この物語 (Cerita ini), ketika Rido mendapatkan kertas HVS di ruang BK. Bu Airi tidak mengajak berbicara kepada Guru Matematika mereka.
Solusi yang dimaksud oleh Yuda untuk merendahkan profesionalitas Guru tersebut yang tidak sesuai dengan kompetensi nya.
Dan cerita ini merupakan garis besar yang akan terjadi ke depannya.
Waktu istirahat pertama ku harus pergi ke ruang BK lagi. Padahal baru tadi masuk ke sekolah sudah disuruh ke sana untuk menghadap pak Hendra lagi, semoga gak bertemu sama beliau.
Soalnya aku agak takut melihat mukanya yang selalu sangar dan menekan pembawaan bicaranya. Gak bisa selugas Yuda, jika Budi ikut pun gak banyak membantu.
Beliau seorang introvert tertutup harus ada orang lain yang memancingnya untuk berbicara seperti Yuda.
Dia pula seorang introvert namun terbuka, bisa diajak berbicara sedikit demi sedikit.
“Maaf mengganggu,” aku masuk ke dalam setelah mengetuk pintu. Bertemu dengan guru Sosiologi, gak ada guru BK di dalam.
“Tumben sekali, ada siswa datang ke sini di jam istirahat.” Ia memperhatikan ku sejenak dan mengingat nya, “Kamu yang pagi ini terlambat dan berteman dengan siswa kurang ajar tersebut, yang gak tau sopan santun berbicara dengan orang tua.” Yang beliau maksudkan adalah Yuda. “Datang ke sini mau ngapain?”
“Untuk meminta kertas HVS.” Aku juga malas ketemu guru ini, terasa gak ada kecocokan.
“Buat keperluan apa? Gak beli sendiri di koperasi?”
“Jika ada perlu apa-apa, pak Hendra menyarankan ku untuk pergi menemui Bu Airi.” Aku tidak mau mengatakan nya, itu adalah permintaan dari Yuda. Sialnya malah ketemu sama dia.
“Kalau gitu duduklah, jangan berdiri di situ.”
Aku gak bisa duduk dan merasa nyaman jika anda berada di sini, tapi berbicara kepada orang tua yang sedang duduk terlihat gak sopan.
“Kamu temannya Yuda kan? Bisakah kau peringatkan teman mu itu, untuk tidak bermain HP di kelas.” Budi pun sama, tapi ia jauh lebih rapi mainnya.
“Pak Guru tau, ia sedang membuka game secara terang-terangan untuk menjelekkan profesi kita. Kamu tau tidak? Wali kelas mu selalu melindungi kalian dari cercaan kami.”
Yuda sama Budi sudah tau dan mereka nurut sekali dengan Bu Latifa, jika diberikan tugas khusus olehnya, bukan wejangan. Aku diam saja mendengarkan ocehan beliau, biar gak tambah runyam.
“Mentang-mentang mendapatkan nilai bagus, palingan hasil nyontek karena soalnya terlalu mudah.”
Bagi murid biasa seperti kami, agak susah. Karena banyak materi yang harus dihafal bukan dipahami.
“Apakah kamu setuju dengan saya?”
Aku pura-pura tidak mendengar saja, “Aku tidak paham, yang pak guru maksudkan.”
“Pertanyaan sederhana itu kamu gak paham? Dasar bodoh sekali. Mereka pasti menggunakan cara curang untuk mendapatkan nilai yang bagus.”
Aku tidak ingin mereka berdua dijelek-jelekkan, yang tiap hari melihat perjuangan nya. “Terus, gimana caranya saat pak guru menunjuk Yuda untuk maju ke depan, ia bisa menjelaskan dan mengikuti materi yang anda jelaskan. Sudah pasti, Yuda mampu dan paham apa yang diterangkan sama anda. Untuk mendapatkan hasil ujian yang bagus, ia juga belajar keras.”
“Apakah itu benar? Kenapa ia masih tetap berani untuk bermain HP? Jika beneran belajar, di kelas harus memperhatikan juga, apa yang guru sedang terangkan.”
“Jika Yuda merupakan orang yang jenius, apakah pak guru percaya?”
“Jenius melawan omongan orang tua? Orang jenius sudah pasti tau gimana cara menghormati guru nya. Dia tidak sedikitpun menghormati ku, bahkan masih berani melawan waktu kalian terlambat datang ke sekolah.”
Guru ini seperti nya gila hormat atau Yuda yang tidak pernah menaruh rasa hormat kepadanya?
“Terus, untuk nilai ujian sosiologi. Yuda mendapatkan nilai sempurna, bukankah itu sudah menjadi bentuk penghormatan terbesar untuk anda.”
“Nilai merupakan hasil, saya ingin melihat progres nya. Ilmu sosiologi nya tak pernah ia terapkan di sekolah dan di kelas.”
“Tapi, sampai sekarang Yuda gak pernah mendapatkan surat peringatan dan poin penalti.”
“Mereka pasti bekerja sama,” yang ia maksudkan kedua guru BK tersebut.
“Apakah itu benar? Kenapa gak tanya ke pak Hendra?”
“Sekarang saya sedang menunggunya.”
Baru dibicarakan kedua guru BK masuk ke dalam.
“Pak Denial ... dan Rido.” Pak Hendra diam sejenak, ia seperti nya lupa, dengan ku padahal sudah ketemu tadi pagi. “Kamu ingin konsultasi apa?”
“Gak, aku ke sini untuk bertemu sama Ibu.”
“Aku? Jam istirahat berharga ku berkurang,” keluhnya yang mencoba bercanda kepada siswanya.
“Maafkan aku, bisakah luangkan waktu anda sebentar. Ada hal yang penting untuk dibahas,” pinta ku.
Beliau menyetujui nya dan enak sekali ngobrol sama nya. “Jadi, kepentingan mu ke sini untuk apa?”
“Yuda menyuruh ku ke sini, untuk meminta kertas HVS.”
“Buat apa? Di kelas gak ada printer kan?”
“Soal itu, aku kurang tau. Cuma disuruh saja.”
“Terus, kenapa dia sendiri gak datang ke sini?”
“Sebenarnya, mereka berdua harus datang ke ruang guru untuk menemui wali kelasnya. Mereka berdua adu berargumen yang tidak terdengar menyenangkan di telinga oleh guru yang sedang mengajar.”
Bu Airi menghela nafasnya, “Apakah cuma itu saja?”
“Yuda mengatakan nya sambil bermain HP. Budi juga menyelipkan layar HP nya di tengah Buku, biar terkesan sedang memperhatikan di kelas. Tapi di telinga bagian kanannya, ada alat pendengar kecil. Bu Latifa sudah tau kebiasaan mereka berdua.”
“Kurasa begitu, berapa banyak kertas HVS yang ia minta?”
Aku lupa gak diberikan tau, Yuda minta berapa. “Mungkin satu Rim.”
“Kalau satu Rim, beli aja ke toko buku. Kertas HVS kebutuhan di ruang BK cukup penting. Untuk melaporkan keterlambatan kalian tadi pagi ke kepala sekolah.”
“Tapi, tugas guru BK untuk membimbing dan membenarkan siswa yang bermasalah, meminta kertas HVS sebagai jaminan untuk menuntaskan masalah tersebut, itu bisa meringankan beban anda. Dan Yuda sedang memikirkan sebuah solusi.”
“Jika ada solusi berarti ada masalah. Masalah apa lagi yang ia punya?”
Bu Airi sensitif sekali dan memperhatikan detail kecilnya.
“Yuda menjawab pertanyaan soal matematika dari Bu Sumarti. Tapi, beliau belum menyelesaikan jawaban dari pertanyaan yang ia tulis sendiri. Budi mengasih solusi dengan cara yang tepat, tapi jawaban mereka berdua gak diterima sama beliau dan disuruh pergi keluar kelas. Habis itu Yuda bersorak kencang, membuat nya tambah geram lalu diberikan tugas rumah cukup berat dan banyak ke para siswa yang ikut terkena getahnya.”
Bu Airi meminta fotonya kepada ku, soal pertanyaan nya apa yang ia berikan tapi aku kelupaan gak mengambil gambarnya.
Dia menekan jidatnya seperti nya merasa pusing, “Tadi, kamu bilang butuh satu rim kertas HVS kan?” Beliau berdiri, mengambil kertas HVS yang masih disegel dan sekalian ku meminjam klip lalu diisi sekalian.
Aku pamit pergi dari ruang BK dan berterima kasih kepada nya. Pak Hendra dengan guru Sosiologi tersebut yang bernama pak Denial masih belum selesai urusan nya.
...
Kembali ke kelas bel istirahat berbunyi, itu pertanda usainya belajar. Belum sarapan apalagi makan kecuali mereka bertiga sudah ngemil dari cemilan ruang BK.
Jadi sebelum, aku taruh saja kertas HVS nya ke meja guru di kelas.
Sengaja masuk terlambat ke kelas untuk berjalan ke kantin sendirian. Mencuri waktu yang ada, bukan untuk membolos jam ketiga yang berupa pelajaran ekonomi.
Saat kembali menuju kelas, Yuda dan Budi lewat rute yang berbeda, mereka habis dari ruang guru. Sengaja ku perlambat langkah kakinya, biar bisa masuk bersamaan dan mengikuti alasan mereka.
Guru Ekonomi membiarkan kami berdua kembali duduk, kecuali Yuda. Ia seketika menjadi asisten pribadinya dan ikut menjelaskan materi di depan untuk memotong jam pelajaran menjadi setengah jam, layaknya sedang nonton video favorit semua siswa/i.
Di sisa waktu yang ada kami berempat bagi tugas, mengambil satu rim kertas HVS yang ada di meja guru beserta klip diserahkan ke Budi.
Aku disuruh oleh Yuda untuk pergi ke perpustakaan dan mengajak Linda untuk meminjam 4 Buku Geografi dari sumber yang berbeda.
Tugas khusus tersebut kami kerjakan terlebih dahulu, karena soalnya berbeda pula setiap satu lembar. Jika bingung, Yuda akan membantu nya dan ia memeras otaknya juga untuk mengerjakan 50 soal matematika yang dibuat sendiri dengan cara yang sedikit panjang.
Budi ikut membantu karena bayaran nya setimpal, satu soal jika bisa ia kerjakan akan diberikan satu dolar sama Yuda.
Beralih ke jam istirahat kedua yang sedikit panjang waktunya, mereka berdua masih sibuk. Gak bisa pergi ke kantin bersama dan cuma titip saja untuk dibelikan makanan yang mengenyangkan dibungkus plastik.
Linda masih menulis untuk mengganti tugas mereka pula, aku pergi sendirian lagi menuju kantin sambil membawa uang yang telah dititipkan.
Mereka mengerjakan tugas di sekolah bukan di rumah kontrakan, sesuai ucapan pak Hendra. Dengan target deadline sore ini harus selesai.
Batagor kupat buat Budi, ketoprak kupat buat aku sendiri, tahu gejrot kupat buat Linda, pecel buah pedes sedang kupat favorit nya Yuda dan minuman nya cendol dawet secara bersamaan.
Saat sedang menunggu dengan sabar, banyak siswa/i yang berdiri mengantri. Ada kejadian yang tidak mengenakkan untuk dilihat, seorang siswa secara random jatuh mengakibatkan efek domino cukup besar.
Siswi yang berada di depannya jatuh satu persatu, belum lagi ketumpahan air dari berbagai rasa dan makanan yang di atas meja ikut terjatuh. Dikarenakan meja sama kursi yang bergeser.
Pelaku nya masih dicari, untung aku berada di samping gerai pemilik makanan gak mengantri berurutan seperti mereka.
Korbannya cukup banyak, terutama dibagian seragam yang kotor, lengket dan bernoda. Untungnya gak ada yang terluka, dan ini rawan sekali jika ada murid usil yang ingin mengacak-acak keramaian tersebut.
Petugas Satpam datang untuk menelusuri kejadian tersebut, aku lolos tangan karena masih bersih dan kedua tangan ku penuh kanan-kiri nya. Segera kembali ke kelas untuk diberikan ke tiga teman ku yang sudah kelaparan dan belum sarapan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!