipun pihak sekolah membiarkannya, namun itu bisa meresahkan para warga sekitar yang menjalankan aktivitas.

“Itu tidak masalah, asalkan mereka berniat untuk belajar dan tidak terlambat dari peraturan yang sudah ditetapkan. Pihak sekolah akan menutupi hal itu.” Orang yang berbicara tersebut merupakan guru Sosiologi, padahal beliau paham soal ilmu tentang struktur sosial. Dia adalah orang yang dibenci oleh Yuda hanya demi melindungi sistem sekolah tetap berjalan.

“Itu sudah menyimpang tata kelola lahan kosong, warga sekitar. Meskipun mereka memaklumi nya, merupakan seorang siswa yang dapat perlindungan dari sekolah. Tetap saja itu menyalahi aturan, walaupun mereka berangkat tetap waktu, ada peraturan per-undang-undang yang ditegaskan--“ tolak Yuda sebelum ia selesai berbicara. Guru tersebut memotong ucapannya.

“Kalian mau masuk ke dalam kelas atau tidak? Atau aku adukan ke wali kelas kalian, karena membolos,” ancamnya.

Membolos bukan hambatan bagi Yuda ataupun Budi, tapi kami berdua yang kena getahnya. Apalagi Linda seorang ketua kelas kita.

“Aku mau bolos saja,” ucap Yuda yang sudah malas ketemuan sama guru tersebut, gak menaruh rasa hormat sama sekali.

“Aku juga,” ikut Budi.

Eeh? Kenapa mereka mengatakan hal itu? Otomatis langsung dibawa ke ruang bimbingan konseling.

“A-Aku mau masuk ke kelas,” ucap ku dengan gagap.

“Aku juga mau masuk ke kelas,” lirih Linda.

Tetap saja kami berempat dibawa ke ruang konseling terlebih dahulu dan akan diceramahi lagi oleh Guru laki-laki yang tampak menyeramkan dan menekan, meskipun beliau orangnya ramah jika para siswa mematuhi aturan.

...

“Kalian berempat lagi kah?” Melihat wajah kami yang sudah muak mungkin, guru BK tersebut.

Tetap berdiri di dalam ruangan tak diizinkan untuk duduk. Yuda dengan santainya masih bisa menguap, Budi terlihat cuek, Linda gemetaran kalau dimarahi lagi dan aku harus menerima konsekuensi nya.

“Kenapa kalian berempat bisa terlambat?”

“Bapak sudah tau tempat tinggal kami ada di mana, agak sedikit jauh dari sekolah. Karena harga biaya kosan sekitar sekolah cukup mahal untuk per-orangan,” jawab santai Yuda. Yang terlihat seperti pemimpin kami.

“Kenapa gak tinggal di sekitar kosan atau wisma sekolah? Orang tua kalian yang membiayai nya kan?” tanya guru BK dan mengulangi ucapan Yuda.

“Pertama sudah penuh penuh di dekat area sekolah, meskipun agak jauhan biayanya tetap mahal dan bayaran nya sama. Alasan kedua kebutuhan pribadi, meskipun pak guru sudah tau latar belakang kita semua. Ada yang sebagian tidak memiliki orang tua, meskipun bisa tinggal di rumah wali masing-masing siswa. Tetap saja jauh dan membutuhkan modal,” jelas Yuda.

“Terus, kalian tetap gak mau pindah dari rumah kontrakan yang bobrok dan tua tersebut?”

Bobrok dan Tua yang dimaksudkan guru BK memang benar. Meskipun terlihat gak aman, jika ada goyangan gempa sedikit, pasti langsung rubuh.

Lantai dua yang ditempati Linda, sebagian atapnya ada yang berlubang dan bocor. Jika hujan, pasti akan langsung tidur di kamar lantai bawah yang masih kosong satu, belum ditempati.

“Demi efisiensi pengeluaran, tinggal di kota secara mandiri itu sangat sulit. Sekalipun itu untuk orang dewasa,” ucapan Yuda ada benarnya dan terdengar logis.

“Kalian bertiga, kenapa diam saja?” ucapnya dengan nada menekan.

“Pak Guru, sudah sering mendengarkan alasan kita beberapa kali. Apakah harus dijelaskan lagi?” ucap Budi.

“Benar. Kamu siswa berprestasi dan mendapatkan beasiswa sepertinya, berpikirlah secara logika. Mana yang jauh lebih diutamakan?” balas guru BK

“Pak Guru sudah tau, soal jawaban yang akan keluar dari mulut ku,” dalih Budi.

“Setiap manusia setiap harinya pola pikirnya pasti akan cepat berubah mengikuti lingkungan sekitar. Bukankah waktu jauh lebih penting dari pada biaya yang gak seberapa tinggal di kosan cukup jauh dari sekolah kan?”

Ia memberikan selembaran kertas berupa foto dan biaya, kos-kosan yang belum penuh. Niat amat beliau satu ini, dalam benak pikiran ku.

“Pihak sekolah sudah menyiapkan hal ini dengan matang, kalian gak perlu terlambat lagi.”

Pasti bertanya langsung ke pemilik kos yang tercantum kan nomor ponselnya, lalu dihubungi atas pihak wewenang sekolah.

“Aah ... Pak Guru,” panggil Linda. Beliau menoleh ke arahnya.

“Ini adalah kesalahan ku yang lalai, soal membangunkan mereka. Semalam, kami belajar cukup keras untuk menghadapi Ujian tengah semester satu bulan lagi. Aku sama Rido, berasal dari luar pulau sini. Cukup kesusahan mengikuti pembelajaran di kelas, karena masih beradaptasi soal bahasa keseharian orang di kota. Dibandingkan mereka berdua yang asli dari pulau ini yang telah tinggal di perkotaan.”

“Apakah kalian beneran belajar? Bukan karena lalai bangun kesiangan atau kesengajaan?” guru BK masih belum percaya sama ucapannya Linda.

Yuda mendukung perkataannya Linda dibalik alasannya. “Itu benar, kenapa pak Guru gak berikan tes pada kita? Soal pelajaran jurusan kami?”

Beliau termakan sama omongannya, ia mengikuti apa yang diinginkan Yuda. “Tahun berapa Nusantara ini terpecah belah?”

Ia memberikan pertanyaan secara gamblang sekali, “Itu soal terpecahnya persatuan politik Nusantara yang modern atau masa kerajaan?”

“Semuanya. Kalau kalian bisa menjawabnya dengan tepat, pak guru anggap alasan kalian valid. Pengecualian kalian berdua gak boleh ikut menjawab,” ia menunjuk ke Yuda dan Budi.

Aku cuma tau jawaban yang modern saja, tanggal 16 Desember 1959. Pengkhianatan besar di kota Batavia yang tidak menganggap para pejuang setiap pulau besar, Sumatera, Borneo, Sulawesi dan Papua.

Hanya untuk ikut bergabung menjadi negara serikat, namun sudah tau kebusukan para pejabat daerah sana tentang penggelapan dana dan pemanfaatan lahan sumber daya alam setiap pulau yang dimiliki dari sisa penjajahan Imperium Hindia Belanda.

Mereka semua gak tahan jika dimanfaatkan lagi oleh pihak bangsanya sendiri, para penduduk mengungsi ke pulau sekitar. Karena diperbudak lagi bukan dari pemaksaan, karena ada dukungan negara sekutu yang lebih maju, lebih kuat dan lebih superior. Bisa mengusir para penjajah.

Para pejabat Belanda yang menempati setiap pulau, memberitahu soal kebenaran ke para penduduk asli setiap pulau yang telah diberikan komoditas. Meskipun awalnya kurang menguntungkan, mereka berjanji untuk tidak setuju mendatangani dan bergabung ke pihak pulau Jawa yang berpusat di Batavia.

Dan kini kami bersekolah di pusat kota pulau Jawa tersebut. Yang mengalami kemajuan pesat luar biasa, karena fokus satu pulau dan bantuan dukungan dari negara sekutu meskipun sistemnya sudah bobrok sejak awal kemerdekaan.

“Jawaban mu sudah tepat,” ucap pak Guru kepada ku. Sekarang giliran Linda soal kerajaan yang jauh dari sejarah awal Nusantara terbentuk, banyak sekali untuk dihafalkan.

“Tahun 1527 runtuhnya kerajaan Majapahit. Tahun 1667 runtuhnya kekuatan Maritim Gowa-Talo, kini disebut Makasar. Tahun 1755 sampai 1757 perpecahan besar Kerajaan Mataram Islam. Apakah itu sudah cukup?” jawab Linda dengan pede.

“Ya. Tapi kamu belum menyebutkan sebagian alasannya,” ucap Guru BK.

“Pak Guru tadi, cuma menanyakan soal Tahun berapa Nusantara runtuh, gak disertai alasannya dan penjelasan yang lebih lanjut,” serga Lindah.

“Memang benar, tetapi jawaban tersebut harus dijawab dengan sempurna,” sangkalnya.

“Meskipun dijawab dengan panjang lebar. Jika pertanyaan tersebut menanyakan soal Tahun, bukankah itu sudah lebih dari cukup?” ucap Yuda.

“Dalam soal tanya jawab pilihan ganda itu memang jawaban yang tepat di atas kertas. Namun soal sosial, apalagi berhubungan dengan sang penanya secara langsung. Bisa memberikan nilai tambah, bahwa ia benar-benar belajar,” dalih Guru BK.

“Aku gak suka dengan cara pak guru yang terlalu berbelit-belit, itu gak efisien sama sekali. Tidak mempertimbangkan waktu yang sudah dihabiskan, jawaban yang tepat bisa membuktikan kedisiplinan, jika pak guru meminta jawaban panjang secara rinci seperti Rido, berarti siswa tersebut rajin soal belajar,” bantah Budi.

“Kamu membahas kedisiplinan, bangun tidur aja kesiangan. Pasti kalian belum sarapan kan? Pak guru akui kerajinan kalian sudah membuktikan semalaman memang sudah belajar.”

Kami tidak membantah soal bangun kesiangan yang ia sebut dan juga sarapan.

“Apakah gara-gara tidur terlalu kemalaman, kalian gak punya waktu cukup tidur?”

“Benar.”

“Benar.”

Ucap Budi dan Yuda, diikuti Linda. Aku pun ikutan juga karena terbawa suasana.

“Manusia butuh waktu tidur 8 jam. Otak perlu istirahat, para guru seenak jidat memberikan tugas yang sangat banyak setiap harinya. Bagi kami tidak masalah soal itu, gimana dengan siswa/i lainnya yang otaknya gak cukup cerdas seperti Linda dan Rido,” kritis Yuda.

Dia sedang mendukung kita atau mengkritik mereka? benak ku.

“Itu sudah menjadi kewajiban kalian, sebagai seorang pelajar dan memilih sekolah ini untuk menuntaskan tugas guru yang diberikan,” sanggahnya.

“Kalau gitu. Pak guru tidak mempermasalahkan, kalau kita kekurangan tidur, lalu tidak fokus ke pelajaran. Sebagai bentuk ketidak terlambatan kan?” ucap Budi.

“Kalau itu tidak bisa. Kalian harus fokus di mata pelajaran yang disampaikan, apalagi kekurangan tidur. Bukannya langsung mengerjakan tugas di sekolah gak masalah kan?” ucap Guru BK.

“Apakah itu tidak masalah? Tugas Guru yang diberikan harusnya menjadi pekerjaan rumah. Bukan Tugas sekolah,” ucap Yuda.

“Tentu saja boleh, kan ada perpustakaan yang disediakan, kalian bisa berdiskusi di sana ataupun di kelas. Kalau mau belajar untuk persiapan pelajaran esok, bukan masalah asal tidak terlambat lagi seperti hari ini,” ucap bijak guru BK.

“Baiklah. Kami pegang omongan bapak. Misal ada guru yang memberikan tugas saat pelajaran usai dan kami ketahuan mengerjakan di sekolah maupun di perpustakaan, seharusnya di rumah, di kosan atau manapun itu di luar lingkup sekolah. Bapak harus tanggung jawab untuk melindungi kita,” ucap Yuda.

“Ya. Sebagai gantinya kalian jangan terlambat lagi. Sangat menyia-nyiakan ada dua siswa berprestasi di sini, tidak mengikuti pelajaran pertama dan apel pagi nya.”

Beliau memberikan surat izin untuk masuk ke kelas dengan tanda tangan nya dan cap kepada kami.

“Terima kasih banyak,” ucap Yuda.

“Terima kasih banyak, pak guru. Kami tidak akan terlambat lagi,” ucap Budi.

Aku sama Linda ikutan berterima kasih juga dan masih berjalan menuju ruang kelas dan sudah ada wali kelas kami yang sedang menunggu.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk