Dalam perjalanan ke kantin tidak ada obrolan yang terjadi, karena sama-sama masih kondisi lapar dan belum sarapan.
Jadi, aku beli roti lapis atau bisa disebut sandwich. Linda mengambil roti melon berukuran besar dan susu kotak kecil. Kalau untuk Budi, ia tidak menitipkan uang apapun. Memang dalam mode menghemat uang, lalu membeli titipan Yuda apa yang ia pesan, 3 minuman agar-agar untuk ganjel lapar.
Tidak banyak siswa/i datang ke sini, karena masih waktu istirahat pertama bukan kedua. Durasinya terlalu singkat, hanya untuk menyegarkan otak kita sejenak sudah berpikir dan memperhatikan pembelajaran selama 4 jam atau 4 sesi secara berturut-turut alias 45 menit dalam satu sesi.
“Uang kembalian Yuda masih sisa berapa?” ucap Linda.
“Cukup untuk beli satu roti lapis sama air gelas,” jawab ku.
“Belikan itu buat Budi.”
“Ini uangnya Yuda. Kamu yang bilang ya...”
“Ya.”
Mendengarkan jawaban nya, aku beli untuk Budi sesuai ucapannya. Saat mau balik lagi ke kelas, mata ku bertemu dengan siswi yang tampak menonjol dengan bandana di lengan yang menunjukkan dari jurusan IPA, ia membeli permen saat kita mau membayarnya dari penampilannya sedikit sederhana gak banyak aksesoris namun aura kecantikan nya tetap keluar.
“Rido, Rido ... Uangnya kurang,” panggil Linda di dalam lamunan ku.
Aku lupa uang titipan Yuda masih belum diserahkan dan semuanya lunas. Linda memperhatikan ku yang sedang melihat para cewek disekitar, “Kamu masih belum puas, melihat-lihat cewek dari jurusan IPA. Padahal siswi di jurusan kita gak kalah menariknya.”
“Bagaikan aja ini beda alam. Kelas satu aku memang mengamati murid seluruh kelas di jurusan IPS. Memang ada beberapa yang menarik perhatian ku dan berkenalan dengan mereka, semuanya ramah-ramah dan sampai saling bertukar kontak.”
Kami berjalan menuju ke kelas tak mengambil jalan memutar, untuk mengantarkan barang titipan ini.
“Hmm ... Sampai sekarang kamu masih berkontak dengan siswi kelas lain? Apa yang kau incar sih?”
“Masih, sekedar nanya kabar dan tugas. Kadang Yuda gak mau ngajarin kita. Aku tanya buku gak bisa berbicara, ngandelin kamu? Sama aja bodoh nya dengan ku.”
Ia merajuk gak suka bagian yang bodoh.
“Sekalian basa-basi mengenai gosip siswa/i.”
Linda menadah tangan seperti meminta sesuatu dariku.
“Coba pinjam ponsel mu. Apakah kamu beneran ngobrol sama mereka?”
Ponselnya tidak kuberikan, karena soal privasi yang tersimpan di dalamnya. Linda tambah merajuk, “Kau pelit gak seperti Yuda.”
“Tadi di kelas kau bilang pelit padanya.”
“Soal makanan, kalau pinjam alat. Ia tidak keberatan, apalagi gawai yang sering dipakai untuk cari pundi-pundi cuan.”
“Emangnya kamu mau ngobrol sama siapa? Yuda aja gak gabung sama grup kelas. Budi jarang banget nongol, padahal sering disebut. Gawai mu juga jadul banget dari zaman batu yang cuma bisa SMS-an sama telepon.”
Linda merajuk sudah dengan memasang muka cemberut, “Dasar cowok gak peka. Ku kutuk kau gak dapat pacar di sekolah ini,” ia pergi meninggalkan ku.
Dasar bocah, Linda kalau lapar emosinya memang kurang stabil. Aku berbicara soal fakta, gawainya emang sudah sangat ketinggalan zaman gak mengikuti trend anak SMA, meskipun ponsel ku gak secanggih gawainya Yuda yang sudah berada di puncak nya teknologi. Ponselnya Budi disebut Smartphone hampir sama punya nya Yuda tapi dikelas bawah. Ponsel ku ini paling cuma bisa sosial media, aplikasi obrol, internet seadanya sama nonton video.
Dalam perjalanan, aku disapa para siswa-siswi jurusan ku. Memang semenarik ini perawakan ku yang sama seperti Linda dari luar pulau Jawa. Tentang diriku akan ku ceritakan di kesempatan yang lain.
“Kelas kalian bikin kegaduhan lagi?”
Aku hanya tertawa mendengarkannya dan tersenyum biar terlihat ramah, “Begitulah. Setiap hari teman ku banyak tingkah kalau sudah masuk pembelajaraan.”
“Cewek yang bersama mu tadi malah meninggalkan mu, ia merajuk?”
“Sepertinya, sekarang giliran mu untuk menembaknya?”
“Itu sih Erwin, masih belum nyerah nulis suratnya.”
“Oh ...” Teman sekelasku saat kelas satu. “Ku pikir ia gak tertarik sama anak kecil. Mana orang nya?”
“Erwin! Kamu dicariin tuh,” teriak temannya dari depan kelas. Ia melangkah keluar dengan tampang muka yang masih memakai kacamata begitu tebal.
“Kenapa kalian berdua bisa sedekat itu, buat iri aja,” keluh dia secara terang-terangan pada ku.
“Jangan diambil hati, kau nya saja yang terlalu pasif orangnya gak mau inisiatif sendiri,” jawab ku.
“Rido, Rido, kamu dapat kabar baru gak mengenai teman mu yang besar tinggi tersebut?” salah satu siswi nyelonong masuk ke pembicaraan para cowok.
“Apaan sih Yul, ikut nimbrung aja.”
“Yee~ Cowok culun seperti mu emang bisa dapat cewek secantik Linda?”
Namanya Yuli, sesekali kami bertukar informasi mengenai pelajaran di kelas. Karena mereka kelas A pasti mendapatkan materai pelajaran terlebih dahulu dibandingkan dengan kelas kita.
“Usahain dulu, kau aja gak dapat-dapat pujangga mu.”
“PDKT juga ada prosesnya,” jawabnya.
“PDKT macam apa, cuma tau dari Rido aja,” ejeknya.
“Mereka mulai lagi,” keluh siswa lainnya.
Aku juga tau mereka berdua memiliki kemiripan yang sama, tapi selera pasangannya berbeda. Jadi gak ketemu jembatannya, kecuali ada makcomblang.nya.
“Rido, gimana kabarnya mereka berdua? Bikin onar lagi?” Siswi yang lain ikutan nimbrung juga.
“Tadi Bu Airi sampai rela meninggalkan pelajarannya negara keributan dari kelas paling belakang.”
“Pasti guru tua itu lagi,” mereka sudah tau personal guru tersebut.
“Untung pak Hendra gak turun tangan, apes sudah kelas kalian dapat SP.”
“Jangan berharap begitu, aku tidak ingin ada pelajaran tambahan sama di kelas satu,” jawab ku.
“Yah, sekelas sama Yuda padahal cuma satu hari ia berangkat sekolah bagaikan legenda bisa mendapatkan nilai terbaik di jurusan IPS,” ujar siswa yang telah memanggil ku di awal.
“Terlalu Ez mah bagi dia,”
“Itu memang benar, guru lain juga menantangnya mengerjakan materi dari jurusan IPA. Sebagai persyaratan untuk bisa naik kelas.”
“Aku gak pernah dengar rumor soal itu.”
Aku pun sama. Gegara keasyikan di sini, sampai lupa mengobrol sama siswa kelas lain, soal tadi pagi di kelas kami yang cukup heboh. Karena dinding nya gak kedap suara malah merambat ke topik yang lain.
Mereka berdua selalu menjadi perbincangan topik yang hangat setiap harinya dan sampai menanyakan hubungan asrama, calon pasangan apalagi pacar dari mulut siswi yang tertarik dan sudah siap mau menembak.
Padahal aku sering aktif yang suka bergaul dengan mereka sama seperti, di waktu luang istirahat. Kenapa Yuda sama Budi jadi primadona bagi cewek-cewek jurusan ku.
“Rido, bisa titipkan surat ini untuk Linda.” Aku menerima saja dari Erwin, Linda memang cukup terkenal dari kelas satu dengan tubuh kecilnya seperti toples kaca yang terlihat masih kosong dan secara bertahap terus tumbuh.
“Tunggu sebentar, aku juga mau nulis surat juga.” Yuli buru-buru ke meja duduknya, karena gak keburu ada siswi lain dari kelas sebelah ikutan menitipkan sesuatu. “Tolong sampaikan ke Budi.”
“Ya.” Memegang surat entah dari siapa tapi meninggalkan namanya sama kelasnya, selalu ku periksa pastinya berisikan curahan hati untuk teman sebangku ku dari pandangan pertama.
Aku kelupaan soal tiga agar-agar ini, pasti dia ...
“Lama sekali kamu kembali nya seperti siput. Sebentar lagi mau masuk, mana pesanan ku sama kembalian nya?” pinta Yuda sedikit kasar, karena kelalaian ku. Lalu mengeluh soal air sama Roti yang tidak ia pesan.
“Dasar Siput,” ejek Linda pada ku. “Itu buat Budi, jangan pelit begitu kepada teman mu sendiri,” ujarnya.
Ia langsung mengambil kantong plastik tersebut dan memberikan ke Budi yang sedang duduk di kursi, Yuda meminum air agar-agar nya yang masih sibuk sama permainan yang ada di gawainya dan dimintai uang ke Linda sebagai ganti rugi.
“Kamu berani malak kepada ketua kelas mu sendiri? Atau kau masih marah?” Seketika semua perhatian tertuju pada mereka.
“Aku tau Rido orangnya lambat, ia pasti akan membeli sesuai pesanan ku, Itu pasti dari bujukan mu,” sangkal Yuda. Dan jahat banget perkataannya kepada ku yang ada di depan mata.
“Kalau kamu sungkan, akan ku kembalikan,” ucap Budi yang kedengaran dari situ karena suasana kelas menjadi hening dan sudah membuka dan memakan sebagiannya.
“Gak perlu, itu sudah ada bekas gigitan mu. Nikmati saja,” tapi tangannya belum turun untuk meminta uang ke Linda.
“Uang mu sudah banyak, kenapa perhitungan sekali sih?” keluh Linda.
Yuda meletakkan gawai nya dengan cara kebalik, ia mulai serius jika berbicara secara empat mata dan nada berbicaranya berubah menjadi mereda gak marah-marah seperti tadi.
“Semuanya perlu diperhitungkan, jika ingin hidup dengan tenang. Meskipun terdengar receh, uang tetaplah uang,” balas Yuda.
“Gak perlu Lin, aku yang bayar saja. Tadi harganya—“
“Aku gak perlu menerima uang dari mu Do. Ini bukan soal berbagi, aku mempercayai menitipkan kepada mu untuk membelikan sesuatu apa yang ku minta. Dengarkan ini, kau sudah hidup di kota di rumah kontrakan tersebut dan melihat masyarakat menjalani hidup, itu cukup keras, dia harus bertanggung jawab atas bujukan nya dari mu dan mempertimbangkan lagi untuk ke depannya,” tekan Yuda yang sifatnya cukup kasar.
“Baiklah ... akan aku bayar,” melas Linda yang sudah mau menangis. Ia merogoh sisa uang recehannya, “Segini sudah cukup?” Dan dilihat teman sekelas yang sedang direndahkan harga diri ketua kelas kita.
“Masih kurang. Itu uang untuk roti sama air gelasnya, kamu sudah memanfaatkan Rido demi ego mu sendiri.” Yuda masih belum puas, ia juga ingin menyampaikan sesuatu kepada ku.
“Terus apa yang harus aku ganti?” melas Linda lagi yang hampir menteskan air matanya.
Mereka sedang tidak bertengkar atau saling memarahi satu sama lain, saat aku masuk. Linda masih asik mengobrol dengan Yuda, tiba-tiba suasanya berubah menjadi seperti ini. Mungkin gegara aku.
“Sudah cukup Yud, jangan buli Linda. Aku yang salah telah termakan bujukannya, tapi berbagi menurut ku cukup bagus dan kamu akan dipandang bagus oleh teman mu sendiri,” ucap ku sebagai bentuk pertanggung jawaban.
“Kalian belum paham, apa yang aku maksud—“
Suara bel berbunyi, Yuda menyudahi obrolan nya. Ia memegang tangan nya Linda cukup memaksa dan mengembalikan uang nya. “Nanti jam makan siang akan ku jelaskan. Aku gak butuh uang mu,” dengan tatapan yang tajam, mengancam Linda.
Siswa/i di kelas melihat ketua kelas kita sedang dirundung, karena gak ada yang bisa membantah argumen nya ataupun beradu mulut untuk melindunginya. Yuda dalam segi komunikasi jauh lebih jago dan selalu menemukan celah yang kecil untuk mengembalikan keadaan dan pernyataan orang tersebut. Karena cara berpikirnya cukup cepat, efektif, rasional bahkan guru sekalipun kalah debat dengannya.
Salah satunya ini, ketika ia sudah berdiri di depan kelas untuk menjelaskan pelajaran ekonomi di jam ketiga. Yuda menjadi asisten pribadi, sebab ia lebih tau cara kerja uang itu gimana. Sangat disukai guru tersebut, meringankan beban mengajar nya dan mempersingkat pelajaran. Sisa waktu yang cukup longgar kami belajar secara mandiri tak ada tugas yang diberikan.
Dari penjelasan Yuda yang sudah cukup paham dan akan menjadi pondasi yang kuat untuk ujian tengah semester nanti.
Semuanya memberikan sambutan tepuk tangan, kecuali Linda yang tak memperhatikan penjelasan Yuda barusan dan menatap matanya secara langsung. Linda masih menunduk di atas meja, terlihat sibuk menulis sesuatu di atas buku tulisnya. Mereka kembali mengobrol setelah guru ekonomi keluar dari kelas dengan membawa buku, laptop pribadinya.
“Kamu gak memperhatikan ku saat sedang dijelaskan.” Ia sendiri juga tidak pernah memperhatikan guru manapun yang sedang diajarkan.
“Aku sudah menulis, merangkum, pelajaran ekonomi untuk mu. Jangan sampai dapat nilai pas KKM di UTS nanti,” ucap Yuda seperti sedang mengancam.
Dan lagi-lagi mereka jadi pusat perhatian.
“...” mulut Linda bergerak tapi suaranya begitu pelan.
“Katakan dengan keras,” ujar Yuda cukup tenang.
“Aku gak butuh!” teriaknya.
“Begitu.” Yuda kembali sambil membawa buku nya sebelum dibuang oleh Linda.
Guru ekonomi kembali ke kelas kita membawa tugas khusus dari wali kelas, Yuda menerimanya dan membaca secara sekilas. Ia taruh buku dan kertas tersebut, pergi keluar.
Teman sebangku ku yang baru aja melanjutkan animenya. Ia menulis dan mencatat apa yang didengarkan oleh Yuda.
Budi melihat tugas dari Bu Latifa demikian dengan ku juga. Ini pasti gak ada di buku pelajaran, harus cari referensi dari luar. Maksud ku buku lain yang terkait soal jurusan kita.
Aku mau memanggil nya tetapi dia tadi mau pergi ke mana, bingung ku. Melihat seisi kelas dan melihat keluar juga.
“Perpustakaan. Yuda pasti sedang mencari buku untuk mengerjakan tugas khusus tersebut,” ujar Budi yang tau aku sedang ngapain.
Linda masih belum bergerak dari tempat duduknya, jadi aku ajak supaya ia gak sendirian dan ketinggalan.
“Gak mau, kalian silahkan pergi sendiri.” Ia masih merajuk soal Yuda membahas yang diterangkan dan obrolan tadi siang.
“Kamu boleh egois dan diam disitu seharian penuh. Bu Latifa cukup tegas soal tugas khusus yang diberikan pada kita. Jika ketahuan mencontek sedikit tanpa usaha sendiri, kamu akan diberikan khusus untuknya setiap mata pelajaran Geografi dunia. Kamu mau habiskan waktu mu untuk mengerjakan tugas tersebut setiap harinya?” ujar ku. Yuda tiba-tiba kembali dan nongol dibelakang ku, ternyata ia baru kembali dari toilet.
“Gak mau!” jawaban Linda tetap sama dan menutup mukanya di atas meja.
Yuda memaksanya berdiri, karena ia cukup keras kepala. Tubuhnya dibopong seperti tuan putri, “Turunkan aku.” Berontak Linda yang terus dipaksa dan ditekan.
“Jika aku gak melakukan begini. Seharian pasti kamu akan terus merajuk, keseharian kita di rumah kontrakan akan terganggu nanti, entar kamu gak mau bikin masakan lagi,” ucap Yuda tanpa rasa malu.
Para siswi terpesona dengan keberanian tindakannya dan ingin diperlakukan seperti Linda. Mereka semua tau, soal kepeduliannya Yuda yang terkadang memang susah ditebak.
“Yang kau pikirkan cuma makanan mulu,” ketus Budi yang sudah berada disamping ku.
“Berisik. Jika kalian punya banyak uang silahkan makan makanan diluar saja. Aku ingin Lidah ku dimanjakan masakan lezatnya Linda!”
“Gak perlu sampai teriak begitu,” ucap Budi. Aku pun lebih suka masakannya Linda dibandingkan memakan makanan di luar kalau opsi harganya murah.
“Baiklah, baiklah, turunkan aku,” melas Linda yang mulai melunak dan merasa malu.
“Gak mau. Aku akan membawa mu sampai ke dalam perpustakaan,” ujar Yuda yang terdengar sedang menjahili nya.
Budi berjalan keluar sedang menunggu kita untuk berjalan bersama menuju ke perpustakaan di jam luang pelajaran ekonomi dengan memanfaatkan waktu yang ada.
Linda yang barusan memberontak terus tanpa henti, mulai diperhatikan oleh siswi kelas lain, ‘ini pasti jadi bahan gosip baru’ dan yang sedang berlalu-lalang dari toilet atau menuju ke arah lain maupun ruang guru.
Tubuh Yuda yang menjadi pusat perhatian berada ditengah karena cukup tinggi dari kita berdua, aku sama Budi cuma beda satu centi. Tinggi badan kita gak sampai seratus delapan puluh, namun kategori tersebut termasuk tinggi.
“Yuda, maafkan aku. Atas sikap ku barusan,” ucap Linda yang ada di atas pangkuannya.
“Maafkan? Apakah kamu berbuat salah pada ku?”
Aku rasa mereka berdua gak berbuat salah apapun, meskipun sikap Yuda cukup keras pada kita. Perkataan nya ada benarnya, ia memiliki pengalaman yang cukup untuk tinggal di kota daripada kita berdua.
“Turunkan, aku bisa berjalan sendiri.”
Yuda memegang perkataan nya sendiri, ia membawa Linda sampai masuk ke perpustakaan dilihat oleh siswa-siswi yang sedang berjaga, termasuk satu guru perempuan.
Beliau menunjuk ke arah penanda, ‘jangan berisik’. Kami mematuhi hal itu, Linda diturunkan dengan pelan ke lantai, ia merasa malu diperlakukan seperti itu, terlihat mukanya yang terus menunduk ke bawah dan meringkuk di atas lantai sejenak.
Tetapi ia ditarik lagi untuk segera bangun.
Kami bertiga mencari buku yang diperlukan, Linda duduk di kursi saja. Karena tubuhnya gak nyampai ke rak-rak yang cukup tinggi. Ia melihat bolak-balik, ditutup, lalu ganti buku lagi cuma melihat gambar. Sudah kuduga Linda memang seperti anak kecil dalam segi ketertarikan.
Termasuk Yuda berdiri lama, ia malah membaca buku sastra. Budi menutup bukunya, karena ada yang jauh lebih penting, yaitu menyelesaikan tugas khusus geografi dunia terlebih dahulu.
Satu murid diperbolehkan meminjam dua buku, totalnya juga pas. Buku yang membuat Yuda tertarik tak jadi diambil dan kembali ke kelas.
Para siswa/i gak terlalu berisik dan keluyuran keluar, mereka bersantai, mengobrol tanpa menggangu kelas sebelah. Termasuk kami berempat sedang berdiskusi, Linda telah kembali ke setelan awal.
Siswi yang penasaran perubahan sikap Linda begitu cepat, mereka semua diusir oleh Yuda. Namun dengan berdalih tidak akan menggangu, karena ia merekam suaranya sendiri sebagai jawaban dan refrensi bagi kita.
Kebanyakan Budi yang memberikan masukkan, aku semampunya dari mengingat dan mengulik pelajaran dari wali kelas yang kita berikan.
Linda diam saja, mematung yang terlihat tak tau apa-apa. Siswi lain membisikkan telinganya untuk mengubah gaya bicaranya Yuda sedikit pelan, lembut dan menaikkan suaranya lebih berat, namun agak susah baginya.
Aku duduk sebelah Linda, masih terdengar apa yang mereka bisikan. Yuda fokus untuk menjelaskan, Budi sedang mengingat jawabannya untuk disanggah.
“Suaranya Yuda cukup enak didengar, kalau emosinya cukup tenang, jika dia seperti ini terus tiap harinya.”
“Benar, saat menjelaskan materi ekonomi di depan. Ia seperti keluar dari karakter Manwha.”
“Ronghua kali.”
Aku gak tau itu sebutan apa, tetapi tidak menyangkalnya, ia cukup disukai oleh siswi di kelas kita dan ingin tau kepribadian nya cukup dalam. Apakah Yuda sudah punya pacar atau belum, pasti itu yang ingin dibicarakan.
“Linda, aku sudah merekam jawaban untuk mu. Tolong diubah dengan gaya penulisan mu sendiri, jangan sama persis.”
Ia menurutinya dan beralih kepada ku, “Rido. Tugas mu yang diberikan pada mu paling mudah. Jika ada kesulitan tanyakan saja, tadi kita bangun kesiangan merupakan tanggung jawab semuanya.”
“Ya,” jawab ku.
Yuda sama Budi menyelesaikan tugas khusus nya, kembali ke tempat duduk masing-masing. Linda diberikan gawai miliknya dan mendengarkan rekaman jawaban yang sudah berbaik hati.
Aku bisa mengerjakan mandiri, karena pertanyaan yang diberikan memang cukup mudah. Dibandingkan milik Budi yang dijelaskan secara panjang lebar dan selalu diakhir dengan pertanyaan menurut pendapat pribadi dan alasannya.
Kami bertiga bisa fokus dengan tugasnya masing-masing, Linda terlihat sedang diganggu oleh para siswi yang berkerumun seperti burung yang berkicau.
Yuda pindah posisi duduk di sebelah nya, sekaligus mengusir kawanan tersebut seperti serigala yang sedang mengancam.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!