Tumpukan kertas HVS yang seperti gunung, satu rim ternyata gak cukup. Mereka berdua membuat soal matematika seperti sedang meneliti sesuatu.
“Aku menyukai ilmu matematika gak ada kebohongan di dalamnya, murni, memiliki arti dan hasilnya tidak pernah mengkhianati diri sendiri.”
“Aku setuju sama Budi. Ilmunya bisa dikembangkan lebih jauh lagi, masih banyak misteri yang belum terpecahkan perhitungan nya. Meskipun satu soal memerlukan tiga sampai lima lembar jawaban. Persamaan tersebut bisa dihitung dengan cara metode lain.”
Alasan yang kuat, mata mereka tidak berbohong, otak yang diperas habis-habisan. Tulisan jawaban sudah seperti seni kelas tinggi.
Aku mengambil foto dari soal pertama dan jawabannya, disimpan gawainya Yuda dengan penuh folder khusus. Tak lupa mengaktifkan watermark-nya tanggal dan waktu tercantum dengan jelas satu-persatu.
Keesokan harinya, tugas khusus dari wali kelas Bu Latifa dan soal 50 dibuat sendiri beserta jawabannya dikumpulkan pagi hari.
Siswa/i tidak perlu mengerjakan tugas tersebut yang dilampiaskan ke mereka berdua seharusnya.
Aku mengabadikan momen untuk memfoto, buat jaga-jaga bersama Linda di dalam ruang guru berdekatan dengan pintu keluarnya.
Saat wali kelas kita masuk ke dalam, Linda langsung menyerahkan tugas khusus kita yang ditulis di atas kertas HVS.
Namun di lain sisi … “Kalian menghina profesi ku?” suara yang cukup keras di pagi hari saat guru-guru jurusan IPS sedang absen dengan sidik jari, pindai mata dan suara.
Wali kelas kita langsung menghampiri Yuda dan Budi, soal 50 tersebut ditolak secara mentah-mentah. Linda melangkah maju, ia memutar rekaman suara Bu Sumarti sendiri dan menunjukkan foto yang ada di papan tulis.
“Ini giliran tanggung jawab anda untuk memeriksa soal dan jawabannya,” ujar Budi terlebih dahulu.
“Kami rela menghabiskan waktu semalaman, untuk mengerjakan soal yang dibuat sendiri. Anda sebagai guru matematika harusnya berkompeten sesuai bidangnya.”
Bu Latifa menarik mereka berdua menjauh darinya sebentar. Guru matematika dari angkatan berbeda memeriksa soal dan jawabannya yang sudah tidak sesuai dengan jurusan.
“Kalian sengaja membuat nya marah?” ucap Bu Latifa sambil memperhatikan mereka berdua. Aku sedang merekam kejadian ini dari instruksi Yuda.
“Enggak,” ucap mereka bersamaan.
“Kami sangat menghormati guru matematika, yang mau mempelajari ilmu kebenaran,” jawab Yuda.
“Ilmu kebenaran? Maksud nya gimana?” bingung Bu Latifa.
“Melihat riwayat Bu Sumarti memiliki gelar Magister Matematika dan pendidikan. Seharusnya soal aljabar lanjut, analisis komplek, geometri merupakan hal mudah,” sekarang giliran Budi mengatakannya.
“Maksud kalian?” untuk meminta kejelasan alasan dari mereka berdua.
“Tentu saja bukan untuk mengujinya, beliau jauh lebih berwawasan karena memiliki pengalaman mengajar bidang matematika jauh lebih lama,” ucap Yuda.
Mereka memang sedang mengujinya untuk menguak perasaan malu nya pada diri sendiri, apakah beliau memang layak menjadi guru matematika di sekolah bergengsi ini atau tidak.
Guru mulai ragu dan curiga, apa benar Yuda dan Budi yang mengerjakan. Kepala sekolah yang datang hadir, nanti siang. Aku sama Linda untuk kembali ke kelas terlebih dahulu. Untuk kelanjutannya akan diserahkan sama mereka.
...
Ketika kepala sekolah sudah datang, mereka yang berada di ruangan konseling dijaga oleh bu Airi sama pak Hendra. Banyak guru berbondong-bondong, mengantarkan mereka sampai ke ruangan beliau yang memegang kendali sekolahan kita.
Banyak siswa/i penasaran, sebenarnya apa yang terjadi. Kami berdua yang begitu dekat dengan mereka meminta kejelasan atas semua kronologi yang terjadi dan itu semua telah disiapkan dalam bentuk rekaman dari kita berempat.
“Bergadang gak digaji, menulis mulu tanpa henti. Jadi pelajar kok gini amat cuma mendapat nilai yang bagus lalu dipotong lagi sebagai tambahan nilai ujian akhir,” keluh ku.
“Sistem akademik nya memang begitu, di dunia kerja jauh lebih sengsara lagi untuk menghadapi realita. Terlalu banyak oknum yang bermain curang, kita sebagai rakyat atau pelajar yang jujur pasti kena imbasnya,” jelas Yuda.
Rekaman nya menjadi hening sejenak hanya terdengar suara masakan dan kompor yang dimatikan.
“Aku sudah bikin makanan berenergi buat kalian, ini kira-kira … Mereka mau menerimanya tidak?”
“Jangan terlalu terpikirkan. Jika tanggung jawab kita sudah selesai, terserah mereka nanti gimana cara nerimanya,” ucap Budi.
“Aku setuju hal itu.”
“Tapi, guru matematika tersebut beneran percaya dengan apa yang kalian kerjakan?”
Mereka mulai bertanya apakah ada video nya. Aku coba tampilkan ke proyektor yang terhubung ke jaringan lokal yang sama.
Kami berempat bagi tugas, ternyata Yuda sudah menyiapkannya.
“Do, ada notifikasi aneh yang muncul di layar.”
Aku tekan, karena gawai nya Yuda sengaja dititipkan pada ku. Ada rekaman dari CCTV beserta rekaman suara secara langsung di ruang kepala sekolah.
“Ada notifikasi lagi Do. Coba ditekan lagi,” aku mengikuti perkataan mereka. Karena agak sedikit menganggu dan terus muncul.
“Siapa yang merokok di sini?” Yuda berteriak sambil memegang kertas begitu tebal yang disamping nya ada Budi.
Dan salah satu guru di sana gak ada yang berani mengaku, ia entah antara tau atau menebaknya. Yuda mengancam secara terang-terangan ke salah satu guru laki-laki sebagai perlawanan, pak Hendra mengeluarkan korek api nya. Gak bisa menghentikan tindakan Yuda yang begitu buas dengan tenaga yang terlalu kuat bisa memberontak dan melepaskan diri dari tiga orang dewasa.
“Kalian semua di sini adalah oknum yang bekerja sama untuk tidak mengikuti peraturan sekolah dan hak yang dilindungi oleh siswa seperti kami.”
“Meskipun kalian berdua berprestasi setinggi apapun. Jika terlahir dari keluarga miskin, gak ada keuntungan bagi kami,” ujar dari kepala sekolah yang mulai menyalakan cerutu rokoknya.
Budi langsung mengambil nya untuk membakar surat yang dipegang sama Yuda. Termasuk surat dari kantong celana nya sendiri.
“Begitu …,” Salah satu guru mau menahannya Yuda dan Budi. Satu siswa sudah cukup untuk melawan balik dan mendorong dua guru tersebut sampai terdengar benturan cukup keras dari dinding. “Jangan sentuh kami!”
“Sekarang surat pengeluaran dari kalian sudah hangus terbakar. Tindakan selanjutnya apa?” ujar Budi.
Layar proyektor kelas lain dalam keadaan mati tapi ketika dinyalakan semuanya memperlihatkan video dan audio yang sama secara berlangsung dari CCTV.
Semuanya mendapatkan informasi dari suara deringan dan Yuda bisa menebaknya. “Kalian mau mematikan listrik di sekolah? Itu semua percuma, kecuali memutuskan dari pusat kendalinya dan memasukkan kode nya.”
“Kalian berdua yang melakukannya?” ucap salah satu guru. Yuda menatap nya begitu tajam, “Diamlah. Siapa yang suruh kalian berbicara?” Bentuk perlawanan begitu kuat dengan cara yang primitif, bisa mempengaruhi psikologi mereka.
Kedua satpam masuk dengan membawa senjata dan perlindungan lengkap untuk menenangkan dua siswa yang tidak membawa senjata berbahaya.
“Cuma melindungi satu guru tua yang tidak berkompeten, kalian telah melanggar peraturan lagi untuk kebebasan berpendapat dan perlindungan siswa, sekarang mau mengusir dan mengeluarkan secara kasar dua siswa berprestasi? Sistem sekolah ini ternyata lebih mencintai uang dari pada pendidikan. Apakah tebakan ku benar?”
Dugaan keras Yuda menarik perhatian kelas sebelah. Sekelompok guru yang berkumpul aja sudah membuat para siswa bertanya-tanya dan mulai menceritakan kabar ini ke akun sosial media begitu cepat dan tanpa disadari sudah media masa yang datang menyerbu gerbang sekolah.
“Aku dapat kabar bagus buat kalian. Seluruh identitas kalian tersebar di dunia Maya. Sekarang kalian bisa mengeluarkan ku dari sekolah ini. Bayarannya, masa depan kalian dipegang oleh ku dan aku bisa memanipulasinya dalam bentuk tawaran setinggi mungkin untuk menjual sekolah ini kepada ku,” congkak nya ia masih belum selesai sampai situ.
Yuda menekankan suaranya dan bersikap begitu angkuh, “Aku masih dibawa umur gak akan dipenjara. Cuma karena pencemaran nama baik, keputusan bodoh kalian membuat sekolah ini akan ditutup dengan cepat oleh pemerintah setempat.”
“Diamlah siswa kurang ajar,” ujar salah satu dari satpam. Yuda dengan cepat menendang senjata apinya dari tangan, salah satunya mencoba menembak yang telah menarik pelatuk pengamannya melihat video diperbesar secara otomatis. Linda sudah pergi menyusul mereka untuk menghentikan tradegi yang terjadi.
Budi mencoba meniru seperti Yuda, baru ia menolak sebentar langsung ditembak mati di sana oleh salah satu satpam tersebut.
“Oh~ Kau telah membunuh satu siswa tidak bersalah di sini. Gimana cara mu untuk bertanggung jawab?”
Satpam tersebut gemetar ketakutan dan menodong senjata kepada Yuda. Linda datang tepat waktu menendang betis nya dan ia terpental keluar ruangan setelah ditendang oleh Yuda.
Melihat salah satu teman kami yang terbunuh di sana, terlambat sudah tragedi ini terjadi. Yuda hanya diam saja dan menutup kedua matanya yang masih syok setelah ditembak.
Para media berhasil masuk secara berbondong-bondong. Para guru menuduh satu, karena menganggap Yuda adalah orang gila sebagai pertahanan diri.
“Apakah media masa akan mempercayai omongan kalian?”
Mereka berdua melawan dan lari, tidak mau ditangkap secara cuma-cuma. Semua kejadian yang tau sebenarnya hanyalah kami berempat, tapi Yuda merupakan masterplan. Budi sebagai anak buah bayangan nya yang bekerja demi loyalitas uang yang akan diberikan nanti dan aku ikutan kabur menyusulnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!